Dua Puisi Lang Leav Untukmu yang Pernah atau Sedang Terluka

PATAH HATI

Kutahu kau telah kehilangan seseorang dan terluka. Mungkin kehilangannya begitu tiba-tiba, tak terduga. Atau mungkin kau mulai kehilangan potongan-potongan tentangnya hingga suatu hari, tiada lagi yang tersisa. Mungkin kau telah mengenalnya sepanjang hidupmu atau mungkin belum lama mengenalnya. Bagaimana pun, tak ada hubungannya—kau tak bisa mengendalikan dalamnya luka jiwa yang lain menghampirimu.

Itulah mengapa aku di sini tidak untuk mengatakan padamu bahwa esok adalah hari yang lain. Bahwa mentari akan terus bersinar. Atau ada banyak ikan di laut. Yang akan kukatakan padamu hanyalah; tak mengapa terluka sebanyak yang kau sanggup. Yang kini sedang kau rasakan bukan hanya sepenuhnya benar, tapi juga perlu—sebab itu membuatmu menjadi lebih manusiawi. Dan meski aku tak dapat berjanji segalanya akan segera membaik, tapi kukatakan padamu bahwa segalanya akan pulih—pada akhirnya. Sekarang, yang dapat kau lakukan adalah ambil kembali waktumu. Ambil seluruh waktu yang kau butuhkan.
(Diterjemahkan oleh Erwin Setia dari puisi Broken Hearts karya Lang Leav)

*

KETAKUTAN UNTUK MENCINTAI

Aku berpaling

dan menutup hatiku—

dari janji cinta

yang memikat.

 

Masa lalu telah mengajarkanku

untuk tak terperangkap,

dalam apa yang tak

layak dikejar—

 

Untuk tak lagi melakukan

hal-hal yang dulu pernah

menyebabkan

kehancuranku.

(Diterjemahkan oleh Erwin Setia dari puisi Afraid to Love karya Lang Leav)

*

Teks asli puisi Broken Hearts dan Afraid to Love yang diterjemahkan di atas bisa kamu lihat di sini.

 

 

 

 

