Apa Persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah

Pulang sekolah ia memapasi Elena berduaan dengan Andrea. Selepas melihat pemandangan menjengkelkan itu ia menunda kepulangannya. Ia memilih menenangkan diri ke perpustakaan sekolah. Ia pernah dengar bahwa perpustakaan adalah rumah sakit bagi pikiran. Atas dasar itu ia menyangka barangkali perpustakaan juga rumah sakit bagi hati yang terluka.

Di pojokan dibacanya Kamur Besar Bahasa Indonesia, pada lema “cinta” ia membacanya dengan berkaca-kaca. Lebay memang. Tapi, begitulah adanya. Tak lama ia menutup buku babon itu dan beralih membuka buku biografi para ilmuwan. Ia tercengang menemukan fakta bahwa Nikola Tesla jomblo sampai mati. Fakta itu membuatnya merasa senasib dengan Tesla. Sayangnya, kesamaan di antara ia dan Tesla bukan dalam kecerdasan dan banyaknya penemuan, tapi sama dalam hal kejombloan. Sebuah kesamaan yang dipaksakan dan mengenaskan.

Masih di rak biografi dibukanya kini buku biografi para ulama. Tertulis di tepi buku nama penulisnya adalah Ahmad Farid. Ia sama sekali tak mengenal nama itu dan itu tak jadi soal. Secara acak ia baca halaman demi halaman dari buku itu. Tak ada yang cukup menarik baginya hingga ia membaca tentang Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama dan mujahid dan punya banyak karya dan pernah dipenjara karena terzalimi.
Semua itu adalah fakta. Namun bukan itu yang memincutnya. Ada satu fakta terselip Ibnu Taimiyah yang membinar-binarkan matanya, yakni fakta bahwa Ibnu Taimiyah tak menikah hingga wafatnya. Seketika di otaknya tercetuskan sebuah pertanyaan ajaib.

“Apa persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah?”

Ia ketawa terbahak memikirkan pertanyaan itu. Penjaga perpustakaan dan sejumlah pengunjung menoleh kepadanya dan merasa heran. Tetapi, bukannya diam, ia malah makin terbahak-bahak ketika kembali memikirkan pertanyaan ajaib itu.

Setelah tawanya usai ia meletakkan buku pada tempatnya. Ia menuju ke arah meja penjaga perpustakaan. Nama sang penjaga adalah Radian. Ia menatap mata Radian dengan pandangan optimis dan mulai menampakkan itikat ingin mengatakan sesuatu.

“Mas Radian, aku punya satu pertanyaan untukmu.” katanya dengan wajah berseri-seri.

“Apakah itu?” timpal Radian sedikit menggeser letak kacamatanya.

Ia menaruh kedua telapak tangan di meja. Matanya menatap lurus dan tajam ke mata Radian. Lalu meluncurlah pertanyaan ajaib itu dari mulutnya.

“Apa persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah?”

Radian terlonjak kaget, heran, dan bungkam. Wajahnya agak masam. Dan melihat tekstur wajah Radian yang muram itu, ia pun tertawa. Tertawa sangat keras seakan mengejek kekagetan, keheranan, dan kebungkaman Radian.

“Kau tahu, Mas Radian, persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah, adalah bahwa keduanya mati dalam keadaan jomblo.”

Ia tertawa terbahak-bahak. Tampak seperti bergembira sekali. Sedangkan Radian agaknya kesal dan menahan diri untuk tidak menghantam mukanya dengan bogem mentah.

Tak berapa lama ia keluar dari perpustakaan. Pulang. Melewati gerbang sekolah. Di kafe kecil pinggir jalan dekat sekolah ia memergoki Elena dan Andrea sedang makan bareng. Saling menyuapi. Atas kenyataan pahit yang terhidang di depan matanya itu ia mulai menyusun rencana untuk mengikuti jejak Tesla dan Ibnu Taimiyah. []

(Tambun Selatan-Bekasi, Juli 2017)

