Anak Laut

Ombak-ombak di pinggiran pantai mengenai kakiku. Membasahi pasir, lalu kembali menuju laut. Di situ lah aku berdiam, merenung dan menyendiri. Menikmati suara ombak laut ditemani warna indah senja di sore hari. Aku tidak begitu menyukai keramaian. Bukannya benci, tapi terkadang menyendiri lebih nyaman. Begitulah jalur kehidupan yang aku pilih. Berbicara kepada semesta mungkin lebih berarti daripada dengan sesama manusia. Alam selalu mendengar (walau tak pernah membalas). Tapi manusia, kadang mendengarkan saja tak mau. Ya, begitulah faktanya.
Aku lahir dari sebuah keluarga sederhana. Ayahku bekerja seperti kebanyakan orang pantai lainnya; nelayan. Beliau orang yang ramah. Hampir semua nelayan kenal dengannya. Kata orang-orang, Ayah adalah nelayan hebat. Lemparan tombaknya tak pernah meleset dari sasaran. Padahal setahu aku, nelayan itu mengambil ikan dengan jala. Aku tidak mengerti, apakah semua nelayan itu sama atau tidak. Mungkin suatu hari nanti aku akan mengetahuinya setelah menjadi nelayan. Entah lah.
Ibuku, wanita paruh baya yang kesehariannya menjual ikan hasil tangkapan ayah. Barang dagangan Ibu selalu menjadi pilihan warga sekitar. Kata orang-orang, dagangan Ibu segar semua. Dagangannya disimpan bersama dengan butiran es halus yang seperti salju. Padahal setahu aku, memang begitu seharusnya ikan dijual. Aku tidak tahu apakah semua penjual ikan seperti itu atau tidak. Mungkin suatu hari nanti aku akan mengetahuinya setelah aku menikah. Entah lah.

Aku mengagumi keduanya. Aku ingin menjadi gagah seperti ayah. Aku ingin cerdas seperti Ibu. Tapi, kau tahu, kedua sifat ini dimiliki oleh abangku. Sesungguhnya aku iri karena abang terlahir sebagai anak dengan kualitas unggul: gagah dan cerdas. Sedangkan aku (sepertinya) dilahirkan dari benih terburuk Ayah dan Ibu. Aku tidak berjiwa gagah dan juga tidak berakal cerdas. Ah, aku iri sekali dengan abangku. Setidaknya, aku ingin dia mati agar aku tidak terlihat serba kekurangan di hadapan masyarakat. Tunggu saja tanggal mainnya.

◆◆◆

“Ris, malam ini mau ikut ke laut gak?” tanya Ayah padaku.

“Aku dirumah saja, yah. Kasian Ibu sendirian.”

“Loh, abangmu kemana?”

“Bang Halim pergi tadi. Katanya mau ada pertandingan bola sore ini di lapangan kantor desa. Terus malamnya mau tinggal di rumah sahabatnya.”

“Oh begitu. Ya sudah, kamu jaga Ibu baik-baik ya.”

Aku mengangguk.

Tumben sekali Ayah mengajak pergi ke laut. Apa mungkin Ayah mau mengajarkan cara menombak ikan? Mungkin saja. Mungkin juga Ayah bosan melihat diriku melamun di pantai saat senja.

Jujur saja, aku sering melamun saat senja. Menikmati warna jingga kemerahan di penghujung hari sambil membuka botol-botol berisi kertas bertuliskan harapan-harapan yang entah dari siapa. Botol-botol itu terus berdatangan setiap hari, dibawa oleh ombak ke tepian pantai. Mengherankan sekali.

AKU HARAP KAU BAIK-BAIK SAJA

Tulis salah satu kertas itu.

SEMOGA TUHAN MEMBERKATI KELUARGAMU

Juga,

AKU INGIN BERTEMU DENGAN MU

Begitu isi dari botol-botol itu.

Aku sempat bertanya kepada Ayah tentang botol-botol itu. Kata Ayah, itu adalah doa dari orang-orang bodoh. Aku heran, kenapa Ayah berkata seperti itu.

“Ris, orang-orang itu berdoa kepada laut. Tidak patut dicontoh. Berdoa itu hanya kepada Tuhan,” ucap Ayah.

“Tapi, kertas-kertas itu isinya seperti pesan untuk seseorang. Bukan doa seperti yang Ayah maksud.”

“Mungkin saja.”

“Mungkin? Maksud Ayah?”

“Nanti Ayah jelaskan. Sekarang Ayah mau bersiap dulu. Ayah berangkat sebentar lagi.”

