Anak Laut

Ombak-ombak di pinggiran pantai mengenai kakiku. Membasahi pasir, lalu kembali menuju laut. Di situ lah aku berdiam, merenung dan menyendiri. Menikmati suara ombak laut ditemani warna indah senja di sore hari. Aku tidak begitu menyukai keramaian. Bukannya benci, tapi terkadang menyendiri lebih nyaman. Begitulah jalur kehidupan yang aku pilih. Berbicara kepada semesta mungkin lebih berarti daripada dengan sesama manusia. Alam selalu mendengar (walau tak pernah membalas). Tapi manusia, kadang mendengarkan saja tak mau. Ya, begitulah faktanya.
Aku lahir dari sebuah keluarga sederhana. Ayahku bekerja seperti kebanyakan orang pantai lainnya; nelayan. Beliau orang yang ramah. Hampir semua nelayan kenal dengannya. Kata orang-orang, Ayah adalah nelayan hebat. Lemparan tombaknya tak pernah meleset dari sasaran. Padahal setahu aku, nelayan itu mengambil ikan dengan jala. Aku tidak mengerti, apakah semua nelayan itu sama atau tidak. Mungkin suatu hari nanti aku akan mengetahuinya setelah menjadi nelayan. Entah lah.
Ibuku, wanita paruh baya yang kesehariannya menjual ikan hasil tangkapan ayah. Barang dagangan Ibu selalu menjadi pilihan warga sekitar. Kata orang-orang, dagangan Ibu segar semua. Dagangannya disimpan bersama dengan butiran es halus yang seperti salju. Padahal setahu aku, memang begitu seharusnya ikan dijual. Aku tidak tahu apakah semua penjual ikan seperti itu atau tidak. Mungkin suatu hari nanti aku akan mengetahuinya setelah aku menikah. Entah lah.

Aku mengagumi keduanya. Aku ingin menjadi gagah seperti ayah. Aku ingin cerdas seperti Ibu. Tapi, kau tahu, kedua sifat ini dimiliki oleh abangku. Sesungguhnya aku iri karena abang terlahir sebagai anak dengan kualitas unggul: gagah dan cerdas. Sedangkan aku (sepertinya) dilahirkan dari benih terburuk Ayah dan Ibu. Aku tidak berjiwa gagah dan juga tidak berakal cerdas. Ah, aku iri sekali dengan abangku. Setidaknya, aku ingin dia mati agar aku tidak terlihat serba kekurangan di hadapan masyarakat. Tunggu saja tanggal mainnya.

◆◆◆

“Ris, malam ini mau ikut ke laut gak?” tanya Ayah padaku.

“Aku dirumah saja, yah. Kasian Ibu sendirian.”

“Loh, abangmu kemana?”

“Bang Halim pergi tadi. Katanya mau ada pertandingan bola sore ini di lapangan kantor desa. Terus malamnya mau tinggal di rumah sahabatnya.”

“Oh begitu. Ya sudah, kamu jaga Ibu baik-baik ya.”

Aku mengangguk.

Tumben sekali Ayah mengajak pergi ke laut. Apa mungkin Ayah mau mengajarkan cara menombak ikan? Mungkin saja. Mungkin juga Ayah bosan melihat diriku melamun di pantai saat senja.

Jujur saja, aku sering melamun saat senja. Menikmati warna jingga kemerahan di penghujung hari sambil membuka botol-botol berisi kertas bertuliskan harapan-harapan yang entah dari siapa. Botol-botol itu terus berdatangan setiap hari, dibawa oleh ombak ke tepian pantai. Mengherankan sekali.

AKU HARAP KAU BAIK-BAIK SAJA

Tulis salah satu kertas itu.

SEMOGA TUHAN MEMBERKATI KELUARGAMU

Juga,

AKU INGIN BERTEMU DENGAN MU

Begitu isi dari botol-botol itu.

Aku sempat bertanya kepada Ayah tentang botol-botol itu. Kata Ayah, itu adalah doa dari orang-orang bodoh. Aku heran, kenapa Ayah berkata seperti itu.

“Ris, orang-orang itu berdoa kepada laut. Tidak patut dicontoh. Berdoa itu hanya kepada Tuhan,” ucap Ayah.

“Tapi, kertas-kertas itu isinya seperti pesan untuk seseorang. Bukan doa seperti yang Ayah maksud.”

“Mungkin saja.”

“Mungkin? Maksud Ayah?”

“Nanti Ayah jelaskan. Sekarang Ayah mau bersiap dulu. Ayah berangkat sebentar lagi.”

Aku mengiyakan. Aku sempat membantu Ayah menyiapkan peralatan untuk menangkap ikan sebelum akhirnya Ayah pergi melaut. Ayah berpamitan.

◆◆◆

Aku sempat bertanya kepada Ibu tentang botol-botol itu. Kata Ibu, sebaiknya aku bertanya pada Ayah saja. Yah, andai Ibu tahu kalau aku sudah menanyakannya kepada Ayah terlebih dahulu, mungkin Ibu akan mengatakan yang sesungguhnya.

