Suara Ibu


Pukul 21.25 malam. Hujan deras membasahi kota Jakarta. Kantor tempatku bekerja baru saja bubaran. Aku pulang, berjalan di atas trotoar. Menyusuri hiruk pikuk kemacetan Ibu Kota. Air hujan mengguyur tubuhku. Membasahi pakaian, tas, dan sepatu yang ku kenakan. Bukannya aku tak mampu membeli payung atau jas hujan. Hanya saja, aku memang terlampau malas untuk menggunakan salah satu dari keduanya. Aku membiarkan tubuhku kedinginan.
Pukul 22.10 saat aku menginjakkan kaki di serambi rumah. Cukup jauh memang rumahku dari kantor dan aku hanya berjalan kaki, tidak menggunakan transportasi. Aku merogoh kunci dari dalam kantong saku celanaku. Kemudian, membuka pintu rumah dengan tergesa. Sejak orang tuaku meninggal dua tahun yang lalu, aku tinggal sendiri di rumah ini. Tiada sanak saudara yang pernah mengunjungi rumahku setelah kejadian itu. Seolah aku diasingkan, tidak diperdulikan. Atau barangkali karena jarak yang jauh dari kampungku di Aceh. Intinya, aku selalu sendiri pasca-kematian orang tuaku.

Sikapku berubah dua tahun terkahir ini. Aku menjadi orang yang skeptis. Sekarang, aku tidak peduli dengan opini publik. Aku tidak peduli dengan siapa yang menang pilkada. Aku tidak peduli dengan konflik Rusia-Amerika. Aku bahkan tidak peduli tentang siapa yang paling cantik antara Raisa dan Isyana. Persetan dengan semua itu.

Yang aku pikirkan hanyalah, bagaimana caranya aku bisa makan. Sudah, itu saja.

~~~

“Tanggal 23 kita ada proyek di Bali. Akomodasi saya yang tanggung” Begitu pesan singkat yang aku terima dari bos kantor saat aku terbangun. Aku melihat kalender di hapeku.

Disana tertulis:

-03.47 SUNDAY 17 MAY 2030-

“Masih seminggu lagi lah kira-kira” gumamku. Lalu aku menjawab kepadanya “Siap bos”

Terbangun di pagi buta saat hari libur memang menyebalkan. Apalagi hanya karena sebuah SMS yang mestinya bisa dilihat nanti. Aku putuskan untuk menarik selimut kembali, melanjutkan mimpi yang sepertinya tidak mungkin diulang lagi.

~~~

“Don! Bangun! Sholat subuh nak!” teriak Ibu. Ibu memang perhatian terhadap ibadah anaknya yang tunggal ini: Aku. Ibu tidak mau anaknya menjadi pemalas. Ibu berharap besar padaku.

“Donii! Sudah jam enam ini!!”

“Iya bu, bentar lagi”

“Kamu itu ya, sudah kepala dua masih saja susah dibangunkan! Apa kata istrimu nanti!”

Ibu mendatangi kamarku. Membangunkanku dengan teriakan yang sangat tidak nyaman didengar. Aku mengalah. Bangun dan melaksanakan perintah Ibu. Menyebalkan.

Hampir tiap hari Ibu membangunkanku seperti itu. Namun, tidak ada yang berubah dari diriku ini. Buruk sekali.

Hari itu, jam 10 menjelang siang, Ibu pergi dengan Ayah ke undangan pernikahan teman Ibu. Aku menolak untuk ikut. Malas sekali rasanya bertemu dengan wajah-wajah yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Ibu pergi bersama Ayah dengan motor bebek butut generasi 90-an. Memalukan.
Dua jam sudah semenjak keberangkatan Ibu dan Ayah ke undangan pernikahan. Aku hanya duduk manis dihadapan TV, menyaksikan acara kartun favorit di hari Minggu. Kekanak-kanakan sekali.
Rasa lapar membuat aku tergerak. Dengan uang pemberian Ayah tadi (Ayah memberikannya sebelum berangkat), aku pergi ke warung untuk membeli mie instan. Aku mengunci rumah. Lalu berjalan kaki menuju warung yang jaraknya tidak sejauh Bandung-Jakarta. Hanya berjarak 100 meter saja.

Di tengah perjalanan menuju warung, aku mendengar suara motor butut Ayah. Ya, aku sangat mengenali suara khasnya. Sangat berisik dan tidak patut untuk diperdengarkan dengan saksama. Tapi, dalam waktu yang bersamaan, aku mendengar pula suara nyaring motor balap. Terdengar seperti sedang melaju kencang.

BRUKK!!

Aku memalingkan wajahku dengan kaget. Kemudian berlari menuju sumber suara untuk memastikan apa yang terjadi.

Dua buah motor beradu, menjadi rusak tak beraturan di hamparan jalan raya. Satu diantaranya tampak tidak asing.

Aku terpaku.

Jatuhnya air mata tak dapat aku tahan setelah melihat dua orang terkapar di tengah jalan dengan darah berlumuran: Ibu dan Ayahku. Aku berlari menghampiri tubuh Ibu. Menggerak-gerakan badannya, sembari berharap Ibu masih bernafas.

“Ibuuu!!”

Aku berteriak dengan isakan tangis. Memegang pipi Ibu, menggoyangkannya agar Ibu tersadar.

“Ibuu!”

Aku menangis dengan keras setelah ku dapati bahwa denyut nadinya berhenti. Ibu meninggal di tempat.

Selanjutnya aku menghampiri Ayah dengan tangisan yang dapat didengar orang sekitar.

Ku lakukan hal yang sama kepada Ayah: Menggerakan badannya, menyentuh denyut nadinya. Tapi, apa boleh buat. Mungkin Tuhan telah menuliskan takdir bahwa Ibu dan Ayah adalah pasangan sehidup-semati. Aku terkulai lemas.

Aku mencoba untuk berdiri. Lemah, namun aku paksakan. Hingga akhirnya aku jatuh sebelum aku berdiri tegak. Aku pingsan.

~~~

“Don! Bangun! Sholat subuh nak!”

Aku terbangun, lalu menyalakan hape. Disana tertulis:

-04.30 SUNDAY 17 MAY 2030-

Mimpi yang terulang lagi. Dan Ibu masih membangunkanku dengan cara yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s