“Aku Gak Akan Ngundang Kamu”

“Kamu jahat! kamu bilang kamu setia! Tapi kenyataannya, kamu jalan sama perempuan lain!” ucap Anggi dengan isakan tangis.
“Itu.. itu cuma sepupu aku”, Rama menjawab pelan.

Anggi pergi meninggalkan Rama. Ia berlari dengan cucuran air mata yang mengalir di pipi halusnya. Lita, kembaran Anggi, berusaha mengejar dan menenangkan Anggi.

Di taman sekolah itu, hanya teman-teman Rama yang melihat kejadian antara teman mereka dan pacarnya. Kejadian yang sudah sangat dipahami anak muda zaman sekarang. Waktu menunjukkan pukul 3 sore, setengah jam setelah pulang sekolah. Sebelumnya, Anggi sudah meminta Rama untuk menemui dirinya di taman sekolah selepas pulang sekolah. Katanya, ada yang mau dibicarakan. Di luar sangkaan Rama, terjadilah apa yang sudah terjadi. Kata-kata itu keluar dengan mudah dari mulut Anggi tanpa bisa dibantah Rama. Rama merelakan Anggi pergi.

~•~

Rama pergi menuju sekolah 15 menit lebih awal. Ia berharap dapat menemui Anggi sebelum jam pelajaran sekolah dimulai. Rama tahu kalau Anggi adalah anak rajin. Jadi, Ia akan menemuinya di pagi hari untuk meminimalisir keramaian yang sangat dibencinya.

Anggi sudah duduk manis didalam kelas. Wajahnya terlihat sedikit lebih murung. Mungkin Anggi sedang memikirkan apa yang akan terjadi antara dirinya dengan Rama, kendati Rama sudah membuatnya patah hati.

Anggi berdiri dari bangkunya. Ia berniat untuk menemui Rama. Ia ingin memberi kejelasan tentang kepergiannya dari diri Rama. Ya, Anggi ingin putus.

Sebelum pergi keluar kelas, seorang siswa berkulit gelap dan berperawakan tinggi datang ke kelas 12 IPA C, kelasnya Anggi. Tiba-tiba Ia memegang tangan Anggi.
“Aku bisa jelasin,” ucapnya.
“Rra.. Rama?” Anggi kebingungan.
“Wa.. waktu itu, aku cuma nemenin sepupu beli tas.. Lagipula, sepupu aku itu, gasuka sama aku.”
“Aku gak peduli, Ram. Aku minta putus.”
Rama tercengang oleh perkataan Anggi. Seakan-akan Ia melihat kilatan petir tepat di depan matanya. Anggi kemudian melepaskan genggaman tangan Rama, lalu menyuruhnya pergi.

Rama pergi menuju kelasnya sendiri dengan lunglai. Sebentar lagi pelajaran sekolah dimulai. Rama berusaha menyamarkan air matanya yang sedikit demi sedikit terurai.

Waktu terasa begitu lambat bagi Rama tanpa kehadiran Anggi di sisinya. Keseharian Rama hanya diisi oleh kegiatan membosankan. Seperti, belajar di sekolah misalnya. Di rumah pun Rama lebih sering menghabiskan waktu di tempat tidur. Hapenya sekarang sepi, tanpa kabar dari Anggi. Terkadang Rama bermain gitar untuk mengusir kebosanan yang selalu saja datang di malam hari.
“Ram, tidur Ram. Sudah larut malam nak.” Ibu Rama mengingatkan.
“Iya bu, bentar lagi.”
Alunan nada dari gitar yang dimainkan Rama memang terdengar lebih nyaring di malam hari, karena hari sudah sepi.

Hari demi hari berlalu. Rama masih setia dengan kesendiriannya.

~•~

“Lulus gak?” tanya Rama kepada temannya, Anton, tentang pengumuman Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.
“Alhamdulillah lulus. Lu sendiri?”
“Gua juga. Yang lain gimana? Dapet?”
“Katanya sih lulus juga. Tapi gua gak tau pasti.”
“Bagus deh. Semoga beneran lolos semua.”
Rama dan Anton terlibat percakapan selama 15 menit. Semua tampak biasa, sampai Anton bertanya, “Si Anggi gimana kabarnya?”
Rama terdiam sejenak. Lalu Rama berkata bahwa Dia dengan Anggi sudah tidak lagi berkomunikasi sejak kelulusan SMA. Rama juga menjelaskan kenapa Anggi lebih memilih pergi dari dirinya.

Rama dan Anggi masuk ke universitas yang berbeda. Rama diterima di universitas terkemuka di Jakarta. Sedangkan Anggi, memilih universitas di luar pulau Jawa. Mungkin Anggi ingin menghindari peluang bertemu Rama. Entah lah.

Tahun demi tahun berlalu. Rama masih bertahan dengan kesendiriannya.

“Ram, lu yakin gak akan pacaran lagi? Banyak loh yang ngefans sama lu!” tanya teman sekelas Rama dengan heboh.
“Engga. Gua gak peduli.”
“Wah.. gila lu Ram..”
“Terserah lu Jan. Mau bilang gua gila kek, mau bilang apa kek, gua gak peduli. Gua masih berharap sama Anggi, bukan yang lain”

Begitulah Rama. Bertahun-tahun Ia masih mengharap kepada Anggi walaupun sudah tidak ada kabar lagi darinya. Dia rela setia dengan kesendirian yang digemarinya daripada menjalin cinta dengan seseorang yang tidak disukainya.

Hingga akhirnya, terdengar kabar bahwa Anggi akan menikah. Kabar tersebut Rama dapati dari seorang teman SMA, Lita, yang berada di universitas yang sama dengan Anggi.

Rama semakin terjatuh. Rama semakin rapuh.

Rama kemudian mengirimi Anggi sebuah pesan singkat setelah mendaptakan nomornya dari Lita.

JANGAN LUPA UNDANG AKU.
-RAMA

Rama berharap sekali Anggi dapat membalas pesan singkatnya. Selang beberapa saat, harapan Rama terwujud; Anggi membalas pesan singkatnya.

AKU GAK AKAN NGUNDANG KAMU KE PERNIKAHAN AKU. GAK AKAN PERNAH!

Begitu isi pesan singkat dari Anggi. Rama semakin terpukul. Balasan dari Anggi sungguh menyayat hati. Harapan yang tidak seharusnya diharapkan.

~•~

Rama mulai menyusun karir pekerjaannya. Ia mulai menjajaki dunia pendidikan yang memang diinginkannya sejak bangku kuliah. Ilmu yang didapatkannya di universitas pun sejalan dengan impiannya.

Rama bekerja di daerah Ibukota, dekat dengan tempat tinggal Anggi. Anggi sendiri telah pulang dari perantauannya setelah lulus dari perguruan tingginya di Sumatera. Sekarang, Anggi bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Tapi Rama tidak peduli. Rama berpikir bahwa Anggi sudah menikah dan memiliki keluarga bahagia tanpa hadirnya orang ketiga.

Hingga sampai pada saat Rama menerima pesan singkat dari Lita yang berisi,

RAMA, DITUNGGU LAMARANNYA KE RUMAH. KAKA GUE NUNGGU.

“Apa? Anggi belum nikah? Yang benar saja..” gumam Rama. Rama ragu, apakah Ia harus percaya dengan berita itu atau tidak. Rama kemudian menelpon Lita untuk mencari kepastian.

“Lu serius Ta?”
“Gue serius. Anggi itu belum nikah.”
“Waktu itu, bukannya lu bilang kalo Anggi mau nikah?”
“Iya emang. Anggi mau nikah, tapi sama lo. Dia rela nungguin lo bertahun-tahun. Udah deh buruan ke rumah.”
“Oke oke, gua nanti kesana.”

Rama mengabari orang tuanya bahwa Ia akan melamar Anggi. Orang tua Rama bahagia mendengar kabar tersebut. Kemudian, keluarga Rama dan Anggi melakukan pertemuan untuk merumuskan pernikahan antara anak mereka.

Waktu dan tempat pun disepakati. Undangan mulai dicetak. Semua diurus dengan rapi.

