Kata-kata yang Tak Sempat Tersampaikan

“Kau tahu bahwa aku adalah penggemar sepak bola. Aku pun tahu bahwa kau adalah salah satu penonton drama korea. Ya, kita berbeda. Bukan sebuah kebetulan jika seorang lelaki mencintai seorang wanita dengan hobi yang sama. Tapi, itu hal yang biasa. Sama sekali tidak istimewa. Mengapa? Sederhana saja. Karena mereka sama.

Kau dan aku ditakdirkan memiliki ketertarikan yang berbeda. Contoh lainnya, kau lebih senang kopi dengan pemanis: gula. Sedangkan aku hanya kopi hitam pahit saja. Tanpa tambahan apa-apa.

Kau lebih suka menonton film dengan suasana sedih pada ujungnya. Aku, lebih suka menonton film dengan suasana senang tentunya.

Walaupun kita tertarik dengan hal yang berbeda, aku harap kita baik-baik saja. Dan tentunya kita berharap untuk dapat hidup bersama.”
Itu adalah kata-kata yang ingin aku sampaikan kepadamu. Tapi mungkin aku terlalu malu. Jadi, kutuliskan saja dulu. Terbaca atau tidaknya olehmu, itu urusan lain. Yang penting kan aku sudah menuliskannya. Hatiku juga sudah lega.
Ya, aku memang rindu padamu. Aku tak tahu sudah berapa lama kita tak jumpa. Yang ku tahu, sudah lama sekali sejak terakhir kita saling melempar pandangan mata. Semoga saja pertemuan itu bukan pertemuan terakhir untuk kita. Kau berharap seperti itu juga, kan?

~●~

“Hai!” katamu waktu itu. Ku balas dengan kata yang serupa. Lalu kau bertanya “apa kabar?”

“Baik. kamu?”

“Baik juga. Udah lama nunggu di sini?”

“Lumayan. Silakan duduk”

Begitulah kira-kira percakapan pertama kita di sebuah kedai kopi. Gugup, kaku, tidak terarah. Tapi tak mengapa. Itu memang awal kita bercakap bukan? Wajar saja jika obrolan waktu itu tidak tersusun rapi. Aku rasa orang lain juga akan memahaminya. Tenang saja.

Waktu berjalan cepat. Ia bergerak seperti sedang dikejar sesuatu. Padahal menurutku, tidak ada istilahnya waktu terburu-buru. Yang ada juga manusia yang terburu-buru oleh waktu. Tapi kali ini, jujur saja, waktu seperti sedang tergesa-gesa. Berjalan cepat tanpa diduga. Tiada yang tahu mengapa waktu berbuat demikian. Yang ku rasakan hanyalah, waktu terasa begitu cepat. Sangat cepat. Tidak seperti dahulu sebelum aku mengenal wanita itu, lambat sekali.

Seiring berjalannya waktu, aku semakin dekat dengannya. Pertemuan menjadi rutin. Terjadwal, setidaknya seminggu sekali kita harus bertemu. Untuk mengusir rindu, katamu. Benar memang. Tiada hal yang lebih aku sukai saat itu kecuali menemui dirimu. Walau terhitung jarang, tapi pertemuan seminggu sekali itu menjadi sebuah hal yang berharga. Tidak akan aku melewatkannya.

Lalu, kita menjadi sebuah kesatuan yang padu. Bukan saja hanya seperti sepatu, yang kata orang selalu bersama tapi tak bisa bersatu. Tapi kita menjadi sebuah kacamata. Bersatu dalam sebuah frame. Tak bisa kita seperti sepatu yang bisa hilang satu. Tidak, tidak seperti itu. Kita bahkan menjadi cermin. Aku dapat melihat kekuranganku padamu. Begitu pula sebaliknya.

Aku senang ketika itu.

Tapi, kesenangan itu tak berlangsung lama. Kau mendadak menghilang. Bukan menghilang karena kau tak memberi kabar. Aku tak masalah dengan itu. Tapi kau benar benar menghilang. Hilang dari hadapanku, dari hadapan teman-temanmu, dari hadapan semua orang yang mencintaimu. Kau menghilang demi menghadap Sang Tuhan. Ya, takdir telah menuliskannya demikian. Aku, dan orang-orang yang mencintaimu, hanya berpasrah dengan kepergianmu. Tak bisa kami melayangkan protes atas kehendak Tuhan. Kami tidak se-brengsek itu. Tidak.

~●~

Kau terbaring sakit kala itu. Hanya sakit demam biasa, ujarmu. Tiada yang tahu apakah kau mengidap penyakit serius atau tidak. Bahkan kedua orang tuamu berkata hal yang sama. Berkata bahwa kau sakit demam biasa. Tapi tak ku sangka, jika itu adalah kali terakhir aku melihatmu. Kau tersenyum lepas. Tak ada tanda-tanda ajal akan memanggil. Bahkan kita sempat bercanda ketika aku berusaha membuatkanmu secangkir teh manis di sore hari itu. 