Advertisements

Presley dan Axolotl

Cita-citaku setelah ini adalah tidak menjadi siapa-siapa, kata Presley. Menjadi populer itu melelahkan. Kau tak punya banyak waktu untuk baca buku. Kau tak punya waktu bergurau dan bercengkerama bersama keluarga. Waktumu direnggut orang lain. Kau merelakan dirimu tersiksa demi kebahagiaan orang yang bahkan tak kau kenal. Apakah itu namanya kebahagiaan? Sebuah altruisme atau kekonyolan?
*
Albumnya yang terbaru diluncurkan dan laku keras. Ia tersenyum. Para wartawan memotretnya, mewawancarainya, dan sebagai publik figur ia tak boleh sombong–mau tak mau, terpaksa atau sukarela. Orang-orang yang hanya melihat raut mukanya atau mendengar suaranya akan menganggapnya sebagai manusia paling bahagia. Tapi tak ada yang lebih mengerti Presley selain dirinya sendiri.
*
Dan selepas konser akbar itu, ia pamit kepada kawan-kawannya. Kawan-kawannya menyayangkan keputusan kontroversial itu. Aku akan pergi, mungkin ke gunung, mungkin ke laut lepas, atau ke gua, ke mana sajalah yang jauh dari keramaian, kata Presley.
*
Ia membawa gitar dan kostum warna-warni kesayangannya. Sesampainya di jembatan ia melempar dua benda itu ke bawah, ke arah sungai. Aku sedang menginginkan kesunyian, barangkali kalian akan hidup lebih damai bersama ikan-ikan, Presley membiarkan dua benda yang telah lama mendampinginya manggung hanyut. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tersenyum tipis melihat arus air membawa keduanya pergi.
*
Koran, televisi, dan media-media online memberitakan secara heboh mengenai ‘hilangnya’ Presley. Banyak yang tak percaya. Sebagian fans fanatik menangis dan pingsan mendengar pengakuan Presley yang mengundurkan diri dari panggung dunia hiburan. Ada yang memeluk erat foto Presley dan ada yang membakarnya di jalanan–pelukan dan pembakaran dengan sebab yang sama: cinta, cinta yang berlebihan.
*
Presley menyamar. Memakai kumis imitasi, rambut palsu, dan mengubah cara berjalan serta cara bicaranya. Membikin kartu identitas baru. Ia tak mau ada orang yang mengenalnya lalu menggagalkan rencananya merayakan kesunyian.
*
Dengan bekal seadanya dan uang tak terlampau banyak ia memutuskan pergi ke sebuah gua. Bukan, ia tidak ingin menjadi nabi. Ia hanya ingin mencari sunyi.
*
Lewat perjalanan cukup panjang sampailah Presley di gua itu. Gua yang sangat sempurna bagi orang yang memang menghendaki kesunyian. Gelap. Dikelilingi pepohonan. Penuh binatang liar. Dengar-dengar di rawa dekat gua itu ada banyak axolotl; salamander dengan insang merah muda. Tiba-tiba ia teringat kepada sebuah cerita pendek Julio Cortazar.
*
Ia melangkah hati-hati. Senter di tangan dan kepalanya menunjukkan cahaya pembawa jalan kebenaran kepadanya. Dirabanya beberapa pasang stalakit dan stalagmit yang tampak kaku tapi basah. Sunyi sekali tempat itu. Tatkala membandingkannya dengan hiruk-pikuk panggung yang biasa ia jumpai Presley merasa sedih. Ingin menangis rasanya.
*
Dalam tidur pertamanya di gua itu (ia membawa alas tikar yang disimpannya dalam tas) Presley mengalami dua mimpi paralel. Mimpi ketika ia masih di dalam rahim ibunya dan mimpi ketika tubuhnya sudah berada di dalam makam. Sebangun dari dua mimpi aneh itu Presley menangis. Kencang sekali. Dari bagian tepi tikar yang tampak berair ia melihat sesosok hewan kecil menghampirinya. Axolotl! Axolotl itu membesar, tubuhnya meraksasa menjadi seukuran tubuh manusia. Axolotl itu lalu berdiri juga seperti berdirinya manusia. Sebelum kekagetan Presley hilang dan benar-benar memahami situasi yang tengah terjadi, Axolotl itu menggerakkan mulut keriputnya. Mengeluarkan suara. Bicara!
“Hai, Presley!”
Presley nyaris pingsan. Matanya membelalak.
“Hai, Presley!”
Presley lalu pingsan. Oh tidak, tapi ia tak bangun-bangun lagi. Presley mati.
“Oh, Presley, kenapa kau mati duluan. Padahal aku baru mau memperkenalkan diriku padamu. Kau tahu, Presley, aku memang Axolotl, tapi namaku adalah Presley.”
Axolotl itu meneriakkan nama Presley berkali-kali. Membuat gua jadi bising. Tapi, Presley tetap mati dan tak bangun lagi.
*
Sementara itu, di rawa yang alirannya tersambung dengan sungai sebuah gitar dan sebuah kostum warna-warni telah menjadi sarang axolotl. []
*
(Bekasi, 2017)

Anak Laut

Ombak-ombak di pinggiran pantai mengenai kakiku. Membasahi pasir, lalu kembali menuju laut. Di situ lah aku berdiam, merenung dan menyendiri. Menikmati suara ombak laut ditemani warna indah senja di sore hari. Aku tidak begitu menyukai keramaian. Bukannya benci, tapi terkadang menyendiri lebih nyaman. Begitulah jalur kehidupan yang aku pilih. Berbicara kepada semesta mungkin lebih berarti daripada dengan sesama manusia. Alam selalu mendengar (walau tak pernah membalas). Tapi manusia, kadang mendengarkan saja tak mau. Ya, begitulah faktanya.
Aku lahir dari sebuah keluarga sederhana. Ayahku bekerja seperti kebanyakan orang pantai lainnya; nelayan. Beliau orang yang ramah. Hampir semua nelayan kenal dengannya. Kata orang-orang, Ayah adalah nelayan hebat. Lemparan tombaknya tak pernah meleset dari sasaran. Padahal setahu aku, nelayan itu mengambil ikan dengan jala. Aku tidak mengerti, apakah semua nelayan itu sama atau tidak. Mungkin suatu hari nanti aku akan mengetahuinya setelah menjadi nelayan. Entah lah.
Ibuku, wanita paruh baya yang kesehariannya menjual ikan hasil tangkapan ayah. Barang dagangan Ibu selalu menjadi pilihan warga sekitar. Kata orang-orang, dagangan Ibu segar semua. Dagangannya disimpan bersama dengan butiran es halus yang seperti salju. Padahal setahu aku, memang begitu seharusnya ikan dijual. Aku tidak tahu apakah semua penjual ikan seperti itu atau tidak. Mungkin suatu hari nanti aku akan mengetahuinya setelah aku menikah. Entah lah.