“Haris sudah nanya tadi ke Ayah sebelum Ayah melaut.”

“Apa kata Ayahmu?”

“Nanti dijelaskan setelah Ayah pulang katanya.”

“Ya sudah, tunggu Ayahmu pulang saja, nak.”

Malam itu, aku tidak tidur. Ucapan Ayah tentang botol-botol dari laut membuat aku berpikir sepanjang malam. Tak bisa otakku berhenti memikirkannya. Aku tak dapat tidur dengan lelap. Sungguh.

◆◆◆

Fajar sudah menyapa. Aku menunggu Ayah pulang di pinggiran pantai. Setiap kali aku melihat kapal nelayan, aku selalu berharap itu adalah kapal milik Ayah.
Ayah tiba setelah aku menunggu sepuluh menit di pinggiran pantai. Aku menghampirinya, lalu menagih janji Ayah tentang penjelasan botol-botol itu. Ayah mengusap kepalaku dan berkata bahwa dirinya akan membicarakannya di rumah. Karena melawan kepada orang tua tidak diperbolehkan, jadi, aku menurut saja. Padahal, aku ingin informasi itu disampaikan se-segera mungkin. Menyebalkan.

Kami sampai di rumah ketika Ibu sedang memasak ikan untuk sarapan pagi. Aku menyiapkan tempat duduk dan air minum agar Ayah bisa bercerita dengan lapang. Aku menyiapkan segalanya untuk membuat Ayah merasa se-nyaman mungkin meski lantai rumah terdiri dari kayu yang sudah sedikit rapuh. Ayah tersenyum melihat tingkahku. Kemudian Ayah berkata, “Duduk nak. Ayah akan ceritakan semuanya.” Aku mengiyakan.

“Sebenarnya, Ayah sudah lama menunggu momen seperti ini,” kata Ayah memulai percakapan.

“Jadi, maksud Ayah..”

“Iya, Ayah sudah lama ingin bercerita padamu, Ris. Ayah menunggu kamu siap untuk mendengarkannya.”

“Siap?”

“Ris, dengar ya. Ayah akan memberitahukan semuanya. Tapi, Ayah minta agar kamu memeluk Ayah setelah semuanya selesai. Deal?”

“Bba.. baiklah..”

“Ris, kamu itu sebetulnya bukan anak kandung Ayah. Kamu Ayah temukan di pinggir lautan dengan kondisi terbungkus dalam keranjang buah,” kata Ayah memulai, “dan Ayah tidak tega melihatmu ditelantarkan seperti itu. Kemudian Ayah membawamu pulang dan merawatmu sampai kau seperti ini..”

“Apa..” Aku berkata dengan tatapan kosong.

“Jadi botol-botol yang kau temukan di pinggiran pantai itu, yang dibawa air laut itu, sangat besar kemungkinannya ditujukan kepadamu, Ris.”

Aku tidak tahan dengan cerita Ayah. Aku pergi dengan segera dan berlari dari rumah menuju tebing di pinggir pantai.

“Haris! Kembali nak!” ucap Ayah yang mulai emosional. Ayah berusaha mencegah diriku, tapi aku terlalu gesit untuk dapat dihadang Ayah. Ayah juga tidak mampu mengejarku. Hingga akhirnya Ayah membiarkanku pergi.

Aku berlari dengan menangis sampai hampir semua orang yang aku lewati menatapku dengan konsentrasi tinggi. Aku tidak akan menyembunyikan air mata ini. Biar saja orang lain melihat kesedihanku. Aku sudah terlalu lelah untuk menutupi perasaanku sendiri.
Akhirnya, aku sampai di ujung tebing. Duduk dengan menatap laut dan menangis sejadi-jadinya. Sungguh tak dapat dipercaya, sungguh sekali. Aku berpikir bagaimana bisa Ayah dan Ibu tidak mengatakan rahasia ini sejak dulu. Aku kecewa sekali, sungguh. Aku menangis sampai langit berwarna jingga, waktu dimana aku selalu mendapatkan pesan dari laut yang mungkin dikirim oleh ibu kandungku itu. Aku meratapi kenyataan.
Lalu, terbesit sebuah akal dalam pikiranku.
Aku akan berusaha menemukan ibu kandungku, bagaimanapun caranya. Dan akhirnya, aku melangkah maju, melihat laut lebih luas. Aku percaya, jika aku ditemukan dari laut, maka aku akan kembali dari laut pula. Kemudian dengan langkah berani, aku berlari dan meloncat dari atas tebing. Biarkan aku tidak bertemu denganmu di dunia. Asal nanti, aku akan mendatangimu setelah kematian ini untuk membalas dendamku padamu yang dengan tega membuang anaknya sendiri, ibu!