“Kamu pacar yang buruk” katamu sambil tersenyum

“Apa buruknya?”

“Aku gak pesan teh manis. Aku maunya teh tawar”

Kita tertawa bersama. Betapa bodohnya aku yang tidak mendengarkan permintaanmu dengan baik. Aku menyesal. Sangat menyesal. Karena setelah itu, aku menyadari bahwa itu adalah permintaan terakhir yang kau sampaikan padaku.

Benar-benar permintaan terakhir. Kau menghembuskan napas terakhir saat itu pula. Aku terdiam. Perlahan air mata terjatuh dalam kesunyian. Ya, kau pergi meninggalkan kami. Meninggalkan dunia ini.

~•~

Aku berharap yang terbaik untukmu, kasih. Ingin sekali diriku melihat kau membaca sajak yang sudah ku tuliskan itu. Semoga amal ibadahmu diterima seluruhnya oleh Sang Pencipta.

Maafkan aku jika aku selalu berbuat salah padamu. Aku hanya selalu ingin membuatmu nyaman, walau puisi yang ku berikan untukmu hanyalah puisi dari seorang amatiran.

Selamat tinggal, sayang!

(April 2017)

Thaariq D.

Larangan Berpikir

 

Aku dilarang untuk berpikir. Tak masalah, sebetulnya. Tapi, masalahnya aku berpikir maka aku ada maka aku menjadi terpisahkan dari golongan orang tidak waras dan binatang-binatang di hutan. Jadi, aku merasa tersinggung–amat tersinggung atas pelarangan berpikir ini. Memangnya kau siapa melarang aku berpikir. Memangnya kau Tuhan, heh? Tuhan saja menyuruh hamba-hambaNya berpikir, kau yang bukan tuhan bukan raja bukan saudagar bukan siapa-siapa berani melarang aku berpikir. Kurasa orang sepertimu pantas untuk dikirimkan lebih dini ke neraka atau lebih afdal sebelum ke neraka kau harus merasakan dulu kejut listrik di pabrik pembuatan ayam goreng. Orang semacam kau sungguh sangat layak mati secara perlahan-lahan –melewati sakit berkepanjangan, siksaan-siksaan, dan sekarat yang memedihkan.
*
Di papan pengumuman yang terpancang di alun-alun ibukota kau menuliskan MULAI SEKARANG SELURUH PENDUDUK DILARANG BERPIKIR disertai embel-embel hukuman penjara seumur hidup atau pancung bagi siapa saja yang melanggarnya. Begitu melihat pengumuman atau lebih tepatnya ancaman itu, aku yang sedang berjalan santai bersama istriku tadi pagi segera menyusun siasat. Aku akan menulis sebuah cerpen dan istriku akan melukis sebuah gambar satir yang akan ia pamerkan di pinggir jalan alun-alun.

Pagi itu juga seluruh penduduk berkumpul di alun-alun. Kau juga ada di situ mengenakan jas abu-abu dan kacamata hitam. Istriku mengibarkan kanvas seluas 3×3 meter karyanya di atas sebuah tiang layaknya bendera kebangsaan. Di kanvas itu ada wujudmu. Berjas abu-abu, berkacamata hitam, dan lintang kumis yang mengingatkan orang-orang Yahudi pada masa lalu. Orang-orang berteriak dan menyuarakan ejekan-ejekan pada sosok di lukisan buatan istriku itu. Lalu kau berjalan pelan sekali, sedikit lebih cepat dari kelinci sakit dan menyeruak masuk kerumunan. Para penduduk yang mengenalmu melarikan diri. Karena semua penduduk mengenalmu, maka semua yang ada di alun-alun melarikan diri kecuali istriku. Ia perempuan pemberani. Itulah mengapa aku menikahinya. Selain karena ia cantik, tentunya. Dan juga aku. Aku tidak melarikan diri karena aku sedang mengetik cerpen berdasarkan lukisan karya istriku.

“Apa kau benar-benar melarang kami berpikir, Tuan Tanpa Otak?” istriku sungguh bernyali. Ia seperti perempuan yang tak takut pada apapun kecuali dirinya sendiri, mungkin.

Tapi Tuan Tanpa Otak tak berbicara. Makhluk tanpa otak mana mungkin bisa bicara. Hahaha. Tuan Tanpa Otak hanya menatap mata istriku tajam-tajam dan itu membuat aku cemburu. Aku buru-buru merampungkan cerpenku, menghampiri Tuan Tanpa Otak dengan langkah seperti kelinci sehat, dan mengepruk kepala lonjongnya dengan batu besar yang membuat peraturan larangan berpikir itu hanya berlaku bagi dirinya seorang. []

(Tamsel-Bekasi, April 2017)

— Erwin Setia.

