Suara Ibu

Pukul 21.25 malam. Hujan deras membasahi kota Jakarta. Kantor tempatku bekerja baru saja bubaran. Aku pulang, berjalan di atas trotoar. Menyusuri hiruk pikuk kemacetan Ibu Kota. Air hujan mengguyur tubuhku. Membasahi pakaian, tas, dan sepatu yang ku kenakan. Bukannya aku tak mampu membeli payung atau jas hujan. Hanya saja, aku memang terlampau malas untuk menggunakan salah satu dari keduanya. Aku membiarkan tubuhku kedinginan.
Pukul 22.10 saat aku menginjakkan kaki di serambi rumah. Cukup jauh memang rumahku dari kantor dan aku hanya berjalan kaki, tidak menggunakan transportasi. Aku merogoh kunci dari dalam kantong saku celanaku. Kemudian, membuka pintu rumah dengan tergesa. Sejak orang tuaku meninggal dua tahun yang lalu, aku tinggal sendiri di rumah ini. Tiada sanak saudara yang pernah mengunjungi rumahku setelah kejadian itu. Seolah aku diasingkan, tidak diperdulikan. Atau barangkali karena jarak yang jauh dari kampungku di Aceh. Intinya, aku selalu sendiri pasca-kematian orang tuaku.

Sikapku berubah dua tahun terkahir ini. Aku menjadi orang yang skeptis. Sekarang, aku tidak peduli dengan opini publik. Aku tidak peduli dengan siapa yang menang pilkada. Aku tidak peduli dengan konflik Rusia-Amerika. Aku bahkan tidak peduli tentang siapa yang paling cantik antara Raisa dan Isyana. Persetan dengan semua itu.

Yang aku pikirkan hanyalah, bagaimana caranya aku bisa makan. Sudah, itu saja.

~~~

“Tanggal 23 kita ada proyek di Bali. Akomodasi saya yang tanggung” Begitu pesan singkat yang aku terima dari bos kantor saat aku terbangun. Aku melihat kalender di hapeku.

Disana tertulis:

-03.47 SUNDAY 17 MAY 2030-

“Masih seminggu lagi lah kira-kira” gumamku. Lalu aku menjawab kepadanya “Siap bos”

Terbangun di pagi buta saat hari libur memang menyebalkan. Apalagi hanya karena sebuah SMS yang mestinya bisa dilihat nanti. Aku putuskan untuk menarik selimut kembali, melanjutkan mimpi yang sepertinya tidak mungkin diulang lagi.

~~~

“Don! Bangun! Sholat subuh nak!” teriak Ibu. Ibu memang perhatian terhadap ibadah anaknya yang tunggal ini: Aku. Ibu tidak mau anaknya menjadi pemalas. Ibu berharap besar padaku.

“Donii! Sudah jam enam ini!!”

“Iya bu, bentar lagi”

“Kamu itu ya, sudah kepala dua masih saja susah dibangunkan! Apa kata istrimu nanti!”

Ibu mendatangi kamarku. Membangunkanku dengan teriakan yang sangat tidak nyaman didengar. Aku mengalah. Bangun dan melaksanakan perintah Ibu. Menyebalkan.

Hampir tiap hari Ibu membangunkanku seperti itu. Namun, tidak ada yang berubah dari diriku ini. Buruk sekali.

Hari itu, jam 10 menjelang siang, Ibu pergi dengan Ayah ke undangan pernikahan teman Ibu. Aku menolak untuk ikut. Malas sekali rasanya bertemu dengan wajah-wajah yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Ibu pergi bersama Ayah dengan motor bebek butut generasi 90-an. Memalukan.
Dua jam sudah semenjak keberangkatan Ibu dan Ayah ke undangan pernikahan. Aku hanya duduk manis dihadapan TV, menyaksikan acara kartun favorit di hari Minggu. Kekanak-kanakan sekali.
Rasa lapar membuat aku tergerak. Dengan uang pemberian Ayah tadi (Ayah memberikannya sebelum berangkat), aku pergi ke warung untuk membeli mie instan. Aku mengunci rumah. Lalu berjalan kaki menuju warung yang jaraknya tidak sejauh Bandung-Jakarta. Hanya berjarak 100 meter saja.