Waktu pernikahan tiba. Rama mengucap akad disamping Anggi. Resepsi dilakukan dengan cara yang sederhana di rumah Anggi. Lalu Anggi berbisik kepada Rama, “Benar kan apa yang aku bilang? Aku gak mau ngundang kamu, karena aku mau nikah sama kamu.”
Rama hanya bisa tersenyum, lalu memeluk Anggi. Mereka kemudian berdiam di kamar pengantin seiring beresnya resepsi. Mereka tampak seperti keluarga bahagia.

Tiba-tiba handphone Anggi berdering. Anggi langsung mengambilnya dengan terburu-buru, seraya meminta izin kepada Rama untuk menerima telepon. Rama mengiyakan.

Di handphone-nya itu, terdapat tulisan CALL FROM ANGGI. Anggi mengangkatnya.

“Gimana Ta, lancar?” tanya suara dari hape itu.
“Everything’s okay. Gak perlu khawatir,”
“Oke. Makasih ya Ta. Lo emang adik terbaik” ucap suara itu lagi.
“Santai kak”
“Gue udah muak ketemu Rama. Doain pernikahan gue di sini lancar”
“Amin kak.”

Telepon berakhir.

Selagi Anggi keluar, Rama berkeliling kamar. Melihat-lihat foto istrinya dengan keluarganya yang terpampang di dinding kamar. Kemudian Rama tanpa sengaja melihat dompet Anggi. Lalu Rama membuka dompet istrinya, melihat foto-foto dan apa yang ada di dalamnya.

Alangkah terkejutnya Rama ketika melihat KTP sang istri dengan kolom nama bertuliskan “LITA LILIANA”.

Sebuah Hujan dan Alasan Perempuan Itu Membenci Ed Sheeran dan Gal Gadot

*
“Kau yang panas di kening, kau yang dingin di kenang.” (1)
*
Di tepi dinding waktu yang dingin ini. Seharusnya Perempuan Itu di rumah saja. Ia tak perlu menunggu entah siapa di kursi itu. Aku takut hujan datang dan ia kehujanan. Sedangkan aku merasa tak berhak memayunginya apalagi menggenggam jemarinya untuk menuntunnya berteduh.
*
Perempuan Itu sedikit-sedikit memegangi keningnya. Seperti sedang ada yang dikenangnya. Mungkin sesosok wajah. Mungkin sebuah kisah. Oh, bulan di langit terhalangi awan. Kurasa ada yang sedang ingin menangis. Mungkin awan-awan gelap itu. Mungkin perempuan berkudung gelap itu. Malam ini suhu menusuk sekali. Tubuhku seperti sate yang ditusuk cuaca. Dingin itu menusuk. Bukan hanya menusuk. Dingin itu juga merasuk. Dan kau tahu, dingin membuatmu memiliki banyak angan dan ingin. Aku ingin sebuah kehangatan. Aku ingin ada seseorang yang bisa kuajak bercakap-cakap tentang ingatan dan hal-hal remeh semisal, ‘Sayang, kamu tau nggak kenapa hujan membuat seseorang mudah bersedih?’ ‘Kenapa?’ jawab seseorang. ‘Karena hujan itu air. Dan airmata itu air. Keduanya itu sepasang kawan yang akrab, Sayang.’
*
Seorang perempuan berambut panjang mendekati Perempuan Itu. Tanpa canggung didudukinya ruang kosong kursi. Aku kadang heran mengapa sempat-sempatnya dua perempuan itu tenang-tenang saja duduk di kursi tepi trotoar sementara langit malam tampak begitu mendung. Apa yang sedang mereka cari. Hujan? Kenangan? Ataukah hujan yang penuh kenangan? Ataukah kenangan tentang hujan? Orang bilang perempuan itu sukar dimengerti. Dan perempuan yang memilih berada di luar ruangan ketika hujan akan datang, itu lebih sukar lagi dimengerti.
*
Perempuan berambut panjang, masih tanpa canggung, mengeluarkan earphone, namun tak lama memasukkannya kembali ke dalam tas. Tetapi gadget di tangannya masih menyala. Mengeluarkan suara. Suara yang membuat Perempuan Itu menoleh. Dua mata, mata perempuan berambut panjang dan Perempuan Itu saling menatap, tepat ketika suara itu berada pada lirik:

Oh, I never knew you were the someone waiting for me

‘Cause we were just kids when we fell in love

Not knowing what it was
*
“Aku benci penyanyi itu.” Perempuan Itu membuka suara. Membuka dialog bukan dengan salam ataupun sapa.
“Siapa yang kaumaksud?” balas perempuan berambut panjang. Mendelik heran.
“Ed Sheeran.”
“Kau membenci dia?”
“Aku benci kenapa dia menjuduli lagu itu ‘Perfect’. Aku tidak percaya tentang kesempurnaan.”
“Dia tak pernah menyuruhmu untuk percaya hal itu.”
“Dia bilang kita hanya anak-anak ketika sedang jatuh cinta.”
“Lalu?”
“Anak-anak kan gampang menangis.”
“Maksudmu?”
“Cinta membuat kita gampang menangis.”
“Oh.”
*
Aku lihat perempuan berambut panjang bergeser lebih dekat ke Perempuan Itu. Mereka berjabat tangan. Keduanya terlihat berbagi senyum. Meskipun aku juga melihat wajah Perempuan Itu masih agak sembab. Daerah matanya masih lembab. Dan, oh, lihat, hujan mulai turun. Gerimis terlihat ritmis. Perempuan berambut panjang tampak memperlihatkan layar gadgetnya kepada Perempuan Itu. Apa yang sedang mereka lihat?
*
“Mungkin film ini bisa membuatmu sedikit terhibur.” perempuan berambut panjang menyetel YouTube. Video aksi Gal Gadot bermain peran sebagai Wonder Woman.
“Aku juga benci ini.”
“Apa lagi yang kau maksud?”
“Aku benci film ini. Aku benci perempuan ini. Aku benci Wonder Woman dan Gal Gadot!”
“Kamu kok aneh, sih?”
“Aku benci adegan-adegan di dalam film ini. Perempuan terlihat sangat kuat. Padahal tak sekuat itu. Aku yakin Gal Gadot juga bakal sedih kalau orang yang dicintainya tiba-tiba meninggalkan dia.” Perempuan Itu mengucapkan itu sambil sesenggukkan. Seperti mau menangis. Pada saat yang sama gerimis makin deras. Menjadi hujan. Menjadi arena di mana kenangan dan kesedihan berlomba-lomba memasuki orang yang bertemu hujan.
*
“Sebenarnya ada apa sih sama kamu?” perempuan berambut panjang bertanya heran.
“Nggak ada apa-apa, kok.”
“Sudahlah cerita saja sama aku.”
“Nggak ada apa-apa. Beneran.”
“Aku ini juga perempuan. Aku tau kok perempuan kalau bilang ‘nggak ada apa-apa’ itu artinya ada apa-apa. Kamu nggak mau cerita sama aku?”
Perempuan Itu diam. Bungkam. Menatap mata perempuan di sebelahnya dalam-dalam. Perempuan yang baru dikenalnya beberapa menit. Ia sedang menimbang apakah ia perlu menceritakan kisahnya kepada orang yang baru saja dikenalnya.
Sementara itu hujan menderas.
*
“Ayo kita berteduh.” ajak perempuan berambut panjang. Perempuan Itu menurut.
*
Mereka menepi di bawah atap sebuah ruko. Hujan terlalu deras untuk bisa mereka hindari sepenuhnya. Kaki mereka terciprat hujan. Rok dan celana itu agak basah. Terkena hujan yang bercampur debu.
*
Di depan ruko tutup itu Perempuan Itu menceritakan semuanya kepada perempuan berambut panjang. Tentang mengapa ia membenci Ed Sheeran dan Gal Gadot. Tentang mengapa ia duduk sendirian di kursi menjelang hujan pada malam hari. Tentang seseorang yang membuatnya bersedih. Yang pergi meninggalkannya tanpa jejak dan tanpa mau mengerti betapa sesudah itu hatinya retak-retak.
*
“Kenapa dia meninggalkanmu?”
“Entahlah. Dia tak ada kabar secara tiba-tiba. Susah dihubungi. Tak biasanya begitu. Dan pada suatu senja…” Perempuan Itu menghentikan laju kata-katanya. Dia menangis. Langit menangis.
*
“Ada apa pada suatu senja?”
“Pada suatu senja aku memergoki dia bergandengan tangan dengan…” Perempuan Itu menangis sesenggukkan. Ricis hujan berpadu suara dengan ricik tangis.
“Dengan siapa?”
“Dengan sahabatku sendiri.”
Perempuan berambut panjang terkejut. Seketika dia merasa seperti kesetrum. Ada kesedihan yang menyambar sekujur tubuhnya. Dan, tanpa menceritakan kepada Perempuan Itu, perempuan berambut panjang juga teringat ia pernah merasakan hal itu jauh di masa lampau.
Perempuan Itu menangis menjadi-jadi. Perempuan berambut panjang mendekapnya. Mencoba menjinakkan kesedihan Perempuan Itu. Kesedihan adalah kucing liar yang sebisa mungkin harus dijinakkan.
*
“Sudah, kamu tak usah bersedih lagi. Orang semacam itu tidak pantas kamu tangisi.” jauh di lubuk hatinya perempuan berambut panjang itu sebetulnya juga ingin menangis dan sedih. Mengenang keperihan itu. Ketika orang yang dicintainya pergi dengan alasan yang menyakitkan.
Perempuan Itu mengangguk lemah. Tapi, masih tetap menangis. Samar-samar dari dalam tas perempuan berambut panjang terdengar suara