Sebuah Bahaya

Ketika itu hujan deras tiba-tiba turun. Seorang anak kecil dan seseorang yang menurutku adalah ayahnya terburu-buru mencari tempat untuk berteduh. Mungkin mereka sedang lapar juga ku kira, karena akhirnya si anak dan orang tua itu masuk kedalam sebuah restoran donat terkemuka yang di dalamnya terdapat aku. Aku sendiri berada di restoran donat itu sebelum hujan turun. Dan inginku hanyalah mampir sejenak untuk menghilangkan rasa lapar. Atau mungkin juga sedikit rasa galau.
Seketika aku melihat mereka berdua sudah mendapat donat di atas meja itu. Tidak terlihat mereka sedang bercakap satu sama lain. Si anak sibuk dengan ponsel kecil miliknya. Sedangkan ayahnya dengan lahap memakan donat yang telah dihidangkan.

Read More

Senja dan Fajar

“Mengapa para penyair itu lebih memilih Senja daripada diriku?” ucap sang Fajar. “Padahal,” lanjutnya “aku membawa cahaya terang yang dibutuhkan seluruh manusia! Dan si Senja hanya menghilangkan cahaya itu demi mengalah kepada gelap malam!”

Read More

Cerita Pendek Tentang Cerita Pendek yang Tidak Pendek-Pendek Amat

/1/
Bagaimana cara membuat cerita yang baik? Begitu orang-orang kerap bertanya padaku. Demi menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi menghampiri telingaku itu aku tulis cerita ini.

Aku menulis cerita ini saat aku sedang menulis cerita ini. Dan kau membaca cerita ini saat kau sedang membaca cerita ini. Apakah dua kalimat di atas mengandung semacam dosa? Kurasa urusanku menulis apa saja yang aku mau. Sedangkan urusanmu adalah membaca cerita ini jika kau mau.

Baiklah, bahkan aku belum bercerita apapun kepadamu.

Sebelum kumulai cerita ini aku ingin bercerita kepadamu bahwa aku punya sebuah cerita pendek yang tidak pendek-pendek amat. Cerita ini terjadi sekitar tiga belas abad yang lalu. Maksudku tiga belas abad dikurang tiga belas abad ditambah dua puluh empat jam. Atau dalam kata lain cerita ini baru terjadi satu hari yang lalu. Kita biasa menyebutnya sebagai kemarin.

Kemarin tepatnya kemarin sore ketika aku sedang memikirkan tentang mana yang lebih berat antara bulu domba seberat seribu kilogram atau rambut-rambut yang pernah dicukur di barbershop seberat satu ton seorang perempuan berwajah secantik Raisa dengan cara jalan mirip Isyana menyapaku.
“Maaf Mas, apa kamu melihat seorang gadis kecil berambut panjang dengan setelan baju Frozen dan rok bermotif bunga selutut?”

Paras cantik perempuan itu membuatku tak fokus dengan pertanyaannya. Tapi, aku masih dapat mengerti apa yang ia tanyakan.

“Aku melihatnya, Mbak. Tapi, aku melihatnya kalau aku sedang melihatnya. Sedangkan tadi aku sedang tidak melihatnya. Jadi, aku tidak melihatnya, Mbak. Tapi, aku melihat ibunya kok, Mbak.”

“Kamu salah, Mas. Aku bukan ibunya. Aku adalah gadis kecil itu yang telah beranjak dewasa.”

“Lalu, kenapa kamu mencari-carinya?”

“Aku mencari gadis kecil itu karena aku sedang merindukan masa kanak-kanakku, Mas. Menjadi dewasa itu sungguh tidak enak. Bahkan meskipun menjadi dewasa dengan wajah secantik Raisa dan cara berjalan mirip Isyana.”

Sampai di situ dulu ceritaku tentang peristiwa yang terjadi pada hari kemarin. Kalau kau mau tahu lebih rinci tentang cerita itu kau boleh berkunjung ke kepalaku. Cerita selengkapnya ada di sana. Atau, kalau kau berminat kau boleh juga mengunjungi hatiku. Hatiku terbuka lebar untuk dirimu kok.

Oke, abaikan dua kalimat terakhir.

/2/
Aku akan ceritakan cerita yang sesungguhnya. Serius. Tolong kau konsentrasi membaca cerita ini. Jangan sambil mendengarkan lagu-lagu Inggris yang kadang sama sekali tak kau pahami atau sambil mengunyah Maicih yang makin kurang greget pedasnya. Dan terutama jangan membaca cerita ini sambil diam-diam memendam keinginan untuk bertemu secara langsung dengan penulis cerita ini. Kuharap kau fokus membaca cerita ini. Sebab ini cerita yang penting meski tak penting-penting amat.
*
Cerita ini terjadi pada hari esok. Latar waktu yang aneh, bukan? Bagaimana bisa aku bercerita padamu tentang sesuatu yang baru akan terjadi pada hari esok. Sementara aku tidak punya mesin waktu dan tentu bukan seorang utusan yang memperoleh wahyu.