Di tengah perjalanan menuju warung, aku mendengar suara motor butut Ayah. Ya, aku sangat mengenali suara khasnya. Sangat berisik dan tidak patut untuk diperdengarkan dengan saksama. Tapi, dalam waktu yang bersamaan, aku mendengar pula suara nyaring motor balap. Terdengar seperti sedang melaju kencang.

BRUKK!!

Aku memalingkan wajahku dengan kaget. Kemudian berlari menuju sumber suara untuk memastikan apa yang terjadi.

Dua buah motor beradu, menjadi rusak tak beraturan di hamparan jalan raya. Satu diantaranya tampak tidak asing.

Aku terpaku.

Jatuhnya air mata tak dapat aku tahan setelah melihat dua orang terkapar di tengah jalan dengan darah berlumuran: Ibu dan Ayahku. Aku berlari menghampiri tubuh Ibu. Menggerak-gerakan badannya, sembari berharap Ibu masih bernafas.

“Ibuuu!!”

Aku berteriak dengan isakan tangis. Memegang pipi Ibu, menggoyangkannya agar Ibu tersadar.

“Ibuu!”

Aku menangis dengan keras setelah ku dapati bahwa denyut nadinya berhenti. Ibu meninggal di tempat.

Selanjutnya aku menghampiri Ayah dengan tangisan yang dapat didengar orang sekitar.

Ku lakukan hal yang sama kepada Ayah: Menggerakan badannya, menyentuh denyut nadinya. Tapi, apa boleh buat. Mungkin Tuhan telah menuliskan takdir bahwa Ibu dan Ayah adalah pasangan sehidup-semati. Aku terkulai lemas.

