Apa Persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah


Pulang sekolah ia memapasi Elena berduaan dengan Andrea. Selepas melihat pemandangan menjengkelkan itu ia menunda kepulangannya. Ia memilih menenangkan diri ke perpustakaan sekolah. Ia pernah dengar bahwa perpustakaan adalah rumah sakit bagi pikiran. Atas dasar itu ia menyangka barangkali perpustakaan juga rumah sakit bagi hati yang terluka.

Di pojokan dibacanya Kamur Besar Bahasa Indonesia, pada lema “cinta” ia membacanya dengan berkaca-kaca. Lebay memang. Tapi, begitulah adanya. Tak lama ia menutup buku babon itu dan beralih membuka buku biografi para ilmuwan. Ia tercengang menemukan fakta bahwa Nikola Tesla jomblo sampai mati. Fakta itu membuatnya merasa senasib dengan Tesla. Sayangnya, kesamaan di antara ia dan Tesla bukan dalam kecerdasan dan banyaknya penemuan, tapi sama dalam hal kejombloan. Sebuah kesamaan yang dipaksakan dan mengenaskan.

Masih di rak biografi dibukanya kini buku biografi para ulama. Tertulis di tepi buku nama penulisnya adalah Ahmad Farid. Ia sama sekali tak mengenal nama itu dan itu tak jadi soal. Secara acak ia baca halaman demi halaman dari buku itu. Tak ada yang cukup menarik baginya hingga ia membaca tentang Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama dan mujahid dan punya banyak karya dan pernah dipenjara karena terzalimi.
Semua itu adalah fakta. Namun bukan itu yang memincutnya. Ada satu fakta terselip Ibnu Taimiyah yang membinar-binarkan matanya, yakni fakta bahwa Ibnu Taimiyah tak menikah hingga wafatnya. Seketika di otaknya tercetuskan sebuah pertanyaan ajaib.

“Apa persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah?”

Ia ketawa terbahak memikirkan pertanyaan itu. Penjaga perpustakaan dan sejumlah pengunjung menoleh kepadanya dan merasa heran. Tetapi, bukannya diam, ia malah makin terbahak-bahak ketika kembali memikirkan pertanyaan ajaib itu.

Setelah tawanya usai ia meletakkan buku pada tempatnya. Ia menuju ke arah meja penjaga perpustakaan. Nama sang penjaga adalah Radian. Ia menatap mata Radian dengan pandangan optimis dan mulai menampakkan itikat ingin mengatakan sesuatu.

“Mas Radian, aku punya satu pertanyaan untukmu.” katanya dengan wajah berseri-seri.

“Apakah itu?” timpal Radian sedikit menggeser letak kacamatanya.

Ia menaruh kedua telapak tangan di meja. Matanya menatap lurus dan tajam ke mata Radian. Lalu meluncurlah pertanyaan ajaib itu dari mulutnya.

“Apa persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah?”

Radian terlonjak kaget, heran, dan bungkam. Wajahnya agak masam. Dan melihat tekstur wajah Radian yang muram itu, ia pun tertawa. Tertawa sangat keras seakan mengejek kekagetan, keheranan, dan kebungkaman Radian.

“Kau tahu, Mas Radian, persamaan antara Nikola Tesla dan Ibnu Taimiyah, adalah bahwa keduanya mati dalam keadaan jomblo.”

Ia tertawa terbahak-bahak. Tampak seperti bergembira sekali. Sedangkan Radian agaknya kesal dan menahan diri untuk tidak menghantam mukanya dengan bogem mentah.

Tak berapa lama ia keluar dari perpustakaan. Pulang. Melewati gerbang sekolah. Di kafe kecil pinggir jalan dekat sekolah ia memergoki Elena dan Andrea sedang makan bareng. Saling menyuapi. Atas kenyataan pahit yang terhidang di depan matanya itu ia mulai menyusun rencana untuk mengikuti jejak Tesla dan Ibnu Taimiyah. []

(Tambun Selatan-Bekasi, Juli 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s