Apa Persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah

Pulang sekolah ia memapasi Elena berduaan dengan Andrea. Selepas melihat pemandangan menjengkelkan itu ia menunda kepulangannya. Ia memilih menenangkan diri ke perpustakaan sekolah. Ia pernah dengar bahwa perpustakaan adalah rumah sakit bagi pikiran. Atas dasar itu ia menyangka barangkali perpustakaan juga rumah sakit bagi hati yang terluka.

Di pojokan dibacanya Kamur Besar Bahasa Indonesia, pada lema “cinta” ia membacanya dengan berkaca-kaca. Lebay memang. Tapi, begitulah adanya. Tak lama ia menutup buku babon itu dan beralih membuka buku biografi para ilmuwan. Ia tercengang menemukan fakta bahwa Nikola Tesla jomblo sampai mati. Fakta itu membuatnya merasa senasib dengan Tesla. Sayangnya, kesamaan di antara ia dan Tesla bukan dalam kecerdasan dan banyaknya penemuan, tapi sama dalam hal kejombloan. Sebuah kesamaan yang dipaksakan dan mengenaskan.

Masih di rak biografi dibukanya kini buku biografi para ulama. Tertulis di tepi buku nama penulisnya adalah Ahmad Farid. Ia sama sekali tak mengenal nama itu dan itu tak jadi soal. Secara acak ia baca halaman demi halaman dari buku itu. Tak ada yang cukup menarik baginya hingga ia membaca tentang Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama dan mujahid dan punya banyak karya dan pernah dipenjara karena terzalimi.
Semua itu adalah fakta. Namun bukan itu yang memincutnya. Ada satu fakta terselip Ibnu Taimiyah yang membinar-binarkan matanya, yakni fakta bahwa Ibnu Taimiyah tak menikah hingga wafatnya. Seketika di otaknya tercetuskan sebuah pertanyaan ajaib.

“Apa persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah?”

Ia ketawa terbahak memikirkan pertanyaan itu. Penjaga perpustakaan dan sejumlah pengunjung menoleh kepadanya dan merasa heran. Tetapi, bukannya diam, ia malah makin terbahak-bahak ketika kembali memikirkan pertanyaan ajaib itu.

Setelah tawanya usai ia meletakkan buku pada tempatnya. Ia menuju ke arah meja penjaga perpustakaan. Nama sang penjaga adalah Radian. Ia menatap mata Radian dengan pandangan optimis dan mulai menampakkan itikat ingin mengatakan sesuatu.

“Mas Radian, aku punya satu pertanyaan untukmu.” katanya dengan wajah berseri-seri.

“Apakah itu?” timpal Radian sedikit menggeser letak kacamatanya.

Ia menaruh kedua telapak tangan di meja. Matanya menatap lurus dan tajam ke mata Radian. Lalu meluncurlah pertanyaan ajaib itu dari mulutnya.

“Apa persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah?”

Radian terlonjak kaget, heran, dan bungkam. Wajahnya agak masam. Dan melihat tekstur wajah Radian yang muram itu, ia pun tertawa. Tertawa sangat keras seakan mengejek kekagetan, keheranan, dan kebungkaman Radian.

“Kau tahu, Mas Radian, persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah, adalah bahwa keduanya mati dalam keadaan jomblo.”

Ia tertawa terbahak-bahak. Tampak seperti bergembira sekali. Sedangkan Radian agaknya kesal dan menahan diri untuk tidak menghantam mukanya dengan bogem mentah.

Tak berapa lama ia keluar dari perpustakaan. Pulang. Melewati gerbang sekolah. Di kafe kecil pinggir jalan dekat sekolah ia memergoki Elena dan Andrea sedang makan bareng. Saling menyuapi. Atas kenyataan pahit yang terhidang di depan matanya itu ia mulai menyusun rencana untuk mengikuti jejak Tesla dan Ibnu Taimiyah. []

(Tambun Selatan-Bekasi, Juli 2017)

“Aku Gak Akan Ngundang Kamu”

“Kamu jahat! kamu bilang kamu setia! Tapi kenyataannya, kamu jalan sama perempuan lain!” ucap Anggi dengan isakan tangis.
“Itu.. itu cuma sepupu aku”, Rama menjawab pelan.

Anggi pergi meninggalkan Rama. Ia berlari dengan cucuran air mata yang mengalir di pipi halusnya. Lita, kembaran Anggi, berusaha mengejar dan menenangkan Anggi.

Di taman sekolah itu, hanya teman-teman Rama yang melihat kejadian antara teman mereka dan pacarnya. Kejadian yang sudah sangat dipahami anak muda zaman sekarang. Waktu menunjukkan pukul 3 sore, setengah jam setelah pulang sekolah. Sebelumnya, Anggi sudah meminta Rama untuk menemui dirinya di taman sekolah selepas pulang sekolah. Katanya, ada yang mau dibicarakan. Di luar sangkaan Rama, terjadilah apa yang sudah terjadi. Kata-kata itu keluar dengan mudah dari mulut Anggi tanpa bisa dibantah Rama. Rama merelakan Anggi pergi.