Aku mencoba untuk berdiri. Lemah, namun aku paksakan. Hingga akhirnya aku jatuh sebelum aku berdiri tegak. Aku pingsan.

~~~

“Don! Bangun! Sholat subuh nak!”

Aku terbangun, lalu menyalakan hape. Disana tertulis:

-04.30 SUNDAY 17 MAY 2030-

Mimpi yang terulang lagi. Dan Ibu masih membangunkanku dengan cara yang sama.

Advertisements

Mantan Penghuni Kamar Nomor 36

Lelaki tua menatap kekosongan. Tidak betul-betul kosong. Di hadapannya ada pepohonan dan burung-burung kecil yang sesekali hinggap. Seorang perawat mendorong kursi roda. Lelaki botak berpakaian serupa lelaki tua menyapu halaman begitu pelan. Begitu lembut hingga rerontokan daun yang disapunya terhuyung seperti orang yang melayang di ruang angkasa. Persis ketika lelaki botak berhenti menyapu, lelaki tua tampak terisak. Ia menangis seperti anak kecil yang mainannya dicuri. Lelaki botak merasa iba dan menghampiri lelaki tua.
“Sudahlah, tak usah kau menangis, dia sudah boleh keluar karena dia sudah sembuh, sedangkan kita ini belum sembuh sehingga belum boleh keluar dari tempat mengerikan ini. Hahaha.”

Lelaki tua tak memedulikan kehadiran lelaki botak. Ia pergi dari kursi gading yang sunyi itu menuju kamar nomor 36. Masih dalam keadaan menangis. Lelaki botak kini duduk di kursi yang tadi diduduki lelaki tua. Geguguran daun jatuh ke atas kepala lelaki botak. Diambilnya sehelai daun warna hijau terang. Dari dalam kamar nomor 36 terdengar jerit tangis yang sangat menyerikan. Menusuk-nusuk telinga siapa saja yang mendengarnya. Demi mendengar suara tangis itu lelaki botak pelan-pelan mulai meraung. Raungan yang diikuti jeritan. Jeritan yang diikuti oleh tangisan panjang. Pakaian putih yang dikenakannya menjadi basah.

Seorang lelaki berambut gondrong meletakkan ransel. Ia sedang duduk di pinggir jalan San Mamos. Kacamata hitam bertengger di atas hidungnya yang mancung. Tadi seorang pemuda menanyainya tentang apa yang sedang dicarinya. “Aku sedang mencari orang yang pantas untuk mati,” begitu jawab lelaki gondrong yang membuat sang pemuda dengan sigap menjauh dan tak berani berbicara lebih lanjut dengannya.

Seorang lelaki pertengahan umur empat puluh. Berjas. Berkacamata. Membawa kopor. Ia melewati lelaki gondrong dan menyapanya. Lelaki gondrong membalasnya dengan tatapan tajam seolah-olah matanya adalah pisau yang baru diasah. Lelaki berjas hanya senyum dan berlalu. Setelah sekitar tiga puluh enam langkah lelaki berjas berbelok ke sebuah rumah bergaya klasik. Ketika membuka pintu rumah lelaki berjas menyadari di sebelahnya ada seorang yang menguntitnya. Lelaki gondrong berkacamata. Lelaki berjas menutup pintu sambil melemparkan senyum ramah kepada lelaki gondrong. Di balik senyum yang ramah itu tersimpan rasa was-was dan takut. Pintu sudah sempurna tertutup. Tapi, di celah jendela samping pintu sebuah wajah dengan kacamata hitam memaksa lelaki berjas bersicepat ke dalam kamar.

Keesokkan harinya lelaki berjas kembali melewati pinggir jalan San Mamos (ya, karena memang di situlah alamat rumahnya). Dan ia kembali lewat di hadapan lelaki gondrong. Namun kali ini ada yang berbeda. Saat lelaki berjas lewat, lelaki gondrong mengangkat sebuah papan bertuliskan ‘I admire you and I will you with me in the hell’ dan sengaja mempertunjukkannya kepada lelaki berjas. Sama seperti kemarin, lelaki berjas tetap menyapa dan memberikannya senyum ramah. Syukurnya, sore itu lelaki gondrong tak mengikuti lelaki berjas sampai ke rumahnya. Lelaki berjas bersyukur atas hal itu dan merasa hari ini lebih baik daripada kemarin.

Malam hari adalah waktu kegelapan berkuasa. Jalan San Mamos telah sepi. Lampu-lampu jalan menyala samar menyinari beberapa kendaraan yang lewat. Di kursi yang diterangi samar lampu seorang lelaki mengasah sebuah pisau. Di dalam ranselnya ada bercak merah dan bangkai kelinci dengan leher putus.

