“Aku Gak Akan Ngundang Kamu”

“Kamu jahat! kamu bilang kamu setia! Tapi kenyataannya, kamu jalan sama perempuan lain!” ucap Anggi dengan isakan tangis.
“Itu.. itu cuma sepupu aku”, Rama menjawab pelan.

Anggi pergi meninggalkan Rama. Ia berlari dengan cucuran air mata yang mengalir di pipi halusnya. Lita, kembaran Anggi, berusaha mengejar dan menenangkan Anggi.

Di taman sekolah itu, hanya teman-teman Rama yang melihat kejadian antara teman mereka dan pacarnya. Kejadian yang sudah sangat dipahami anak muda zaman sekarang. Waktu menunjukkan pukul 3 sore, setengah jam setelah pulang sekolah. Sebelumnya, Anggi sudah meminta Rama untuk menemui dirinya di taman sekolah selepas pulang sekolah. Katanya, ada yang mau dibicarakan. Di luar sangkaan Rama, terjadilah apa yang sudah terjadi. Kata-kata itu keluar dengan mudah dari mulut Anggi tanpa bisa dibantah Rama. Rama merelakan Anggi pergi.

~•~

Rama pergi menuju sekolah 15 menit lebih awal. Ia berharap dapat menemui Anggi sebelum jam pelajaran sekolah dimulai. Rama tahu kalau Anggi adalah anak rajin. Jadi, Ia akan menemuinya di pagi hari untuk meminimalisir keramaian yang sangat dibencinya.

Anggi sudah duduk manis didalam kelas. Wajahnya terlihat sedikit lebih murung. Mungkin Anggi sedang memikirkan apa yang akan terjadi antara dirinya dengan Rama, kendati Rama sudah membuatnya patah hati.

Anggi berdiri dari bangkunya. Ia berniat untuk menemui Rama. Ia ingin memberi kejelasan tentang kepergiannya dari diri Rama. Ya, Anggi ingin putus.

Sebelum pergi keluar kelas, seorang siswa berkulit gelap dan berperawakan tinggi datang ke kelas 12 IPA C, kelasnya Anggi. Tiba-tiba Ia memegang tangan Anggi.
“Aku bisa jelasin,” ucapnya.
“Rra.. Rama?” Anggi kebingungan.
“Wa.. waktu itu, aku cuma nemenin sepupu beli tas.. Lagipula, sepupu aku itu, gasuka sama aku.”
“Aku gak peduli, Ram. Aku minta putus.”
Rama tercengang oleh perkataan Anggi. Seakan-akan Ia melihat kilatan petir tepat di depan matanya. Anggi kemudian melepaskan genggaman tangan Rama, lalu menyuruhnya pergi.

Rama pergi menuju kelasnya sendiri dengan lunglai. Sebentar lagi pelajaran sekolah dimulai. Rama berusaha menyamarkan air matanya yang sedikit demi sedikit terurai.

Waktu terasa begitu lambat bagi Rama tanpa kehadiran Anggi di sisinya. Keseharian Rama hanya diisi oleh kegiatan membosankan. Seperti, belajar di sekolah misalnya. Di rumah pun Rama lebih sering menghabiskan waktu di tempat tidur. Hapenya sekarang sepi, tanpa kabar dari Anggi. Terkadang Rama bermain gitar untuk mengusir kebosanan yang selalu saja datang di malam hari.
“Ram, tidur Ram. Sudah larut malam nak.” Ibu Rama mengingatkan.
“Iya bu, bentar lagi.”
Alunan nada dari gitar yang dimainkan Rama memang terdengar lebih nyaring di malam hari, karena hari sudah sepi.

Hari demi hari berlalu. Rama masih setia dengan kesendiriannya.