I see my future in your eyes
*
Masa depan yang kini telah jadi masa lalu.
*
Hujan sudah reda. Aku lihat dua perempuan itu berjalan berdampingan menuju sebuah kedai. Menjauhi kursi yang tadi mereka duduki. Kursi yang sudah sangat basah. Entah karena hujan entah karena ada airmata yang tertinggal di situ.
*
Aku membuka Instagram. Ada berita tentang logo album Ed Sheeran yang unik sekaligus aneh. Ada pula berita tentang Gal Gadot yang dicurigai mendukung zionisme. Dan, pada sebuah akun laman berita, ada sebuah berita dengan judul “Dua Orang Perempuan Ditemukan Tewas di Sebuah Kedai dalam Keadaan Tersenyum”.
*
Ah, aku tahu siapa dua perempuan itu. []
*
(1) dikutip dari puisi Aan Mansyur
*

(Tamsel-Bekasi, 2017)

 

— Erwin Setia.

Surat yang Jatuh dari Matamu

*
Sudah lama kita tak bertemu. Aku menatapmu sedalam-dalamnya dan serindu-rindunya. Wajahmu itu masih seakrab dulu. Sebentuk wajah yang menjadi salah satu jawaban dari pertanyaan mengapa aku mencintaimu. Aku mencoba lebih jauh menatap sepasang matamu. Sepasang telur yang kukagumi itu. Namun, tiba-tiba dari kedua matamu muncul sebuah surat seakan-akan matamu adalah mesin cetak. Surat itu mengalir ke bawah pipimu. Terus menurun. Dan masih seraya menatap matamu yang secantik dulu aku membaca surat itu. Surat yang jatuh dari matamu.
*
“Kubuka surat ini dengan mengucapkan selamat bertemu kembali duhai kamu yang menjadi alasan selama ini aku menangis tengah malam dan sering melamun sendirian karena rindu…,” begitu surat tersebut diawali.
“Kamu pasti tahu jarak yang terbentang di antara kita telah menumbuhkan banyak hal. Dulu, sehari setelah kepergianmu, aku sengaja menanam pohon mangga di depan rumah. Dan kini pohon itu sudah tumbuh besar dengan daun dan buah yang lebat. Aku juga membeli seekor anak kucing. Dan kini anak kucing itu sudah dewasa dan beranak-pinak. Mawar-mawar di halaman berkali-kali mekar dan layu. Aku juga masih ingat sepasang sepatu yang kauberikan menjelang keberangkatanmu itu. Sepatu itu berulang kali berdebu dan berulang kali aku membersihkannya sambil diam-diam mengenang kamu. Ah, terlalu banyak yang berubah saat ini. Harga barang semakin mahal, perumahan-perumahan semakin banyak, sinetron-sinetron tak berguna semakin marak, dan sebagainya. Tapi, aku tak terlalu peduli dengan segala perubahan itu. Yang pedulikan hanya satu. Kamu. Yang kuharapkan tak berubah hanya satu. Cintamu.”
*
Aku berhenti sejenak membaca surat itu. Pandanganku kembali menyapu wajahmu. Wajah yang tenang seperti mawar dalam kotak kaca. Kamu diam. Tenang sekali. Tapi, matamu masih terus mengalirkan surat itu. Dan aku kembali membacanya.
*
“Dan aku bersyukur kamu kembali. Aku sempat mengira kamu telah melupakanku dan menemukan orang baru di negeri sana. Ya, kamu dulu memang mengucapkan janji setia dan aku mempercayainya. Namun, bukankah ketakutan adalah hal yang wajar? Kenapa aku takut kamu melupakanku? Kenapa aku takut kamu meninggalkanku? Karena aku sangat mencintaimu, sayangku. Kurasa kamu juga perlu tahu, bahwa selain pohon mangga dan anak kucingku, rasa rindu dan cinta yang mendekam di hatiku juga tumbuh semakin besar semenjak kamu pergi, dan begitu pula dengan rasa takut kehilanganku. Bukan aku tak percaya dengan janjimu. Aku hanya khawatir. Khawatir, sayang. Bukankah jarak sengaja diadakan untuk menguji kepercayaan dan kesetiaan kita?” lanjut surat itu. Surat yang jatuh dari matamu.
“Sekarang kamu di sini. Ada di hadapanku. Kamu membaca kata demi kata surat ini. Sebetulnya aku ingin aku sendiri yang mengucapkan kalimat-kalimat ini. Namun, aku merasa tak sanggup. Aku gugup. Dadaku berdegup. Ada kebahagiaan yang melonjak-lonjak di hatiku yang membuat lidahku kelu dan ragu mengungkapkan kandungan hatiku. Ada yang terlampau berdebar dan nyaris membuatku tak sadar. Maka, kuwakilkan kata-kataku melalui surat ini. Surat yang jatuh dari mataku.”
*
“Sayang,” masih kubaca surat itu. “sesungguhnya masih banyak yang mau kukatakan. Waktu tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Apalagi aku sangat mencintaimu. Aku tidak tahu apa kamu juga merasakannya. Namun, kamu tahu bagaimana rasanya menanggung rindu selama lebih dari seribu hari? Rasanya itu seperti melahap mengkudu yang begitu pahit sambil berharap selepas itu ada apel yang begitu manis. Apel manis itu bernama pertemuan. Dan aku bersyukur akhirnya bisa merasakan apel itu hari ini. Pada pertemuan ini.”
*
Tak bosan mataku menatap wajahmu. Wajah sendu penyebab rindu. Aku ingin mengusap baik-baik pipimu. Ingin kukecup baik-baik keningmu. Namun, mata itu، matamu masih lagi mencetak surat. Surat yang jatuh dari matanu.
*
“Seharusnya surat ini masih akan lebih panjang. Masih banyak kata-kata yang tersimpan di peti hatiku. Tapi, baiklah, aku tak mau pertemuan pertama setelah sekian lama ini hanya kamu habiskan untuk membaca surat ini. Mungkin lain kali akan kulanjutkan surat ini,” begitu kata surat yang jatuh dari matamu.
“Namun, sayang, dengarkan baik-baik, baca surat ini baik-baik, terutama kalimat awal surat ini, dengarkan aku, aku mohon padamu, jangan pergi lagi meninggalkanku dan membuatku kerap menangis tengah malam dan melamun sendirian karena rindu. Aku memang mencintaimu. Tapi rindu itu ular berbisa, sayang, meskipun kutahu pertemuan adalah penawar. Namun, namun, namun, aku takut di lain kali rindu telanjur membunuhku sebelum pertemuan terjadi. Aku tak mau seperti itu. Aku tak mau.”
*
Surat itu berhenti mengalir dari matamu. Berhenti begitu saja seperti kereta yang berhenti di stasiun. Kini aku bisa menatap lebih jelas sepasang matamu, bangir hidungmu, bibirmu, dan segala yang wujud di wajahmu. Ah, wajahmu, alangkah elok! Mungkin itu alasan mengapa cintaku tak pernah berbelok darimu. Ah, wajahmu.
*
Mata kita bertatapan. Tangan kita bergenggaman. Erat sekali. Bibirku menuju telingamu dan kubisikkan,
“Iya, sayang, aku tak kan pergi jauh darimu lagi.”
*
Kemudian, ada bunyi kecup di kening. Bunyinya teramat hening dan bening. []
*
(Tamsel-Bekasi, 2017)

 

— Erwin Setia.