Tapi sungguh cerita ini memang terjadi pada hari esok. Jadi, pada hari esok yang belum ada itu aku bertemu dengan seorang perempuan yang mengaku pernah menjadi temanku jauh di masa lalu. Perempuan itu memaksaku untuk mengaku bahwa aku mengenalnya. Padahal, tidak, sekali-kali tidak sama sekali aku pernah mengenalnya. Bahkan aku baru pernah mendengar namanya yang lumayan aneh. Kau mau tahu siapa nama perempuan itu? Perempuan itu bernama Akurinduni Sekepadamu. Nama yang lumayan aneh dan puitis, bukan?

“Bagaimana aku memanggilmu?”

“Panggil saja aku Akurindu.”

Licik sekali, bukan? Ia mempunyai nama panggilan yang menggambarkan seolah-olah aku rindu kepadanya. Padahal, aku sama sekali tak mengenalnya. Apalagi merindukannya.

Perempuan bernama Akurindu itu kemudian memberiku selembar kertas. Di kertas itu tertulis namaku beserta lukisan monokrom yang persis sekali dengan wajahku. Aku makin tak mengerti sekaligus curiga kepadanya. Sebenarnya siapa sih dia.

“Kamu itu sebetulnya siapa?”

“Akurinduni Sekepadamu. Itu namaku. Masa kamu tidak kenal, sih?”

Setelah itu ia bicara banyak tentang diriku. Ia tahu detil mengenai buku-buku apa yang pernah kubaca, hobiku, warna favoritku, klub sepakbola kesukaanku, kota kelahiranku, kampung halamanku, hari apa biasanya aku memotong kuku, buku yang biasanya ada di ranselku, sampai-sampai aku curiga jangan-jangan ia juga tahu isi mimpiku malam jum’at yang lalu. Singkat kata ia bicara tentangku seakan-akan ia lebih mengenalku daripada diriku sendiri. Sampai di sini aku mencoba untuk mengingat-ingat kembali apa ia benar-benar teman lamaku atau bukan. Namun semakin aku berusaha mengingat-ingat tentangnya semakin aku tak dapat mengingat-ingat apapun tentangnya.

Tak lama sesudah itu ia pergi meninggalkanku. Ia meninggalkanku tanpa mengucap sepatah kata perpisahan pun. Ya, aku juga tak peduli, sih.

/3/
Tak terasa aku telah menceritakan dua cerita kepadamu. Cerita yang kualami pada hari kemarin dan pada hari esok.

/4/
Apa kau percaya pada dua ceritaku di atas?

/5/
Kurasa kau tak perlu percaya pada cerita-ceritaku. Sebab aku pun bercerita untuk kau baca bukan untuk kau percaya.

/6/
By the way, apakah cerita pendek ini adalah cerita pendek yang tidak pendek-pendek amat atau tidak ya? []
(SMA Future Gate, April 2017)

Kasus dari Sebuah Surat Berhuruf Kecil

oleh : Jeck Delany diterjemahkan secara bebas dari cerpennya yang berjudul The Case of The Lower Case Letter

**

Seorang wanita berdiri didalam kantorku di pagi bulan September yang begitu dingin. Aku menikmati segelas kopi terbaik Starbuck’s sembari berselancar di dunia maya, melihat beberapa berita. Seorang ahli semantik leksikal terkenal Professor Edgar Nettleston ditemukan mati dengan peluru bersarang di kepalanya. Polisi mengidentifikasi ia mati bunuh diri.

Read More

Ketika Aku – Doa Doa yang Mengetuk Pintu Rumahmu – Pertemuan Pertama

​Ketika Aku
Ketika aku berjalan

di tempatmu pernah berdiri

aku membayangkan kakimu menegak di situ
Ketika aku berdiri

di tempatmu pernah duduk

aku membayangkan tubuhmu terpatri di situ
Ketika aku duduk

di tempat kita pernah bertemu

aku membayangkan di sebelahku adalah kamu
lalu kita menunaikan segala rindu yang bertalu.

(2017)

*

Doa-Doa Yang Mengetuk Pintu Rumahmu
Aku membuka pintu dan melepaskan segala doa-doa
kuharap mereka akan sampai di pintu rumahmu dan mengetuknya lalu mereka mengatakan: kami doa-doa yang dikirimkan oleh seseorang yang mencintaimu. maukah kau mengaminkan kami? 