Advertisements

Sebuah Hujan dan Alasan Perempuan Itu Membenci Ed Sheeran dan Gal Gadot

*
“Kau yang panas di kening, kau yang dingin di kenang.” (1)
*
Di tepi dinding waktu yang dingin ini. Seharusnya Perempuan Itu di rumah saja. Ia tak perlu menunggu entah siapa di kursi itu. Aku takut hujan datang dan ia kehujanan. Sedangkan aku merasa tak berhak memayunginya apalagi menggenggam jemarinya untuk menuntunnya berteduh.
*
Perempuan Itu sedikit-sedikit memegangi keningnya. Seperti sedang ada yang dikenangnya. Mungkin sesosok wajah. Mungkin sebuah kisah. Oh, bulan di langit terhalangi awan. Kurasa ada yang sedang ingin menangis. Mungkin awan-awan gelap itu. Mungkin perempuan berkudung gelap itu. Malam ini suhu menusuk sekali. Tubuhku seperti sate yang ditusuk cuaca. Dingin itu menusuk. Bukan hanya menusuk. Dingin itu juga merasuk. Dan kau tahu, dingin membuatmu memiliki banyak angan dan ingin. Aku ingin sebuah kehangatan. Aku ingin ada seseorang yang bisa kuajak bercakap-cakap tentang ingatan dan hal-hal remeh semisal, ‘Sayang, kamu tau nggak kenapa hujan membuat seseorang mudah bersedih?’ ‘Kenapa?’ jawab seseorang. ‘Karena hujan itu air. Dan airmata itu air. Keduanya itu sepasang kawan yang akrab, Sayang.’
*
Seorang perempuan berambut panjang mendekati Perempuan Itu. Tanpa canggung didudukinya ruang kosong kursi. Aku kadang heran mengapa sempat-sempatnya dua perempuan itu tenang-tenang saja duduk di kursi tepi trotoar sementara langit malam tampak begitu mendung. Apa yang sedang mereka cari. Hujan? Kenangan? Ataukah hujan yang penuh kenangan? Ataukah kenangan tentang hujan? Orang bilang perempuan itu sukar dimengerti. Dan perempuan yang memilih berada di luar ruangan ketika hujan akan datang, itu lebih sukar lagi dimengerti.
*
Perempuan berambut panjang, masih tanpa canggung, mengeluarkan earphone, namun tak lama memasukkannya kembali ke dalam tas. Tetapi gadget di tangannya masih menyala. Mengeluarkan suara. Suara yang membuat Perempuan Itu menoleh. Dua mata, mata perempuan berambut panjang dan Perempuan Itu saling menatap, tepat ketika suara itu berada pada lirik:

Oh, I never knew you were the someone waiting for me

‘Cause we were just kids when we fell in love

Not knowing what it was
*
“Aku benci penyanyi itu.” Perempuan Itu membuka suara. Membuka dialog bukan dengan salam ataupun sapa.
“Siapa yang kaumaksud?” balas perempuan berambut panjang. Mendelik heran.
“Ed Sheeran.”
“Kau membenci dia?”
“Aku benci kenapa dia menjuduli lagu itu ‘Perfect’. Aku tidak percaya tentang kesempurnaan.”
“Dia tak pernah menyuruhmu untuk percaya hal itu.”
“Dia bilang kita hanya anak-anak ketika sedang jatuh cinta.”
“Lalu?”
“Anak-anak kan gampang menangis.”
“Maksudmu?”
“Cinta membuat kita gampang menangis.”
“Oh.”
*
Aku lihat perempuan berambut panjang bergeser lebih dekat ke Perempuan Itu. Mereka berjabat tangan. Keduanya terlihat berbagi senyum. Meskipun aku juga melihat wajah Perempuan Itu masih agak sembab. Daerah matanya masih lembab. Dan, oh, lihat, hujan mulai turun. Gerimis terlihat ritmis. Perempuan berambut panjang tampak memperlihatkan layar gadgetnya kepada Perempuan Itu. Apa yang sedang mereka lihat?
*
“Mungkin film ini bisa membuatmu sedikit terhibur.” perempuan berambut panjang menyetel YouTube. Video aksi Gal Gadot bermain peran sebagai Wonder Woman.
“Aku juga benci ini.”
“Apa lagi yang kau maksud?”
“Aku benci film ini. Aku benci perempuan ini. Aku benci Wonder Woman dan Gal Gadot!”
“Kamu kok aneh, sih?”
“Aku benci adegan-adegan di dalam film ini. Perempuan terlihat sangat kuat. Padahal tak sekuat itu. Aku yakin Gal Gadot juga bakal sedih kalau orang yang dicintainya tiba-tiba meninggalkan dia.” Perempuan Itu mengucapkan itu sambil sesenggukkan. Seperti mau menangis. Pada saat yang sama gerimis makin deras. Menjadi hujan. Menjadi arena di mana kenangan dan kesedihan berlomba-lomba memasuki orang yang bertemu hujan.
*
“Sebenarnya ada apa sih sama kamu?” perempuan berambut panjang bertanya heran.
“Nggak ada apa-apa, kok.”
“Sudahlah cerita saja sama aku.”
“Nggak ada apa-apa. Beneran.”
“Aku ini juga perempuan. Aku tau kok perempuan kalau bilang ‘nggak ada apa-apa’ itu artinya ada apa-apa. Kamu nggak mau cerita sama aku?”
Perempuan Itu diam. Bungkam. Menatap mata perempuan di sebelahnya dalam-dalam. Perempuan yang baru dikenalnya beberapa menit. Ia sedang menimbang apakah ia perlu menceritakan kisahnya kepada orang yang baru saja dikenalnya.
Sementara itu hujan menderas.
*
“Ayo kita berteduh.” ajak perempuan berambut panjang. Perempuan Itu menurut.
*
Mereka menepi di bawah atap sebuah ruko. Hujan terlalu deras untuk bisa mereka hindari sepenuhnya. Kaki mereka terciprat hujan. Rok dan celana itu agak basah. Terkena hujan yang bercampur debu.
*
Di depan ruko tutup itu Perempuan Itu menceritakan semuanya kepada perempuan berambut panjang. Tentang mengapa ia membenci Ed Sheeran dan Gal Gadot. Tentang mengapa ia duduk sendirian di kursi menjelang hujan pada malam hari. Tentang seseorang yang membuatnya bersedih. Yang pergi meninggalkannya tanpa jejak dan tanpa mau mengerti betapa sesudah itu hatinya retak-retak.
*
“Kenapa dia meninggalkanmu?”
“Entahlah. Dia tak ada kabar secara tiba-tiba. Susah dihubungi. Tak biasanya begitu. Dan pada suatu senja…” Perempuan Itu menghentikan laju kata-katanya. Dia menangis. Langit menangis.
*
“Ada apa pada suatu senja?”
“Pada suatu senja aku memergoki dia bergandengan tangan dengan…” Perempuan Itu menangis sesenggukkan. Ricis hujan berpadu suara dengan ricik tangis.
“Dengan siapa?”
“Dengan sahabatku sendiri.”
Perempuan berambut panjang terkejut. Seketika dia merasa seperti kesetrum. Ada kesedihan yang menyambar sekujur tubuhnya. Dan, tanpa menceritakan kepada Perempuan Itu, perempuan berambut panjang juga teringat ia pernah merasakan hal itu jauh di masa lampau.
Perempuan Itu menangis menjadi-jadi. Perempuan berambut panjang mendekapnya. Mencoba menjinakkan kesedihan Perempuan Itu. Kesedihan adalah kucing liar yang sebisa mungkin harus dijinakkan.
*
“Sudah, kamu tak usah bersedih lagi. Orang semacam itu tidak pantas kamu tangisi.” jauh di lubuk hatinya perempuan berambut panjang itu sebetulnya juga ingin menangis dan sedih. Mengenang keperihan itu. Ketika orang yang dicintainya pergi dengan alasan yang menyakitkan.
Perempuan Itu mengangguk lemah. Tapi, masih tetap menangis. Samar-samar dari dalam tas perempuan berambut panjang terdengar suara

I see my future in your eyes
*
Masa depan yang kini telah jadi masa lalu.
*
Hujan sudah reda. Aku lihat dua perempuan itu berjalan berdampingan menuju sebuah kedai. Menjauhi kursi yang tadi mereka duduki. Kursi yang sudah sangat basah. Entah karena hujan entah karena ada airmata yang tertinggal di situ.
*
Aku membuka Instagram. Ada berita tentang logo album Ed Sheeran yang unik sekaligus aneh. Ada pula berita tentang Gal Gadot yang dicurigai mendukung zionisme. Dan, pada sebuah akun laman berita, ada sebuah berita dengan judul “Dua Orang Perempuan Ditemukan Tewas di Sebuah Kedai dalam Keadaan Tersenyum”.
*
Ah, aku tahu siapa dua perempuan itu. []
*
(1) dikutip dari puisi Aan Mansyur
*

(Tamsel-Bekasi, 2017)

 

— Erwin Setia.