Aku mengagumi keduanya. Aku ingin menjadi gagah seperti ayah. Aku ingin cerdas seperti Ibu. Tapi, kau tahu, kedua sifat ini dimiliki oleh abangku. Sesungguhnya aku iri karena abang terlahir sebagai anak dengan kualitas unggul: gagah dan cerdas. Sedangkan aku (sepertinya) dilahirkan dari benih terburuk Ayah dan Ibu. Aku tidak berjiwa gagah dan juga tidak berakal cerdas. Ah, aku iri sekali dengan abangku. Setidaknya, aku ingin dia mati agar aku tidak terlihat serba kekurangan di hadapan masyarakat. Tunggu saja tanggal mainnya.

◆◆◆

“Ris, malam ini mau ikut ke laut gak?” tanya Ayah padaku.

“Aku dirumah saja, yah. Kasian Ibu sendirian.”

“Loh, abangmu kemana?”

“Bang Halim pergi tadi. Katanya mau ada pertandingan bola sore ini di lapangan kantor desa. Terus malamnya mau tinggal di rumah sahabatnya.”

“Oh begitu. Ya sudah, kamu jaga Ibu baik-baik ya.”

Aku mengangguk.

Tumben sekali Ayah mengajak pergi ke laut. Apa mungkin Ayah mau mengajarkan cara menombak ikan? Mungkin saja. Mungkin juga Ayah bosan melihat diriku melamun di pantai saat senja.

Jujur saja, aku sering melamun saat senja. Menikmati warna jingga kemerahan di penghujung hari sambil membuka botol-botol berisi kertas bertuliskan harapan-harapan yang entah dari siapa. Botol-botol itu terus berdatangan setiap hari, dibawa oleh ombak ke tepian pantai. Mengherankan sekali.

AKU HARAP KAU BAIK-BAIK SAJA

Tulis salah satu kertas itu.

SEMOGA TUHAN MEMBERKATI KELUARGAMU

Juga,

AKU INGIN BERTEMU DENGAN MU

Begitu isi dari botol-botol itu.

Aku sempat bertanya kepada Ayah tentang botol-botol itu. Kata Ayah, itu adalah doa dari orang-orang bodoh. Aku heran, kenapa Ayah berkata seperti itu.

“Ris, orang-orang itu berdoa kepada laut. Tidak patut dicontoh. Berdoa itu hanya kepada Tuhan,” ucap Ayah.

“Tapi, kertas-kertas itu isinya seperti pesan untuk seseorang. Bukan doa seperti yang Ayah maksud.”

“Mungkin saja.”

“Mungkin? Maksud Ayah?”

“Nanti Ayah jelaskan. Sekarang Ayah mau bersiap dulu. Ayah berangkat sebentar lagi.”

Aku mengiyakan. Aku sempat membantu Ayah menyiapkan peralatan untuk menangkap ikan sebelum akhirnya Ayah pergi melaut. Ayah berpamitan.

◆◆◆

Aku sempat bertanya kepada Ibu tentang botol-botol itu. Kata Ibu, sebaiknya aku bertanya pada Ayah saja. Yah, andai Ibu tahu kalau aku sudah menanyakannya kepada Ayah terlebih dahulu, mungkin Ibu akan mengatakan yang sesungguhnya.

“Haris sudah nanya tadi ke Ayah sebelum Ayah melaut.”

“Apa kata Ayahmu?”

“Nanti dijelaskan setelah Ayah pulang katanya.”

“Ya sudah, tunggu Ayahmu pulang saja, nak.”

Malam itu, aku tidak tidur. Ucapan Ayah tentang botol-botol dari laut membuat aku berpikir sepanjang malam. Tak bisa otakku berhenti memikirkannya. Aku tak dapat tidur dengan lelap. Sungguh.

◆◆◆

Fajar sudah menyapa. Aku menunggu Ayah pulang di pinggiran pantai. Setiap kali aku melihat kapal nelayan, aku selalu berharap itu adalah kapal milik Ayah.
Ayah tiba setelah aku menunggu sepuluh menit di pinggiran pantai. Aku menghampirinya, lalu menagih janji Ayah tentang penjelasan botol-botol itu. Ayah mengusap kepalaku dan berkata bahwa dirinya akan membicarakannya di rumah. Karena melawan kepada orang tua tidak diperbolehkan, jadi, aku menurut saja. Padahal, aku ingin informasi itu disampaikan se-segera mungkin. Menyebalkan.