(2017)

*

Pertemuan Pertama
Mengapa penantian begitu lama, dan pertemuan begitu sebentar?
Mata kita bercumbuan

Ada serigala di matamu

–maksudku euforia yang meraung-raung sekaligus terkurung
Aku tidak bisa melihatmu lama-lama

Sebab semakin aku melihatmu

akan semakin numpuk durasi rinduku padamu

–sedangkan kita tak pernah tahu kapan lagi akan bertemu
Aku menyimak jam

Mengapa detiknya cepat sekali

–aku masih ingin berdiri di hadapanmu, tapi kita terlalu daif di hadapan waktu
Mengapa pertemuan begitu sebentar, dan penantian begitu lama?

(2017)

*

Ditulis oleh Erwin Setia

Penemu Airmata

by: Erwin Setia (@erwinsetia1998)

~~~

Musim hujan tiba dan tiba-tiba saja aku jatuh. Tapi aku bukan hujan, bukan pula malaikat yang turun dari langit. Aku, ah, sebut saja aku Penemu Airmata. Karena semenjak aku jatuh ke bumi aku menemukan airmata di mana-mana. Seakan-akan bumi ini lautan bagi ikan-ikan bernama airmata.
Pertama kali aku jatuh di ruang tamu sebuah rumah mewah. Kupikir rumah itu sangat mewah. Ada lukisan-lukisan Picasso di dindingnya dan juga ada foto keluarga besar dengan pakaian yang kurasa mahal. Di rumah itu juga penuh barang berkilau. Aku takut menyentuhnya. Karena kalau aku menyentuhnya kemudian benda-benda itu rusak aku tak bisa menggantinya. Sebab aku cuma seorang Penemu Airmata yang jatuh di musim hujan.
Ketika itu malam. Lelaki dan perempuan sedang duduk di sofa beludru. Kurasa mereka sepasang suami-istri pemilik rumah. Tapi wajah mereka kusut sekali. Tak seperti pakaian mereka yang rapi jali. Dan tiba-tiba ada pertengkaran di antara mereka. Adu cakap. Dan tiba-tiba pula ada airmata yang jatuh ke atas sofa. Airmata si perempuan. Dan itulah airmata pertama yang kutemui di bumi.
Lalu semenjak itu kutemukan banyak airmata. Di belakang gedung sebuah sekolah menengah aku menemukan airmata. Kudengar-dengar airmata itu jatuh karena beberapa kata: pacaran-selingkuh-putus. Lalu di toilet bandara, di restoran dengan latar belakang lagu mellow, di sebuah hotel bintang empat, di rumah pelacuran, di pelukan ibu, di hadapan sebuah bangunan yang terbakar, dan di rumah ibadah aku juga menemukan airmata. Masih banyak lagi sebetulnya. Hampir di setiap tempat ada airmata yang jatuh. Karena kurasa memang kesedihan ada di mana-mana.
Aku sedih sekali sebetulnya ketika menyaksikan penduduk bumi mengeluarkan airmata. Karena air di bumi sudah begitu banyak. Ada air laut, air danau, air sungai, air keran, air susu dan air-air lainnya. Kenapa masih juga ada airmata. Cukuplah air yang asin itu hanya ada di laut. Jangan ada di mata penduduk bumi.
Suatu kali hujan datang. Aku merasa ingin pulang dan kembali ke langit. Tapi, di suatu pinggir jalan aku mendapati keramaian. Karena penasaran aku melesat ke sana. Tak ada yang tahu kalau aku ada di sana. Sebab aku Penemu Airmata. Ya, ukuran tubuhku juga seperti airmata. Kecil tapi berharga.
Di keramaian itu ada kursi-kursi dan orang-orang. Orang-orang itu pakaiannya bagus-bagus. Ada juga aneka makanan dan sajian kuliner. Kucuri-curi obrolan orang-orang di sana. Kata mereka itu adalah acara kondangan. Mereka juga menyebut kata-kata lainnya: pengantin, cocok, bahagia banget.
Di tengah tempat itu aku melihat sepasang perempuan-lelaki. Ah, sepertinya itu yang orang-orang maksud dengan pengantin-cocok-bahagia banget. Kulihat sepasang makhluk bumi itu tersenyum sumringah, lebar, dan cantik sekali seakan mereka tak pernah mengenal airmata.
Tapi, tunggu dulu. Aku lihat si perempuan menundukkan dan melesakkan kepalanya ke dada si lelaki. Lalu ia menangis. Iya, ia mengeluarkan airmata. Dan kulihat orang-orang yang melihat mereka juga ikut menangis. Bahkan di tempat seperti ini pun —yang kukira tak ada ruang untuk airmata— masih bisa juga aku menemukan airmata.