Aku mengiyakan. Aku sempat membantu Ayah menyiapkan peralatan untuk menangkap ikan sebelum akhirnya Ayah pergi melaut. Ayah berpamitan.

◆◆◆

Aku sempat bertanya kepada Ibu tentang botol-botol itu. Kata Ibu, sebaiknya aku bertanya pada Ayah saja. Yah, andai Ibu tahu kalau aku sudah menanyakannya kepada Ayah terlebih dahulu, mungkin Ibu akan mengatakan yang sesungguhnya.

“Haris sudah nanya tadi ke Ayah sebelum Ayah melaut.”

“Apa kata Ayahmu?”

“Nanti dijelaskan setelah Ayah pulang katanya.”

“Ya sudah, tunggu Ayahmu pulang saja, nak.”

Malam itu, aku tidak tidur. Ucapan Ayah tentang botol-botol dari laut membuat aku berpikir sepanjang malam. Tak bisa otakku berhenti memikirkannya. Aku tak dapat tidur dengan lelap. Sungguh.

◆◆◆

Fajar sudah menyapa. Aku menunggu Ayah pulang di pinggiran pantai. Setiap kali aku melihat kapal nelayan, aku selalu berharap itu adalah kapal milik Ayah.
Ayah tiba setelah aku menunggu sepuluh menit di pinggiran pantai. Aku menghampirinya, lalu menagih janji Ayah tentang penjelasan botol-botol itu. Ayah mengusap kepalaku dan berkata bahwa dirinya akan membicarakannya di rumah. Karena melawan kepada orang tua tidak diperbolehkan, jadi, aku menurut saja. Padahal, aku ingin informasi itu disampaikan se-segera mungkin. Menyebalkan.

Kami sampai di rumah ketika Ibu sedang memasak ikan untuk sarapan pagi. Aku menyiapkan tempat duduk dan air minum agar Ayah bisa bercerita dengan lapang. Aku menyiapkan segalanya untuk membuat Ayah merasa se-nyaman mungkin meski lantai rumah terdiri dari kayu yang sudah sedikit rapuh. Ayah tersenyum melihat tingkahku. Kemudian Ayah berkata, “Duduk nak. Ayah akan ceritakan semuanya.” Aku mengiyakan.

“Sebenarnya, Ayah sudah lama menunggu momen seperti ini,” kata Ayah memulai percakapan.

“Jadi, maksud Ayah..”

“Iya, Ayah sudah lama ingin bercerita padamu, Ris. Ayah menunggu kamu siap untuk mendengarkannya.”

“Siap?”

“Ris, dengar ya. Ayah akan memberitahukan semuanya. Tapi, Ayah minta agar kamu memeluk Ayah setelah semuanya selesai. Deal?”

“Bba.. baiklah..”

“Ris, kamu itu sebetulnya bukan anak kandung Ayah. Kamu Ayah temukan di pinggir lautan dengan kondisi terbungkus dalam keranjang buah,” kata Ayah memulai, “dan Ayah tidak tega melihatmu ditelantarkan seperti itu. Kemudian Ayah membawamu pulang dan merawatmu sampai kau seperti ini..”

“Apa..” Aku berkata dengan tatapan kosong.

“Jadi botol-botol yang kau temukan di pinggiran pantai itu, yang dibawa air laut itu, sangat besar kemungkinannya ditujukan kepadamu, Ris.”

Aku tidak tahan dengan cerita Ayah. Aku pergi dengan segera dan berlari dari rumah menuju tebing di pinggir pantai.

“Haris! Kembali nak!” ucap Ayah yang mulai emosional. Ayah berusaha mencegah diriku, tapi aku terlalu gesit untuk dapat dihadang Ayah. Ayah juga tidak mampu mengejarku. Hingga akhirnya Ayah membiarkanku pergi.

Aku berlari dengan menangis sampai hampir semua orang yang aku lewati menatapku dengan konsentrasi tinggi. Aku tidak akan menyembunyikan air mata ini. Biar saja orang lain melihat kesedihanku. Aku sudah terlalu lelah untuk menutupi perasaanku sendiri.
Akhirnya, aku sampai di ujung tebing. Duduk dengan menatap laut dan menangis sejadi-jadinya. Sungguh tak dapat dipercaya, sungguh sekali. Aku berpikir bagaimana bisa Ayah dan Ibu tidak mengatakan rahasia ini sejak dulu. Aku kecewa sekali, sungguh. Aku menangis sampai langit berwarna jingga, waktu dimana aku selalu mendapatkan pesan dari laut yang mungkin dikirim oleh ibu kandungku itu. Aku meratapi kenyataan.
Lalu, terbesit sebuah akal dalam pikiranku.
Aku akan berusaha menemukan ibu kandungku, bagaimanapun caranya. Dan akhirnya, aku melangkah maju, melihat laut lebih luas. Aku percaya, jika aku ditemukan dari laut, maka aku akan kembali dari laut pula. Kemudian dengan langkah berani, aku berlari dan meloncat dari atas tebing. Biarkan aku tidak bertemu denganmu di dunia. Asal nanti, aku akan mendatangimu setelah kematian ini untuk membalas dendamku padamu yang dengan tega membuang anaknya sendiri, ibu!