Malam hari adalah waktu rasa takut berkuasa. Rumah nomor 36 telah gelap. Semua lampu dimatikan. Pada tepat jam dua belas malam lelaki penghuni rumah terbangun. Suara pintu diketuk membuat tidurnya terpotong dan mimpinya yang aneh berhenti. Lelaki itu tadi bermimpi tidur bersama kelinci dengan leher terputus di dalam kolam api. Ketika seorang bertopeng hitam dalam mimpinya hendak menikamnya ia pun terbangun. Terbangun karena suara ketukan pintu. Lelaki itu menuju ruang depan diselimuti rasa takut akibat mimpi anehnya. Ia memutar kunci. Krek. Ia membuka pintu. Dan saat pintu terbuka sebuah pisau teracung dan dengan sangat kilat pisau itu sudah menusuk dada kirinya. Orang yang memegang pisau itu tertawa terbahak-bahak. Sedangkan lelaki penghuni rumah itu, lelaki yang sehari-harinya memakai jas dan tersenyum ramah kepada orang-orang mengerang tanpa suara. Erangan menuju gerbang kematian. Lelaki itu merasa mimpi anehnya barusan bersambung di dunia nyata. Pada malam itu Jalan San Mamos sepi dan gelap sekali. Satu-satunya suara yang ada adalah suara orang terbahak-bahak. Dan karena suara itulah polisi San Mamos bergerak keluar dari pos. Pada malam itu polisi menangkap seorang lelaki gondrong berkacamata.

Di Rumah Sakit Jiwa San Mamos, satu hari setelah peristiwa pembunuhan Tuan Ramond (ya, itu nama lelaki berjas), lelaki tua tampak bahagia. Lelaki tua sangat bahagia karena sahabat lamanya telah kembali.
“Akhirnya kau kembali juga sahabatku.” kata lelaki tua.
“Ya, kurasa ini adalah tempat terbaik untukku.” ujar lelaki gondrong.
“Omong-omong, apa yang membuatmu kembali ke tempat ini?”
“Ah, bukan apa-apa. Hanya hal kecil.”
“Hal kecil?”
“Ya, kemarin aku hanya sedang mencoba pisau yang dulu pernah kau berikan kepadaku. Tapi, entah kenapa, polisi menangkapku dan mengirimku ke tempat ini lagi. Hahaha. Sungguh lucu dunia ini.”
“Iya, dunia ini sangat lucu. Hahahahaha.”

Pagi itu di Rumah Sakit Jiwa San Mamos dua orang lelaki tertawa-tawa panjang seakan tawa mereka tak kan ada habisnya. Di belakang mereka, di atas kursi kayu kecil, lelaki botak menangis tanpa suara. []

(2017)

Penjual Cinta

“Cinta.. cinta.. pak, cinta nya pak. Bu, cinta nya bu..” ucap lelaki paruh baya itu. Ia berjualan cinta di sepanjang jalur stasiun kereta. Berharap ada sepasang manusia yang hendak membeli.“Pak, cinta nya bapak jual berapa?” Tanya seorang pemuda.

“Buat adik mah, gratis. Ambil saja.” Jawabnya.

“Masa gratis sih, pak? Kan bapak juga butuh uang untuk makan”

“Adik kan lebih butuh cinta. Makanya saya kasih gratis. Sudah sana, kasih cinta itu ke orang yang kamu suka.”

“Oh terima kasih pak. Bapak ini, tahu saja kalau aku sedang jatuh cinta. Terima kasih banyak ya pak!”

Hari berlalu. Pagi harinya, di tempat yang sama, bapak itu kembali berjualan. Masih dengan dagangan yang sama pula–barang yang paling banyak dicari manusia, barang yang katanya bisa menyatukan umat manusia–cinta.

“Pak, bu, silahkan cinta nya..”

Masih pagi buta hari itu. Tapi bapak penjual cinta ini sudah mulai menawarkan barang jualannya.

“Ayo dibeli cinta nya..”

Tiba tiba datang seorang pemuda. Tampaknya seperti pemuda kemarin yang membeli cinta.

“Pak, aku mau beli cinta nya, lagi.”

“Kamu, yang kemarin beli, kan?”

“Iya, pak.”

Lalu, si pemuda itu mengambil cinta dari kotak dagangan yang dibawa si bapak. Kali ini, pemuda tersebut membayarnya. Ia menolak untuk dapat barang mahal itu dengan cuma-cuma. Si bapak penjual cinta itu sengaja tidak menyebutkan harganya. Hanya orang-orang yang benar-benar serius saja yang ia beri tahu harganya. Dan kalau disebutkan, harganya tak masuk akal! Tapi, tetap saja ada orang yang membelinya. Ya, begitulah. Cinta memang membutakan!

~●~

“Berapa harga cinta itu?” tanya Laras, pacar si pemuda.