Tapi, sebentar, mereka tersenyum lagi. Bersorak-sorai. Terdengar berdoa juga. Aku sayup-sayup mendengar ucapan “Semoga kalian menjadi pasangan yang sakinah-mawaddah-warahmah dan bahagia sampai selamanya ya”. Semuanya kembali tersenyum. Ah, kalau airmata yang seperti ini sih aku tidak sedih, justru bahagia. Karena setelah airmata, ada senyum kemudian.
Dari langit hujan berjatuhan. Baiklah sepertinya ini waktuku kembali pulang ke langit. Aku berdiri perlahan. Terbang. Melayang. Kini aku telah di awan bersama hujan. Dan kau tahu, hujan-hujan di sini tersenyum melihat pemandangan pengantin-cocok-bahagia banget itu. Ah, rupanya hujan juga bisa senyum.
Sesampainya di langit aku berdoa: semoga airmata yang semacam itu (kudengar airmata haru / bahagia namanya) makin banyak di bumi. Mudah-mudahan penduduk bumi tak mudah sedih. []
(Tamsel-Bekasi, Sebuah Ahad di Awal Maret 2017)

Kisah Tanpa Judul

Pagi itu hujan datang. Bergerombolan seperti semut-semut yang mengerumuni gula. Tapi, hujan turun bukan mengerumuni gula. Ia datang menetes ke atap, ke tanah, dan ke sepasang sandal yang lupa dimasukkan ke dalam rumah. Sandal itu berjejer tak rapi di muka pintu sebuah rumah bertembok hijau muda. Sepertinya pemilik sandal itu sedang terburu-buru atau sedang mengejar sesuatu atau mungkin hanya malas menata sandal dengan rapi.
Pada langit pagi itu awan tampak berarak kelabu bagai pasukan semen yang menempel di tembok angkasa. Awan membawa warna kelabu dan menumpahkan hujan. Di bawah hujan di sebuah taman seorang lelaki termangu. Di tangan kanannya tergenggam seikat bunga warna merah yang indah. Seperti bunga yang biasa dibeli oleh orang yang sedang jatuh cinta. Tapi, bagaimana bisa kita tahu lelaki itu sedang jatuh cinta? Di dekat lelaki itu seorang lelaki lain berkemeja hitam sedang menekuri langit yang juga hitam.
*
“Selain satu tambah satu sama dengan dua, satu hal lagi yang pasti adalah bahwa aku mencintaimu, Fe.” Pemuda itu mengucap kalimat itu dengan gugup. Bunga di genggamannya seakan kuncup. Di hadapannya tampak seorang gadis dengan rambut tergerai dan berwajah jelita dengan sepotong bibir merah muda yang ranum dan membuat gadis-gadis lain iri. Gadis itu tampak kikuk mendengar apa yang baru saja dikatakan si pemuda.
“Tapi, Rey, ini terlalu cepat. Kita bahkan baru berkenalan seminggu lalu.”
“Fe, kutahu ini begitu cepat. Tapi apa peduli cinta pada waktu. Waktu itu cuma sekumpulan angka. Sementara cinta itu rasa. Perasaan. Dan angka-angka tidak berguna di hadapan perasaan, Fe.”
“Namun cinta juga butuh waktu untuk tumbuh, Rey.’
“Kalau begitu, beritahu aku pupuk apa yang bisa membuat pohon cinta di dadamu bisa tumbuh dengan cepat.”
Fe diam dan ia tak terpikir tentang pupuk apa yang mampu menumbuhsuburkan pohon cinta secara kilat. Fe. Pertemuan di taman itu berakhir tanpa jawaban penerimaan maupun penolakan dari Fe. Gadis itu sepertinya masih mempertimbangkan banyak hal hanya untuk mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’. Dalam cinta, mengatakan hal-hal sesederhana ‘ya’ dan ‘tidak’ kadang memang butuh pertimbangan yang matang. Seluruh hal biasa menjelma menjadi begitu berharga kalau sudah memasuki wilayah cinta.
Dan Rey tak memaksa Fe untuk segera memberinya jawaban.
“Baiklah. Kalau kamu belum bisa menjawabnya sekarang, tak mengapa. Aku masih akan menunggumu sampai hari esok. Bahkan, sampai selamanya, mungkin.”
Sebelum keduanya pulang ke rumah masing-masing. Rey dan Fe mengadakan janji akan bersua kembali di taman besok pagi.
*
Rey dan Fe baru saling mengenal satu pekan lalu di sebuah halte ketika hujan turun begiti deras. Mereka menjadi dua orang terakhir yang tersisa di bangku halte yang basah terperciki air hujan. Mereka menunggu bus terakhir. Namun bus yang mereka tunggu tak jua datang, hujan yang tak mereka tunggu justru datang mengguyur jalanan di depan mereka. Mereka tak membawa payung. Mereka hanya berlindung dengan atap kecil yang menaungi kursi mereka. Dalam menit-menit awal hujan sepasang lelaki-gadis itu memandangi ricis hujan dengan mata masing-masing. Mereka tak saling memandang atau mengobrolkan suatu apa. Satu-satunya hal yang sama dari mereka adalah bahwa mereka sama-sama sedang memandangi hujan.