~•~

Rama pergi menuju sekolah 15 menit lebih awal. Ia berharap dapat menemui Anggi sebelum jam pelajaran sekolah dimulai. Rama tahu kalau Anggi adalah anak rajin. Jadi, Ia akan menemuinya di pagi hari untuk meminimalisir keramaian yang sangat dibencinya.

Anggi sudah duduk manis didalam kelas. Wajahnya terlihat sedikit lebih murung. Mungkin Anggi sedang memikirkan apa yang akan terjadi antara dirinya dengan Rama, kendati Rama sudah membuatnya patah hati.

Anggi berdiri dari bangkunya. Ia berniat untuk menemui Rama. Ia ingin memberi kejelasan tentang kepergiannya dari diri Rama. Ya, Anggi ingin putus.

Sebelum pergi keluar kelas, seorang siswa berkulit gelap dan berperawakan tinggi datang ke kelas 12 IPA C, kelasnya Anggi. Tiba-tiba Ia memegang tangan Anggi.
“Aku bisa jelasin,” ucapnya.
“Rra.. Rama?” Anggi kebingungan.
“Wa.. waktu itu, aku cuma nemenin sepupu beli tas.. Lagipula, sepupu aku itu, gasuka sama aku.”
“Aku gak peduli, Ram. Aku minta putus.”
Rama tercengang oleh perkataan Anggi. Seakan-akan Ia melihat kilatan petir tepat di depan matanya. Anggi kemudian melepaskan genggaman tangan Rama, lalu menyuruhnya pergi.

Rama pergi menuju kelasnya sendiri dengan lunglai. Sebentar lagi pelajaran sekolah dimulai. Rama berusaha menyamarkan air matanya yang sedikit demi sedikit terurai.

Waktu terasa begitu lambat bagi Rama tanpa kehadiran Anggi di sisinya. Keseharian Rama hanya diisi oleh kegiatan membosankan. Seperti, belajar di sekolah misalnya. Di rumah pun Rama lebih sering menghabiskan waktu di tempat tidur. Hapenya sekarang sepi, tanpa kabar dari Anggi. Terkadang Rama bermain gitar untuk mengusir kebosanan yang selalu saja datang di malam hari.
“Ram, tidur Ram. Sudah larut malam nak.” Ibu Rama mengingatkan.
“Iya bu, bentar lagi.”
Alunan nada dari gitar yang dimainkan Rama memang terdengar lebih nyaring di malam hari, karena hari sudah sepi.

Hari demi hari berlalu. Rama masih setia dengan kesendiriannya.

~•~

“Lulus gak?” tanya Rama kepada temannya, Anton, tentang pengumuman Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.
“Alhamdulillah lulus. Lu sendiri?”
“Gua juga. Yang lain gimana? Dapet?”
“Katanya sih lulus juga. Tapi gua gak tau pasti.”
“Bagus deh. Semoga beneran lolos semua.”
Rama dan Anton terlibat percakapan selama 15 menit. Semua tampak biasa, sampai Anton bertanya, “Si Anggi gimana kabarnya?”
Rama terdiam sejenak. Lalu Rama berkata bahwa Dia dengan Anggi sudah tidak lagi berkomunikasi sejak kelulusan SMA. Rama juga menjelaskan kenapa Anggi lebih memilih pergi dari dirinya.

Rama dan Anggi masuk ke universitas yang berbeda. Rama diterima di universitas terkemuka di Jakarta. Sedangkan Anggi, memilih universitas di luar pulau Jawa. Mungkin Anggi ingin menghindari peluang bertemu Rama. Entah lah.

Tahun demi tahun berlalu. Rama masih bertahan dengan kesendiriannya.

“Ram, lu yakin gak akan pacaran lagi? Banyak loh yang ngefans sama lu!” tanya teman sekelas Rama dengan heboh.
“Engga. Gua gak peduli.”
“Wah.. gila lu Ram..”
“Terserah lu Jan. Mau bilang gua gila kek, mau bilang apa kek, gua gak peduli. Gua masih berharap sama Anggi, bukan yang lain”

Begitulah Rama. Bertahun-tahun Ia masih mengharap kepada Anggi walaupun sudah tidak ada kabar lagi darinya. Dia rela setia dengan kesendirian yang digemarinya daripada menjalin cinta dengan seseorang yang tidak disukainya.

Hingga akhirnya, terdengar kabar bahwa Anggi akan menikah. Kabar tersebut Rama dapati dari seorang teman SMA, Lita, yang berada di universitas yang sama dengan Anggi.

Rama semakin terjatuh. Rama semakin rapuh.

Rama kemudian mengirimi Anggi sebuah pesan singkat setelah mendaptakan nomornya dari Lita.