Surat yang Jatuh dari Matamu

*
Sudah lama kita tak bertemu. Aku menatapmu sedalam-dalamnya dan serindu-rindunya. Wajahmu itu masih seakrab dulu. Sebentuk wajah yang menjadi salah satu jawaban dari pertanyaan mengapa aku mencintaimu. Aku mencoba lebih jauh menatap sepasang matamu. Sepasang telur yang kukagumi itu. Namun, tiba-tiba dari kedua matamu muncul sebuah surat seakan-akan matamu adalah mesin cetak. Surat itu mengalir ke bawah pipimu. Terus menurun. Dan masih seraya menatap matamu yang secantik dulu aku membaca surat itu. Surat yang jatuh dari matamu.
*
“Kubuka surat ini dengan mengucapkan selamat bertemu kembali duhai kamu yang menjadi alasan selama ini aku menangis tengah malam dan sering melamun sendirian karena rindu…,” begitu surat tersebut diawali.
“Kamu pasti tahu jarak yang terbentang di antara kita telah menumbuhkan banyak hal. Dulu, sehari setelah kepergianmu, aku sengaja menanam pohon mangga di depan rumah. Dan kini pohon itu sudah tumbuh besar dengan daun dan buah yang lebat. Aku juga membeli seekor anak kucing. Dan kini anak kucing itu sudah dewasa dan beranak-pinak. Mawar-mawar di halaman berkali-kali mekar dan layu. Aku juga masih ingat sepasang sepatu yang kauberikan menjelang keberangkatanmu itu. Sepatu itu berulang kali berdebu dan berulang kali aku membersihkannya sambil diam-diam mengenang kamu. Ah, terlalu banyak yang berubah saat ini. Harga barang semakin mahal, perumahan-perumahan semakin banyak, sinetron-sinetron tak berguna semakin marak, dan sebagainya. Tapi, aku tak terlalu peduli dengan segala perubahan itu. Yang pedulikan hanya satu. Kamu. Yang kuharapkan tak berubah hanya satu. Cintamu.”
*
Aku berhenti sejenak membaca surat itu. Pandanganku kembali menyapu wajahmu. Wajah yang tenang seperti mawar dalam kotak kaca. Kamu diam. Tenang sekali. Tapi, matamu masih terus mengalirkan surat itu. Dan aku kembali membacanya.
*
“Dan aku bersyukur kamu kembali. Aku sempat mengira kamu telah melupakanku dan menemukan orang baru di negeri sana. Ya, kamu dulu memang mengucapkan janji setia dan aku mempercayainya. Namun, bukankah ketakutan adalah hal yang wajar? Kenapa aku takut kamu melupakanku? Kenapa aku takut kamu meninggalkanku? Karena aku sangat mencintaimu, sayangku. Kurasa kamu juga perlu tahu, bahwa selain pohon mangga dan anak kucingku, rasa rindu dan cinta yang mendekam di hatiku juga tumbuh semakin besar semenjak kamu pergi, dan begitu pula dengan rasa takut kehilanganku. Bukan aku tak percaya dengan janjimu. Aku hanya khawatir. Khawatir, sayang. Bukankah jarak sengaja diadakan untuk menguji kepercayaan dan kesetiaan kita?” lanjut surat itu. Surat yang jatuh dari matamu.
“Sekarang kamu di sini. Ada di hadapanku. Kamu membaca kata demi kata surat ini. Sebetulnya aku ingin aku sendiri yang mengucapkan kalimat-kalimat ini. Namun, aku merasa tak sanggup. Aku gugup. Dadaku berdegup. Ada kebahagiaan yang melonjak-lonjak di hatiku yang membuat lidahku kelu dan ragu mengungkapkan kandungan hatiku. Ada yang terlampau berdebar dan nyaris membuatku tak sadar. Maka, kuwakilkan kata-kataku melalui surat ini. Surat yang jatuh dari mataku.”
*
“Sayang,” masih kubaca surat itu. “sesungguhnya masih banyak yang mau kukatakan. Waktu tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Apalagi aku sangat mencintaimu. Aku tidak tahu apa kamu juga merasakannya. Namun, kamu tahu bagaimana rasanya menanggung rindu selama lebih dari seribu hari? Rasanya itu seperti melahap mengkudu yang begitu pahit sambil berharap selepas itu ada apel yang begitu manis. Apel manis itu bernama pertemuan. Dan aku bersyukur akhirnya bisa merasakan apel itu hari ini. Pada pertemuan ini.”
*
Tak bosan mataku menatap wajahmu. Wajah sendu penyebab rindu. Aku ingin mengusap baik-baik pipimu. Ingin kukecup baik-baik keningmu. Namun, mata ituĜŒ matamu masih lagi mencetak surat. Surat yang jatuh dari matanu.
*
“Seharusnya surat ini masih akan lebih panjang. Masih banyak kata-kata yang tersimpan di peti hatiku. Tapi, baiklah, aku tak mau pertemuan pertama setelah sekian lama ini hanya kamu habiskan untuk membaca surat ini. Mungkin lain kali akan kulanjutkan surat ini,” begitu kata surat yang jatuh dari matamu.
“Namun, sayang, dengarkan baik-baik, baca surat ini baik-baik, terutama kalimat awal surat ini, dengarkan aku, aku mohon padamu, jangan pergi lagi meninggalkanku dan membuatku kerap menangis tengah malam dan melamun sendirian karena rindu. Aku memang mencintaimu. Tapi rindu itu ular berbisa, sayang, meskipun kutahu pertemuan adalah penawar. Namun, namun, namun, aku takut di lain kali rindu telanjur membunuhku sebelum pertemuan terjadi. Aku tak mau seperti itu. Aku tak mau.”
*
Surat itu berhenti mengalir dari matamu. Berhenti begitu saja seperti kereta yang berhenti di stasiun. Kini aku bisa menatap lebih jelas sepasang matamu, bangir hidungmu, bibirmu, dan segala yang wujud di wajahmu. Ah, wajahmu, alangkah elok! Mungkin itu alasan mengapa cintaku tak pernah berbelok darimu. Ah, wajahmu.
*
Mata kita bertatapan. Tangan kita bergenggaman. Erat sekali. Bibirku menuju telingamu dan kubisikkan,
“Iya, sayang, aku tak kan pergi jauh darimu lagi.”
*
Kemudian, ada bunyi kecup di kening. Bunyinya teramat hening dan bening. []
*
(Tamsel-Bekasi, 2017)