Kami sampai di rumah ketika Ibu sedang memasak ikan untuk sarapan pagi. Aku menyiapkan tempat duduk dan air minum agar Ayah bisa bercerita dengan lapang. Aku menyiapkan segalanya untuk membuat Ayah merasa se-nyaman mungkin meski lantai rumah terdiri dari kayu yang sudah sedikit rapuh. Ayah tersenyum melihat tingkahku. Kemudian Ayah berkata, “Duduk nak. Ayah akan ceritakan semuanya.” Aku mengiyakan.

“Sebenarnya, Ayah sudah lama menunggu momen seperti ini,” kata Ayah memulai percakapan.

“Jadi, maksud Ayah..”

“Iya, Ayah sudah lama ingin bercerita padamu, Ris. Ayah menunggu kamu siap untuk mendengarkannya.”

“Siap?”

“Ris, dengar ya. Ayah akan memberitahukan semuanya. Tapi, Ayah minta agar kamu memeluk Ayah setelah semuanya selesai. Deal?”

“Bba.. baiklah..”

“Ris, kamu itu sebetulnya bukan anak kandung Ayah. Kamu Ayah temukan di pinggir lautan dengan kondisi terbungkus dalam keranjang buah,” kata Ayah memulai, “dan Ayah tidak tega melihatmu ditelantarkan seperti itu. Kemudian Ayah membawamu pulang dan merawatmu sampai kau seperti ini..”

“Apa..” Aku berkata dengan tatapan kosong.

“Jadi botol-botol yang kau temukan di pinggiran pantai itu, yang dibawa air laut itu, sangat besar kemungkinannya ditujukan kepadamu, Ris.”

Aku tidak tahan dengan cerita Ayah. Aku pergi dengan segera dan berlari dari rumah menuju tebing di pinggir pantai.

“Haris! Kembali nak!” ucap Ayah yang mulai emosional. Ayah berusaha mencegah diriku, tapi aku terlalu gesit untuk dapat dihadang Ayah. Ayah juga tidak mampu mengejarku. Hingga akhirnya Ayah membiarkanku pergi.

Aku berlari dengan menangis sampai hampir semua orang yang aku lewati menatapku dengan konsentrasi tinggi. Aku tidak akan menyembunyikan air mata ini. Biar saja orang lain melihat kesedihanku. Aku sudah terlalu lelah untuk menutupi perasaanku sendiri.
Akhirnya, aku sampai di ujung tebing. Duduk dengan menatap laut dan menangis sejadi-jadinya. Sungguh tak dapat dipercaya, sungguh sekali. Aku berpikir bagaimana bisa Ayah dan Ibu tidak mengatakan rahasia ini sejak dulu. Aku kecewa sekali, sungguh. Aku menangis sampai langit berwarna jingga, waktu dimana aku selalu mendapatkan pesan dari laut yang mungkin dikirim oleh ibu kandungku itu. Aku meratapi kenyataan.
Lalu, terbesit sebuah akal dalam pikiranku.
Aku akan berusaha menemukan ibu kandungku, bagaimanapun caranya. Dan akhirnya, aku melangkah maju, melihat laut lebih luas. Aku percaya, jika aku ditemukan dari laut, maka aku akan kembali dari laut pula. Kemudian dengan langkah berani, aku berlari dan meloncat dari atas tebing. Biarkan aku tidak bertemu denganmu di dunia. Asal nanti, aku akan mendatangimu setelah kematian ini untuk membalas dendamku padamu yang dengan tega membuang anaknya sendiri, ibu!

Apa Persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah

Pulang sekolah ia memapasi Elena berduaan dengan Andrea. Selepas melihat pemandangan menjengkelkan itu ia menunda kepulangannya. Ia memilih menenangkan diri ke perpustakaan sekolah. Ia pernah dengar bahwa perpustakaan adalah rumah sakit bagi pikiran. Atas dasar itu ia menyangka barangkali perpustakaan juga rumah sakit bagi hati yang terluka.