JANGAN LUPA UNDANG AKU.
-RAMA

Rama berharap sekali Anggi dapat membalas pesan singkatnya. Selang beberapa saat, harapan Rama terwujud; Anggi membalas pesan singkatnya.

AKU GAK AKAN NGUNDANG KAMU KE PERNIKAHAN AKU. GAK AKAN PERNAH!

Begitu isi pesan singkat dari Anggi. Rama semakin terpukul. Balasan dari Anggi sungguh menyayat hati. Harapan yang tidak seharusnya diharapkan.

~•~

Rama mulai menyusun karir pekerjaannya. Ia mulai menjajaki dunia pendidikan yang memang diinginkannya sejak bangku kuliah. Ilmu yang didapatkannya di universitas pun sejalan dengan impiannya.

Rama bekerja di daerah Ibukota, dekat dengan tempat tinggal Anggi. Anggi sendiri telah pulang dari perantauannya setelah lulus dari perguruan tingginya di Sumatera. Sekarang, Anggi bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Tapi Rama tidak peduli. Rama berpikir bahwa Anggi sudah menikah dan memiliki keluarga bahagia tanpa hadirnya orang ketiga.

Hingga sampai pada saat Rama menerima pesan singkat dari Lita yang berisi,

RAMA, DITUNGGU LAMARANNYA KE RUMAH. KAKA GUE NUNGGU.

“Apa? Anggi belum nikah? Yang benar saja..” gumam Rama. Rama ragu, apakah Ia harus percaya dengan berita itu atau tidak. Rama kemudian menelpon Lita untuk mencari kepastian.

“Lu serius Ta?”
“Gue serius. Anggi itu belum nikah.”
“Waktu itu, bukannya lu bilang kalo Anggi mau nikah?”
“Iya emang. Anggi mau nikah, tapi sama lo. Dia rela nungguin lo bertahun-tahun. Udah deh buruan ke rumah.”
“Oke oke, gua nanti kesana.”

Rama mengabari orang tuanya bahwa Ia akan melamar Anggi. Orang tua Rama bahagia mendengar kabar tersebut. Kemudian, keluarga Rama dan Anggi melakukan pertemuan untuk merumuskan pernikahan antara anak mereka.

Waktu dan tempat pun disepakati. Undangan mulai dicetak. Semua diurus dengan rapi.

Waktu pernikahan tiba. Rama mengucap akad disamping Anggi. Resepsi dilakukan dengan cara yang sederhana di rumah Anggi. Lalu Anggi berbisik kepada Rama, “Benar kan apa yang aku bilang? Aku gak mau ngundang kamu, karena aku mau nikah sama kamu.”
Rama hanya bisa tersenyum, lalu memeluk Anggi. Mereka kemudian berdiam di kamar pengantin seiring beresnya resepsi. Mereka tampak seperti keluarga bahagia.

Tiba-tiba handphone Anggi berdering. Anggi langsung mengambilnya dengan terburu-buru, seraya meminta izin kepada Rama untuk menerima telepon. Rama mengiyakan.

Di handphone-nya itu, terdapat tulisan CALL FROM ANGGI. Anggi mengangkatnya.

“Gimana Ta, lancar?” tanya suara dari hape itu.
“Everything’s okay. Gak perlu khawatir,”
“Oke. Makasih ya Ta. Lo emang adik terbaik” ucap suara itu lagi.
“Santai kak”
“Gue udah muak ketemu Rama. Doain pernikahan gue di sini lancar”
“Amin kak.”

Telepon berakhir.

Selagi Anggi keluar, Rama berkeliling kamar. Melihat-lihat foto istrinya dengan keluarganya yang terpampang di dinding kamar. Kemudian Rama tanpa sengaja melihat dompet Anggi. Lalu Rama membuka dompet istrinya, melihat foto-foto dan apa yang ada di dalamnya.

Alangkah terkejutnya Rama ketika melihat KTP sang istri dengan kolom nama bertuliskan “LITA LILIANA”.

