“Aku Gak Akan Ngundang Kamu”


“Kamu jahat! kamu bilang kamu setia! Tapi kenyataannya, kamu jalan sama perempuan lain!” ucap Anggi dengan isakan tangis.
“Itu.. itu cuma sepupu aku”, Rama menjawab pelan.

Anggi pergi meninggalkan Rama. Ia berlari dengan cucuran air mata yang mengalir di pipi halusnya. Lita, kembaran Anggi, berusaha mengejar dan menenangkan Anggi.

Di taman sekolah itu, hanya teman-teman Rama yang melihat kejadian antara teman mereka dan pacarnya. Kejadian yang sudah sangat dipahami anak muda zaman sekarang. Waktu menunjukkan pukul 3 sore, setengah jam setelah pulang sekolah. Sebelumnya, Anggi sudah meminta Rama untuk menemui dirinya di taman sekolah selepas pulang sekolah. Katanya, ada yang mau dibicarakan. Di luar sangkaan Rama, terjadilah apa yang sudah terjadi. Kata-kata itu keluar dengan mudah dari mulut Anggi tanpa bisa dibantah Rama. Rama merelakan Anggi pergi.

~•~

Rama pergi menuju sekolah 15 menit lebih awal. Ia berharap dapat menemui Anggi sebelum jam pelajaran sekolah dimulai. Rama tahu kalau Anggi adalah anak rajin. Jadi, Ia akan menemuinya di pagi hari untuk meminimalisir keramaian yang sangat dibencinya.

Anggi sudah duduk manis didalam kelas. Wajahnya terlihat sedikit lebih murung. Mungkin Anggi sedang memikirkan apa yang akan terjadi antara dirinya dengan Rama, kendati Rama sudah membuatnya patah hati.

Anggi berdiri dari bangkunya. Ia berniat untuk menemui Rama. Ia ingin memberi kejelasan tentang kepergiannya dari diri Rama. Ya, Anggi ingin putus.

Sebelum pergi keluar kelas, seorang siswa berkulit gelap dan berperawakan tinggi datang ke kelas 12 IPA C, kelasnya Anggi. Tiba-tiba Ia memegang tangan Anggi.
“Aku bisa jelasin,” ucapnya.
“Rra.. Rama?” Anggi kebingungan.
“Wa.. waktu itu, aku cuma nemenin sepupu beli tas.. Lagipula, sepupu aku itu, gasuka sama aku.”
“Aku gak peduli, Ram. Aku minta putus.”
Rama tercengang oleh perkataan Anggi. Seakan-akan Ia melihat kilatan petir tepat di depan matanya. Anggi kemudian melepaskan genggaman tangan Rama, lalu menyuruhnya pergi.

Rama pergi menuju kelasnya sendiri dengan lunglai. Sebentar lagi pelajaran sekolah dimulai. Rama berusaha menyamarkan air matanya yang sedikit demi sedikit terurai.

Waktu terasa begitu lambat bagi Rama tanpa kehadiran Anggi di sisinya. Keseharian Rama hanya diisi oleh kegiatan membosankan. Seperti, belajar di sekolah misalnya. Di rumah pun Rama lebih sering menghabiskan waktu di tempat tidur. Hapenya sekarang sepi, tanpa kabar dari Anggi. Terkadang Rama bermain gitar untuk mengusir kebosanan yang selalu saja datang di malam hari.
“Ram, tidur Ram. Sudah larut malam nak.” Ibu Rama mengingatkan.
“Iya bu, bentar lagi.”
Alunan nada dari gitar yang dimainkan Rama memang terdengar lebih nyaring di malam hari, karena hari sudah sepi.

Hari demi hari berlalu. Rama masih setia dengan kesendiriannya.

~•~

“Lulus gak?” tanya Rama kepada temannya, Anton, tentang pengumuman Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.
“Alhamdulillah lulus. Lu sendiri?”
“Gua juga. Yang lain gimana? Dapet?”
“Katanya sih lulus juga. Tapi gua gak tau pasti.”
“Bagus deh. Semoga beneran lolos semua.”
Rama dan Anton terlibat percakapan selama 15 menit. Semua tampak biasa, sampai Anton bertanya, “Si Anggi gimana kabarnya?”
Rama terdiam sejenak. Lalu Rama berkata bahwa Dia dengan Anggi sudah tidak lagi berkomunikasi sejak kelulusan SMA. Rama juga menjelaskan kenapa Anggi lebih memilih pergi dari dirinya.

Rama dan Anggi masuk ke universitas yang berbeda. Rama diterima di universitas terkemuka di Jakarta. Sedangkan Anggi, memilih universitas di luar pulau Jawa. Mungkin Anggi ingin menghindari peluang bertemu Rama. Entah lah.

Tahun demi tahun berlalu. Rama masih bertahan dengan kesendiriannya.