~•~

“Lulus gak?” tanya Rama kepada temannya, Anton, tentang pengumuman Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.
“Alhamdulillah lulus. Lu sendiri?”
“Gua juga. Yang lain gimana? Dapet?”
“Katanya sih lulus juga. Tapi gua gak tau pasti.”
“Bagus deh. Semoga beneran lolos semua.”
Rama dan Anton terlibat percakapan selama 15 menit. Semua tampak biasa, sampai Anton bertanya, “Si Anggi gimana kabarnya?”
Rama terdiam sejenak. Lalu Rama berkata bahwa Dia dengan Anggi sudah tidak lagi berkomunikasi sejak kelulusan SMA. Rama juga menjelaskan kenapa Anggi lebih memilih pergi dari dirinya.

Rama dan Anggi masuk ke universitas yang berbeda. Rama diterima di universitas terkemuka di Jakarta. Sedangkan Anggi, memilih universitas di luar pulau Jawa. Mungkin Anggi ingin menghindari peluang bertemu Rama. Entah lah.

Tahun demi tahun berlalu. Rama masih bertahan dengan kesendiriannya.

“Ram, lu yakin gak akan pacaran lagi? Banyak loh yang ngefans sama lu!” tanya teman sekelas Rama dengan heboh.
“Engga. Gua gak peduli.”
“Wah.. gila lu Ram..”
“Terserah lu Jan. Mau bilang gua gila kek, mau bilang apa kek, gua gak peduli. Gua masih berharap sama Anggi, bukan yang lain”

Begitulah Rama. Bertahun-tahun Ia masih mengharap kepada Anggi walaupun sudah tidak ada kabar lagi darinya. Dia rela setia dengan kesendirian yang digemarinya daripada menjalin cinta dengan seseorang yang tidak disukainya.

Hingga akhirnya, terdengar kabar bahwa Anggi akan menikah. Kabar tersebut Rama dapati dari seorang teman SMA, Lita, yang berada di universitas yang sama dengan Anggi.

Rama semakin terjatuh. Rama semakin rapuh.

Rama kemudian mengirimi Anggi sebuah pesan singkat setelah mendaptakan nomornya dari Lita.

JANGAN LUPA UNDANG AKU.
-RAMA

Rama berharap sekali Anggi dapat membalas pesan singkatnya. Selang beberapa saat, harapan Rama terwujud; Anggi membalas pesan singkatnya.

AKU GAK AKAN NGUNDANG KAMU KE PERNIKAHAN AKU. GAK AKAN PERNAH!

Begitu isi pesan singkat dari Anggi. Rama semakin terpukul. Balasan dari Anggi sungguh menyayat hati. Harapan yang tidak seharusnya diharapkan.

~•~

Rama mulai menyusun karir pekerjaannya. Ia mulai menjajaki dunia pendidikan yang memang diinginkannya sejak bangku kuliah. Ilmu yang didapatkannya di universitas pun sejalan dengan impiannya.

Rama bekerja di daerah Ibukota, dekat dengan tempat tinggal Anggi. Anggi sendiri telah pulang dari perantauannya setelah lulus dari perguruan tingginya di Sumatera. Sekarang, Anggi bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Tapi Rama tidak peduli. Rama berpikir bahwa Anggi sudah menikah dan memiliki keluarga bahagia tanpa hadirnya orang ketiga.

Hingga sampai pada saat Rama menerima pesan singkat dari Lita yang berisi,

RAMA, DITUNGGU LAMARANNYA KE RUMAH. KAKA GUE NUNGGU.

“Apa? Anggi belum nikah? Yang benar saja..” gumam Rama. Rama ragu, apakah Ia harus percaya dengan berita itu atau tidak. Rama kemudian menelpon Lita untuk mencari kepastian.

“Lu serius Ta?”
“Gue serius. Anggi itu belum nikah.”
“Waktu itu, bukannya lu bilang kalo Anggi mau nikah?”
“Iya emang. Anggi mau nikah, tapi sama lo. Dia rela nungguin lo bertahun-tahun. Udah deh buruan ke rumah.”
“Oke oke, gua nanti kesana.”

Rama mengabari orang tuanya bahwa Ia akan melamar Anggi. Orang tua Rama bahagia mendengar kabar tersebut. Kemudian, keluarga Rama dan Anggi melakukan pertemuan untuk merumuskan pernikahan antara anak mereka.