Advertisements

“Aku Gak Akan Ngundang Kamu”

“Kamu jahat! kamu bilang kamu setia! Tapi kenyataannya, kamu jalan sama perempuan lain!” ucap Anggi dengan isakan tangis.
“Itu.. itu cuma sepupu aku”, Rama menjawab pelan.

Anggi pergi meninggalkan Rama. Ia berlari dengan cucuran air mata yang mengalir di pipi halusnya. Lita, kembaran Anggi, berusaha mengejar dan menenangkan Anggi.

Di taman sekolah itu, hanya teman-teman Rama yang melihat kejadian antara teman mereka dan pacarnya. Kejadian yang sudah sangat dipahami anak muda zaman sekarang. Waktu menunjukkan pukul 3 sore, setengah jam setelah pulang sekolah. Sebelumnya, Anggi sudah meminta Rama untuk menemui dirinya di taman sekolah selepas pulang sekolah. Katanya, ada yang mau dibicarakan. Di luar sangkaan Rama, terjadilah apa yang sudah terjadi. Kata-kata itu keluar dengan mudah dari mulut Anggi tanpa bisa dibantah Rama. Rama merelakan Anggi pergi.

~•~

Rama pergi menuju sekolah 15 menit lebih awal. Ia berharap dapat menemui Anggi sebelum jam pelajaran sekolah dimulai. Rama tahu kalau Anggi adalah anak rajin. Jadi, Ia akan menemuinya di pagi hari untuk meminimalisir keramaian yang sangat dibencinya.

Anggi sudah duduk manis didalam kelas. Wajahnya terlihat sedikit lebih murung. Mungkin Anggi sedang memikirkan apa yang akan terjadi antara dirinya dengan Rama, kendati Rama sudah membuatnya patah hati.

Anggi berdiri dari bangkunya. Ia berniat untuk menemui Rama. Ia ingin memberi kejelasan tentang kepergiannya dari diri Rama. Ya, Anggi ingin putus.

Sebelum pergi keluar kelas, seorang siswa berkulit gelap dan berperawakan tinggi datang ke kelas 12 IPA C, kelasnya Anggi. Tiba-tiba Ia memegang tangan Anggi.
“Aku bisa jelasin,” ucapnya.
“Rra.. Rama?” Anggi kebingungan.
“Wa.. waktu itu, aku cuma nemenin sepupu beli tas.. Lagipula, sepupu aku itu, gasuka sama aku.”
“Aku gak peduli, Ram. Aku minta putus.”
Rama tercengang oleh perkataan Anggi. Seakan-akan Ia melihat kilatan petir tepat di depan matanya. Anggi kemudian melepaskan genggaman tangan Rama, lalu menyuruhnya pergi.

Rama pergi menuju kelasnya sendiri dengan lunglai. Sebentar lagi pelajaran sekolah dimulai. Rama berusaha menyamarkan air matanya yang sedikit demi sedikit terurai.

Waktu terasa begitu lambat bagi Rama tanpa kehadiran Anggi di sisinya. Keseharian Rama hanya diisi oleh kegiatan membosankan. Seperti, belajar di sekolah misalnya. Di rumah pun Rama lebih sering menghabiskan waktu di tempat tidur. Hapenya sekarang sepi, tanpa kabar dari Anggi. Terkadang Rama bermain gitar untuk mengusir kebosanan yang selalu saja datang di malam hari.
“Ram, tidur Ram. Sudah larut malam nak.” Ibu Rama mengingatkan.
“Iya bu, bentar lagi.”
Alunan nada dari gitar yang dimainkan Rama memang terdengar lebih nyaring di malam hari, karena hari sudah sepi.

Hari demi hari berlalu. Rama masih setia dengan kesendiriannya.