“Kau tak perlu tahu”

“Hmm, baiklah. Tapi setidaknya beri tahu aku dimana kamu membelinya”

“Tidak masalah. Ayo, ikut aku”

Mereka beranjak dari sebuah tempat makanan Jepang menuju stasiun tempat cinta itu dibeli. Laras begitu penasaran dengan cinta yang telah membuatnya tergila-gila kepada si pemuda yang belakang diketahui bernama Heru. Laras begitu mencintainya.

“Aku membeli cinta disini. Di stasiun ini” ucap Heru

“Dimana?” Laras bertanya antusias

“Aku membelinya dari seorang kakek tua. Biasanya ada di sekitar sini..”

“Kamu yakin? Ngga bohong, kan?”

“Yakin seyakin-yakinnya.. Tunggu sebentar”

Heru melangkah. Terlihat seperti terburu-buru. Ia menghampiri kantor kepala stasiun, meninggalkan Laras di tempat tadi mereka berdiri.

“Permisi, pak.” Heru berkata sembari mengetuk pintu kantor.

“Ya, ada yg bisa dibantu?” ucap salah seorang staff di kantor tersebut.

“Bapak yang biasa jualan cinta itu, kemana ya pak?”

“Ooh.. beliau sudah jarang terlihat belakangan ini. Mungkin sudah dua minggu beliau tidak terlihat lagi”

Dua minggu? Itu bukan waktu yang sebentar, pikir Heru. Waktu dimana ia terakhir kali membeli cinta dari si bapak penjual cinta. Heru kembali menghampiri Laras.

“Ketemu?” tanya Laras

“Dia menghilang. Katanya sudah dua minggu bapak itu tak terlihat”

“Yah..”

Laras berjalan lesu. Kecewa, tidak bisa bertemu sang penjual cinta.

Mereka lalu melangkah keluar stasiun.

Laras berhenti sejenak.

“Tadi apa katamu? Dua minggu yang lalu, kamu membeli cinta itu kan?” ucap Laras.

“Memang. Ada apa?”

“Waktu kamu beli, cinta nya sisa berapa?”

“Sisa satu”

Laras berpikir. Lalu kembali melangkahkan kakinya.

“Ada apa?” tanya Heru yang berjalan di sampingnya.

“Mungkin benar..”

“Benar apanya?”

“Orang yang kamu sebut kakek tua itu, sudah mati..”

“Hah? Apa katamu?”

“Betul apa yang orang bilang. Dia juga manusia. Tak bisa hidup tanpa cinta”

Heru terdiam. Pikirannya meledak, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan pacarnya.

Mereka berjalan perlahan, pergi meninggalkan stasiun ketika langit menyisakan warna jingga kemerahan.

2020

Sabtu pagi. Aku merasa kesepian. Di rumahku cahaya pagi mengintip malu lewat ventilasi. Suara-suara motor di kejauhan mendenging di telinga. Aroma hujan hari kemarin masih menyisakan sejarah di indera penciumanku.

Aku tahu jika sedang kesepian begini rasanya aku harus pergi ke taman. Di taman ada banyak serangga-serangga lucu dan bunga-bunga cantik. Aku terhibur dengan pesona alam sederhana yang disuguhkan taman. Taman memang tidak bisa mengobati kesepianku sepenuhnya. Tetapi ia bisa meredakannya. Seperti payung, taman memang tak mampu sepenuhnya menghindarkanku dari hujan, tapi ia bisa sedikit melindungiku. Melindungiku dari ganasnya rasa kesepian.

Di taman sudah ada sepasang sejoli. Aku tidak pernah melihat mereka sebelumnya. Di kursi itu mereka bergenggaman tangan. Kaki mungil si perempuan berbaju susu tampak terayun-ayun ke depan. Aku memandangi mereka dari belakang. Bersama kupu-kupu berwarna pelangi yang melayang rendah di dekat bahuku aku bisa mendengar sepasang manusia itu tertawa kecil. Barangkali sebuah hal lucu baru saja terjadi di antara mereka. Atau barangkali mereka hanya sedang ingin tertawa di kedamaian pagi ini.

Aku berpikir untuk pulang. Awalnya aku ke taman bermaksud untuk duduk santai di kursi. Namun satu-satunya kursi sepanjang dua meter di taman itu telah terisi. Aku bisa saja duduk di ruang yang tersisa. Di tepi kanan kursi bersebelahan dengan si lelaki berkemeja kotak-kotak. Tetapi, jika itu kulakukan kurasa aku telah merusak keindahan pagi sepasang manusia. Siapa tahu mereka adalah sepasang suami-istri yang baru bersua setelah si suami sekian lama bekerja di perantauan. Mungkin.