Di pojokan dibacanya Kamur Besar Bahasa Indonesia, pada lema “cinta” ia membacanya dengan berkaca-kaca. Lebay memang. Tapi, begitulah adanya. Tak lama ia menutup buku babon itu dan beralih membuka buku biografi para ilmuwan. Ia tercengang menemukan fakta bahwa Nikola Tesla jomblo sampai mati. Fakta itu membuatnya merasa senasib dengan Tesla. Sayangnya, kesamaan di antara ia dan Tesla bukan dalam kecerdasan dan banyaknya penemuan, tapi sama dalam hal kejombloan. Sebuah kesamaan yang dipaksakan dan mengenaskan.

Masih di rak biografi dibukanya kini buku biografi para ulama. Tertulis di tepi buku nama penulisnya adalah Ahmad Farid. Ia sama sekali tak mengenal nama itu dan itu tak jadi soal. Secara acak ia baca halaman demi halaman dari buku itu. Tak ada yang cukup menarik baginya hingga ia membaca tentang Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama dan mujahid dan punya banyak karya dan pernah dipenjara karena terzalimi.
Semua itu adalah fakta. Namun bukan itu yang memincutnya. Ada satu fakta terselip Ibnu Taimiyah yang membinar-binarkan matanya, yakni fakta bahwa Ibnu Taimiyah tak menikah hingga wafatnya. Seketika di otaknya tercetuskan sebuah pertanyaan ajaib.

“Apa persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah?”

Ia ketawa terbahak memikirkan pertanyaan itu. Penjaga perpustakaan dan sejumlah pengunjung menoleh kepadanya dan merasa heran. Tetapi, bukannya diam, ia malah makin terbahak-bahak ketika kembali memikirkan pertanyaan ajaib itu.

Setelah tawanya usai ia meletakkan buku pada tempatnya. Ia menuju ke arah meja penjaga perpustakaan. Nama sang penjaga adalah Radian. Ia menatap mata Radian dengan pandangan optimis dan mulai menampakkan itikat ingin mengatakan sesuatu.

“Mas Radian, aku punya satu pertanyaan untukmu.” katanya dengan wajah berseri-seri.

“Apakah itu?” timpal Radian sedikit menggeser letak kacamatanya.

Ia menaruh kedua telapak tangan di meja. Matanya menatap lurus dan tajam ke mata Radian. Lalu meluncurlah pertanyaan ajaib itu dari mulutnya.

“Apa persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah?”

Radian terlonjak kaget, heran, dan bungkam. Wajahnya agak masam. Dan melihat tekstur wajah Radian yang muram itu, ia pun tertawa. Tertawa sangat keras seakan mengejek kekagetan, keheranan, dan kebungkaman Radian.

“Kau tahu, Mas Radian, persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah, adalah bahwa keduanya mati dalam keadaan jomblo.”

Ia tertawa terbahak-bahak. Tampak seperti bergembira sekali. Sedangkan Radian agaknya kesal dan menahan diri untuk tidak menghantam mukanya dengan bogem mentah.

Tak berapa lama ia keluar dari perpustakaan. Pulang. Melewati gerbang sekolah. Di kafe kecil pinggir jalan dekat sekolah ia memergoki Elena dan Andrea sedang makan bareng. Saling menyuapi. Atas kenyataan pahit yang terhidang di depan matanya itu ia mulai menyusun rencana untuk mengikuti jejak Tesla dan Ibnu Taimiyah. []

(Tambun Selatan-Bekasi, Juli 2017)

“Aku Gak Akan Ngundang Kamu”

“Kamu jahat! kamu bilang kamu setia! Tapi kenyataannya, kamu jalan sama perempuan lain!” ucap Anggi dengan isakan tangis.
“Itu.. itu cuma sepupu aku”, Rama menjawab pelan.

Anggi pergi meninggalkan Rama. Ia berlari dengan cucuran air mata yang mengalir di pipi halusnya. Lita, kembaran Anggi, berusaha mengejar dan menenangkan Anggi.

Di taman sekolah itu, hanya teman-teman Rama yang melihat kejadian antara teman mereka dan pacarnya. Kejadian yang sudah sangat dipahami anak muda zaman sekarang. Waktu menunjukkan pukul 3 sore, setengah jam setelah pulang sekolah. Sebelumnya, Anggi sudah meminta Rama untuk menemui dirinya di taman sekolah selepas pulang sekolah. Katanya, ada yang mau dibicarakan. Di luar sangkaan Rama, terjadilah apa yang sudah terjadi. Kata-kata itu keluar dengan mudah dari mulut Anggi tanpa bisa dibantah Rama. Rama merelakan Anggi pergi.