~•~

“Lulus gak?” tanya Rama kepada temannya, Anton, tentang pengumuman Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.
“Alhamdulillah lulus. Lu sendiri?”
“Gua juga. Yang lain gimana? Dapet?”
“Katanya sih lulus juga. Tapi gua gak tau pasti.”
“Bagus deh. Semoga beneran lolos semua.”
Rama dan Anton terlibat percakapan selama 15 menit. Semua tampak biasa, sampai Anton bertanya, “Si Anggi gimana kabarnya?”
Rama terdiam sejenak. Lalu Rama berkata bahwa Dia dengan Anggi sudah tidak lagi berkomunikasi sejak kelulusan SMA. Rama juga menjelaskan kenapa Anggi lebih memilih pergi dari dirinya.

Rama dan Anggi masuk ke universitas yang berbeda. Rama diterima di universitas terkemuka di Jakarta. Sedangkan Anggi, memilih universitas di luar pulau Jawa. Mungkin Anggi ingin menghindari peluang bertemu Rama. Entah lah.

Tahun demi tahun berlalu. Rama masih bertahan dengan kesendiriannya.

“Ram, lu yakin gak akan pacaran lagi? Banyak loh yang ngefans sama lu!” tanya teman sekelas Rama dengan heboh.
“Engga. Gua gak peduli.”
“Wah.. gila lu Ram..”
“Terserah lu Jan. Mau bilang gua gila kek, mau bilang apa kek, gua gak peduli. Gua masih berharap sama Anggi, bukan yang lain”

Begitulah Rama. Bertahun-tahun Ia masih mengharap kepada Anggi walaupun sudah tidak ada kabar lagi darinya. Dia rela setia dengan kesendirian yang digemarinya daripada menjalin cinta dengan seseorang yang tidak disukainya.

Hingga akhirnya, terdengar kabar bahwa Anggi akan menikah. Kabar tersebut Rama dapati dari seorang teman SMA, Lita, yang berada di universitas yang sama dengan Anggi.

Rama semakin terjatuh. Rama semakin rapuh.

Rama kemudian mengirimi Anggi sebuah pesan singkat setelah mendaptakan nomornya dari Lita.

JANGAN LUPA UNDANG AKU.
-RAMA

Rama berharap sekali Anggi dapat membalas pesan singkatnya. Selang beberapa saat, harapan Rama terwujud; Anggi membalas pesan singkatnya.

AKU GAK AKAN NGUNDANG KAMU KE PERNIKAHAN AKU. GAK AKAN PERNAH!

Begitu isi pesan singkat dari Anggi. Rama semakin terpukul. Balasan dari Anggi sungguh menyayat hati. Harapan yang tidak seharusnya diharapkan.

~•~

Rama mulai menyusun karir pekerjaannya. Ia mulai menjajaki dunia pendidikan yang memang diinginkannya sejak bangku kuliah. Ilmu yang didapatkannya di universitas pun sejalan dengan impiannya.

Rama bekerja di daerah Ibukota, dekat dengan tempat tinggal Anggi. Anggi sendiri telah pulang dari perantauannya setelah lulus dari perguruan tingginya di Sumatera. Sekarang, Anggi bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Tapi Rama tidak peduli. Rama berpikir bahwa Anggi sudah menikah dan memiliki keluarga bahagia tanpa hadirnya orang ketiga.

Hingga sampai pada saat Rama menerima pesan singkat dari Lita yang berisi,

RAMA, DITUNGGU LAMARANNYA KE RUMAH. KAKA GUE NUNGGU.

“Apa? Anggi belum nikah? Yang benar saja..” gumam Rama. Rama ragu, apakah Ia harus percaya dengan berita itu atau tidak. Rama kemudian menelpon Lita untuk mencari kepastian.

“Lu serius Ta?”
“Gue serius. Anggi itu belum nikah.”
“Waktu itu, bukannya lu bilang kalo Anggi mau nikah?”
“Iya emang. Anggi mau nikah, tapi sama lo. Dia rela nungguin lo bertahun-tahun. Udah deh buruan ke rumah.”
“Oke oke, gua nanti kesana.”

Rama mengabari orang tuanya bahwa Ia akan melamar Anggi. Orang tua Rama bahagia mendengar kabar tersebut. Kemudian, keluarga Rama dan Anggi melakukan pertemuan untuk merumuskan pernikahan antara anak mereka.

Waktu dan tempat pun disepakati. Undangan mulai dicetak. Semua diurus dengan rapi.

Waktu pernikahan tiba. Rama mengucap akad disamping Anggi. Resepsi dilakukan dengan cara yang sederhana di rumah Anggi. Lalu Anggi berbisik kepada Rama, “Benar kan apa yang aku bilang? Aku gak mau ngundang kamu, karena aku mau nikah sama kamu.”
Rama hanya bisa tersenyum, lalu memeluk Anggi. Mereka kemudian berdiam di kamar pengantin seiring beresnya resepsi. Mereka tampak seperti keluarga bahagia.

