Anak Laut


Ombak-ombak di pinggiran pantai mengenai kakiku. Membasahi pasir, lalu kembali menuju laut. Di situ lah aku berdiam, merenung dan menyendiri. Menikmati suara ombak laut ditemani warna indah senja di sore hari. Aku tidak begitu menyukai keramaian. Bukannya benci, tapi terkadang menyendiri lebih nyaman. Begitulah jalur kehidupan yang aku pilih. Berbicara kepada semesta mungkin lebih berarti daripada dengan sesama manusia. Alam selalu mendengar (walau tak pernah membalas). Tapi manusia, kadang mendengarkan saja tak mau. Ya, begitulah faktanya.
Aku lahir dari sebuah keluarga sederhana. Ayahku bekerja seperti kebanyakan orang pantai lainnya; nelayan. Beliau orang yang ramah. Hampir semua nelayan kenal dengannya. Kata orang-orang, Ayah adalah nelayan hebat. Lemparan tombaknya tak pernah meleset dari sasaran. Padahal setahu aku, nelayan itu mengambil ikan dengan jala. Aku tidak mengerti, apakah semua nelayan itu sama atau tidak. Mungkin suatu hari nanti aku akan mengetahuinya setelah menjadi nelayan. Entah lah.
Ibuku, wanita paruh baya yang kesehariannya menjual ikan hasil tangkapan ayah. Barang dagangan Ibu selalu menjadi pilihan warga sekitar. Kata orang-orang, dagangan Ibu segar semua. Dagangannya disimpan bersama dengan butiran es halus yang seperti salju. Padahal setahu aku, memang begitu seharusnya ikan dijual. Aku tidak tahu apakah semua penjual ikan seperti itu atau tidak. Mungkin suatu hari nanti aku akan mengetahuinya setelah aku menikah. Entah lah.

Aku mengagumi keduanya. Aku ingin menjadi gagah seperti ayah. Aku ingin cerdas seperti Ibu. Tapi, kau tahu, kedua sifat ini dimiliki oleh abangku. Sesungguhnya aku iri karena abang terlahir sebagai anak dengan kualitas unggul: gagah dan cerdas. Sedangkan aku (sepertinya) dilahirkan dari benih terburuk Ayah dan Ibu. Aku tidak berjiwa gagah dan juga tidak berakal cerdas. Ah, aku iri sekali dengan abangku. Setidaknya, aku ingin dia mati agar aku tidak terlihat serba kekurangan di hadapan masyarakat. Tunggu saja tanggal mainnya.

◆◆◆

“Ris, malam ini mau ikut ke laut gak?” tanya Ayah padaku.

“Aku dirumah saja, yah. Kasian Ibu sendirian.”

“Loh, abangmu kemana?”

“Bang Halim pergi tadi. Katanya mau ada pertandingan bola sore ini di lapangan kantor desa. Terus malamnya mau tinggal di rumah sahabatnya.”

“Oh begitu. Ya sudah, kamu jaga Ibu baik-baik ya.”

Aku mengangguk.

Tumben sekali Ayah mengajak pergi ke laut. Apa mungkin Ayah mau mengajarkan cara menombak ikan? Mungkin saja. Mungkin juga Ayah bosan melihat diriku melamun di pantai saat senja.

Jujur saja, aku sering melamun saat senja. Menikmati warna jingga kemerahan di penghujung hari sambil membuka botol-botol berisi kertas bertuliskan harapan-harapan yang entah dari siapa. Botol-botol itu terus berdatangan setiap hari, dibawa oleh ombak ke tepian pantai. Mengherankan sekali.

AKU HARAP KAU BAIK-BAIK SAJA

Tulis salah satu kertas itu.

SEMOGA TUHAN MEMBERKATI KELUARGAMU

Juga,

AKU INGIN BERTEMU DENGAN MU

Begitu isi dari botol-botol itu.

Aku sempat bertanya kepada Ayah tentang botol-botol itu. Kata Ayah, itu adalah doa dari orang-orang bodoh. Aku heran, kenapa Ayah berkata seperti itu.

“Ris, orang-orang itu berdoa kepada laut. Tidak patut dicontoh. Berdoa itu hanya kepada Tuhan,” ucap Ayah.

“Tapi, kertas-kertas itu isinya seperti pesan untuk seseorang. Bukan doa seperti yang Ayah maksud.”

“Mungkin saja.”

“Mungkin? Maksud Ayah?”

“Nanti Ayah jelaskan. Sekarang Ayah mau bersiap dulu. Ayah berangkat sebentar lagi.”

Aku mengiyakan. Aku sempat membantu Ayah menyiapkan peralatan untuk menangkap ikan sebelum akhirnya Ayah pergi melaut. Ayah berpamitan.