 

— Erwin Setia.

Mantan Penghuni Kamar Nomor 36

Lelaki tua menatap kekosongan. Tidak betul-betul kosong. Di hadapannya ada pepohonan dan burung-burung kecil yang sesekali hinggap. Seorang perawat mendorong kursi roda. Lelaki botak berpakaian serupa lelaki tua menyapu halaman begitu pelan. Begitu lembut hingga rerontokan daun yang disapunya terhuyung seperti orang yang melayang di ruang angkasa. Persis ketika lelaki botak berhenti menyapu, lelaki tua tampak terisak. Ia menangis seperti anak kecil yang mainannya dicuri. Lelaki botak merasa iba dan menghampiri lelaki tua.
“Sudahlah, tak usah kau menangis, dia sudah boleh keluar karena dia sudah sembuh, sedangkan kita ini belum sembuh sehingga belum boleh keluar dari tempat mengerikan ini. Hahaha.”

Lelaki tua tak memedulikan kehadiran lelaki botak. Ia pergi dari kursi gading yang sunyi itu menuju kamar nomor 36. Masih dalam keadaan menangis. Lelaki botak kini duduk di kursi yang tadi diduduki lelaki tua. Geguguran daun jatuh ke atas kepala lelaki botak. Diambilnya sehelai daun warna hijau terang. Dari dalam kamar nomor 36 terdengar jerit tangis yang sangat menyerikan. Menusuk-nusuk telinga siapa saja yang mendengarnya. Demi mendengar suara tangis itu lelaki botak pelan-pelan mulai meraung. Raungan yang diikuti jeritan. Jeritan yang diikuti oleh tangisan panjang. Pakaian putih yang dikenakannya menjadi basah.

Seorang lelaki berambut gondrong meletakkan ransel. Ia sedang duduk di pinggir jalan San Mamos. Kacamata hitam bertengger di atas hidungnya yang mancung. Tadi seorang pemuda menanyainya tentang apa yang sedang dicarinya. “Aku sedang mencari orang yang pantas untuk mati,” begitu jawab lelaki gondrong yang membuat sang pemuda dengan sigap menjauh dan tak berani berbicara lebih lanjut dengannya.