Suara Ibu

Pukul 21.25 malam. Hujan deras membasahi kota Jakarta. Kantor tempatku bekerja baru saja bubaran. Aku pulang, berjalan di atas trotoar. Menyusuri hiruk pikuk kemacetan Ibu Kota. Air hujan mengguyur tubuhku. Membasahi pakaian, tas, dan sepatu yang ku kenakan. Bukannya aku tak mampu membeli payung atau jas hujan. Hanya saja, aku memang terlampau malas untuk menggunakan salah satu dari keduanya. Aku membiarkan tubuhku kedinginan.
Pukul 22.10 saat aku menginjakkan kaki di serambi rumah. Cukup jauh memang rumahku dari kantor dan aku hanya berjalan kaki, tidak menggunakan transportasi. Aku merogoh kunci dari dalam kantong saku celanaku. Kemudian, membuka pintu rumah dengan tergesa. Sejak orang tuaku meninggal dua tahun yang lalu, aku tinggal sendiri di rumah ini. Tiada sanak saudara yang pernah mengunjungi rumahku setelah kejadian itu. Seolah aku diasingkan, tidak diperdulikan. Atau barangkali karena jarak yang jauh dari kampungku di Aceh. Intinya, aku selalu sendiri pasca-kematian orang tuaku.

Sikapku berubah dua tahun terkahir ini. Aku menjadi orang yang skeptis. Sekarang, aku tidak peduli dengan opini publik. Aku tidak peduli dengan siapa yang menang pilkada. Aku tidak peduli dengan konflik Rusia-Amerika. Aku bahkan tidak peduli tentang siapa yang paling cantik antara Raisa dan Isyana. Persetan dengan semua itu.

Yang aku pikirkan hanyalah, bagaimana caranya aku bisa makan. Sudah, itu saja.

~~~

“Tanggal 23 kita ada proyek di Bali. Akomodasi saya yang tanggung” Begitu pesan singkat yang aku terima dari bos kantor saat aku terbangun. Aku melihat kalender di hapeku.

Disana tertulis:

-03.47 SUNDAY 17 MAY 2030-

“Masih seminggu lagi lah kira-kira” gumamku. Lalu aku menjawab kepadanya “Siap bos”

Terbangun di pagi buta saat hari libur memang menyebalkan. Apalagi hanya karena sebuah SMS yang mestinya bisa dilihat nanti. Aku putuskan untuk menarik selimut kembali, melanjutkan mimpi yang sepertinya tidak mungkin diulang lagi.

~~~

“Don! Bangun! Sholat subuh nak!” teriak Ibu. Ibu memang perhatian terhadap ibadah anaknya yang tunggal ini: Aku. Ibu tidak mau anaknya menjadi pemalas. Ibu berharap besar padaku.

“Donii! Sudah jam enam ini!!”

“Iya bu, bentar lagi”

“Kamu itu ya, sudah kepala dua masih saja susah dibangunkan! Apa kata istrimu nanti!”

Ibu mendatangi kamarku. Membangunkanku dengan teriakan yang sangat tidak nyaman didengar. Aku mengalah. Bangun dan melaksanakan perintah Ibu. Menyebalkan.

Hampir tiap hari Ibu membangunkanku seperti itu. Namun, tidak ada yang berubah dari diriku ini. Buruk sekali.

Hari itu, jam 10 menjelang siang, Ibu pergi dengan Ayah ke undangan pernikahan teman Ibu. Aku menolak untuk ikut. Malas sekali rasanya bertemu dengan wajah-wajah yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Ibu pergi bersama Ayah dengan motor bebek butut generasi 90-an. Memalukan.
Dua jam sudah semenjak keberangkatan Ibu dan Ayah ke undangan pernikahan. Aku hanya duduk manis dihadapan TV, menyaksikan acara kartun favorit di hari Minggu. Kekanak-kanakan sekali.
Rasa lapar membuat aku tergerak. Dengan uang pemberian Ayah tadi (Ayah memberikannya sebelum berangkat), aku pergi ke warung untuk membeli mie instan. Aku mengunci rumah. Lalu berjalan kaki menuju warung yang jaraknya tidak sejauh Bandung-Jakarta. Hanya berjarak 100 meter saja.

Di tengah perjalanan menuju warung, aku mendengar suara motor butut Ayah. Ya, aku sangat mengenali suara khasnya. Sangat berisik dan tidak patut untuk diperdengarkan dengan saksama. Tapi, dalam waktu yang bersamaan, aku mendengar pula suara nyaring motor balap. Terdengar seperti sedang melaju kencang.

BRUKK!!

Aku memalingkan wajahku dengan kaget. Kemudian berlari menuju sumber suara untuk memastikan apa yang terjadi.

Dua buah motor beradu, menjadi rusak tak beraturan di hamparan jalan raya. Satu diantaranya tampak tidak asing.

Aku terpaku.

Jatuhnya air mata tak dapat aku tahan setelah melihat dua orang terkapar di tengah jalan dengan darah berlumuran: Ibu dan Ayahku. Aku berlari menghampiri tubuh Ibu. Menggerak-gerakan badannya, sembari berharap Ibu masih bernafas.

“Ibuuu!!”

Aku berteriak dengan isakan tangis. Memegang pipi Ibu, menggoyangkannya agar Ibu tersadar.

“Ibuu!”

Aku menangis dengan keras setelah ku dapati bahwa denyut nadinya berhenti. Ibu meninggal di tempat.

Selanjutnya aku menghampiri Ayah dengan tangisan yang dapat didengar orang sekitar.

Ku lakukan hal yang sama kepada Ayah: Menggerakan badannya, menyentuh denyut nadinya. Tapi, apa boleh buat. Mungkin Tuhan telah menuliskan takdir bahwa Ibu dan Ayah adalah pasangan sehidup-semati. Aku terkulai lemas.