◆◆◆

Aku sempat bertanya kepada Ibu tentang botol-botol itu. Kata Ibu, sebaiknya aku bertanya pada Ayah saja. Yah, andai Ibu tahu kalau aku sudah menanyakannya kepada Ayah terlebih dahulu, mungkin Ibu akan mengatakan yang sesungguhnya.

“Haris sudah nanya tadi ke Ayah sebelum Ayah melaut.”

“Apa kata Ayahmu?”

“Nanti dijelaskan setelah Ayah pulang katanya.”

“Ya sudah, tunggu Ayahmu pulang saja, nak.”

Malam itu, aku tidak tidur. Ucapan Ayah tentang botol-botol dari laut membuat aku berpikir sepanjang malam. Tak bisa otakku berhenti memikirkannya. Aku tak dapat tidur dengan lelap. Sungguh.

◆◆◆

Fajar sudah menyapa. Aku menunggu Ayah pulang di pinggiran pantai. Setiap kali aku melihat kapal nelayan, aku selalu berharap itu adalah kapal milik Ayah.
Ayah tiba setelah aku menunggu sepuluh menit di pinggiran pantai. Aku menghampirinya, lalu menagih janji Ayah tentang penjelasan botol-botol itu. Ayah mengusap kepalaku dan berkata bahwa dirinya akan membicarakannya di rumah. Karena melawan kepada orang tua tidak diperbolehkan, jadi, aku menurut saja. Padahal, aku ingin informasi itu disampaikan se-segera mungkin. Menyebalkan.

Kami sampai di rumah ketika Ibu sedang memasak ikan untuk sarapan pagi. Aku menyiapkan tempat duduk dan air minum agar Ayah bisa bercerita dengan lapang. Aku menyiapkan segalanya untuk membuat Ayah merasa se-nyaman mungkin meski lantai rumah terdiri dari kayu yang sudah sedikit rapuh. Ayah tersenyum melihat tingkahku. Kemudian Ayah berkata, “Duduk nak. Ayah akan ceritakan semuanya.” Aku mengiyakan.

“Sebenarnya, Ayah sudah lama menunggu momen seperti ini,” kata Ayah memulai percakapan.

“Jadi, maksud Ayah..”

“Iya, Ayah sudah lama ingin bercerita padamu, Ris. Ayah menunggu kamu siap untuk mendengarkannya.”

“Siap?”

“Ris, dengar ya. Ayah akan memberitahukan semuanya. Tapi, Ayah minta agar kamu memeluk Ayah setelah semuanya selesai. Deal?”

“Bba.. baiklah..”

“Ris, kamu itu sebetulnya bukan anak kandung Ayah. Kamu Ayah temukan di pinggir lautan dengan kondisi terbungkus dalam keranjang buah,” kata Ayah memulai, “dan Ayah tidak tega melihatmu ditelantarkan seperti itu. Kemudian Ayah membawamu pulang dan merawatmu sampai kau seperti ini..”

“Apa..” Aku berkata dengan tatapan kosong.

“Jadi botol-botol yang kau temukan di pinggiran pantai itu, yang dibawa air laut itu, sangat besar kemungkinannya ditujukan kepadamu, Ris.”

Aku tidak tahan dengan cerita Ayah. Aku pergi dengan segera dan berlari dari rumah menuju tebing di pinggir pantai.

“Haris! Kembali nak!” ucap Ayah yang mulai emosional. Ayah berusaha mencegah diriku, tapi aku terlalu gesit untuk dapat dihadang Ayah. Ayah juga tidak mampu mengejarku. Hingga akhirnya Ayah membiarkanku pergi.

Aku berlari dengan menangis sampai hampir semua orang yang aku lewati menatapku dengan konsentrasi tinggi. Aku tidak akan menyembunyikan air mata ini. Biar saja orang lain melihat kesedihanku. Aku sudah terlalu lelah untuk menutupi perasaanku sendiri.
Akhirnya, aku sampai di ujung tebing. Duduk dengan menatap laut dan menangis sejadi-jadinya. Sungguh tak dapat dipercaya, sungguh sekali. Aku berpikir bagaimana bisa Ayah dan Ibu tidak mengatakan rahasia ini sejak dulu. Aku kecewa sekali, sungguh. Aku menangis sampai langit berwarna jingga, waktu dimana aku selalu mendapatkan pesan dari laut yang mungkin dikirim oleh ibu kandungku itu. Aku meratapi kenyataan.
Lalu, terbesit sebuah akal dalam pikiranku.
Aku akan berusaha menemukan ibu kandungku, bagaimanapun caranya. Dan akhirnya, aku melangkah maju, melihat laut lebih luas. Aku percaya, jika aku ditemukan dari laut, maka aku akan kembali dari laut pula. Kemudian dengan langkah berani, aku berlari dan meloncat dari atas tebing. Biarkan aku tidak bertemu denganmu di dunia. Asal nanti, aku akan mendatangimu setelah kematian ini untuk membalas dendamku padamu yang dengan tega membuang anaknya sendiri, ibu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s