~•~

Rama pergi menuju sekolah 15 menit lebih awal. Ia berharap dapat menemui Anggi sebelum jam pelajaran sekolah dimulai. Rama tahu kalau Anggi adalah anak rajin. Jadi, Ia akan menemuinya di pagi hari untuk meminimalisir keramaian yang sangat dibencinya.

Anggi sudah duduk manis didalam kelas. Wajahnya terlihat sedikit lebih murung. Mungkin Anggi sedang memikirkan apa yang akan terjadi antara dirinya dengan Rama, kendati Rama sudah membuatnya patah hati.

Anggi berdiri dari bangkunya. Ia berniat untuk menemui Rama. Ia ingin memberi kejelasan tentang kepergiannya dari diri Rama. Ya, Anggi ingin putus.

Sebelum pergi keluar kelas, seorang siswa berkulit gelap dan berperawakan tinggi datang ke kelas 12 IPA C, kelasnya Anggi. Tiba-tiba Ia memegang tangan Anggi.
“Aku bisa jelasin,” ucapnya.
“Rra.. Rama?” Anggi kebingungan.
“Wa.. waktu itu, aku cuma nemenin sepupu beli tas.. Lagipula, sepupu aku itu, gasuka sama aku.”
“Aku gak peduli, Ram. Aku minta putus.”
Rama tercengang oleh perkataan Anggi. Seakan-akan Ia melihat kilatan petir tepat di depan matanya. Anggi kemudian melepaskan genggaman tangan Rama, lalu menyuruhnya pergi.

Rama pergi menuju kelasnya sendiri dengan lunglai. Sebentar lagi pelajaran sekolah dimulai. Rama berusaha menyamarkan air matanya yang sedikit demi sedikit terurai.

Waktu terasa begitu lambat bagi Rama tanpa kehadiran Anggi di sisinya. Keseharian Rama hanya diisi oleh kegiatan membosankan. Seperti, belajar di sekolah misalnya. Di rumah pun Rama lebih sering menghabiskan waktu di tempat tidur. Hapenya sekarang sepi, tanpa kabar dari Anggi. Terkadang Rama bermain gitar untuk mengusir kebosanan yang selalu saja datang di malam hari.
“Ram, tidur Ram. Sudah larut malam nak.” Ibu Rama mengingatkan.
“Iya bu, bentar lagi.”
Alunan nada dari gitar yang dimainkan Rama memang terdengar lebih nyaring di malam hari, karena hari sudah sepi.

Hari demi hari berlalu. Rama masih setia dengan kesendiriannya.

~•~

“Lulus gak?” tanya Rama kepada temannya, Anton, tentang pengumuman Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.
“Alhamdulillah lulus. Lu sendiri?”
“Gua juga. Yang lain gimana? Dapet?”
“Katanya sih lulus juga. Tapi gua gak tau pasti.”
“Bagus deh. Semoga beneran lolos semua.”
Rama dan Anton terlibat percakapan selama 15 menit. Semua tampak biasa, sampai Anton bertanya, “Si Anggi gimana kabarnya?”
Rama terdiam sejenak. Lalu Rama berkata bahwa Dia dengan Anggi sudah tidak lagi berkomunikasi sejak kelulusan SMA. Rama juga menjelaskan kenapa Anggi lebih memilih pergi dari dirinya.

Rama dan Anggi masuk ke universitas yang berbeda. Rama diterima di universitas terkemuka di Jakarta. Sedangkan Anggi, memilih universitas di luar pulau Jawa. Mungkin Anggi ingin menghindari peluang bertemu Rama. Entah lah.

Tahun demi tahun berlalu. Rama masih bertahan dengan kesendiriannya.

“Ram, lu yakin gak akan pacaran lagi? Banyak loh yang ngefans sama lu!” tanya teman sekelas Rama dengan heboh.
“Engga. Gua gak peduli.”
“Wah.. gila lu Ram..”
“Terserah lu Jan. Mau bilang gua gila kek, mau bilang apa kek, gua gak peduli. Gua masih berharap sama Anggi, bukan yang lain”

Begitulah Rama. Bertahun-tahun Ia masih mengharap kepada Anggi walaupun sudah tidak ada kabar lagi darinya. Dia rela setia dengan kesendirian yang digemarinya daripada menjalin cinta dengan seseorang yang tidak disukainya.