“Ram, lu yakin gak akan pacaran lagi? Banyak loh yang ngefans sama lu!” tanya teman sekelas Rama dengan heboh.
“Engga. Gua gak peduli.”
“Wah.. gila lu Ram..”
“Terserah lu Jan. Mau bilang gua gila kek, mau bilang apa kek, gua gak peduli. Gua masih berharap sama Anggi, bukan yang lain”

Begitulah Rama. Bertahun-tahun Ia masih mengharap kepada Anggi walaupun sudah tidak ada kabar lagi darinya. Dia rela setia dengan kesendirian yang digemarinya daripada menjalin cinta dengan seseorang yang tidak disukainya.

Hingga akhirnya, terdengar kabar bahwa Anggi akan menikah. Kabar tersebut Rama dapati dari seorang teman SMA, Lita, yang berada di universitas yang sama dengan Anggi.

Rama semakin terjatuh. Rama semakin rapuh.

Rama kemudian mengirimi Anggi sebuah pesan singkat setelah mendaptakan nomornya dari Lita.

JANGAN LUPA UNDANG AKU.
-RAMA

Rama berharap sekali Anggi dapat membalas pesan singkatnya. Selang beberapa saat, harapan Rama terwujud; Anggi membalas pesan singkatnya.

AKU GAK AKAN NGUNDANG KAMU KE PERNIKAHAN AKU. GAK AKAN PERNAH!

Begitu isi pesan singkat dari Anggi. Rama semakin terpukul. Balasan dari Anggi sungguh menyayat hati. Harapan yang tidak seharusnya diharapkan.

~•~

Rama mulai menyusun karir pekerjaannya. Ia mulai menjajaki dunia pendidikan yang memang diinginkannya sejak bangku kuliah. Ilmu yang didapatkannya di universitas pun sejalan dengan impiannya.

Rama bekerja di daerah Ibukota, dekat dengan tempat tinggal Anggi. Anggi sendiri telah pulang dari perantauannya setelah lulus dari perguruan tingginya di Sumatera. Sekarang, Anggi bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Tapi Rama tidak peduli. Rama berpikir bahwa Anggi sudah menikah dan memiliki keluarga bahagia tanpa hadirnya orang ketiga.

Hingga sampai pada saat Rama menerima pesan singkat dari Lita yang berisi,

RAMA, DITUNGGU LAMARANNYA KE RUMAH. KAKA GUE NUNGGU.

“Apa? Anggi belum nikah? Yang benar saja..” gumam Rama. Rama ragu, apakah Ia harus percaya dengan berita itu atau tidak. Rama kemudian menelpon Lita untuk mencari kepastian.

“Lu serius Ta?”
“Gue serius. Anggi itu belum nikah.”
“Waktu itu, bukannya lu bilang kalo Anggi mau nikah?”
“Iya emang. Anggi mau nikah, tapi sama lo. Dia rela nungguin lo bertahun-tahun. Udah deh buruan ke rumah.”
“Oke oke, gua nanti kesana.”

Rama mengabari orang tuanya bahwa Ia akan melamar Anggi. Orang tua Rama bahagia mendengar kabar tersebut. Kemudian, keluarga Rama dan Anggi melakukan pertemuan untuk merumuskan pernikahan antara anak mereka.

Waktu dan tempat pun disepakati. Undangan mulai dicetak. Semua diurus dengan rapi.

Waktu pernikahan tiba. Rama mengucap akad disamping Anggi. Resepsi dilakukan dengan cara yang sederhana di rumah Anggi. Lalu Anggi berbisik kepada Rama, “Benar kan apa yang aku bilang? Aku gak mau ngundang kamu, karena aku mau nikah sama kamu.”
Rama hanya bisa tersenyum, lalu memeluk Anggi. Mereka kemudian berdiam di kamar pengantin seiring beresnya resepsi. Mereka tampak seperti keluarga bahagia.

Tiba-tiba handphone Anggi berdering. Anggi langsung mengambilnya dengan terburu-buru, seraya meminta izin kepada Rama untuk menerima telepon. Rama mengiyakan.

Di handphone-nya itu, terdapat tulisan CALL FROM ANGGI. Anggi mengangkatnya.

“Gimana Ta, lancar?” tanya suara dari hape itu.
“Everything’s okay. Gak perlu khawatir,”
“Oke. Makasih ya Ta. Lo emang adik terbaik” ucap suara itu lagi.
“Santai kak”
“Gue udah muak ketemu Rama. Doain pernikahan gue di sini lancar”
“Amin kak.”

Telepon berakhir.

Selagi Anggi keluar, Rama berkeliling kamar. Melihat-lihat foto istrinya dengan keluarganya yang terpampang di dinding kamar. Kemudian Rama tanpa sengaja melihat dompet Anggi. Lalu Rama membuka dompet istrinya, melihat foto-foto dan apa yang ada di dalamnya.

Alangkah terkejutnya Rama ketika melihat KTP sang istri dengan kolom nama bertuliskan “LITA LILIANA”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s