Penjual Cinta

“Cinta.. cinta.. pak, cinta nya pak. Bu, cinta nya bu..” ucap lelaki paruh baya itu. Ia berjualan cinta di sepanjang jalur stasiun kereta. Berharap ada sepasang manusia yang hendak membeli.“Pak, cinta nya bapak jual berapa?” Tanya seorang pemuda.

“Buat adik mah, gratis. Ambil saja.” Jawabnya.

“Masa gratis sih, pak? Kan bapak juga butuh uang untuk makan”

“Adik kan lebih butuh cinta. Makanya saya kasih gratis. Sudah sana, kasih cinta itu ke orang yang kamu suka.”

“Oh terima kasih pak. Bapak ini, tahu saja kalau aku sedang jatuh cinta. Terima kasih banyak ya pak!”

Hari berlalu. Pagi harinya, di tempat yang sama, bapak itu kembali berjualan. Masih dengan dagangan yang sama pula–barang yang paling banyak dicari manusia, barang yang katanya bisa menyatukan umat manusia–cinta.

“Pak, bu, silahkan cinta nya..”

Masih pagi buta hari itu. Tapi bapak penjual cinta ini sudah mulai menawarkan barang jualannya.

“Ayo dibeli cinta nya..”

Tiba tiba datang seorang pemuda. Tampaknya seperti pemuda kemarin yang membeli cinta.

“Pak, aku mau beli cinta nya, lagi.”

“Kamu, yang kemarin beli, kan?”

“Iya, pak.”

Lalu, si pemuda itu mengambil cinta dari kotak dagangan yang dibawa si bapak. Kali ini, pemuda tersebut membayarnya. Ia menolak untuk dapat barang mahal itu dengan cuma-cuma. Si bapak penjual cinta itu sengaja tidak menyebutkan harganya. Hanya orang-orang yang benar-benar serius saja yang ia beri tahu harganya. Dan kalau disebutkan, harganya tak masuk akal! Tapi, tetap saja ada orang yang membelinya. Ya, begitulah. Cinta memang membutakan!

~●~

“Berapa harga cinta itu?” tanya Laras, pacar si pemuda.

“Kau tak perlu tahu”

“Hmm, baiklah. Tapi setidaknya beri tahu aku dimana kamu membelinya”

“Tidak masalah. Ayo, ikut aku”

Mereka beranjak dari sebuah tempat makanan Jepang menuju stasiun tempat cinta itu dibeli. Laras begitu penasaran dengan cinta yang telah membuatnya tergila-gila kepada si pemuda yang belakang diketahui bernama Heru. Laras begitu mencintainya.

“Aku membeli cinta disini. Di stasiun ini” ucap Heru

“Dimana?” Laras bertanya antusias

“Aku membelinya dari seorang kakek tua. Biasanya ada di sekitar sini..”

“Kamu yakin? Ngga bohong, kan?”

“Yakin seyakin-yakinnya.. Tunggu sebentar”

Heru melangkah. Terlihat seperti terburu-buru. Ia menghampiri kantor kepala stasiun, meninggalkan Laras di tempat tadi mereka berdiri.

“Permisi, pak.” Heru berkata sembari mengetuk pintu kantor.

“Ya, ada yg bisa dibantu?” ucap salah seorang staff di kantor tersebut.

“Bapak yang biasa jualan cinta itu, kemana ya pak?”

“Ooh.. beliau sudah jarang terlihat belakangan ini. Mungkin sudah dua minggu beliau tidak terlihat lagi”

Dua minggu? Itu bukan waktu yang sebentar, pikir Heru. Waktu dimana ia terakhir kali membeli cinta dari si bapak penjual cinta. Heru kembali menghampiri Laras.

“Ketemu?” tanya Laras

“Dia menghilang. Katanya sudah dua minggu bapak itu tak terlihat”

“Yah..”

Laras berjalan lesu. Kecewa, tidak bisa bertemu sang penjual cinta.

Mereka lalu melangkah keluar stasiun.

Laras berhenti sejenak.

“Tadi apa katamu? Dua minggu yang lalu, kamu membeli cinta itu kan?” ucap Laras.

“Memang. Ada apa?”

“Waktu kamu beli, cinta nya sisa berapa?”

“Sisa satu”

Laras berpikir. Lalu kembali melangkahkan kakinya.

“Ada apa?” tanya Heru yang berjalan di sampingnya.

“Mungkin benar..”

“Benar apanya?”

“Orang yang kamu sebut kakek tua itu, sudah mati..”

“Hah? Apa katamu?”

“Betul apa yang orang bilang. Dia juga manusia. Tak bisa hidup tanpa cinta”

Heru terdiam. Pikirannya meledak, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan pacarnya.

Mereka berjalan perlahan, pergi meninggalkan stasiun ketika langit menyisakan warna jingga kemerahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s