Sebuah Hujan dan Alasan Perempuan Itu Membenci Ed Sheeran dan Gal Gadot

*
“Kau yang panas di kening, kau yang dingin di kenang.” (1)
*
Di tepi dinding waktu yang dingin ini. Seharusnya Perempuan Itu di rumah saja. Ia tak perlu menunggu entah siapa di kursi itu. Aku takut hujan datang dan ia kehujanan. Sedangkan aku merasa tak berhak memayunginya apalagi menggenggam jemarinya untuk menuntunnya berteduh.
*
Perempuan Itu sedikit-sedikit memegangi keningnya. Seperti sedang ada yang dikenangnya. Mungkin sesosok wajah. Mungkin sebuah kisah. Oh, bulan di langit terhalangi awan. Kurasa ada yang sedang ingin menangis. Mungkin awan-awan gelap itu. Mungkin perempuan berkudung gelap itu. Malam ini suhu menusuk sekali. Tubuhku seperti sate yang ditusuk cuaca. Dingin itu menusuk. Bukan hanya menusuk. Dingin itu juga merasuk. Dan kau tahu, dingin membuatmu memiliki banyak angan dan ingin. Aku ingin sebuah kehangatan. Aku ingin ada seseorang yang bisa kuajak bercakap-cakap tentang ingatan dan hal-hal remeh semisal, ‘Sayang, kamu tau nggak kenapa hujan membuat seseorang mudah bersedih?’ ‘Kenapa?’ jawab seseorang. ‘Karena hujan itu air. Dan airmata itu air. Keduanya itu sepasang kawan yang akrab, Sayang.’
*
Seorang perempuan berambut panjang mendekati Perempuan Itu. Tanpa canggung didudukinya ruang kosong kursi. Aku kadang heran mengapa sempat-sempatnya dua perempuan itu tenang-tenang saja duduk di kursi tepi trotoar sementara langit malam tampak begitu mendung. Apa yang sedang mereka cari. Hujan? Kenangan? Ataukah hujan yang penuh kenangan? Ataukah kenangan tentang hujan? Orang bilang perempuan itu sukar dimengerti. Dan perempuan yang memilih berada di luar ruangan ketika hujan akan datang, itu lebih sukar lagi dimengerti.
*
Perempuan berambut panjang, masih tanpa canggung, mengeluarkan earphone, namun tak lama memasukkannya kembali ke dalam tas. Tetapi gadget di tangannya masih menyala. Mengeluarkan suara. Suara yang membuat Perempuan Itu menoleh. Dua mata, mata perempuan berambut panjang dan Perempuan Itu saling menatap, tepat ketika suara itu berada pada lirik:

Oh, I never knew you were the someone waiting for me

‘Cause we were just kids when we fell in love

Not knowing what it was
*
“Aku benci penyanyi itu.” Perempuan Itu membuka suara. Membuka dialog bukan dengan salam ataupun sapa.
“Siapa yang kaumaksud?” balas perempuan berambut panjang. Mendelik heran.
“Ed Sheeran.”
“Kau membenci dia?”
“Aku benci kenapa dia menjuduli lagu itu ‘Perfect’. Aku tidak percaya tentang kesempurnaan.”
“Dia tak pernah menyuruhmu untuk percaya hal itu.”
“Dia bilang kita hanya anak-anak ketika sedang jatuh cinta.”
“Lalu?”
“Anak-anak kan gampang menangis.”
“Maksudmu?”
“Cinta membuat kita gampang menangis.”
“Oh.”
*
Aku lihat perempuan berambut panjang bergeser lebih dekat ke Perempuan Itu. Mereka berjabat tangan. Keduanya terlihat berbagi senyum. Meskipun aku juga melihat wajah Perempuan Itu masih agak sembab. Daerah matanya masih lembab. Dan, oh, lihat, hujan mulai turun. Gerimis terlihat ritmis. Perempuan berambut panjang tampak memperlihatkan layar gadgetnya kepada Perempuan Itu. Apa yang sedang mereka lihat?
*