Tiba-tiba handphone Anggi berdering. Anggi langsung mengambilnya dengan terburu-buru, seraya meminta izin kepada Rama untuk menerima telepon. Rama mengiyakan.

Di handphone-nya itu, terdapat tulisan CALL FROM ANGGI. Anggi mengangkatnya.

“Gimana Ta, lancar?” tanya suara dari hape itu.
“Everything’s okay. Gak perlu khawatir,”
“Oke. Makasih ya Ta. Lo emang adik terbaik” ucap suara itu lagi.
“Santai kak”
“Gue udah muak ketemu Rama. Doain pernikahan gue di sini lancar”
“Amin kak.”

Telepon berakhir.

Selagi Anggi keluar, Rama berkeliling kamar. Melihat-lihat foto istrinya dengan keluarganya yang terpampang di dinding kamar. Kemudian Rama tanpa sengaja melihat dompet Anggi. Lalu Rama membuka dompet istrinya, melihat foto-foto dan apa yang ada di dalamnya.

Alangkah terkejutnya Rama ketika melihat KTP sang istri dengan kolom nama bertuliskan “LITA LILIANA”.

Suara Ibu

Pukul 21.25 malam. Hujan deras membasahi kota Jakarta. Kantor tempatku bekerja baru saja bubaran. Aku pulang, berjalan di atas trotoar. Menyusuri hiruk pikuk kemacetan Ibu Kota. Air hujan mengguyur tubuhku. Membasahi pakaian, tas, dan sepatu yang ku kenakan. Bukannya aku tak mampu membeli payung atau jas hujan. Hanya saja, aku memang terlampau malas untuk menggunakan salah satu dari keduanya. Aku membiarkan tubuhku kedinginan.
Pukul 22.10 saat aku menginjakkan kaki di serambi rumah. Cukup jauh memang rumahku dari kantor dan aku hanya berjalan kaki, tidak menggunakan transportasi. Aku merogoh kunci dari dalam kantong saku celanaku. Kemudian, membuka pintu rumah dengan tergesa. Sejak orang tuaku meninggal dua tahun yang lalu, aku tinggal sendiri di rumah ini. Tiada sanak saudara yang pernah mengunjungi rumahku setelah kejadian itu. Seolah aku diasingkan, tidak diperdulikan. Atau barangkali karena jarak yang jauh dari kampungku di Aceh. Intinya, aku selalu sendiri pasca-kematian orang tuaku.

Sikapku berubah dua tahun terkahir ini. Aku menjadi orang yang skeptis. Sekarang, aku tidak peduli dengan opini publik. Aku tidak peduli dengan siapa yang menang pilkada. Aku tidak peduli dengan konflik Rusia-Amerika. Aku bahkan tidak peduli tentang siapa yang paling cantik antara Raisa dan Isyana. Persetan dengan semua itu.

Yang aku pikirkan hanyalah, bagaimana caranya aku bisa makan. Sudah, itu saja.

~~~

“Tanggal 23 kita ada proyek di Bali. Akomodasi saya yang tanggung” Begitu pesan singkat yang aku terima dari bos kantor saat aku terbangun. Aku melihat kalender di hapeku.

Disana tertulis:

-03.47 SUNDAY 17 MAY 2030-

“Masih seminggu lagi lah kira-kira” gumamku. Lalu aku menjawab kepadanya “Siap bos”

Terbangun di pagi buta saat hari libur memang menyebalkan. Apalagi hanya karena sebuah SMS yang mestinya bisa dilihat nanti. Aku putuskan untuk menarik selimut kembali, melanjutkan mimpi yang sepertinya tidak mungkin diulang lagi.

~~~

“Don! Bangun! Sholat subuh nak!” teriak Ibu. Ibu memang perhatian terhadap ibadah anaknya yang tunggal ini: Aku. Ibu tidak mau anaknya menjadi pemalas. Ibu berharap besar padaku.

“Donii! Sudah jam enam ini!!”

“Iya bu, bentar lagi”

“Kamu itu ya, sudah kepala dua masih saja susah dibangunkan! Apa kata istrimu nanti!”

Ibu mendatangi kamarku. Membangunkanku dengan teriakan yang sangat tidak nyaman didengar. Aku mengalah. Bangun dan melaksanakan perintah Ibu. Menyebalkan.

Hampir tiap hari Ibu membangunkanku seperti itu. Namun, tidak ada yang berubah dari diriku ini. Buruk sekali.