Hingga pada suatu detik mereka melepas pandangan dari tarian hujan dan menengok ke samping bersamaan. Rey di sebelah kanan. Fe di kiri. Tak ada yang mampu mencegah mata mereka bertatapan. Tak juga hujan. Dan untuk satu hal yang tidak mudah dimengerti, mereka saling melempar senyum. Kemudian bertanya apa yang ditunggu, nama, nomor, alamat, dan seterusnya.
*
Seusai peristiwa di halte mereka bercakap dengan kerap lewat sosmed. Sampai kemudian Rey mengungkapkan bahwa ia ingin bertemu Fe. “Di taman saja, Fe,” kata Rey. “agar dedaunan dan bebungaan menjadi saksi perihal apa yang kan aku ucapkan.” Fe mengiyakan janji temu itu. Fe penasaran apa gerangan yang bakal diucapkan oleh lelaki yang baru dikenalnya itu.
Maka terjadilah pertemuan itu. Rey mengungkapkan perasaannya kepada Fe. Dan Fe diam. Belum memberi jawaban pasti. Daun-daun dan bunga-bunga juga hanya diam, meski sesekali bergoyang dibelai angin.
*
“Fe, aku akan ke rumahmu besok.” Suara berat seorang lelaki melalui sambungan telepon mengagetkan Fe yang sedang memikirkan ungkapan perasaan Rey di pertemuan tadi. Malam terasa sunyi. Dan suara lelaki di sambungan telepon tetiba membuat malam menjadi begitu bunyi. Fe kenal suara itu.
“Avram? Ini kamu?”
“Iya, Fe. Ini aku Avram. Kamu masih ingat sama aku, kan?”
Fe mencoba mengingat-ingat. Dan potongan ingatan terakhir tentang Avram yang ia ingat adalah tiga tahun lampau di bandara. Ketika Avram meminta maaf harus pergi sementara waktu ke Australia untuk meneruskan pendidikannya. Saat itu Fe amat sedih. Saat itu Fe sedang berada di puncak cintanya terhadap Avram. Dan tentu bukan perkara mudah membiarkan orang yang kamu sangat cintai meninggalkanmu ke tempat yang jauh dalam waktu yang tak sebentar. Ada airmata menetes di bandara kala itu. Ketika pesawat yang akan ditumpangi Avram tiba, menjelang menuju pintu pesawat, Avram menguntaikan sepatah kalimat, “Aku tetap akan mencintaimu, Fe.”
Fe mengingat ucapan terakhir Avram itu dengan baik. Namun ketika berbulan-bulan, bahkan sampai bertahun Avram tak pernah memberi kabar, perlahan ingatan Fe pada Avram memudar. Kalau Avram serius mencintaiku, tentu ia tak akan membiarkanku terkatung-katung dalam penantian yanv tak jelas, pikir Fe ketika kabar dari Avram tak juga ada.
“Mau apa kamu ke rumahku? Bukankah kamu sudah melupakan aku?”
“Tidak, Fe. Aku masih dan selalu ingat sama kamu.”
“Lalu, kenapa bertahun-tahun kamu tak pernah menghubungiku? Memangnya di Austtalia sana tak ada telepon dan internet, heh.”
“Aku sangat sibuk dengan studiku, Fe.’
“Dan itu jadi alasan kamu mengabaikan aku?”
“Bukan begitu, Fe.”
“Sudahlah,”
“Tapi aku tetap akan ke rumahmu besok. Tolong sampaikan hal ini pada om dan tante.”
Sambungan telepon berhenti. Fe belum dapat mencerna dengan baik apa yang barusan terjadi. Avram, seseorang yang bertahun-tahun tak mengabariku tetiba mau ke rumahku, mau apa orang itu, Fe membatin. Sekarang, pada malam yang pekat dua orang bergelayutan dalam pikiran Fe: Rey dan Avram, orang baru dan orang lama.
*
Pagi-pagi sekali Fe terbangun. Lewat jendela kamar ia tak melihat mentari. Langit mendung. Entah kenapa wajah gelap langit membikin dada Fe bergetar. Agak sedih. Selepas mandi ia ingat pada hari ini ia akan bertemu lagi dengan Rey dan ia juga ingat Avram berjanji akan datang ke rumahnya.
*
Fe bersiap mendatangi taman yang tak jauh dari rumah. Bisa ditempuh sekira lima menit dengan berjalan kaki. Di taman Rey sudah duduk dengan menggenggam seikat bunga warna merah yang indah. Di atas taman langit menghitam dan sesekali menggelegar pelan.