Kuputuskan kembali ke rumah. Jarak antara taman dan rumah sekitar lima puluh meter. Menghabiskan waktu sekira lima menit. Sepanjang jalan menuju rumah –tempatku kembali dicekam kesepian– aku melihat banyak hal. Banyak hal selain kesepian dan kesedihan. Pada sebuah rumah berpagar tinggi ada mobil mengilat yang sedang diparkir. Rumah itu besar sekali seperti istana. Tetapi sepi sekali. Aku seperti melihat sebuah kecantikan yang fana. Kecantikan yang kesepian adalah kecantikan yang menyedihkan. Aku juga melihat perempuan tua bermain bersama kucingnya yang berbulu lebat, ibu muda yang sedang menyuapi bayinya di gendongan, Pak RT yang sedang mencuci motor di halaman, Bu RW yang sedang menyirami tanaman-tanaman kesayangan, dan banyak lagi.

Aku tiba di rumah. Benda pertama yang kulihat adalah jam dinding tua warna emas. Pukul delapan tepat. Kutekuri angka-angka pada jam dinding cukup lama. Jarum tipis warna merah bergerak-gerak pelan tapi tak pernah berhenti. Diam-diam aku mulai membenci jam. Sebab ia bergerak begitu lamban.

Aku tak terlalu suka menunggu. Aku ingin hari itu cepat tiba.

Aku ingin esok ketika aku terbangun dari tidur almanak telah berubah menjadi 2020 dan kamu telah ada di sampingku. Dan aku pun menjadi tidak lagi kesepian. []
*
(Tambun Selatan-Bekasi, Mei 2017)

Lelaki Melankolis

Baru saja Dion menyatakan cinta dan Lina menerimanya, perempuan itu malah hilang tanpa kabar. Coba kau pikirkan. Sehari yang lalu kau sangat bahagia karena orang yang kaucintai juga mencintaimu. Kau merasa menjadi orang paling beruntung dan bahagia di jagad raya. Lalu kepalamu mulai menyusun rencana-rencana indah: acara lamaran, resepsi pernikahan, nama-nama anak, dan… Belum genap dua puluh empat jam kemudian orang yang menjadi sebab kebahagiaanmu justru menghilang tiba-tiba. Dan ia berbalik menjadi sebab penderitaanmu. Penderitaan yang sangat. Penderitaan mana lagi yang lebih besar daripada ditinggal secara tiba-tiba.
*
Dion di kamar. Buku-buku teenlit berserakan. Armen heran kenapa di dalam kamar Dion Si Penggila Sastra bisa ada buku-buku teenlit. Keheranan Armen hanya bertahan sebentar saat ia tahu belakangan Dion sedang jatuh cinta dan orang yang dicintainya adalah seorang pencinta teenlit. Orang yang jatuh cinta memang harus banyak dimaklumi.

“Aku tak menyangka cinta bisa bikin kamu begini.”

“Begini bagaimana maksudmu?”

“Selera bacamu jadi menye-menye. Haha.”

“Apa peduliku pada selera baca.”

“Kau kan Dion Si Penggila Sastra. Aku baca novel Andrea Hirata dan Tere Liye saja kau tahdzir. Haha.”

Dion diam.

“Bagaimana kabar Lina, sudah kau dapat kabar tentang dia?”

“Belum atau mungkin tidak akan.”

“Aku heran kenapa bisa ada perempuan sekonyol dan -maaf- sebodoh itu.”

“Lina tidak bodoh. Lina pasti punya alasan kenapa dia pergi.”

“Tapi, perempuan yang tidak bodoh mana mungkin meninggalkan orang yang sangat mencintainya begitu saja. Tiba-tiba dan tanpa jejak.”

Dion kembali diam.

“Kupikir ada baiknya kau menghibur diri, Di. Pergi ke toko buku dan mencaci-maki novel menye-menye yang ada di rak best-seller misalnya, seperti yang biasa kau lakukan. Haha.”

“Ide yang tak terlalu buruk.”

“Jadi, sekarang kita ke toko buku?”

Dion tak menjawab. Tapi ia berdiri, merapikan beberapa buku yang tercecer, dan menengok ke arah Armen ketika telah berada di ambang pintu kamar.
*
Hari masih terlampau pagi. Beberapa bulir embun masih tidur santai di dedaunan pohon-pohon yang berjejer di pinggir jalan. Polusi belum terlampau mengganggu. Udara sejuk pagi hari turut berperan meminimalisir bahaya polusi. Lain hal dengan polusi, polisi pagi hari yang berdiri di dekat lampu merah sudah bikin ketar-ketir para pengendara yang tidak pakai helm, tidak punya SIM, lupa bawa STNK, atau sengaja menerabas rambu lalu lintas. Dari atas sepeda motor yang disetir Armen, Dion memerhatikan dengan iba sekaligus separuh senang seorang pengendara yang entah apa salahnya ditilang. Dari sorot wajahnya Dion bisa memahami si pengendara pasti sedang memendam kebencian yang besar kepada polisi dan mungkin terlintas di benaknya kalau suatu saat menjadi presiden akan menghapus institusi kepolisian. Konyol sekali.