Seorang lelaki pertengahan umur empat puluh. Berjas. Berkacamata. Membawa kopor. Ia melewati lelaki gondrong dan menyapanya. Lelaki gondrong membalasnya dengan tatapan tajam seolah-olah matanya adalah pisau yang baru diasah. Lelaki berjas hanya senyum dan berlalu. Setelah sekitar tiga puluh enam langkah lelaki berjas berbelok ke sebuah rumah bergaya klasik. Ketika membuka pintu rumah lelaki berjas menyadari di sebelahnya ada seorang yang menguntitnya. Lelaki gondrong berkacamata. Lelaki berjas menutup pintu sambil melemparkan senyum ramah kepada lelaki gondrong. Di balik senyum yang ramah itu tersimpan rasa was-was dan takut. Pintu sudah sempurna tertutup. Tapi, di celah jendela samping pintu sebuah wajah dengan kacamata hitam memaksa lelaki berjas bersicepat ke dalam kamar.

Keesokkan harinya lelaki berjas kembali melewati pinggir jalan San Mamos (ya, karena memang di situlah alamat rumahnya). Dan ia kembali lewat di hadapan lelaki gondrong. Namun kali ini ada yang berbeda. Saat lelaki berjas lewat, lelaki gondrong mengangkat sebuah papan bertuliskan ‘I admire you and I will you with me in the hell’ dan sengaja mempertunjukkannya kepada lelaki berjas. Sama seperti kemarin, lelaki berjas tetap menyapa dan memberikannya senyum ramah. Syukurnya, sore itu lelaki gondrong tak mengikuti lelaki berjas sampai ke rumahnya. Lelaki berjas bersyukur atas hal itu dan merasa hari ini lebih baik daripada kemarin.

Malam hari adalah waktu kegelapan berkuasa. Jalan San Mamos telah sepi. Lampu-lampu jalan menyala samar menyinari beberapa kendaraan yang lewat. Di kursi yang diterangi samar lampu seorang lelaki mengasah sebuah pisau. Di dalam ranselnya ada bercak merah dan bangkai kelinci dengan leher putus.

Malam hari adalah waktu rasa takut berkuasa. Rumah nomor 36 telah gelap. Semua lampu dimatikan. Pada tepat jam dua belas malam lelaki penghuni rumah terbangun. Suara pintu diketuk membuat tidurnya terpotong dan mimpinya yang aneh berhenti. Lelaki itu tadi bermimpi tidur bersama kelinci dengan leher terputus di dalam kolam api. Ketika seorang bertopeng hitam dalam mimpinya hendak menikamnya ia pun terbangun. Terbangun karena suara ketukan pintu. Lelaki itu menuju ruang depan diselimuti rasa takut akibat mimpi anehnya. Ia memutar kunci. Krek. Ia membuka pintu. Dan saat pintu terbuka sebuah pisau teracung dan dengan sangat kilat pisau itu sudah menusuk dada kirinya. Orang yang memegang pisau itu tertawa terbahak-bahak. Sedangkan lelaki penghuni rumah itu, lelaki yang sehari-harinya memakai jas dan tersenyum ramah kepada orang-orang mengerang tanpa suara. Erangan menuju gerbang kematian. Lelaki itu merasa mimpi anehnya barusan bersambung di dunia nyata. Pada malam itu Jalan San Mamos sepi dan gelap sekali. Satu-satunya suara yang ada adalah suara orang terbahak-bahak. Dan karena suara itulah polisi San Mamos bergerak keluar dari pos. Pada malam itu polisi menangkap seorang lelaki gondrong berkacamata.

Di Rumah Sakit Jiwa San Mamos, satu hari setelah peristiwa pembunuhan Tuan Ramond (ya, itu nama lelaki berjas), lelaki tua tampak bahagia. Lelaki tua sangat bahagia karena sahabat lamanya telah kembali.
“Akhirnya kau kembali juga sahabatku.” kata lelaki tua.
“Ya, kurasa ini adalah tempat terbaik untukku.” ujar lelaki gondrong.
“Omong-omong, apa yang membuatmu kembali ke tempat ini?”
“Ah, bukan apa-apa. Hanya hal kecil.”
“Hal kecil?”
“Ya, kemarin aku hanya sedang mencoba pisau yang dulu pernah kau berikan kepadaku. Tapi, entah kenapa, polisi menangkapku dan mengirimku ke tempat ini lagi. Hahaha. Sungguh lucu dunia ini.”
“Iya, dunia ini sangat lucu. Hahahahaha.”