Akhirnya Fe tiba di taman dengan kecantikan yang sama seperti kemarin. Rey menyambut kehadiran Fe dengan sepenuh bahagia. Wajahnya mekar seperti mekarnya bunga di genggamannya. Setelah bertukar sapa Rey kembali mengucapkan cintanya kepada Fe.
“Fe, aku benar-benar mencintaimu, biar semua makhluk di taman ini menjadi saksi.”
“Tidak. Aku tidak mau menjadi saksi.” Suara berat seorang lelaki memecahkan keheningan yang ada di taman. Rey dan Fe menoleh ke arah suara itu. Seorang lelaki berkemeja hitam kotak-kotak tampak tegap berdiri setegap tiang listrik. Demi melihat keberadaan lelaki itu Fe kaget dan bangkit dari kursi taman.
“Avram, mau apa kamu di sini?”
“Aku tadi ke rumahmu. Mamamu bilang kamu ke taman. Dan ternyata kamu ke taman untuk bertemu lelaki asing ini. Siapa dia, Fe?”
“Dia bukan lelaki asing. Kamu yang lelaki asing bagiku. Kamu lelaki asing yang tak tahu diri. Kamu meninggalkanku pergi dan kini kamu datang tanpa merasa bersalah!”
“Aku bukan lelaki asing. Namaku Rey. Aku lelaki yang mencintai Fe. Kau siapa?” Rey angkat suara dan menatap tajam mata Avram. Dua pasang mata lelaki itu bertatapan seperti dua pasang mata pisau. Begitu tajam.
“Aku tidak ada keperluan denganmu, lelaki asing.” Ujar Avram pada Rey. “Aku datang jauh-jauh ke sini untukmu, Fe. Aku ingin melamarmu menjadi istriku.”
Berbarengan dengan tuntasnya kata-kata Avram petir menggemelegar. Langit bercahaya dengan cahaya kilat. Ketiga orang di taman jadi membisu.
“Enteng sekali kamu bilang akan melamarku setelah kamu meninggalkanku sekian lama tanpa kabar! Kamu pikir aku semurah itu, heh.”
“Tapi, Fe…”
“Aku sudah muak sama kamu, Avram. Perempuan mana coba yang tidak muak dengan lelaki yang mengaku mencintainya tapi jarang bahkan tak pernah menghubunginya dalam waktu yang sangat lama. Apa itu yang namanya cinta?” Mata Fe tampak berkaca-kaca. Bulir-bulir hujan mulai turun membasahi taman.
Dengan sedih dan kecewa Fe berlari keluar dari taman meninggalkan dua orang lelaki yang sedang menunggu. Namun, apa yang bisa diperbuat oleh dua orang lelaki terhadap perempuan yang sedang sedih dan kecewa selain diam dan membisu?
*
Hujan menderas. Dua orang lelaki kehujanan. Bunga berwarna merah kebasahan. Kemeja hitam kebasahan. Dua lelaki menunggu dalam kebasahan dan keserbasalahan.
Di muka pintu rumah bertembok hijau muda sepasang sandal berjejer tak rapi. Sepertinya pemilik sandal itu sedang terburu-buru atau sedang mengejar sesuatu atau mungkin hanya malas menata sandal dengan rapi. Atau mungkin pemilik sandal itu sedang sedih karena masalah cinta? Tak ada yang tahu soal itu. Namun yang sama-sama kita tahu rumah bertembok hijau muda itu adalah rumah Fe dan sandal yang berjejer tak rapi itu adalah sandal Fe. []

SMA FG, Bekasi, Februari 2017

Tentang Lelaki Harimau

“Cepatlah jawab sebenarnya apa yang kau lakukan petang itu kepada Ibumu, Ayahmu, dua adikmu dan seorang kakakkmu dan nenek dan kakekmu yang terbunuh dengan leher hampir terputus seperti bekas gigitan harimau? ” Tanya seorang polisi.

“Aku tidak tahu-menahu soal kejadian itu pak Polisi, aku berada di kamar sedang membaca buku. Kau melihat sendiri kan pak Polisi, saat kau meringsek masuk kedalam kamarku kau melihat aku sedang membaca.” Jawab pemuda itu. Cemas.

“Dasar kamu pembual. Bagaimana bisa kau tidak tahu kejadian itu sedangkan di rumah itu hanya ada kau dan hanya kau yang tersisa hidup dan kamu tidak tahu apa-apa soal itu?”

Polisi itu menjadikan hari-hari pemuda itu penuh dengan pertanyaan dan beruntung pemuda itu masih hidup atas pukulan-pukulan yang biasa diberikan polisi itu kepada para tersangka yang mencoba berbohong. Tapi sayangnya, kali ini pemuda itu tidak berbohong. Sangat jujur. Dan tidak pernah berbohong. Tapi ia harus kehilangan semua gigi depannya akibat pukulan dari pentungan itu.

**

Read More