Hari itu, jam 10 menjelang siang, Ibu pergi dengan Ayah ke undangan pernikahan teman Ibu. Aku menolak untuk ikut. Malas sekali rasanya bertemu dengan wajah-wajah yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Ibu pergi bersama Ayah dengan motor bebek butut generasi 90-an. Memalukan.
Dua jam sudah semenjak keberangkatan Ibu dan Ayah ke undangan pernikahan. Aku hanya duduk manis dihadapan TV, menyaksikan acara kartun favorit di hari Minggu. Kekanak-kanakan sekali.
Rasa lapar membuat aku tergerak. Dengan uang pemberian Ayah tadi (Ayah memberikannya sebelum berangkat), aku pergi ke warung untuk membeli mie instan. Aku mengunci rumah. Lalu berjalan kaki menuju warung yang jaraknya tidak sejauh Bandung-Jakarta. Hanya berjarak 100 meter saja.

Di tengah perjalanan menuju warung, aku mendengar suara motor butut Ayah. Ya, aku sangat mengenali suara khasnya. Sangat berisik dan tidak patut untuk diperdengarkan dengan saksama. Tapi, dalam waktu yang bersamaan, aku mendengar pula suara nyaring motor balap. Terdengar seperti sedang melaju kencang.

BRUKK!!

Aku memalingkan wajahku dengan kaget. Kemudian berlari menuju sumber suara untuk memastikan apa yang terjadi.

Dua buah motor beradu, menjadi rusak tak beraturan di hamparan jalan raya. Satu diantaranya tampak tidak asing.

Aku terpaku.

Jatuhnya air mata tak dapat aku tahan setelah melihat dua orang terkapar di tengah jalan dengan darah berlumuran: Ibu dan Ayahku. Aku berlari menghampiri tubuh Ibu. Menggerak-gerakan badannya, sembari berharap Ibu masih bernafas.

“Ibuuu!!”

Aku berteriak dengan isakan tangis. Memegang pipi Ibu, menggoyangkannya agar Ibu tersadar.

“Ibuu!”

Aku menangis dengan keras setelah ku dapati bahwa denyut nadinya berhenti. Ibu meninggal di tempat.

Selanjutnya aku menghampiri Ayah dengan tangisan yang dapat didengar orang sekitar.

Ku lakukan hal yang sama kepada Ayah: Menggerakan badannya, menyentuh denyut nadinya. Tapi, apa boleh buat. Mungkin Tuhan telah menuliskan takdir bahwa Ibu dan Ayah adalah pasangan sehidup-semati. Aku terkulai lemas.

