Mantan Penghuni Kamar Nomor 36

Lelaki tua menatap kekosongan. Tidak betul-betul kosong. Di hadapannya ada pepohonan dan burung-burung kecil yang sesekali hinggap. Seorang perawat mendorong kursi roda. Lelaki botak berpakaian serupa lelaki tua menyapu halaman begitu pelan. Begitu lembut hingga rerontokan daun yang disapunya terhuyung seperti orang yang melayang di ruang angkasa. Persis ketika lelaki botak berhenti menyapu, lelaki tua tampak terisak. Ia menangis seperti anak kecil yang mainannya dicuri. Lelaki botak merasa iba dan menghampiri lelaki tua.
“Sudahlah, tak usah kau menangis, dia sudah boleh keluar karena dia sudah sembuh, sedangkan kita ini belum sembuh sehingga belum boleh keluar dari tempat mengerikan ini. Hahaha.”

Lelaki tua tak memedulikan kehadiran lelaki botak. Ia pergi dari kursi gading yang sunyi itu menuju kamar nomor 36. Masih dalam keadaan menangis. Lelaki botak kini duduk di kursi yang tadi diduduki lelaki tua. Geguguran daun jatuh ke atas kepala lelaki botak. Diambilnya sehelai daun warna hijau terang. Dari dalam kamar nomor 36 terdengar jerit tangis yang sangat menyerikan. Menusuk-nusuk telinga siapa saja yang mendengarnya. Demi mendengar suara tangis itu lelaki botak pelan-pelan mulai meraung. Raungan yang diikuti jeritan. Jeritan yang diikuti oleh tangisan panjang. Pakaian putih yang dikenakannya menjadi basah.

Seorang lelaki berambut gondrong meletakkan ransel. Ia sedang duduk di pinggir jalan San Mamos. Kacamata hitam bertengger di atas hidungnya yang mancung. Tadi seorang pemuda menanyainya tentang apa yang sedang dicarinya. “Aku sedang mencari orang yang pantas untuk mati,” begitu jawab lelaki gondrong yang membuat sang pemuda dengan sigap menjauh dan tak berani berbicara lebih lanjut dengannya.

Seorang lelaki pertengahan umur empat puluh. Berjas. Berkacamata. Membawa kopor. Ia melewati lelaki gondrong dan menyapanya. Lelaki gondrong membalasnya dengan tatapan tajam seolah-olah matanya adalah pisau yang baru diasah. Lelaki berjas hanya senyum dan berlalu. Setelah sekitar tiga puluh enam langkah lelaki berjas berbelok ke sebuah rumah bergaya klasik. Ketika membuka pintu rumah lelaki berjas menyadari di sebelahnya ada seorang yang menguntitnya. Lelaki gondrong berkacamata. Lelaki berjas menutup pintu sambil melemparkan senyum ramah kepada lelaki gondrong. Di balik senyum yang ramah itu tersimpan rasa was-was dan takut. Pintu sudah sempurna tertutup. Tapi, di celah jendela samping pintu sebuah wajah dengan kacamata hitam memaksa lelaki berjas bersicepat ke dalam kamar.

Keesokkan harinya lelaki berjas kembali melewati pinggir jalan San Mamos (ya, karena memang di situlah alamat rumahnya). Dan ia kembali lewat di hadapan lelaki gondrong. Namun kali ini ada yang berbeda. Saat lelaki berjas lewat, lelaki gondrong mengangkat sebuah papan bertuliskan ‘I admire you and I will you with me in the hell’ dan sengaja mempertunjukkannya kepada lelaki berjas. Sama seperti kemarin, lelaki berjas tetap menyapa dan memberikannya senyum ramah. Syukurnya, sore itu lelaki gondrong tak mengikuti lelaki berjas sampai ke rumahnya. Lelaki berjas bersyukur atas hal itu dan merasa hari ini lebih baik daripada kemarin.

Malam hari adalah waktu kegelapan berkuasa. Jalan San Mamos telah sepi. Lampu-lampu jalan menyala samar menyinari beberapa kendaraan yang lewat. Di kursi yang diterangi samar lampu seorang lelaki mengasah sebuah pisau. Di dalam ranselnya ada bercak merah dan bangkai kelinci dengan leher putus.

Malam hari adalah waktu rasa takut berkuasa. Rumah nomor 36 telah gelap. Semua lampu dimatikan. Pada tepat jam dua belas malam lelaki penghuni rumah terbangun. Suara pintu diketuk membuat tidurnya terpotong dan mimpinya yang aneh berhenti. Lelaki itu tadi bermimpi tidur bersama kelinci dengan leher terputus di dalam kolam api. Ketika seorang bertopeng hitam dalam mimpinya hendak menikamnya ia pun terbangun. Terbangun karena suara ketukan pintu. Lelaki itu menuju ruang depan diselimuti rasa takut akibat mimpi anehnya. Ia memutar kunci. Krek. Ia membuka pintu. Dan saat pintu terbuka sebuah pisau teracung dan dengan sangat kilat pisau itu sudah menusuk dada kirinya. Orang yang memegang pisau itu tertawa terbahak-bahak. Sedangkan lelaki penghuni rumah itu, lelaki yang sehari-harinya memakai jas dan tersenyum ramah kepada orang-orang mengerang tanpa suara. Erangan menuju gerbang kematian. Lelaki itu merasa mimpi anehnya barusan bersambung di dunia nyata. Pada malam itu Jalan San Mamos sepi dan gelap sekali. Satu-satunya suara yang ada adalah suara orang terbahak-bahak. Dan karena suara itulah polisi San Mamos bergerak keluar dari pos. Pada malam itu polisi menangkap seorang lelaki gondrong berkacamata.

Di Rumah Sakit Jiwa San Mamos, satu hari setelah peristiwa pembunuhan Tuan Ramond (ya, itu nama lelaki berjas), lelaki tua tampak bahagia. Lelaki tua sangat bahagia karena sahabat lamanya telah kembali.
“Akhirnya kau kembali juga sahabatku.” kata lelaki tua.
“Ya, kurasa ini adalah tempat terbaik untukku.” ujar lelaki gondrong.
“Omong-omong, apa yang membuatmu kembali ke tempat ini?”
“Ah, bukan apa-apa. Hanya hal kecil.”
“Hal kecil?”
“Ya, kemarin aku hanya sedang mencoba pisau yang dulu pernah kau berikan kepadaku. Tapi, entah kenapa, polisi menangkapku dan mengirimku ke tempat ini lagi. Hahaha. Sungguh lucu dunia ini.”
“Iya, dunia ini sangat lucu. Hahahahaha.”

Pagi itu di Rumah Sakit Jiwa San Mamos dua orang lelaki tertawa-tawa panjang seakan tawa mereka tak kan ada habisnya. Di belakang mereka, di atas kursi kayu kecil, lelaki botak menangis tanpa suara. []

(2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s