Waktu dan tempat pun disepakati. Undangan mulai dicetak. Semua diurus dengan rapi.

Waktu pernikahan tiba. Rama mengucap akad disamping Anggi. Resepsi dilakukan dengan cara yang sederhana di rumah Anggi. Lalu Anggi berbisik kepada Rama, “Benar kan apa yang aku bilang? Aku gak mau ngundang kamu, karena aku mau nikah sama kamu.”
Rama hanya bisa tersenyum, lalu memeluk Anggi. Mereka kemudian berdiam di kamar pengantin seiring beresnya resepsi. Mereka tampak seperti keluarga bahagia.

Tiba-tiba handphone Anggi berdering. Anggi langsung mengambilnya dengan terburu-buru, seraya meminta izin kepada Rama untuk menerima telepon. Rama mengiyakan.

Di handphone-nya itu, terdapat tulisan CALL FROM ANGGI. Anggi mengangkatnya.

“Gimana Ta, lancar?” tanya suara dari hape itu.
“Everything’s okay. Gak perlu khawatir,”
“Oke. Makasih ya Ta. Lo emang adik terbaik” ucap suara itu lagi.
“Santai kak”
“Gue udah muak ketemu Rama. Doain pernikahan gue di sini lancar”
“Amin kak.”

Telepon berakhir.

Selagi Anggi keluar, Rama berkeliling kamar. Melihat-lihat foto istrinya dengan keluarganya yang terpampang di dinding kamar. Kemudian Rama tanpa sengaja melihat dompet Anggi. Lalu Rama membuka dompet istrinya, melihat foto-foto dan apa yang ada di dalamnya.

Alangkah terkejutnya Rama ketika melihat KTP sang istri dengan kolom nama bertuliskan “LITA LILIANA”.

Sebuah Hujan dan Alasan Perempuan Itu Membenci Ed Sheeran dan Gal Gadot

*
“Kau yang panas di kening, kau yang dingin di kenang.” (1)
*
Di tepi dinding waktu yang dingin ini. Seharusnya Perempuan Itu di rumah saja. Ia tak perlu menunggu entah siapa di kursi itu. Aku takut hujan datang dan ia kehujanan. Sedangkan aku merasa tak berhak memayunginya apalagi menggenggam jemarinya untuk menuntunnya berteduh.
*
Perempuan Itu sedikit-sedikit memegangi keningnya. Seperti sedang ada yang dikenangnya. Mungkin sesosok wajah. Mungkin sebuah kisah. Oh, bulan di langit terhalangi awan. Kurasa ada yang sedang ingin menangis. Mungkin awan-awan gelap itu. Mungkin perempuan berkudung gelap itu. Malam ini suhu menusuk sekali. Tubuhku seperti sate yang ditusuk cuaca. Dingin itu menusuk. Bukan hanya menusuk. Dingin itu juga merasuk. Dan kau tahu, dingin membuatmu memiliki banyak angan dan ingin. Aku ingin sebuah kehangatan. Aku ingin ada seseorang yang bisa kuajak bercakap-cakap tentang ingatan dan hal-hal remeh semisal, ‘Sayang, kamu tau nggak kenapa hujan membuat seseorang mudah bersedih?’ ‘Kenapa?’ jawab seseorang. ‘Karena hujan itu air. Dan airmata itu air. Keduanya itu sepasang kawan yang akrab, Sayang.’
*
Seorang perempuan berambut panjang mendekati Perempuan Itu. Tanpa canggung didudukinya ruang kosong kursi. Aku kadang heran mengapa sempat-sempatnya dua perempuan itu tenang-tenang saja duduk di kursi tepi trotoar sementara langit malam tampak begitu mendung. Apa yang sedang mereka cari. Hujan? Kenangan? Ataukah hujan yang penuh kenangan? Ataukah kenangan tentang hujan? Orang bilang perempuan itu sukar dimengerti. Dan perempuan yang memilih berada di luar ruangan ketika hujan akan datang, itu lebih sukar lagi dimengerti.
*
Perempuan berambut panjang, masih tanpa canggung, mengeluarkan earphone, namun tak lama memasukkannya kembali ke dalam tas. Tetapi gadget di tangannya masih menyala. Mengeluarkan suara. Suara yang membuat Perempuan Itu menoleh. Dua mata, mata perempuan berambut panjang dan Perempuan Itu saling menatap, tepat ketika suara itu berada pada lirik:

Oh, I never knew you were the someone waiting for me

‘Cause we were just kids when we fell in love

Not knowing what it was
*
“Aku benci penyanyi itu.” Perempuan Itu membuka suara. Membuka dialog bukan dengan salam ataupun sapa.
“Siapa yang kaumaksud?” balas perempuan berambut panjang. Mendelik heran.
“Ed Sheeran.”
“Kau membenci dia?”
“Aku benci kenapa dia menjuduli lagu itu ‘Perfect’. Aku tidak percaya tentang kesempurnaan.”
“Dia tak pernah menyuruhmu untuk percaya hal itu.”
“Dia bilang kita hanya anak-anak ketika sedang jatuh cinta.”
“Lalu?”
“Anak-anak kan gampang menangis.”
“Maksudmu?”
“Cinta membuat kita gampang menangis.”
“Oh.”
*
Aku lihat perempuan berambut panjang bergeser lebih dekat ke Perempuan Itu. Mereka berjabat tangan. Keduanya terlihat berbagi senyum. Meskipun aku juga melihat wajah Perempuan Itu masih agak sembab. Daerah matanya masih lembab. Dan, oh, lihat, hujan mulai turun. Gerimis terlihat ritmis. Perempuan berambut panjang tampak memperlihatkan layar gadgetnya kepada Perempuan Itu. Apa yang sedang mereka lihat?
*
“Mungkin film ini bisa membuatmu sedikit terhibur.” perempuan berambut panjang menyetel YouTube. Video aksi Gal Gadot bermain peran sebagai Wonder Woman.
“Aku juga benci ini.”
“Apa lagi yang kau maksud?”
“Aku benci film ini. Aku benci perempuan ini. Aku benci Wonder Woman dan Gal Gadot!”
“Kamu kok aneh, sih?”
“Aku benci adegan-adegan di dalam film ini. Perempuan terlihat sangat kuat. Padahal tak sekuat itu. Aku yakin Gal Gadot juga bakal sedih kalau orang yang dicintainya tiba-tiba meninggalkan dia.” Perempuan Itu mengucapkan itu sambil sesenggukkan. Seperti mau menangis. Pada saat yang sama gerimis makin deras. Menjadi hujan. Menjadi arena di mana kenangan dan kesedihan berlomba-lomba memasuki orang yang bertemu hujan.
*
“Sebenarnya ada apa sih sama kamu?” perempuan berambut panjang bertanya heran.
“Nggak ada apa-apa, kok.”
“Sudahlah cerita saja sama aku.”
“Nggak ada apa-apa. Beneran.”
“Aku ini juga perempuan. Aku tau kok perempuan kalau bilang ‘nggak ada apa-apa’ itu artinya ada apa-apa. Kamu nggak mau cerita sama aku?”
Perempuan Itu diam. Bungkam. Menatap mata perempuan di sebelahnya dalam-dalam. Perempuan yang baru dikenalnya beberapa menit. Ia sedang menimbang apakah ia perlu menceritakan kisahnya kepada orang yang baru saja dikenalnya.
Sementara itu hujan menderas.
*
“Ayo kita berteduh.” ajak perempuan berambut panjang. Perempuan Itu menurut.
*
Mereka menepi di bawah atap sebuah ruko. Hujan terlalu deras untuk bisa mereka hindari sepenuhnya. Kaki mereka terciprat hujan. Rok dan celana itu agak basah. Terkena hujan yang bercampur debu.
*
Di depan ruko tutup itu Perempuan Itu menceritakan semuanya kepada perempuan berambut panjang. Tentang mengapa ia membenci Ed Sheeran dan Gal Gadot. Tentang mengapa ia duduk sendirian di kursi menjelang hujan pada malam hari. Tentang seseorang yang membuatnya bersedih. Yang pergi meninggalkannya tanpa jejak dan tanpa mau mengerti betapa sesudah itu hatinya retak-retak.
*
“Kenapa dia meninggalkanmu?”
“Entahlah. Dia tak ada kabar secara tiba-tiba. Susah dihubungi. Tak biasanya begitu. Dan pada suatu senja…” Perempuan Itu menghentikan laju kata-katanya. Dia menangis. Langit menangis.
*
“Ada apa pada suatu senja?”
“Pada suatu senja aku memergoki dia bergandengan tangan dengan…” Perempuan Itu menangis sesenggukkan. Ricis hujan berpadu suara dengan ricik tangis.
“Dengan siapa?”
“Dengan sahabatku sendiri.”
Perempuan berambut panjang terkejut. Seketika dia merasa seperti kesetrum. Ada kesedihan yang menyambar sekujur tubuhnya. Dan, tanpa menceritakan kepada Perempuan Itu, perempuan berambut panjang juga teringat ia pernah merasakan hal itu jauh di masa lampau.
Perempuan Itu menangis menjadi-jadi. Perempuan berambut panjang mendekapnya. Mencoba menjinakkan kesedihan Perempuan Itu. Kesedihan adalah kucing liar yang sebisa mungkin harus dijinakkan.
*
“Sudah, kamu tak usah bersedih lagi. Orang semacam itu tidak pantas kamu tangisi.” jauh di lubuk hatinya perempuan berambut panjang itu sebetulnya juga ingin menangis dan sedih. Mengenang keperihan itu. Ketika orang yang dicintainya pergi dengan alasan yang menyakitkan.
Perempuan Itu mengangguk lemah. Tapi, masih tetap menangis. Samar-samar dari dalam tas perempuan berambut panjang terdengar suara