Pagi itu di Rumah Sakit Jiwa San Mamos dua orang lelaki tertawa-tawa panjang seakan tawa mereka tak kan ada habisnya. Di belakang mereka, di atas kursi kayu kecil, lelaki botak menangis tanpa suara. []

(2017)

2020

Sabtu pagi. Aku merasa kesepian. Di rumahku cahaya pagi mengintip malu lewat ventilasi. Suara-suara motor di kejauhan mendenging di telinga. Aroma hujan hari kemarin masih menyisakan sejarah di indera penciumanku.

Aku tahu jika sedang kesepian begini rasanya aku harus pergi ke taman. Di taman ada banyak serangga-serangga lucu dan bunga-bunga cantik. Aku terhibur dengan pesona alam sederhana yang disuguhkan taman. Taman memang tidak bisa mengobati kesepianku sepenuhnya. Tetapi ia bisa meredakannya. Seperti payung, taman memang tak mampu sepenuhnya menghindarkanku dari hujan, tapi ia bisa sedikit melindungiku. Melindungiku dari ganasnya rasa kesepian.

Di taman sudah ada sepasang sejoli. Aku tidak pernah melihat mereka sebelumnya. Di kursi itu mereka bergenggaman tangan. Kaki mungil si perempuan berbaju susu tampak terayun-ayun ke depan. Aku memandangi mereka dari belakang. Bersama kupu-kupu berwarna pelangi yang melayang rendah di dekat bahuku aku bisa mendengar sepasang manusia itu tertawa kecil. Barangkali sebuah hal lucu baru saja terjadi di antara mereka. Atau barangkali mereka hanya sedang ingin tertawa di kedamaian pagi ini.

Aku berpikir untuk pulang. Awalnya aku ke taman bermaksud untuk duduk santai di kursi. Namun satu-satunya kursi sepanjang dua meter di taman itu telah terisi. Aku bisa saja duduk di ruang yang tersisa. Di tepi kanan kursi bersebelahan dengan si lelaki berkemeja kotak-kotak. Tetapi, jika itu kulakukan kurasa aku telah merusak keindahan pagi sepasang manusia. Siapa tahu mereka adalah sepasang suami-istri yang baru bersua setelah si suami sekian lama bekerja di perantauan. Mungkin.

Kuputuskan kembali ke rumah. Jarak antara taman dan rumah sekitar lima puluh meter. Menghabiskan waktu sekira lima menit. Sepanjang jalan menuju rumah –tempatku kembali dicekam kesepian– aku melihat banyak hal. Banyak hal selain kesepian dan kesedihan. Pada sebuah rumah berpagar tinggi ada mobil mengilat yang sedang diparkir. Rumah itu besar sekali seperti istana. Tetapi sepi sekali. Aku seperti melihat sebuah kecantikan yang fana. Kecantikan yang kesepian adalah kecantikan yang menyedihkan. Aku juga melihat perempuan tua bermain bersama kucingnya yang berbulu lebat, ibu muda yang sedang menyuapi bayinya di gendongan, Pak RT yang sedang mencuci motor di halaman, Bu RW yang sedang menyirami tanaman-tanaman kesayangan, dan banyak lagi.

Aku tiba di rumah. Benda pertama yang kulihat adalah jam dinding tua warna emas. Pukul delapan tepat. Kutekuri angka-angka pada jam dinding cukup lama. Jarum tipis warna merah bergerak-gerak pelan tapi tak pernah berhenti. Diam-diam aku mulai membenci jam. Sebab ia bergerak begitu lamban.

Aku tak terlalu suka menunggu. Aku ingin hari itu cepat tiba.

Aku ingin esok ketika aku terbangun dari tidur almanak telah berubah menjadi 2020 dan kamu telah ada di sampingku. Dan aku pun menjadi tidak lagi kesepian. []
*
(Tambun Selatan-Bekasi, Mei 2017)