Aku mencoba untuk berdiri. Lemah, namun aku paksakan. Hingga akhirnya aku jatuh sebelum aku berdiri tegak. Aku pingsan.

~~~

“Don! Bangun! Sholat subuh nak!”

Aku terbangun, lalu menyalakan hape. Disana tertulis:

-04.30 SUNDAY 17 MAY 2030-

Mimpi yang terulang lagi. Dan Ibu masih membangunkanku dengan cara yang sama.

Mantan Penghuni Kamar Nomor 36

Lelaki tua menatap kekosongan. Tidak betul-betul kosong. Di hadapannya ada pepohonan dan burung-burung kecil yang sesekali hinggap. Seorang perawat mendorong kursi roda. Lelaki botak berpakaian serupa lelaki tua menyapu halaman begitu pelan. Begitu lembut hingga rerontokan daun yang disapunya terhuyung seperti orang yang melayang di ruang angkasa. Persis ketika lelaki botak berhenti menyapu, lelaki tua tampak terisak. Ia menangis seperti anak kecil yang mainannya dicuri. Lelaki botak merasa iba dan menghampiri lelaki tua.
“Sudahlah, tak usah kau menangis, dia sudah boleh keluar karena dia sudah sembuh, sedangkan kita ini belum sembuh sehingga belum boleh keluar dari tempat mengerikan ini. Hahaha.”

Lelaki tua tak memedulikan kehadiran lelaki botak. Ia pergi dari kursi gading yang sunyi itu menuju kamar nomor 36. Masih dalam keadaan menangis. Lelaki botak kini duduk di kursi yang tadi diduduki lelaki tua. Geguguran daun jatuh ke atas kepala lelaki botak. Diambilnya sehelai daun warna hijau terang. Dari dalam kamar nomor 36 terdengar jerit tangis yang sangat menyerikan. Menusuk-nusuk telinga siapa saja yang mendengarnya. Demi mendengar suara tangis itu lelaki botak pelan-pelan mulai meraung. Raungan yang diikuti jeritan. Jeritan yang diikuti oleh tangisan panjang. Pakaian putih yang dikenakannya menjadi basah.

Seorang lelaki berambut gondrong meletakkan ransel. Ia sedang duduk di pinggir jalan San Mamos. Kacamata hitam bertengger di atas hidungnya yang mancung. Tadi seorang pemuda menanyainya tentang apa yang sedang dicarinya. “Aku sedang mencari orang yang pantas untuk mati,” begitu jawab lelaki gondrong yang membuat sang pemuda dengan sigap menjauh dan tak berani berbicara lebih lanjut dengannya.

Seorang lelaki pertengahan umur empat puluh. Berjas. Berkacamata. Membawa kopor. Ia melewati lelaki gondrong dan menyapanya. Lelaki gondrong membalasnya dengan tatapan tajam seolah-olah matanya adalah pisau yang baru diasah. Lelaki berjas hanya senyum dan berlalu. Setelah sekitar tiga puluh enam langkah lelaki berjas berbelok ke sebuah rumah bergaya klasik. Ketika membuka pintu rumah lelaki berjas menyadari di sebelahnya ada seorang yang menguntitnya. Lelaki gondrong berkacamata. Lelaki berjas menutup pintu sambil melemparkan senyum ramah kepada lelaki gondrong. Di balik senyum yang ramah itu tersimpan rasa was-was dan takut. Pintu sudah sempurna tertutup. Tapi, di celah jendela samping pintu sebuah wajah dengan kacamata hitam memaksa lelaki berjas bersicepat ke dalam kamar.

Keesokkan harinya lelaki berjas kembali melewati pinggir jalan San Mamos (ya, karena memang di situlah alamat rumahnya). Dan ia kembali lewat di hadapan lelaki gondrong. Namun kali ini ada yang berbeda. Saat lelaki berjas lewat, lelaki gondrong mengangkat sebuah papan bertuliskan ‘I admire you and I will you with me in the hell’ dan sengaja mempertunjukkannya kepada lelaki berjas. Sama seperti kemarin, lelaki berjas tetap menyapa dan memberikannya senyum ramah. Syukurnya, sore itu lelaki gondrong tak mengikuti lelaki berjas sampai ke rumahnya. Lelaki berjas bersyukur atas hal itu dan merasa hari ini lebih baik daripada kemarin.

Malam hari adalah waktu kegelapan berkuasa. Jalan San Mamos telah sepi. Lampu-lampu jalan menyala samar menyinari beberapa kendaraan yang lewat. Di kursi yang diterangi samar lampu seorang lelaki mengasah sebuah pisau. Di dalam ranselnya ada bercak merah dan bangkai kelinci dengan leher putus.

Malam hari adalah waktu rasa takut berkuasa. Rumah nomor 36 telah gelap. Semua lampu dimatikan. Pada tepat jam dua belas malam lelaki penghuni rumah terbangun. Suara pintu diketuk membuat tidurnya terpotong dan mimpinya yang aneh berhenti. Lelaki itu tadi bermimpi tidur bersama kelinci dengan leher terputus di dalam kolam api. Ketika seorang bertopeng hitam dalam mimpinya hendak menikamnya ia pun terbangun. Terbangun karena suara ketukan pintu. Lelaki itu menuju ruang depan diselimuti rasa takut akibat mimpi anehnya. Ia memutar kunci. Krek. Ia membuka pintu. Dan saat pintu terbuka sebuah pisau teracung dan dengan sangat kilat pisau itu sudah menusuk dada kirinya. Orang yang memegang pisau itu tertawa terbahak-bahak. Sedangkan lelaki penghuni rumah itu, lelaki yang sehari-harinya memakai jas dan tersenyum ramah kepada orang-orang mengerang tanpa suara. Erangan menuju gerbang kematian. Lelaki itu merasa mimpi anehnya barusan bersambung di dunia nyata. Pada malam itu Jalan San Mamos sepi dan gelap sekali. Satu-satunya suara yang ada adalah suara orang terbahak-bahak. Dan karena suara itulah polisi San Mamos bergerak keluar dari pos. Pada malam itu polisi menangkap seorang lelaki gondrong berkacamata.

Di Rumah Sakit Jiwa San Mamos, satu hari setelah peristiwa pembunuhan Tuan Ramond (ya, itu nama lelaki berjas), lelaki tua tampak bahagia. Lelaki tua sangat bahagia karena sahabat lamanya telah kembali.
“Akhirnya kau kembali juga sahabatku.” kata lelaki tua.
“Ya, kurasa ini adalah tempat terbaik untukku.” ujar lelaki gondrong.
“Omong-omong, apa yang membuatmu kembali ke tempat ini?”
“Ah, bukan apa-apa. Hanya hal kecil.”
“Hal kecil?”
“Ya, kemarin aku hanya sedang mencoba pisau yang dulu pernah kau berikan kepadaku. Tapi, entah kenapa, polisi menangkapku dan mengirimku ke tempat ini lagi. Hahaha. Sungguh lucu dunia ini.”
“Iya, dunia ini sangat lucu. Hahahahaha.”

Pagi itu di Rumah Sakit Jiwa San Mamos dua orang lelaki tertawa-tawa panjang seakan tawa mereka tak kan ada habisnya. Di belakang mereka, di atas kursi kayu kecil, lelaki botak menangis tanpa suara. []

(2017)

Penjual Cinta

“Cinta.. cinta.. pak, cinta nya pak. Bu, cinta nya bu..” ucap lelaki paruh baya itu. Ia berjualan cinta di sepanjang jalur stasiun kereta. Berharap ada sepasang manusia yang hendak membeli.“Pak, cinta nya bapak jual berapa?” Tanya seorang pemuda.

“Buat adik mah, gratis. Ambil saja.” Jawabnya.

“Masa gratis sih, pak? Kan bapak juga butuh uang untuk makan”

“Adik kan lebih butuh cinta. Makanya saya kasih gratis. Sudah sana, kasih cinta itu ke orang yang kamu suka.”

“Oh terima kasih pak. Bapak ini, tahu saja kalau aku sedang jatuh cinta. Terima kasih banyak ya pak!”

Hari berlalu. Pagi harinya, di tempat yang sama, bapak itu kembali berjualan. Masih dengan dagangan yang sama pula–barang yang paling banyak dicari manusia, barang yang katanya bisa menyatukan umat manusia–cinta.

“Pak, bu, silahkan cinta nya..”

Masih pagi buta hari itu. Tapi bapak penjual cinta ini sudah mulai menawarkan barang jualannya.