I see my future in your eyes
*
Masa depan yang kini telah jadi masa lalu.
*
Hujan sudah reda. Aku lihat dua perempuan itu berjalan berdampingan menuju sebuah kedai. Menjauhi kursi yang tadi mereka duduki. Kursi yang sudah sangat basah. Entah karena hujan entah karena ada airmata yang tertinggal di situ.
*
Aku membuka Instagram. Ada berita tentang logo album Ed Sheeran yang unik sekaligus aneh. Ada pula berita tentang Gal Gadot yang dicurigai mendukung zionisme. Dan, pada sebuah akun laman berita, ada sebuah berita dengan judul “Dua Orang Perempuan Ditemukan Tewas di Sebuah Kedai dalam Keadaan Tersenyum”.
*
Ah, aku tahu siapa dua perempuan itu. []
*
(1) dikutip dari puisi Aan Mansyur
*

(Tamsel-Bekasi, 2017)

 

— Erwin Setia.

Surat yang Jatuh dari Matamu

*
Sudah lama kita tak bertemu. Aku menatapmu sedalam-dalamnya dan serindu-rindunya. Wajahmu itu masih seakrab dulu. Sebentuk wajah yang menjadi salah satu jawaban dari pertanyaan mengapa aku mencintaimu. Aku mencoba lebih jauh menatap sepasang matamu. Sepasang telur yang kukagumi itu. Namun, tiba-tiba dari kedua matamu muncul sebuah surat seakan-akan matamu adalah mesin cetak. Surat itu mengalir ke bawah pipimu. Terus menurun. Dan masih seraya menatap matamu yang secantik dulu aku membaca surat itu. Surat yang jatuh dari matamu.
*
“Kubuka surat ini dengan mengucapkan selamat bertemu kembali duhai kamu yang menjadi alasan selama ini aku menangis tengah malam dan sering melamun sendirian karena rindu…,” begitu surat tersebut diawali.
“Kamu pasti tahu jarak yang terbentang di antara kita telah menumbuhkan banyak hal. Dulu, sehari setelah kepergianmu, aku sengaja menanam pohon mangga di depan rumah. Dan kini pohon itu sudah tumbuh besar dengan daun dan buah yang lebat. Aku juga membeli seekor anak kucing. Dan kini anak kucing itu sudah dewasa dan beranak-pinak. Mawar-mawar di halaman berkali-kali mekar dan layu. Aku juga masih ingat sepasang sepatu yang kauberikan menjelang keberangkatanmu itu. Sepatu itu berulang kali berdebu dan berulang kali aku membersihkannya sambil diam-diam mengenang kamu. Ah, terlalu banyak yang berubah saat ini. Harga barang semakin mahal, perumahan-perumahan semakin banyak, sinetron-sinetron tak berguna semakin marak, dan sebagainya. Tapi, aku tak terlalu peduli dengan segala perubahan itu. Yang pedulikan hanya satu. Kamu. Yang kuharapkan tak berubah hanya satu. Cintamu.”
*
Aku berhenti sejenak membaca surat itu. Pandanganku kembali menyapu wajahmu. Wajah yang tenang seperti mawar dalam kotak kaca. Kamu diam. Tenang sekali. Tapi, matamu masih terus mengalirkan surat itu. Dan aku kembali membacanya.
*