Aku mencoba untuk berdiri. Lemah, namun aku paksakan. Hingga akhirnya aku jatuh sebelum aku berdiri tegak. Aku pingsan.

~~~

“Don! Bangun! Sholat subuh nak!”

Aku terbangun, lalu menyalakan hape. Disana tertulis:

-04.30 SUNDAY 17 MAY 2030-

Mimpi yang terulang lagi. Dan Ibu masih membangunkanku dengan cara yang sama.

Penjual Cinta

“Cinta.. cinta.. pak, cinta nya pak. Bu, cinta nya bu..” ucap lelaki paruh baya itu. Ia berjualan cinta di sepanjang jalur stasiun kereta. Berharap ada sepasang manusia yang hendak membeli.“Pak, cinta nya bapak jual berapa?” Tanya seorang pemuda.

“Buat adik mah, gratis. Ambil saja.” Jawabnya.

“Masa gratis sih, pak? Kan bapak juga butuh uang untuk makan”

“Adik kan lebih butuh cinta. Makanya saya kasih gratis. Sudah sana, kasih cinta itu ke orang yang kamu suka.”

“Oh terima kasih pak. Bapak ini, tahu saja kalau aku sedang jatuh cinta. Terima kasih banyak ya pak!”

Hari berlalu. Pagi harinya, di tempat yang sama, bapak itu kembali berjualan. Masih dengan dagangan yang sama pula–barang yang paling banyak dicari manusia, barang yang katanya bisa menyatukan umat manusia–cinta.

“Pak, bu, silahkan cinta nya..”

Masih pagi buta hari itu. Tapi bapak penjual cinta ini sudah mulai menawarkan barang jualannya.

“Ayo dibeli cinta nya..”

Tiba tiba datang seorang pemuda. Tampaknya seperti pemuda kemarin yang membeli cinta.

“Pak, aku mau beli cinta nya, lagi.”

“Kamu, yang kemarin beli, kan?”

“Iya, pak.”

Lalu, si pemuda itu mengambil cinta dari kotak dagangan yang dibawa si bapak. Kali ini, pemuda tersebut membayarnya. Ia menolak untuk dapat barang mahal itu dengan cuma-cuma. Si bapak penjual cinta itu sengaja tidak menyebutkan harganya. Hanya orang-orang yang benar-benar serius saja yang ia beri tahu harganya. Dan kalau disebutkan, harganya tak masuk akal! Tapi, tetap saja ada orang yang membelinya. Ya, begitulah. Cinta memang membutakan!

~●~

“Berapa harga cinta itu?” tanya Laras, pacar si pemuda.

“Kau tak perlu tahu”

“Hmm, baiklah. Tapi setidaknya beri tahu aku dimana kamu membelinya”

“Tidak masalah. Ayo, ikut aku”

Mereka beranjak dari sebuah tempat makanan Jepang menuju stasiun tempat cinta itu dibeli. Laras begitu penasaran dengan cinta yang telah membuatnya tergila-gila kepada si pemuda yang belakang diketahui bernama Heru. Laras begitu mencintainya.

“Aku membeli cinta disini. Di stasiun ini” ucap Heru

“Dimana?” Laras bertanya antusias

“Aku membelinya dari seorang kakek tua. Biasanya ada di sekitar sini..”

“Kamu yakin? Ngga bohong, kan?”

“Yakin seyakin-yakinnya.. Tunggu sebentar”

Heru melangkah. Terlihat seperti terburu-buru. Ia menghampiri kantor kepala stasiun, meninggalkan Laras di tempat tadi mereka berdiri.

“Permisi, pak.” Heru berkata sembari mengetuk pintu kantor.

“Ya, ada yg bisa dibantu?” ucap salah seorang staff di kantor tersebut.

“Bapak yang biasa jualan cinta itu, kemana ya pak?”

“Ooh.. beliau sudah jarang terlihat belakangan ini. Mungkin sudah dua minggu beliau tidak terlihat lagi”

Dua minggu? Itu bukan waktu yang sebentar, pikir Heru. Waktu dimana ia terakhir kali membeli cinta dari si bapak penjual cinta. Heru kembali menghampiri Laras.

“Ketemu?” tanya Laras

“Dia menghilang. Katanya sudah dua minggu bapak itu tak terlihat”

“Yah..”

Laras berjalan lesu. Kecewa, tidak bisa bertemu sang penjual cinta.

Mereka lalu melangkah keluar stasiun.

Laras berhenti sejenak.

“Tadi apa katamu? Dua minggu yang lalu, kamu membeli cinta itu kan?” ucap Laras.

“Memang. Ada apa?”

“Waktu kamu beli, cinta nya sisa berapa?”

“Sisa satu”

Laras berpikir. Lalu kembali melangkahkan kakinya.

“Ada apa?” tanya Heru yang berjalan di sampingnya.

“Mungkin benar..”

“Benar apanya?”

“Orang yang kamu sebut kakek tua itu, sudah mati..”

“Hah? Apa katamu?”

“Betul apa yang orang bilang. Dia juga manusia. Tak bisa hidup tanpa cinta”

Heru terdiam. Pikirannya meledak, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan pacarnya.

Mereka berjalan perlahan, pergi meninggalkan stasiun ketika langit menyisakan warna jingga kemerahan.

Kata-kata yang Tak Sempat Tersampaikan

“Kau tahu bahwa aku adalah penggemar sepak bola. Aku pun tahu bahwa kau adalah salah satu penonton drama korea. Ya, kita berbeda. Bukan sebuah kebetulan jika seorang lelaki mencintai seorang wanita dengan hobi yang sama. Tapi, itu hal yang biasa. Sama sekali tidak istimewa. Mengapa? Sederhana saja. Karena mereka sama.