“Ayo dibeli cinta nya..”

Tiba tiba datang seorang pemuda. Tampaknya seperti pemuda kemarin yang membeli cinta.

“Pak, aku mau beli cinta nya, lagi.”

“Kamu, yang kemarin beli, kan?”

“Iya, pak.”

Lalu, si pemuda itu mengambil cinta dari kotak dagangan yang dibawa si bapak. Kali ini, pemuda tersebut membayarnya. Ia menolak untuk dapat barang mahal itu dengan cuma-cuma. Si bapak penjual cinta itu sengaja tidak menyebutkan harganya. Hanya orang-orang yang benar-benar serius saja yang ia beri tahu harganya. Dan kalau disebutkan, harganya tak masuk akal! Tapi, tetap saja ada orang yang membelinya. Ya, begitulah. Cinta memang membutakan!

~●~

“Berapa harga cinta itu?” tanya Laras, pacar si pemuda.

“Kau tak perlu tahu”

“Hmm, baiklah. Tapi setidaknya beri tahu aku dimana kamu membelinya”

“Tidak masalah. Ayo, ikut aku”

Mereka beranjak dari sebuah tempat makanan Jepang menuju stasiun tempat cinta itu dibeli. Laras begitu penasaran dengan cinta yang telah membuatnya tergila-gila kepada si pemuda yang belakang diketahui bernama Heru. Laras begitu mencintainya.

“Aku membeli cinta disini. Di stasiun ini” ucap Heru

“Dimana?” Laras bertanya antusias

“Aku membelinya dari seorang kakek tua. Biasanya ada di sekitar sini..”

“Kamu yakin? Ngga bohong, kan?”

“Yakin seyakin-yakinnya.. Tunggu sebentar”

Heru melangkah. Terlihat seperti terburu-buru. Ia menghampiri kantor kepala stasiun, meninggalkan Laras di tempat tadi mereka berdiri.

“Permisi, pak.” Heru berkata sembari mengetuk pintu kantor.

“Ya, ada yg bisa dibantu?” ucap salah seorang staff di kantor tersebut.

“Bapak yang biasa jualan cinta itu, kemana ya pak?”

“Ooh.. beliau sudah jarang terlihat belakangan ini. Mungkin sudah dua minggu beliau tidak terlihat lagi”

Dua minggu? Itu bukan waktu yang sebentar, pikir Heru. Waktu dimana ia terakhir kali membeli cinta dari si bapak penjual cinta. Heru kembali menghampiri Laras.

“Ketemu?” tanya Laras

“Dia menghilang. Katanya sudah dua minggu bapak itu tak terlihat”

“Yah..”

Laras berjalan lesu. Kecewa, tidak bisa bertemu sang penjual cinta.

Mereka lalu melangkah keluar stasiun.

Laras berhenti sejenak.

“Tadi apa katamu? Dua minggu yang lalu, kamu membeli cinta itu kan?” ucap Laras.

“Memang. Ada apa?”

“Waktu kamu beli, cinta nya sisa berapa?”

“Sisa satu”

Laras berpikir. Lalu kembali melangkahkan kakinya.

“Ada apa?” tanya Heru yang berjalan di sampingnya.

“Mungkin benar..”

“Benar apanya?”

“Orang yang kamu sebut kakek tua itu, sudah mati..”

“Hah? Apa katamu?”

“Betul apa yang orang bilang. Dia juga manusia. Tak bisa hidup tanpa cinta”

Heru terdiam. Pikirannya meledak, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan pacarnya.

Mereka berjalan perlahan, pergi meninggalkan stasiun ketika langit menyisakan warna jingga kemerahan.

2020

Sabtu pagi. Aku merasa kesepian. Di rumahku cahaya pagi mengintip malu lewat ventilasi. Suara-suara motor di kejauhan mendenging di telinga. Aroma hujan hari kemarin masih menyisakan sejarah di indera penciumanku.

Aku tahu jika sedang kesepian begini rasanya aku harus pergi ke taman. Di taman ada banyak serangga-serangga lucu dan bunga-bunga cantik. Aku terhibur dengan pesona alam sederhana yang disuguhkan taman. Taman memang tidak bisa mengobati kesepianku sepenuhnya. Tetapi ia bisa meredakannya. Seperti payung, taman memang tak mampu sepenuhnya menghindarkanku dari hujan, tapi ia bisa sedikit melindungiku. Melindungiku dari ganasnya rasa kesepian.

Di taman sudah ada sepasang sejoli. Aku tidak pernah melihat mereka sebelumnya. Di kursi itu mereka bergenggaman tangan. Kaki mungil si perempuan berbaju susu tampak terayun-ayun ke depan. Aku memandangi mereka dari belakang. Bersama kupu-kupu berwarna pelangi yang melayang rendah di dekat bahuku aku bisa mendengar sepasang manusia itu tertawa kecil. Barangkali sebuah hal lucu baru saja terjadi di antara mereka. Atau barangkali mereka hanya sedang ingin tertawa di kedamaian pagi ini.

Aku berpikir untuk pulang. Awalnya aku ke taman bermaksud untuk duduk santai di kursi. Namun satu-satunya kursi sepanjang dua meter di taman itu telah terisi. Aku bisa saja duduk di ruang yang tersisa. Di tepi kanan kursi bersebelahan dengan si lelaki berkemeja kotak-kotak. Tetapi, jika itu kulakukan kurasa aku telah merusak keindahan pagi sepasang manusia. Siapa tahu mereka adalah sepasang suami-istri yang baru bersua setelah si suami sekian lama bekerja di perantauan. Mungkin.

Kuputuskan kembali ke rumah. Jarak antara taman dan rumah sekitar lima puluh meter. Menghabiskan waktu sekira lima menit. Sepanjang jalan menuju rumah –tempatku kembali dicekam kesepian– aku melihat banyak hal. Banyak hal selain kesepian dan kesedihan. Pada sebuah rumah berpagar tinggi ada mobil mengilat yang sedang diparkir. Rumah itu besar sekali seperti istana. Tetapi sepi sekali. Aku seperti melihat sebuah kecantikan yang fana. Kecantikan yang kesepian adalah kecantikan yang menyedihkan. Aku juga melihat perempuan tua bermain bersama kucingnya yang berbulu lebat, ibu muda yang sedang menyuapi bayinya di gendongan, Pak RT yang sedang mencuci motor di halaman, Bu RW yang sedang menyirami tanaman-tanaman kesayangan, dan banyak lagi.

Aku tiba di rumah. Benda pertama yang kulihat adalah jam dinding tua warna emas. Pukul delapan tepat. Kutekuri angka-angka pada jam dinding cukup lama. Jarum tipis warna merah bergerak-gerak pelan tapi tak pernah berhenti. Diam-diam aku mulai membenci jam. Sebab ia bergerak begitu lamban.

Aku tak terlalu suka menunggu. Aku ingin hari itu cepat tiba.

Aku ingin esok ketika aku terbangun dari tidur almanak telah berubah menjadi 2020 dan kamu telah ada di sampingku. Dan aku pun menjadi tidak lagi kesepian. []
*
(Tambun Selatan-Bekasi, Mei 2017)

Lelaki Melankolis

Baru saja Dion menyatakan cinta dan Lina menerimanya, perempuan itu malah hilang tanpa kabar. Coba kau pikirkan. Sehari yang lalu kau sangat bahagia karena orang yang kaucintai juga mencintaimu. Kau merasa menjadi orang paling beruntung dan bahagia di jagad raya. Lalu kepalamu mulai menyusun rencana-rencana indah: acara lamaran, resepsi pernikahan, nama-nama anak, dan… Belum genap dua puluh empat jam kemudian orang yang menjadi sebab kebahagiaanmu justru menghilang tiba-tiba. Dan ia berbalik menjadi sebab penderitaanmu. Penderitaan yang sangat. Penderitaan mana lagi yang lebih besar daripada ditinggal secara tiba-tiba.
*
Dion di kamar. Buku-buku teenlit berserakan. Armen heran kenapa di dalam kamar Dion Si Penggila Sastra bisa ada buku-buku teenlit. Keheranan Armen hanya bertahan sebentar saat ia tahu belakangan Dion sedang jatuh cinta dan orang yang dicintainya adalah seorang pencinta teenlit. Orang yang jatuh cinta memang harus banyak dimaklumi.

“Aku tak menyangka cinta bisa bikin kamu begini.”

“Begini bagaimana maksudmu?”

“Selera bacamu jadi menye-menye. Haha.”