Mereka sampai di mal. Sepeda motor sudah terpakir. Hal pertama yang diperdebatkan Dion dan Armen selepas dari parkiran bawah tanah itu adalah perihal siapa yang akan membayar parkir. Hal kedua yang diperdebatkan adalah apakah di toko buku Gramedia nanti yang ada di lantai dua mal mereka akan membeli buku atau hanya mencaci-maki buku-buku menye-menye. Dan hal ketiga yang mereka perdebatkan adalah mengapa mereka berdebat tentang dua hal tersebut.
*
Toko buku kapitalis itu baru saja buka. Sekelompok remaja berpakaian warna-warni menumpuk di rak bagian fiksi romance. Para pegawai menertibkan sejumlah buku yang tak terletak pada tempatnya. Di meja kasir seorang perempuan berseragam sedang bercermin memeriksa apakah wajah palsu tuntutan profesinya sudah sempurna atau belum.

Dion dan Armen langsung menuju rak sastra. Untuk sebuah sensasi yang sukar dijelaskan, mereka merasa istimewa dan sedikit mistis dikelilingi buku-buku sastra yang padahal ditulis menggunakan huruf-huruf yang sama dengan buku-buku motivasi. Sepasang mata sipit Dion berbinar tatkala melihat novel-novel Murakami dan Pamuk yang setebal buku-buku Murakami dan Pamuk. Terlalu berlebihan bila menyebut buku-buku itu setebal bantal. Sebab bantal bisa kempis sedangkan buku-buku itu tidak. Sementara Armen membuka segel sebuah buku kumpulan cerpen karya Eko Triono tanpa rasa salah dan mulai membacanya. Kalau sudah begitu Armen susah dibuat berhenti. Buktinya, setengah jam kemudian ketika Dion sudah mengutuki –dalam hati, tentunya– sejumlah novel menye-menye yang berbaris rapi di rak buku laris, Armen masih asyik berdiri di tempat yang sama dengan roman muka seserius orang yang sedang ditagih hutang.

“Cerpen ini kubaca-baca berulang kali dan aku masih belum sepenuhnya mengerti.”

“Apa judulnya?”

“Filsafat Mencuci Piring.”

“Cerpen itu kurasa memang dibuat bukan untuk dimengerti. Tidak seperti perempuan, mereka diciptakan untuk dimengerti ”

“Lho kok tiba-tiba kau bicara tentang perempuan? Teringat Lina?”

“Perempuan diciptakan untuk dimengerti. Tapi, kenapa bisa ada perempuan yang suka baca buku yang gampang dimengerti namun dia hilang begitu saja tanpa alasan yang bisa dimengerti. Kenapa bisa?”

“Dion Si Penggila Sastra rupanya bisa segalau ini juga ya. Haha.”

“Aku bukan galau. Aku hanya tak habis pikir.”

“Sudahlah tak usah mengelak. Haha.”

Dion diam dan ia berpikir untuk menyobek-nyobek seluruh novel menye-menye yang ada di toko buku. Namun ingatan tentang Lina membatalkan rencana sobek-menyobek itu. Ia ingat pertama kali bertemu Lina ketika perempuan berkacamata itu sedang membaca sebuah novel dari wattpad. Dion sebetulnya tak percaya cinta pada pandangan pertama. Tapi, saat itu, sore itu ketika dari jendela toko langit hampir senja dan sebuah lagu mellow diputar, Dion menatap mata cantik Lina dan seketika jatuh cinta.
Seminggu setelah pertemuan pertama itu Dion mengajak Lina ke sebuah kafe sederhana. Lalu ia menyatakan cinta pada Lina. Lalu Lina menerimanya. Lalu Lina menghilang dan kembang yang telanjur mekar di dada Dion menjadi kuncup dan menyiksa.

Armen melanjutkan baca buku berjudul ajaib itu: Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon. Di rak fiksi romance, di antara kerumunan para remaja tanggung Dion memburu sebuah buku. Buku yang dibaca Lina ketika mereka pertama kali berjumpa. Dengan membaca buku itu barangkali dapat meredakan rasa duka yang sedang menyelimuti hatinya. Atau justru membuat luka itu jadi lebih basah. Upaya untuk menumpas kesedihan dan mempersubur kesedihan kadang tidak bisa dibedakan. Makanya banyak orang justru semakin terluka ketika ia berniat menyembuhkan hatinya. Sebab bagi hati, jurang antara obat dan racun itu setipis kulit ari atau lebih tipis dari itu.

