Surat yang Jatuh dari Matamu


*
Sudah lama kita tak bertemu. Aku menatapmu sedalam-dalamnya dan serindu-rindunya. Wajahmu itu masih seakrab dulu. Sebentuk wajah yang menjadi salah satu jawaban dari pertanyaan mengapa aku mencintaimu. Aku mencoba lebih jauh menatap sepasang matamu. Sepasang telur yang kukagumi itu. Namun, tiba-tiba dari kedua matamu muncul sebuah surat seakan-akan matamu adalah mesin cetak. Surat itu mengalir ke bawah pipimu. Terus menurun. Dan masih seraya menatap matamu yang secantik dulu aku membaca surat itu. Surat yang jatuh dari matamu.
*
“Kubuka surat ini dengan mengucapkan selamat bertemu kembali duhai kamu yang menjadi alasan selama ini aku menangis tengah malam dan sering melamun sendirian karena rindu…,” begitu surat tersebut diawali.
“Kamu pasti tahu jarak yang terbentang di antara kita telah menumbuhkan banyak hal. Dulu, sehari setelah kepergianmu, aku sengaja menanam pohon mangga di depan rumah. Dan kini pohon itu sudah tumbuh besar dengan daun dan buah yang lebat. Aku juga membeli seekor anak kucing. Dan kini anak kucing itu sudah dewasa dan beranak-pinak. Mawar-mawar di halaman berkali-kali mekar dan layu. Aku juga masih ingat sepasang sepatu yang kauberikan menjelang keberangkatanmu itu. Sepatu itu berulang kali berdebu dan berulang kali aku membersihkannya sambil diam-diam mengenang kamu. Ah, terlalu banyak yang berubah saat ini. Harga barang semakin mahal, perumahan-perumahan semakin banyak, sinetron-sinetron tak berguna semakin marak, dan sebagainya. Tapi, aku tak terlalu peduli dengan segala perubahan itu. Yang pedulikan hanya satu. Kamu. Yang kuharapkan tak berubah hanya satu. Cintamu.”
*
Aku berhenti sejenak membaca surat itu. Pandanganku kembali menyapu wajahmu. Wajah yang tenang seperti mawar dalam kotak kaca. Kamu diam. Tenang sekali. Tapi, matamu masih terus mengalirkan surat itu. Dan aku kembali membacanya.
*
“Dan aku bersyukur kamu kembali. Aku sempat mengira kamu telah melupakanku dan menemukan orang baru di negeri sana. Ya, kamu dulu memang mengucapkan janji setia dan aku mempercayainya. Namun, bukankah ketakutan adalah hal yang wajar? Kenapa aku takut kamu melupakanku? Kenapa aku takut kamu meninggalkanku? Karena aku sangat mencintaimu, sayangku. Kurasa kamu juga perlu tahu, bahwa selain pohon mangga dan anak kucingku, rasa rindu dan cinta yang mendekam di hatiku juga tumbuh semakin besar semenjak kamu pergi, dan begitu pula dengan rasa takut kehilanganku. Bukan aku tak percaya dengan janjimu. Aku hanya khawatir. Khawatir, sayang. Bukankah jarak sengaja diadakan untuk menguji kepercayaan dan kesetiaan kita?” lanjut surat itu. Surat yang jatuh dari matamu.
“Sekarang kamu di sini. Ada di hadapanku. Kamu membaca kata demi kata surat ini. Sebetulnya aku ingin aku sendiri yang mengucapkan kalimat-kalimat ini. Namun, aku merasa tak sanggup. Aku gugup. Dadaku berdegup. Ada kebahagiaan yang melonjak-lonjak di hatiku yang membuat lidahku kelu dan ragu mengungkapkan kandungan hatiku. Ada yang terlampau berdebar dan nyaris membuatku tak sadar. Maka, kuwakilkan kata-kataku melalui surat ini. Surat yang jatuh dari mataku.”
*
“Sayang,” masih kubaca surat itu. “sesungguhnya masih banyak yang mau kukatakan. Waktu tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Apalagi aku sangat mencintaimu. Aku tidak tahu apa kamu juga merasakannya. Namun, kamu tahu bagaimana rasanya menanggung rindu selama lebih dari seribu hari? Rasanya itu seperti melahap mengkudu yang begitu pahit sambil berharap selepas itu ada apel yang begitu manis. Apel manis itu bernama pertemuan. Dan aku bersyukur akhirnya bisa merasakan apel itu hari ini. Pada pertemuan ini.”
*
Tak bosan mataku menatap wajahmu. Wajah sendu penyebab rindu. Aku ingin mengusap baik-baik pipimu. Ingin kukecup baik-baik keningmu. Namun, mata itu، matamu masih lagi mencetak surat. Surat yang jatuh dari matanu.
*
“Seharusnya surat ini masih akan lebih panjang. Masih banyak kata-kata yang tersimpan di peti hatiku. Tapi, baiklah, aku tak mau pertemuan pertama setelah sekian lama ini hanya kamu habiskan untuk membaca surat ini. Mungkin lain kali akan kulanjutkan surat ini,” begitu kata surat yang jatuh dari matamu.
“Namun, sayang, dengarkan baik-baik, baca surat ini baik-baik, terutama kalimat awal surat ini, dengarkan aku, aku mohon padamu, jangan pergi lagi meninggalkanku dan membuatku kerap menangis tengah malam dan melamun sendirian karena rindu. Aku memang mencintaimu. Tapi rindu itu ular berbisa, sayang, meskipun kutahu pertemuan adalah penawar. Namun, namun, namun, aku takut di lain kali rindu telanjur membunuhku sebelum pertemuan terjadi. Aku tak mau seperti itu. Aku tak mau.”
*
Surat itu berhenti mengalir dari matamu. Berhenti begitu saja seperti kereta yang berhenti di stasiun. Kini aku bisa menatap lebih jelas sepasang matamu, bangir hidungmu, bibirmu, dan segala yang wujud di wajahmu. Ah, wajahmu, alangkah elok! Mungkin itu alasan mengapa cintaku tak pernah berbelok darimu. Ah, wajahmu.
*
Mata kita bertatapan. Tangan kita bergenggaman. Erat sekali. Bibirku menuju telingamu dan kubisikkan,
“Iya, sayang, aku tak kan pergi jauh darimu lagi.”
*
Kemudian, ada bunyi kecup di kening. Bunyinya teramat hening dan bening. []
*
(Tamsel-Bekasi, 2017)

 

— Erwin Setia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s