“Dan aku bersyukur kamu kembali. Aku sempat mengira kamu telah melupakanku dan menemukan orang baru di negeri sana. Ya, kamu dulu memang mengucapkan janji setia dan aku mempercayainya. Namun, bukankah ketakutan adalah hal yang wajar? Kenapa aku takut kamu melupakanku? Kenapa aku takut kamu meninggalkanku? Karena aku sangat mencintaimu, sayangku. Kurasa kamu juga perlu tahu, bahwa selain pohon mangga dan anak kucingku, rasa rindu dan cinta yang mendekam di hatiku juga tumbuh semakin besar semenjak kamu pergi, dan begitu pula dengan rasa takut kehilanganku. Bukan aku tak percaya dengan janjimu. Aku hanya khawatir. Khawatir, sayang. Bukankah jarak sengaja diadakan untuk menguji kepercayaan dan kesetiaan kita?” lanjut surat itu. Surat yang jatuh dari matamu.
“Sekarang kamu di sini. Ada di hadapanku. Kamu membaca kata demi kata surat ini. Sebetulnya aku ingin aku sendiri yang mengucapkan kalimat-kalimat ini. Namun, aku merasa tak sanggup. Aku gugup. Dadaku berdegup. Ada kebahagiaan yang melonjak-lonjak di hatiku yang membuat lidahku kelu dan ragu mengungkapkan kandungan hatiku. Ada yang terlampau berdebar dan nyaris membuatku tak sadar. Maka, kuwakilkan kata-kataku melalui surat ini. Surat yang jatuh dari mataku.”
*
“Sayang,” masih kubaca surat itu. “sesungguhnya masih banyak yang mau kukatakan. Waktu tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Apalagi aku sangat mencintaimu. Aku tidak tahu apa kamu juga merasakannya. Namun, kamu tahu bagaimana rasanya menanggung rindu selama lebih dari seribu hari? Rasanya itu seperti melahap mengkudu yang begitu pahit sambil berharap selepas itu ada apel yang begitu manis. Apel manis itu bernama pertemuan. Dan aku bersyukur akhirnya bisa merasakan apel itu hari ini. Pada pertemuan ini.”
*
Tak bosan mataku menatap wajahmu. Wajah sendu penyebab rindu. Aku ingin mengusap baik-baik pipimu. Ingin kukecup baik-baik keningmu. Namun, mata itu، matamu masih lagi mencetak surat. Surat yang jatuh dari matanu.
*
“Seharusnya surat ini masih akan lebih panjang. Masih banyak kata-kata yang tersimpan di peti hatiku. Tapi, baiklah, aku tak mau pertemuan pertama setelah sekian lama ini hanya kamu habiskan untuk membaca surat ini. Mungkin lain kali akan kulanjutkan surat ini,” begitu kata surat yang jatuh dari matamu.
“Namun, sayang, dengarkan baik-baik, baca surat ini baik-baik, terutama kalimat awal surat ini, dengarkan aku, aku mohon padamu, jangan pergi lagi meninggalkanku dan membuatku kerap menangis tengah malam dan melamun sendirian karena rindu. Aku memang mencintaimu. Tapi rindu itu ular berbisa, sayang, meskipun kutahu pertemuan adalah penawar. Namun, namun, namun, aku takut di lain kali rindu telanjur membunuhku sebelum pertemuan terjadi. Aku tak mau seperti itu. Aku tak mau.”
*
Surat itu berhenti mengalir dari matamu. Berhenti begitu saja seperti kereta yang berhenti di stasiun. Kini aku bisa menatap lebih jelas sepasang matamu, bangir hidungmu, bibirmu, dan segala yang wujud di wajahmu. Ah, wajahmu, alangkah elok! Mungkin itu alasan mengapa cintaku tak pernah berbelok darimu. Ah, wajahmu.
*
Mata kita bertatapan. Tangan kita bergenggaman. Erat sekali. Bibirku menuju telingamu dan kubisikkan,
“Iya, sayang, aku tak kan pergi jauh darimu lagi.”
*
Kemudian, ada bunyi kecup di kening. Bunyinya teramat hening dan bening. []
*
(Tamsel-Bekasi, 2017)