Kau dan aku ditakdirkan memiliki ketertarikan yang berbeda. Contoh lainnya, kau lebih senang kopi dengan pemanis: gula. Sedangkan aku hanya kopi hitam pahit saja. Tanpa tambahan apa-apa.

Kau lebih suka menonton film dengan suasana sedih pada ujungnya. Aku, lebih suka menonton film dengan suasana senang tentunya.

Walaupun kita tertarik dengan hal yang berbeda, aku harap kita baik-baik saja. Dan tentunya kita berharap untuk dapat hidup bersama.”
Itu adalah kata-kata yang ingin aku sampaikan kepadamu. Tapi mungkin aku terlalu malu. Jadi, kutuliskan saja dulu. Terbaca atau tidaknya olehmu, itu urusan lain. Yang penting kan aku sudah menuliskannya. Hatiku juga sudah lega.
Ya, aku memang rindu padamu. Aku tak tahu sudah berapa lama kita tak jumpa. Yang ku tahu, sudah lama sekali sejak terakhir kita saling melempar pandangan mata. Semoga saja pertemuan itu bukan pertemuan terakhir untuk kita. Kau berharap seperti itu juga, kan?

~●~

“Hai!” katamu waktu itu. Ku balas dengan kata yang serupa. Lalu kau bertanya “apa kabar?”

“Baik. kamu?”

“Baik juga. Udah lama nunggu di sini?”

“Lumayan. Silakan duduk”

Begitulah kira-kira percakapan pertama kita di sebuah kedai kopi. Gugup, kaku, tidak terarah. Tapi tak mengapa. Itu memang awal kita bercakap bukan? Wajar saja jika obrolan waktu itu tidak tersusun rapi. Aku rasa orang lain juga akan memahaminya. Tenang saja.

Waktu berjalan cepat. Ia bergerak seperti sedang dikejar sesuatu. Padahal menurutku, tidak ada istilahnya waktu terburu-buru. Yang ada juga manusia yang terburu-buru oleh waktu. Tapi kali ini, jujur saja, waktu seperti sedang tergesa-gesa. Berjalan cepat tanpa diduga. Tiada yang tahu mengapa waktu berbuat demikian. Yang ku rasakan hanyalah, waktu terasa begitu cepat. Sangat cepat. Tidak seperti dahulu sebelum aku mengenal wanita itu, lambat sekali.

Seiring berjalannya waktu, aku semakin dekat dengannya. Pertemuan menjadi rutin. Terjadwal, setidaknya seminggu sekali kita harus bertemu. Untuk mengusir rindu, katamu. Benar memang. Tiada hal yang lebih aku sukai saat itu kecuali menemui dirimu. Walau terhitung jarang, tapi pertemuan seminggu sekali itu menjadi sebuah hal yang berharga. Tidak akan aku melewatkannya.

Lalu, kita menjadi sebuah kesatuan yang padu. Bukan saja hanya seperti sepatu, yang kata orang selalu bersama tapi tak bisa bersatu. Tapi kita menjadi sebuah kacamata. Bersatu dalam sebuah frame. Tak bisa kita seperti sepatu yang bisa hilang satu. Tidak, tidak seperti itu. Kita bahkan menjadi cermin. Aku dapat melihat kekuranganku padamu. Begitu pula sebaliknya.

Aku senang ketika itu.

Tapi, kesenangan itu tak berlangsung lama. Kau mendadak menghilang. Bukan menghilang karena kau tak memberi kabar. Aku tak masalah dengan itu. Tapi kau benar benar menghilang. Hilang dari hadapanku, dari hadapan teman-temanmu, dari hadapan semua orang yang mencintaimu. Kau menghilang demi menghadap Sang Tuhan. Ya, takdir telah menuliskannya demikian. Aku, dan orang-orang yang mencintaimu, hanya berpasrah dengan kepergianmu. Tak bisa kami melayangkan protes atas kehendak Tuhan. Kami tidak se-brengsek itu. Tidak.

~●~

Kau terbaring sakit kala itu. Hanya sakit demam biasa, ujarmu. Tiada yang tahu apakah kau mengidap penyakit serius atau tidak. Bahkan kedua orang tuamu berkata hal yang sama. Berkata bahwa kau sakit demam biasa. Tapi tak ku sangka, jika itu adalah kali terakhir aku melihatmu. Kau tersenyum lepas. Tak ada tanda-tanda ajal akan memanggil. Bahkan kita sempat bercanda ketika aku berusaha membuatkanmu secangkir teh manis di sore hari itu. 

“Kamu pacar yang buruk” katamu sambil tersenyum

“Apa buruknya?”

“Aku gak pesan teh manis. Aku maunya teh tawar”

Kita tertawa bersama. Betapa bodohnya aku yang tidak mendengarkan permintaanmu dengan baik. Aku menyesal. Sangat menyesal. Karena setelah itu, aku menyadari bahwa itu adalah permintaan terakhir yang kau sampaikan padaku.

Benar-benar permintaan terakhir. Kau menghembuskan napas terakhir saat itu pula. Aku terdiam. Perlahan air mata terjatuh dalam kesunyian. Ya, kau pergi meninggalkan kami. Meninggalkan dunia ini.

~•~

Aku berharap yang terbaik untukmu, kasih. Ingin sekali diriku melihat kau membaca sajak yang sudah ku tuliskan itu. Semoga amal ibadahmu diterima seluruhnya oleh Sang Pencipta.

Maafkan aku jika aku selalu berbuat salah padamu. Aku hanya selalu ingin membuatmu nyaman, walau puisi yang ku berikan untukmu hanyalah puisi dari seorang amatiran.

Selamat tinggal, sayang!

(April 2017)

Thaariq D.