“Apa peduliku pada selera baca.”

“Kau kan Dion Si Penggila Sastra. Aku baca novel Andrea Hirata dan Tere Liye saja kau tahdzir. Haha.”

Dion diam.

“Bagaimana kabar Lina, sudah kau dapat kabar tentang dia?”

“Belum atau mungkin tidak akan.”

“Aku heran kenapa bisa ada perempuan sekonyol dan -maaf- sebodoh itu.”

“Lina tidak bodoh. Lina pasti punya alasan kenapa dia pergi.”

“Tapi, perempuan yang tidak bodoh mana mungkin meninggalkan orang yang sangat mencintainya begitu saja. Tiba-tiba dan tanpa jejak.”

Dion kembali diam.

“Kupikir ada baiknya kau menghibur diri, Di. Pergi ke toko buku dan mencaci-maki novel menye-menye yang ada di rak best-seller misalnya, seperti yang biasa kau lakukan. Haha.”

“Ide yang tak terlalu buruk.”

“Jadi, sekarang kita ke toko buku?”

Dion tak menjawab. Tapi ia berdiri, merapikan beberapa buku yang tercecer, dan menengok ke arah Armen ketika telah berada di ambang pintu kamar.
*
Hari masih terlampau pagi. Beberapa bulir embun masih tidur santai di dedaunan pohon-pohon yang berjejer di pinggir jalan. Polusi belum terlampau mengganggu. Udara sejuk pagi hari turut berperan meminimalisir bahaya polusi. Lain hal dengan polusi, polisi pagi hari yang berdiri di dekat lampu merah sudah bikin ketar-ketir para pengendara yang tidak pakai helm, tidak punya SIM, lupa bawa STNK, atau sengaja menerabas rambu lalu lintas. Dari atas sepeda motor yang disetir Armen, Dion memerhatikan dengan iba sekaligus separuh senang seorang pengendara yang entah apa salahnya ditilang. Dari sorot wajahnya Dion bisa memahami si pengendara pasti sedang memendam kebencian yang besar kepada polisi dan mungkin terlintas di benaknya kalau suatu saat menjadi presiden akan menghapus institusi kepolisian. Konyol sekali.

Mereka sampai di mal. Sepeda motor sudah terpakir. Hal pertama yang diperdebatkan Dion dan Armen selepas dari parkiran bawah tanah itu adalah perihal siapa yang akan membayar parkir. Hal kedua yang diperdebatkan adalah apakah di toko buku Gramedia nanti yang ada di lantai dua mal mereka akan membeli buku atau hanya mencaci-maki buku-buku menye-menye. Dan hal ketiga yang mereka perdebatkan adalah mengapa mereka berdebat tentang dua hal tersebut.
*
Toko buku kapitalis itu baru saja buka. Sekelompok remaja berpakaian warna-warni menumpuk di rak bagian fiksi romance. Para pegawai menertibkan sejumlah buku yang tak terletak pada tempatnya. Di meja kasir seorang perempuan berseragam sedang bercermin memeriksa apakah wajah palsu tuntutan profesinya sudah sempurna atau belum.

Dion dan Armen langsung menuju rak sastra. Untuk sebuah sensasi yang sukar dijelaskan, mereka merasa istimewa dan sedikit mistis dikelilingi buku-buku sastra yang padahal ditulis menggunakan huruf-huruf yang sama dengan buku-buku motivasi. Sepasang mata sipit Dion berbinar tatkala melihat novel-novel Murakami dan Pamuk yang setebal buku-buku Murakami dan Pamuk. Terlalu berlebihan bila menyebut buku-buku itu setebal bantal. Sebab bantal bisa kempis sedangkan buku-buku itu tidak. Sementara Armen membuka segel sebuah buku kumpulan cerpen karya Eko Triono tanpa rasa salah dan mulai membacanya. Kalau sudah begitu Armen susah dibuat berhenti. Buktinya, setengah jam kemudian ketika Dion sudah mengutuki –dalam hati, tentunya– sejumlah novel menye-menye yang berbaris rapi di rak buku laris, Armen masih asyik berdiri di tempat yang sama dengan roman muka seserius orang yang sedang ditagih hutang.

“Cerpen ini kubaca-baca berulang kali dan aku masih belum sepenuhnya mengerti.”

“Apa judulnya?”

“Filsafat Mencuci Piring.”

“Cerpen itu kurasa memang dibuat bukan untuk dimengerti. Tidak seperti perempuan, mereka diciptakan untuk dimengerti ”

“Lho kok tiba-tiba kau bicara tentang perempuan? Teringat Lina?”

“Perempuan diciptakan untuk dimengerti. Tapi, kenapa bisa ada perempuan yang suka baca buku yang gampang dimengerti namun dia hilang begitu saja tanpa alasan yang bisa dimengerti. Kenapa bisa?”

“Dion Si Penggila Sastra rupanya bisa segalau ini juga ya. Haha.”

“Aku bukan galau. Aku hanya tak habis pikir.”

“Sudahlah tak usah mengelak. Haha.”

Dion diam dan ia berpikir untuk menyobek-nyobek seluruh novel menye-menye yang ada di toko buku. Namun ingatan tentang Lina membatalkan rencana sobek-menyobek itu. Ia ingat pertama kali bertemu Lina ketika perempuan berkacamata itu sedang membaca sebuah novel dari wattpad. Dion sebetulnya tak percaya cinta pada pandangan pertama. Tapi, saat itu, sore itu ketika dari jendela toko langit hampir senja dan sebuah lagu mellow diputar, Dion menatap mata cantik Lina dan seketika jatuh cinta.
Seminggu setelah pertemuan pertama itu Dion mengajak Lina ke sebuah kafe sederhana. Lalu ia menyatakan cinta pada Lina. Lalu Lina menerimanya. Lalu Lina menghilang dan kembang yang telanjur mekar di dada Dion menjadi kuncup dan menyiksa.

Armen melanjutkan baca buku berjudul ajaib itu: Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon. Di rak fiksi romance, di antara kerumunan para remaja tanggung Dion memburu sebuah buku. Buku yang dibaca Lina ketika mereka pertama kali berjumpa. Dengan membaca buku itu barangkali dapat meredakan rasa duka yang sedang menyelimuti hatinya. Atau justru membuat luka itu jadi lebih basah. Upaya untuk menumpas kesedihan dan mempersubur kesedihan kadang tidak bisa dibedakan. Makanya banyak orang justru semakin terluka ketika ia berniat menyembuhkan hatinya. Sebab bagi hati, jurang antara obat dan racun itu setipis kulit ari atau lebih tipis dari itu.

Dion mencari buku itu tapi tak jua menemukannya. Ia terlampau malas sekaligus malu bertanya soal buku itu kepada para remaja itu ataupun kepada pegawai toko. Ia memutuskan kembali mencari-carinya meskipun ia ragu bisa menemukannya. Setelah bolak-balik dan tak mendapatkannya pula di tiap sisi rak, Dion berpindah ke rak bagian belakang tempat buku-buku resep. Barangkali sesuatu yang sedang kita cari malah berada di tempat yang tak pernah kita duga, mungkin demikian pikir Dion. Namun hasilnya tetap sama saja, nihil. Dion sudah hampir meninggalkan rak buku-buku resep ketika sebuah suara memanggilnya.

“Dion.”

Dion menoleh dan tiba-tiba wajahnya berganti menjadi setengah murung setengah bahagia.

“Lina?”

“Dion, maafkan aku ya hilang tanpa kabar. Kamu baik-baik saja kan?”

“Ya, aku baik-baik saja.”

Tapi, hatiku tak pernah baik-baik saja.

“Dion, aku benar-benar tidak ada maksud meninggalkan kamu. Bulan lalu itu ibuku sakit parah dan aku harus segera menjenguknya ke Surabaya tanpa sempat mengabari kamu.”

“Ya, tidak apa-apa.”

Tapi hatiku tak pernah tidak apa-apa.

“Aku benar-benar minta maaf. Aku di Surabaya selama satu bulan itu karena aku harus menemani ibu. Ketika aku mau pulang ibu selalu mencegahku. Dan aku tidak tega tidak menuruti kemauan ibu yang sedang sakit parah. Kamu mau maafin aku, kan, Dion?”