“Mungkin film ini bisa membuatmu sedikit terhibur.” perempuan berambut panjang menyetel YouTube. Video aksi Gal Gadot bermain peran sebagai Wonder Woman.
“Aku juga benci ini.”
“Apa lagi yang kau maksud?”
“Aku benci film ini. Aku benci perempuan ini. Aku benci Wonder Woman dan Gal Gadot!”
“Kamu kok aneh, sih?”
“Aku benci adegan-adegan di dalam film ini. Perempuan terlihat sangat kuat. Padahal tak sekuat itu. Aku yakin Gal Gadot juga bakal sedih kalau orang yang dicintainya tiba-tiba meninggalkan dia.” Perempuan Itu mengucapkan itu sambil sesenggukkan. Seperti mau menangis. Pada saat yang sama gerimis makin deras. Menjadi hujan. Menjadi arena di mana kenangan dan kesedihan berlomba-lomba memasuki orang yang bertemu hujan.
*
“Sebenarnya ada apa sih sama kamu?” perempuan berambut panjang bertanya heran.
“Nggak ada apa-apa, kok.”
“Sudahlah cerita saja sama aku.”
“Nggak ada apa-apa. Beneran.”
“Aku ini juga perempuan. Aku tau kok perempuan kalau bilang ‘nggak ada apa-apa’ itu artinya ada apa-apa. Kamu nggak mau cerita sama aku?”
Perempuan Itu diam. Bungkam. Menatap mata perempuan di sebelahnya dalam-dalam. Perempuan yang baru dikenalnya beberapa menit. Ia sedang menimbang apakah ia perlu menceritakan kisahnya kepada orang yang baru saja dikenalnya.
Sementara itu hujan menderas.
*
“Ayo kita berteduh.” ajak perempuan berambut panjang. Perempuan Itu menurut.
*
Mereka menepi di bawah atap sebuah ruko. Hujan terlalu deras untuk bisa mereka hindari sepenuhnya. Kaki mereka terciprat hujan. Rok dan celana itu agak basah. Terkena hujan yang bercampur debu.
*
Di depan ruko tutup itu Perempuan Itu menceritakan semuanya kepada perempuan berambut panjang. Tentang mengapa ia membenci Ed Sheeran dan Gal Gadot. Tentang mengapa ia duduk sendirian di kursi menjelang hujan pada malam hari. Tentang seseorang yang membuatnya bersedih. Yang pergi meninggalkannya tanpa jejak dan tanpa mau mengerti betapa sesudah itu hatinya retak-retak.
*
“Kenapa dia meninggalkanmu?”
“Entahlah. Dia tak ada kabar secara tiba-tiba. Susah dihubungi. Tak biasanya begitu. Dan pada suatu senja…” Perempuan Itu menghentikan laju kata-katanya. Dia menangis. Langit menangis.
*
“Ada apa pada suatu senja?”
“Pada suatu senja aku memergoki dia bergandengan tangan dengan…” Perempuan Itu menangis sesenggukkan. Ricis hujan berpadu suara dengan ricik tangis.
“Dengan siapa?”
“Dengan sahabatku sendiri.”
Perempuan berambut panjang terkejut. Seketika dia merasa seperti kesetrum. Ada kesedihan yang menyambar sekujur tubuhnya. Dan, tanpa menceritakan kepada Perempuan Itu, perempuan berambut panjang juga teringat ia pernah merasakan hal itu jauh di masa lampau.
Perempuan Itu menangis menjadi-jadi. Perempuan berambut panjang mendekapnya. Mencoba menjinakkan kesedihan Perempuan Itu. Kesedihan adalah kucing liar yang sebisa mungkin harus dijinakkan.
*
“Sudah, kamu tak usah bersedih lagi. Orang semacam itu tidak pantas kamu tangisi.” jauh di lubuk hatinya perempuan berambut panjang itu sebetulnya juga ingin menangis dan sedih. Mengenang keperihan itu. Ketika orang yang dicintainya pergi dengan alasan yang menyakitkan.
Perempuan Itu mengangguk lemah. Tapi, masih tetap menangis. Samar-samar dari dalam tas perempuan berambut panjang terdengar suara

