Sebuah Hujan dan Alasan Perempuan Itu Membenci Ed Sheeran dan Gal Gadot

*
“Kau yang panas di kening, kau yang dingin di kenang.” (1)
*
Di tepi dinding waktu yang dingin ini. Seharusnya Perempuan Itu di rumah saja. Ia tak perlu menunggu entah siapa di kursi itu. Aku takut hujan datang dan ia kehujanan. Sedangkan aku merasa tak berhak memayunginya apalagi menggenggam jemarinya untuk menuntunnya berteduh.
*
Perempuan Itu sedikit-sedikit memegangi keningnya. Seperti sedang ada yang dikenangnya. Mungkin sesosok wajah. Mungkin sebuah kisah. Oh, bulan di langit terhalangi awan. Kurasa ada yang sedang ingin menangis. Mungkin awan-awan gelap itu. Mungkin perempuan berkudung gelap itu. Malam ini suhu menusuk sekali. Tubuhku seperti sate yang ditusuk cuaca. Dingin itu menusuk. Bukan hanya menusuk. Dingin itu juga merasuk. Dan kau tahu, dingin membuatmu memiliki banyak angan dan ingin. Aku ingin sebuah kehangatan. Aku ingin ada seseorang yang bisa kuajak bercakap-cakap tentang ingatan dan hal-hal remeh semisal, ‘Sayang, kamu tau nggak kenapa hujan membuat seseorang mudah bersedih?’ ‘Kenapa?’ jawab seseorang. ‘Karena hujan itu air. Dan airmata itu air. Keduanya itu sepasang kawan yang akrab, Sayang.’
*
Seorang perempuan berambut panjang mendekati Perempuan Itu. Tanpa canggung didudukinya ruang kosong kursi. Aku kadang heran mengapa sempat-sempatnya dua perempuan itu tenang-tenang saja duduk di kursi tepi trotoar sementara langit malam tampak begitu mendung. Apa yang sedang mereka cari. Hujan? Kenangan? Ataukah hujan yang penuh kenangan? Ataukah kenangan tentang hujan? Orang bilang perempuan itu sukar dimengerti. Dan perempuan yang memilih berada di luar ruangan ketika hujan akan datang, itu lebih sukar lagi dimengerti.
*
Perempuan berambut panjang, masih tanpa canggung, mengeluarkan earphone, namun tak lama memasukkannya kembali ke dalam tas. Tetapi gadget di tangannya masih menyala. Mengeluarkan suara. Suara yang membuat Perempuan Itu menoleh. Dua mata, mata perempuan berambut panjang dan Perempuan Itu saling menatap, tepat ketika suara itu berada pada lirik:

Oh, I never knew you were the someone waiting for me

‘Cause we were just kids when we fell in love

Not knowing what it was
*
“Aku benci penyanyi itu.” Perempuan Itu membuka suara. Membuka dialog bukan dengan salam ataupun sapa.
“Siapa yang kaumaksud?” balas perempuan berambut panjang. Mendelik heran.
“Ed Sheeran.”
“Kau membenci dia?”
“Aku benci kenapa dia menjuduli lagu itu ‘Perfect’. Aku tidak percaya tentang kesempurnaan.”
“Dia tak pernah menyuruhmu untuk percaya hal itu.”
“Dia bilang kita hanya anak-anak ketika sedang jatuh cinta.”
“Lalu?”
“Anak-anak kan gampang menangis.”
“Maksudmu?”
“Cinta membuat kita gampang menangis.”
“Oh.”
*
Aku lihat perempuan berambut panjang bergeser lebih dekat ke Perempuan Itu. Mereka berjabat tangan. Keduanya terlihat berbagi senyum. Meskipun aku juga melihat wajah Perempuan Itu masih agak sembab. Daerah matanya masih lembab. Dan, oh, lihat, hujan mulai turun. Gerimis terlihat ritmis. Perempuan berambut panjang tampak memperlihatkan layar gadgetnya kepada Perempuan Itu. Apa yang sedang mereka lihat?
*
“Mungkin film ini bisa membuatmu sedikit terhibur.” perempuan berambut panjang menyetel YouTube. Video aksi Gal Gadot bermain peran sebagai Wonder Woman.
“Aku juga benci ini.”
“Apa lagi yang kau maksud?”
“Aku benci film ini. Aku benci perempuan ini. Aku benci Wonder Woman dan Gal Gadot!”
“Kamu kok aneh, sih?”
“Aku benci adegan-adegan di dalam film ini. Perempuan terlihat sangat kuat. Padahal tak sekuat itu. Aku yakin Gal Gadot juga bakal sedih kalau orang yang dicintainya tiba-tiba meninggalkan dia.” Perempuan Itu mengucapkan itu sambil sesenggukkan. Seperti mau menangis. Pada saat yang sama gerimis makin deras. Menjadi hujan. Menjadi arena di mana kenangan dan kesedihan berlomba-lomba memasuki orang yang bertemu hujan.
*
“Sebenarnya ada apa sih sama kamu?” perempuan berambut panjang bertanya heran.
“Nggak ada apa-apa, kok.”
“Sudahlah cerita saja sama aku.”
“Nggak ada apa-apa. Beneran.”
“Aku ini juga perempuan. Aku tau kok perempuan kalau bilang ‘nggak ada apa-apa’ itu artinya ada apa-apa. Kamu nggak mau cerita sama aku?”
Perempuan Itu diam. Bungkam. Menatap mata perempuan di sebelahnya dalam-dalam. Perempuan yang baru dikenalnya beberapa menit. Ia sedang menimbang apakah ia perlu menceritakan kisahnya kepada orang yang baru saja dikenalnya.
Sementara itu hujan menderas.
*
“Ayo kita berteduh.” ajak perempuan berambut panjang. Perempuan Itu menurut.
*
Mereka menepi di bawah atap sebuah ruko. Hujan terlalu deras untuk bisa mereka hindari sepenuhnya. Kaki mereka terciprat hujan. Rok dan celana itu agak basah. Terkena hujan yang bercampur debu.
*
Di depan ruko tutup itu Perempuan Itu menceritakan semuanya kepada perempuan berambut panjang. Tentang mengapa ia membenci Ed Sheeran dan Gal Gadot. Tentang mengapa ia duduk sendirian di kursi menjelang hujan pada malam hari. Tentang seseorang yang membuatnya bersedih. Yang pergi meninggalkannya tanpa jejak dan tanpa mau mengerti betapa sesudah itu hatinya retak-retak.
*
“Kenapa dia meninggalkanmu?”
“Entahlah. Dia tak ada kabar secara tiba-tiba. Susah dihubungi. Tak biasanya begitu. Dan pada suatu senja…” Perempuan Itu menghentikan laju kata-katanya. Dia menangis. Langit menangis.
*
“Ada apa pada suatu senja?”
“Pada suatu senja aku memergoki dia bergandengan tangan dengan…” Perempuan Itu menangis sesenggukkan. Ricis hujan berpadu suara dengan ricik tangis.
“Dengan siapa?”
“Dengan sahabatku sendiri.”
Perempuan berambut panjang terkejut. Seketika dia merasa seperti kesetrum. Ada kesedihan yang menyambar sekujur tubuhnya. Dan, tanpa menceritakan kepada Perempuan Itu, perempuan berambut panjang juga teringat ia pernah merasakan hal itu jauh di masa lampau.
Perempuan Itu menangis menjadi-jadi. Perempuan berambut panjang mendekapnya. Mencoba menjinakkan kesedihan Perempuan Itu. Kesedihan adalah kucing liar yang sebisa mungkin harus dijinakkan.
*
“Sudah, kamu tak usah bersedih lagi. Orang semacam itu tidak pantas kamu tangisi.” jauh di lubuk hatinya perempuan berambut panjang itu sebetulnya juga ingin menangis dan sedih. Mengenang keperihan itu. Ketika orang yang dicintainya pergi dengan alasan yang menyakitkan.
Perempuan Itu mengangguk lemah. Tapi, masih tetap menangis. Samar-samar dari dalam tas perempuan berambut panjang terdengar suara

I see my future in your eyes
*
Masa depan yang kini telah jadi masa lalu.
*
Hujan sudah reda. Aku lihat dua perempuan itu berjalan berdampingan menuju sebuah kedai. Menjauhi kursi yang tadi mereka duduki. Kursi yang sudah sangat basah. Entah karena hujan entah karena ada airmata yang tertinggal di situ.
*
Aku membuka Instagram. Ada berita tentang logo album Ed Sheeran yang unik sekaligus aneh. Ada pula berita tentang Gal Gadot yang dicurigai mendukung zionisme. Dan, pada sebuah akun laman berita, ada sebuah berita dengan judul “Dua Orang Perempuan Ditemukan Tewas di Sebuah Kedai dalam Keadaan Tersenyum”.
*
Ah, aku tahu siapa dua perempuan itu. []
*
(1) dikutip dari puisi Aan Mansyur
*

(Tamsel-Bekasi, 2017)

 

— Erwin Setia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s