Mata Lina yang masih secantik seperti sebulan lalu memancarkan sinar kejujuran dan kesungguhan.

“Ya, aku maafin kamu kok, Lina.”

Tapi hatiku sudah telanjur patah.

“Terima kasih, Dion. Tidak salah aku telah menerima cinta kamu. Aku mencintaimu, Dion.”

“Ya, aku juga mencintaimu, Lina.”
*
Dua sejoli itu hampir saja berpelukan sebelum Armen datang dan memecahkan suasana.

“Dion, ayo kita… Maaf.”

Dion dan Lina kembali menjaga jarak. Mata Lina sedikit berlinang. Mata Dion memancarkan dualisme: ketenangan sekaligus ketegangan.

Armen menggenggam sebuah buku hijau bergambar pohon. Dion ingin menggenggam tangan Lina namun ia tahu bukan itu yang sekarang pantas ia lakukan. Keheningan menguasai tiga manusia itu selama beberapa saat. Bulir-bulir bening gugur beberapa dari tangkai mata Lina.

“Aku bisa memaafkan kamu, Lina. Tapi, maaf, aku tak bisa melanjutkan hubunganku denganmu. Tidak sebagai sepasang kekasih.”

“Kenapa? Bukankah aku sudah meminta maaf? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya?”

“Kamu mungkin telah menjelaskan semuanya. Tapi hatiku, hatiku masih sakit.”

“Dasar lelaki melankolis! Baiklah kalau kamu tak mau lagi melanjutkan hubungan ini. Kita bubar!”

Lina berjalan cepat menuju pintu keluar sambil sedikit-sedikit mengusap matanya. Ada yang basah di sana. Dion hanya diam dan tak terlihat punya niat untuk mengejar perempuan itu. Armen keheranan. Dalam situasi semacam ini manusia bisa lupa bahwa mereka dianugerahi logika.

“Aku tahu kau masih mencintai Lina. Tapi kenapa kau melepasnya?”

“Aku memang masih mencintainya. Tapi hatiku, hatiku tidak bisa diajak kompromi, Men. Masih sakit hati ini.”

“Ah dasar lelaki melankolis! Aku tidak pernah kenal Dion yang seperti ini. Dion yang melankolis dan berhati lemah!”

“Diam kau!”

“Sudahlah mengaku saja kalau kau memang lelaki melankolis!”

“Aku bukan lelaki melankolis!”

“Tapi lelaki cengeng, begitu kan?”

Mulut Dion ingin membalas. Tapi hanya kebungkaman yang ada. Armen sudah pergi meninggalkan Dion sendirian. Lelaki itu, Dion Si Penggila Sastra diam-diam kembali memendam hasrat untuk memusnahkan seluruh buku menye-menye yang menyebabkannya jadi lelaki melankolis. []

(Tamsel, April 2017)

Pentingnya (Tidak) Mendengarkan Nasehat Orang Tua

Uang bukan sesuatu yang relevan lagi, tidak untuk ditukar dengan cinta maupun dengan segenggam beras, tutur Pak Tua dari Barat sambil membetulkan topi hitamnya. Hanafi dan Jakfar manggut-manggut, sementara Ishmael mengambil sebuah buku tulis dari dalam ransel dan menyalin kata-kata Pak Tua.

Jangan salin ucapan-ucapanku, tidak ada yang penting, tidak untuk hari ini maupun selamanya, ujar Pak Tua dari Barat dengan gestur tangan menolak. Maka berhentilah Ishmael, menutup bukunya, memasukkannya kembali ke ransel tanpa bertanya kenapa. Ibunya pernah bilang anak kecil tidak boleh bertanya “kenapa” kepada orang tua. “Kenapa”, Ishmael reflek bertanya seperti itu saat ibunya memperingati dan lantas ibunya memelototi Ishmael dan sejak saat itu Ishmael tak pernah bertanya “Kenapa” kepada orang tua, termasuk ketika Pak Tua dari Barat menyuruhnya untuk mencuri uang milik ibunya sore kemarin.

Pak Tua itu bungkuk badannya dan mengaku datang dari Barat, entah Papua Barat entah Eropa Barat, yang terang warna kulitnya tidak hitam tidak juga bule seperti orang-orang Eropa Barat.

Ia mengenakan topi hitam seperti pesulap dan kerap membetulkan topinya dan tanpa perlu bertanya kenapa Ishmael, Hanafi, dan Jakfar sudah paham kenapa Pak Tua sedikit-sedikit membetulkan topi. Ada banyak uang di balik topi itu.

Zaman sekarang uang sudah tidak lagi berharga, sangat tidak berharga, yang paling berharga adalah pengetahuan dan kehormatan, kata Pak Tua dari Barat saat kali pertama menjumpai tiga bocah bermain kelereng di sepetak tanah belakang kantor kelurahan. Hanafi dan Jakfar hanya manggut-manggut mendengar petuah itu dan Ishmael yang menang banyak di permainan kali itu menyembunyikan kantung berisi kelereng di belakang punggung.

Aku tidak akan meminta kelereng milikmu, Nak, kata Pak Tua dari Barat seolah tahu isi hati Ishmael, aku hanya ingin meminta kepadamu sesuatu yang paling tidak berharga di dunia ini, lanjutnya.

Mata Ishmael menyiratkan penasaran, di sampingnya Hanafi dan Jakfar bengong seperti sepasang pecundang.

Hal paling tak berharga di dunia ini adalah uang, Nak, aku ingin meminta itu darimu, maka segeralah kau pulang ke rumahmu dan ambil benda paling tak berharga itu dari sudut mana pun yang kau tahu, lalu berikan padaku, aku tidak ingin orang sepertimu diperbudak oleh benda tak berharga itu, kata Pak Tua dari Barat. Pada saat itu juga Ishmael pulang dan mengambil seluruh uang di dompet ibunya. Lalu ia serahkan kepada Pak Tua. Bagi Ishmael jauh lebih baik Pak Tua mengambil uang itu daripada kelereng miliknya.
*
Semenjak sore itulah Pak Tua menceramahi ketiga bocah pemain kelereng itu tentang ketidakpentingan-ketidakpentingan uang. Hanafi dan Jakfar, seperti dua orang yang mensyukuri betul nikmat dagu hanya manggut-manggut dan selalu begitu sampai magrib tiba, isya tiba, subuh tiba, zuhur tiba, ashar tiba, dan tepat dua puluh empat jam setelah kedatangannya Pak Tua pamit kepada tiga bocah itu.

Waktunya sudah tiba, aku harus kembali ke negeriku, jaga baik-baik diri kalian, Anak-Anak yang Baik, ujar Pak Tua dari Barat menuju ke Timur.

Ketiga bocah itu lalu pulang dan tak menemukan apapun kecuali puing-puing dan mayat-mayat bergelimpangan. []

(Tamsel-Bekasi, April 2017)

 

— Erwin Setia.

Faroge Membakar Dunia dan Seisinya

Korek api, selembar kertas, dan seletup amarah lebih dari cukup untuk membakar dunia dan seisinya. Faroge, kaki kirinya sedikit pincang dan bibirnya sumbing ke kanan, ketika ia melewati rumah Tuan Besar, Jone, bocah seusia kucing tua anak Tuan Besar mengejeknya, bocah itu menyumbing-nyumbingkan bibirnya dan pura-pura pincang, setelah itu tertawa kegirangan dan dari lantai dua rumah besar itu berteriak, “Dasar pincang! Dasar sumbing! Dasar lelaki tak berguna!”.

Benar belaka bahwa Faroge itu pincang dan sumbing, tapi kalimat “lelaki tak berguna” rasanya terlalu berlebihan dan perlu ditinjau ulang, demi mendengar kalimat terakhir itu Faroge mengeluarkan korek api dari kantung tipis celananya dan membakar selembar kertas yang tercecer di jalanan. Lalu ia membiarkan saja kertas itu terbakar. Di dekat kertas itu ada plastik dan dedaunan. Di dekat plastik dan dedaunan itu ada kabel-kabel kecil. Kabel-kabel kecil itu berasal dari rumah Tuan Besar.

Faroge berjalan menuju rumahnya. Amarahnya sedikit redam. Mungkin karena telah ia bagi sebagiannya kepada korek api, kertas, plastik, dedaunan, dan kabel-kabel.

Punggung Faroge terasa hangat dan samar ia mendengar raungan orang-orang. Tapi, apa pentingnya kehangatan dan raungan bagi orang seperti dia? []
*
(LIPIA-Pasarminggu, April 2017)

— Erwin Setia