 

— Erwin Setia.

Suara Ibu

Pukul 21.25 malam. Hujan deras membasahi kota Jakarta. Kantor tempatku bekerja baru saja bubaran. Aku pulang, berjalan di atas trotoar. Menyusuri hiruk pikuk kemacetan Ibu Kota. Air hujan mengguyur tubuhku. Membasahi pakaian, tas, dan sepatu yang ku kenakan. Bukannya aku tak mampu membeli payung atau jas hujan. Hanya saja, aku memang terlampau malas untuk menggunakan salah satu dari keduanya. Aku membiarkan tubuhku kedinginan.
Pukul 22.10 saat aku menginjakkan kaki di serambi rumah. Cukup jauh memang rumahku dari kantor dan aku hanya berjalan kaki, tidak menggunakan transportasi. Aku merogoh kunci dari dalam kantong saku celanaku. Kemudian, membuka pintu rumah dengan tergesa. Sejak orang tuaku meninggal dua tahun yang lalu, aku tinggal sendiri di rumah ini. Tiada sanak saudara yang pernah mengunjungi rumahku setelah kejadian itu. Seolah aku diasingkan, tidak diperdulikan. Atau barangkali karena jarak yang jauh dari kampungku di Aceh. Intinya, aku selalu sendiri pasca-kematian orang tuaku.

Sikapku berubah dua tahun terkahir ini. Aku menjadi orang yang skeptis. Sekarang, aku tidak peduli dengan opini publik. Aku tidak peduli dengan siapa yang menang pilkada. Aku tidak peduli dengan konflik Rusia-Amerika. Aku bahkan tidak peduli tentang siapa yang paling cantik antara Raisa dan Isyana. Persetan dengan semua itu.

Yang aku pikirkan hanyalah, bagaimana caranya aku bisa makan. Sudah, itu saja.

~~~

“Tanggal 23 kita ada proyek di Bali. Akomodasi saya yang tanggung” Begitu pesan singkat yang aku terima dari bos kantor saat aku terbangun. Aku melihat kalender di hapeku.

Disana tertulis:

-03.47 SUNDAY 17 MAY 2030-

“Masih seminggu lagi lah kira-kira” gumamku. Lalu aku menjawab kepadanya “Siap bos”

Terbangun di pagi buta saat hari libur memang menyebalkan. Apalagi hanya karena sebuah SMS yang mestinya bisa dilihat nanti. Aku putuskan untuk menarik selimut kembali, melanjutkan mimpi yang sepertinya tidak mungkin diulang lagi.