I see my future in your eyes
*
Masa depan yang kini telah jadi masa lalu.
*
Hujan sudah reda. Aku lihat dua perempuan itu berjalan berdampingan menuju sebuah kedai. Menjauhi kursi yang tadi mereka duduki. Kursi yang sudah sangat basah. Entah karena hujan entah karena ada airmata yang tertinggal di situ.
*
Aku membuka Instagram. Ada berita tentang logo album Ed Sheeran yang unik sekaligus aneh. Ada pula berita tentang Gal Gadot yang dicurigai mendukung zionisme. Dan, pada sebuah akun laman berita, ada sebuah berita dengan judul “Dua Orang Perempuan Ditemukan Tewas di Sebuah Kedai dalam Keadaan Tersenyum”.
*
Ah, aku tahu siapa dua perempuan itu. []
*
(1) dikutip dari puisi Aan Mansyur
*

(Tamsel-Bekasi, 2017)

 

— Erwin Setia.

Surat yang Jatuh dari Matamu

*
Sudah lama kita tak bertemu. Aku menatapmu sedalam-dalamnya dan serindu-rindunya. Wajahmu itu masih seakrab dulu. Sebentuk wajah yang menjadi salah satu jawaban dari pertanyaan mengapa aku mencintaimu. Aku mencoba lebih jauh menatap sepasang matamu. Sepasang telur yang kukagumi itu. Namun, tiba-tiba dari kedua matamu muncul sebuah surat seakan-akan matamu adalah mesin cetak. Surat itu mengalir ke bawah pipimu. Terus menurun. Dan masih seraya menatap matamu yang secantik dulu aku membaca surat itu. Surat yang jatuh dari matamu.
*
“Kubuka surat ini dengan mengucapkan selamat bertemu kembali duhai kamu yang menjadi alasan selama ini aku menangis tengah malam dan sering melamun sendirian karena rindu…,” begitu surat tersebut diawali.
“Kamu pasti tahu jarak yang terbentang di antara kita telah menumbuhkan banyak hal. Dulu, sehari setelah kepergianmu, aku sengaja menanam pohon mangga di depan rumah. Dan kini pohon itu sudah tumbuh besar dengan daun dan buah yang lebat. Aku juga membeli seekor anak kucing. Dan kini anak kucing itu sudah dewasa dan beranak-pinak. Mawar-mawar di halaman berkali-kali mekar dan layu. Aku juga masih ingat sepasang sepatu yang kauberikan menjelang keberangkatanmu itu. Sepatu itu berulang kali berdebu dan berulang kali aku membersihkannya sambil diam-diam mengenang kamu. Ah, terlalu banyak yang berubah saat ini. Harga barang semakin mahal, perumahan-perumahan semakin banyak, sinetron-sinetron tak berguna semakin marak, dan sebagainya. Tapi, aku tak terlalu peduli dengan segala perubahan itu. Yang pedulikan hanya satu. Kamu. Yang kuharapkan tak berubah hanya satu. Cintamu.”
*
Aku berhenti sejenak membaca surat itu. Pandanganku kembali menyapu wajahmu. Wajah yang tenang seperti mawar dalam kotak kaca. Kamu diam. Tenang sekali. Tapi, matamu masih terus mengalirkan surat itu. Dan aku kembali membacanya.
*
“Dan aku bersyukur kamu kembali. Aku sempat mengira kamu telah melupakanku dan menemukan orang baru di negeri sana. Ya, kamu dulu memang mengucapkan janji setia dan aku mempercayainya. Namun, bukankah ketakutan adalah hal yang wajar? Kenapa aku takut kamu melupakanku? Kenapa aku takut kamu meninggalkanku? Karena aku sangat mencintaimu, sayangku. Kurasa kamu juga perlu tahu, bahwa selain pohon mangga dan anak kucingku, rasa rindu dan cinta yang mendekam di hatiku juga tumbuh semakin besar semenjak kamu pergi, dan begitu pula dengan rasa takut kehilanganku. Bukan aku tak percaya dengan janjimu. Aku hanya khawatir. Khawatir, sayang. Bukankah jarak sengaja diadakan untuk menguji kepercayaan dan kesetiaan kita?” lanjut surat itu. Surat yang jatuh dari matamu.
“Sekarang kamu di sini. Ada di hadapanku. Kamu membaca kata demi kata surat ini. Sebetulnya aku ingin aku sendiri yang mengucapkan kalimat-kalimat ini. Namun, aku merasa tak sanggup. Aku gugup. Dadaku berdegup. Ada kebahagiaan yang melonjak-lonjak di hatiku yang membuat lidahku kelu dan ragu mengungkapkan kandungan hatiku. Ada yang terlampau berdebar dan nyaris membuatku tak sadar. Maka, kuwakilkan kata-kataku melalui surat ini. Surat yang jatuh dari mataku.”
*
“Sayang,” masih kubaca surat itu. “sesungguhnya masih banyak yang mau kukatakan. Waktu tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Apalagi aku sangat mencintaimu. Aku tidak tahu apa kamu juga merasakannya. Namun, kamu tahu bagaimana rasanya menanggung rindu selama lebih dari seribu hari? Rasanya itu seperti melahap mengkudu yang begitu pahit sambil berharap selepas itu ada apel yang begitu manis. Apel manis itu bernama pertemuan. Dan aku bersyukur akhirnya bisa merasakan apel itu hari ini. Pada pertemuan ini.”
*
Tak bosan mataku menatap wajahmu. Wajah sendu penyebab rindu. Aku ingin mengusap baik-baik pipimu. Ingin kukecup baik-baik keningmu. Namun, mata itu، matamu masih lagi mencetak surat. Surat yang jatuh dari matanu.
*
“Seharusnya surat ini masih akan lebih panjang. Masih banyak kata-kata yang tersimpan di peti hatiku. Tapi, baiklah, aku tak mau pertemuan pertama setelah sekian lama ini hanya kamu habiskan untuk membaca surat ini. Mungkin lain kali akan kulanjutkan surat ini,” begitu kata surat yang jatuh dari matamu.
“Namun, sayang, dengarkan baik-baik, baca surat ini baik-baik, terutama kalimat awal surat ini, dengarkan aku, aku mohon padamu, jangan pergi lagi meninggalkanku dan membuatku kerap menangis tengah malam dan melamun sendirian karena rindu. Aku memang mencintaimu. Tapi rindu itu ular berbisa, sayang, meskipun kutahu pertemuan adalah penawar. Namun, namun, namun, aku takut di lain kali rindu telanjur membunuhku sebelum pertemuan terjadi. Aku tak mau seperti itu. Aku tak mau.”
*
Surat itu berhenti mengalir dari matamu. Berhenti begitu saja seperti kereta yang berhenti di stasiun. Kini aku bisa menatap lebih jelas sepasang matamu, bangir hidungmu, bibirmu, dan segala yang wujud di wajahmu. Ah, wajahmu, alangkah elok! Mungkin itu alasan mengapa cintaku tak pernah berbelok darimu. Ah, wajahmu.
*
Mata kita bertatapan. Tangan kita bergenggaman. Erat sekali. Bibirku menuju telingamu dan kubisikkan,
“Iya, sayang, aku tak kan pergi jauh darimu lagi.”
*
Kemudian, ada bunyi kecup di kening. Bunyinya teramat hening dan bening. []
*
(Tamsel-Bekasi, 2017)

 

— Erwin Setia.