Dion mencari buku itu tapi tak jua menemukannya. Ia terlampau malas sekaligus malu bertanya soal buku itu kepada para remaja itu ataupun kepada pegawai toko. Ia memutuskan kembali mencari-carinya meskipun ia ragu bisa menemukannya. Setelah bolak-balik dan tak mendapatkannya pula di tiap sisi rak, Dion berpindah ke rak bagian belakang tempat buku-buku resep. Barangkali sesuatu yang sedang kita cari malah berada di tempat yang tak pernah kita duga, mungkin demikian pikir Dion. Namun hasilnya tetap sama saja, nihil. Dion sudah hampir meninggalkan rak buku-buku resep ketika sebuah suara memanggilnya.

“Dion.”

Dion menoleh dan tiba-tiba wajahnya berganti menjadi setengah murung setengah bahagia.

“Lina?”

“Dion, maafkan aku ya hilang tanpa kabar. Kamu baik-baik saja kan?”

“Ya, aku baik-baik saja.”

Tapi, hatiku tak pernah baik-baik saja.

“Dion, aku benar-benar tidak ada maksud meninggalkan kamu. Bulan lalu itu ibuku sakit parah dan aku harus segera menjenguknya ke Surabaya tanpa sempat mengabari kamu.”

“Ya, tidak apa-apa.”

Tapi hatiku tak pernah tidak apa-apa.

“Aku benar-benar minta maaf. Aku di Surabaya selama satu bulan itu karena aku harus menemani ibu. Ketika aku mau pulang ibu selalu mencegahku. Dan aku tidak tega tidak menuruti kemauan ibu yang sedang sakit parah. Kamu mau maafin aku, kan, Dion?”

Mata Lina yang masih secantik seperti sebulan lalu memancarkan sinar kejujuran dan kesungguhan.

“Ya, aku maafin kamu kok, Lina.”

Tapi hatiku sudah telanjur patah.

“Terima kasih, Dion. Tidak salah aku telah menerima cinta kamu. Aku mencintaimu, Dion.”

“Ya, aku juga mencintaimu, Lina.”
*
Dua sejoli itu hampir saja berpelukan sebelum Armen datang dan memecahkan suasana.

“Dion, ayo kita… Maaf.”

Dion dan Lina kembali menjaga jarak. Mata Lina sedikit berlinang. Mata Dion memancarkan dualisme: ketenangan sekaligus ketegangan.

Armen menggenggam sebuah buku hijau bergambar pohon. Dion ingin menggenggam tangan Lina namun ia tahu bukan itu yang sekarang pantas ia lakukan. Keheningan menguasai tiga manusia itu selama beberapa saat. Bulir-bulir bening gugur beberapa dari tangkai mata Lina.

“Aku bisa memaafkan kamu, Lina. Tapi, maaf, aku tak bisa melanjutkan hubunganku denganmu. Tidak sebagai sepasang kekasih.”

“Kenapa? Bukankah aku sudah meminta maaf? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya?”

“Kamu mungkin telah menjelaskan semuanya. Tapi hatiku, hatiku masih sakit.”

“Dasar lelaki melankolis! Baiklah kalau kamu tak mau lagi melanjutkan hubungan ini. Kita bubar!”

Lina berjalan cepat menuju pintu keluar sambil sedikit-sedikit mengusap matanya. Ada yang basah di sana. Dion hanya diam dan tak terlihat punya niat untuk mengejar perempuan itu. Armen keheranan. Dalam situasi semacam ini manusia bisa lupa bahwa mereka dianugerahi logika.

“Aku tahu kau masih mencintai Lina. Tapi kenapa kau melepasnya?”

“Aku memang masih mencintainya. Tapi hatiku, hatiku tidak bisa diajak kompromi, Men. Masih sakit hati ini.”

“Ah dasar lelaki melankolis! Aku tidak pernah kenal Dion yang seperti ini. Dion yang melankolis dan berhati lemah!”

“Diam kau!”

“Sudahlah mengaku saja kalau kau memang lelaki melankolis!”

“Aku bukan lelaki melankolis!”

“Tapi lelaki cengeng, begitu kan?”

Mulut Dion ingin membalas. Tapi hanya kebungkaman yang ada. Armen sudah pergi meninggalkan Dion sendirian. Lelaki itu, Dion Si Penggila Sastra diam-diam kembali memendam hasrat untuk memusnahkan seluruh buku menye-menye yang menyebabkannya jadi lelaki melankolis. []

(Tamsel, April 2017)