~~~

“Don! Bangun! Sholat subuh nak!” teriak Ibu. Ibu memang perhatian terhadap ibadah anaknya yang tunggal ini: Aku. Ibu tidak mau anaknya menjadi pemalas. Ibu berharap besar padaku.

“Donii! Sudah jam enam ini!!”

“Iya bu, bentar lagi”

“Kamu itu ya, sudah kepala dua masih saja susah dibangunkan! Apa kata istrimu nanti!”

Ibu mendatangi kamarku. Membangunkanku dengan teriakan yang sangat tidak nyaman didengar. Aku mengalah. Bangun dan melaksanakan perintah Ibu. Menyebalkan.

Hampir tiap hari Ibu membangunkanku seperti itu. Namun, tidak ada yang berubah dari diriku ini. Buruk sekali.

Hari itu, jam 10 menjelang siang, Ibu pergi dengan Ayah ke undangan pernikahan teman Ibu. Aku menolak untuk ikut. Malas sekali rasanya bertemu dengan wajah-wajah yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Ibu pergi bersama Ayah dengan motor bebek butut generasi 90-an. Memalukan.
Dua jam sudah semenjak keberangkatan Ibu dan Ayah ke undangan pernikahan. Aku hanya duduk manis dihadapan TV, menyaksikan acara kartun favorit di hari Minggu. Kekanak-kanakan sekali.
Rasa lapar membuat aku tergerak. Dengan uang pemberian Ayah tadi (Ayah memberikannya sebelum berangkat), aku pergi ke warung untuk membeli mie instan. Aku mengunci rumah. Lalu berjalan kaki menuju warung yang jaraknya tidak sejauh Bandung-Jakarta. Hanya berjarak 100 meter saja.

Di tengah perjalanan menuju warung, aku mendengar suara motor butut Ayah. Ya, aku sangat mengenali suara khasnya. Sangat berisik dan tidak patut untuk diperdengarkan dengan saksama. Tapi, dalam waktu yang bersamaan, aku mendengar pula suara nyaring motor balap. Terdengar seperti sedang melaju kencang.

BRUKK!!

Aku memalingkan wajahku dengan kaget. Kemudian berlari menuju sumber suara untuk memastikan apa yang terjadi.

Dua buah motor beradu, menjadi rusak tak beraturan di hamparan jalan raya. Satu diantaranya tampak tidak asing.

Aku terpaku.

Jatuhnya air mata tak dapat aku tahan setelah melihat dua orang terkapar di tengah jalan dengan darah berlumuran: Ibu dan Ayahku. Aku berlari menghampiri tubuh Ibu. Menggerak-gerakan badannya, sembari berharap Ibu masih bernafas.

“Ibuuu!!”

Aku berteriak dengan isakan tangis. Memegang pipi Ibu, menggoyangkannya agar Ibu tersadar.

“Ibuu!”

Aku menangis dengan keras setelah ku dapati bahwa denyut nadinya berhenti. Ibu meninggal di tempat.

Selanjutnya aku menghampiri Ayah dengan tangisan yang dapat didengar orang sekitar.

Ku lakukan hal yang sama kepada Ayah: Menggerakan badannya, menyentuh denyut nadinya. Tapi, apa boleh buat. Mungkin Tuhan telah menuliskan takdir bahwa Ibu dan Ayah adalah pasangan sehidup-semati. Aku terkulai lemas.

Aku mencoba untuk berdiri. Lemah, namun aku paksakan. Hingga akhirnya aku jatuh sebelum aku berdiri tegak. Aku pingsan.

~~~

“Don! Bangun! Sholat subuh nak!”

Aku terbangun, lalu menyalakan hape. Disana tertulis:

-04.30 SUNDAY 17 MAY 2030-

Mimpi yang terulang lagi. Dan Ibu masih membangunkanku dengan cara yang sama.