Hingga akhirnya, terdengar kabar bahwa Anggi akan menikah. Kabar tersebut Rama dapati dari seorang teman SMA, Lita, yang berada di universitas yang sama dengan Anggi.

Rama semakin terjatuh. Rama semakin rapuh.

Rama kemudian mengirimi Anggi sebuah pesan singkat setelah mendaptakan nomornya dari Lita.

JANGAN LUPA UNDANG AKU.
-RAMA

Rama berharap sekali Anggi dapat membalas pesan singkatnya. Selang beberapa saat, harapan Rama terwujud; Anggi membalas pesan singkatnya.

AKU GAK AKAN NGUNDANG KAMU KE PERNIKAHAN AKU. GAK AKAN PERNAH!

Begitu isi pesan singkat dari Anggi. Rama semakin terpukul. Balasan dari Anggi sungguh menyayat hati. Harapan yang tidak seharusnya diharapkan.

~•~

Rama mulai menyusun karir pekerjaannya. Ia mulai menjajaki dunia pendidikan yang memang diinginkannya sejak bangku kuliah. Ilmu yang didapatkannya di universitas pun sejalan dengan impiannya.

Rama bekerja di daerah Ibukota, dekat dengan tempat tinggal Anggi. Anggi sendiri telah pulang dari perantauannya setelah lulus dari perguruan tingginya di Sumatera. Sekarang, Anggi bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Tapi Rama tidak peduli. Rama berpikir bahwa Anggi sudah menikah dan memiliki keluarga bahagia tanpa hadirnya orang ketiga.

Hingga sampai pada saat Rama menerima pesan singkat dari Lita yang berisi,

RAMA, DITUNGGU LAMARANNYA KE RUMAH. KAKA GUE NUNGGU.

“Apa? Anggi belum nikah? Yang benar saja..” gumam Rama. Rama ragu, apakah Ia harus percaya dengan berita itu atau tidak. Rama kemudian menelpon Lita untuk mencari kepastian.

“Lu serius Ta?”
“Gue serius. Anggi itu belum nikah.”
“Waktu itu, bukannya lu bilang kalo Anggi mau nikah?”
“Iya emang. Anggi mau nikah, tapi sama lo. Dia rela nungguin lo bertahun-tahun. Udah deh buruan ke rumah.”
“Oke oke, gua nanti kesana.”

Rama mengabari orang tuanya bahwa Ia akan melamar Anggi. Orang tua Rama bahagia mendengar kabar tersebut. Kemudian, keluarga Rama dan Anggi melakukan pertemuan untuk merumuskan pernikahan antara anak mereka.

Waktu dan tempat pun disepakati. Undangan mulai dicetak. Semua diurus dengan rapi.

Waktu pernikahan tiba. Rama mengucap akad disamping Anggi. Resepsi dilakukan dengan cara yang sederhana di rumah Anggi. Lalu Anggi berbisik kepada Rama, “Benar kan apa yang aku bilang? Aku gak mau ngundang kamu, karena aku mau nikah sama kamu.”
Rama hanya bisa tersenyum, lalu memeluk Anggi. Mereka kemudian berdiam di kamar pengantin seiring beresnya resepsi. Mereka tampak seperti keluarga bahagia.

Tiba-tiba handphone Anggi berdering. Anggi langsung mengambilnya dengan terburu-buru, seraya meminta izin kepada Rama untuk menerima telepon. Rama mengiyakan.

Di handphone-nya itu, terdapat tulisan CALL FROM ANGGI. Anggi mengangkatnya.

“Gimana Ta, lancar?” tanya suara dari hape itu.
“Everything’s okay. Gak perlu khawatir,”
“Oke. Makasih ya Ta. Lo emang adik terbaik” ucap suara itu lagi.
“Santai kak”
“Gue udah muak ketemu Rama. Doain pernikahan gue di sini lancar”
“Amin kak.”

Telepon berakhir.

Selagi Anggi keluar, Rama berkeliling kamar. Melihat-lihat foto istrinya dengan keluarganya yang terpampang di dinding kamar. Kemudian Rama tanpa sengaja melihat dompet Anggi. Lalu Rama membuka dompet istrinya, melihat foto-foto dan apa yang ada di dalamnya.

Alangkah terkejutnya Rama ketika melihat KTP sang istri dengan kolom nama bertuliskan “LITA LILIANA”.