2020


Sabtu pagi. Aku merasa kesepian. Di rumahku cahaya pagi mengintip malu lewat ventilasi. Suara-suara motor di kejauhan mendenging di telinga. Aroma hujan hari kemarin masih menyisakan sejarah di indera penciumanku.

Aku tahu jika sedang kesepian begini rasanya aku harus pergi ke taman. Di taman ada banyak serangga-serangga lucu dan bunga-bunga cantik. Aku terhibur dengan pesona alam sederhana yang disuguhkan taman. Taman memang tidak bisa mengobati kesepianku sepenuhnya. Tetapi ia bisa meredakannya. Seperti payung, taman memang tak mampu sepenuhnya menghindarkanku dari hujan, tapi ia bisa sedikit melindungiku. Melindungiku dari ganasnya rasa kesepian.

Di taman sudah ada sepasang sejoli. Aku tidak pernah melihat mereka sebelumnya. Di kursi itu mereka bergenggaman tangan. Kaki mungil si perempuan berbaju susu tampak terayun-ayun ke depan. Aku memandangi mereka dari belakang. Bersama kupu-kupu berwarna pelangi yang melayang rendah di dekat bahuku aku bisa mendengar sepasang manusia itu tertawa kecil. Barangkali sebuah hal lucu baru saja terjadi di antara mereka. Atau barangkali mereka hanya sedang ingin tertawa di kedamaian pagi ini.

Aku berpikir untuk pulang. Awalnya aku ke taman bermaksud untuk duduk santai di kursi. Namun satu-satunya kursi sepanjang dua meter di taman itu telah terisi. Aku bisa saja duduk di ruang yang tersisa. Di tepi kanan kursi bersebelahan dengan si lelaki berkemeja kotak-kotak. Tetapi, jika itu kulakukan kurasa aku telah merusak keindahan pagi sepasang manusia. Siapa tahu mereka adalah sepasang suami-istri yang baru bersua setelah si suami sekian lama bekerja di perantauan. Mungkin.

Kuputuskan kembali ke rumah. Jarak antara taman dan rumah sekitar lima puluh meter. Menghabiskan waktu sekira lima menit. Sepanjang jalan menuju rumah –tempatku kembali dicekam kesepian– aku melihat banyak hal. Banyak hal selain kesepian dan kesedihan. Pada sebuah rumah berpagar tinggi ada mobil mengilat yang sedang diparkir. Rumah itu besar sekali seperti istana. Tetapi sepi sekali. Aku seperti melihat sebuah kecantikan yang fana. Kecantikan yang kesepian adalah kecantikan yang menyedihkan. Aku juga melihat perempuan tua bermain bersama kucingnya yang berbulu lebat, ibu muda yang sedang menyuapi bayinya di gendongan, Pak RT yang sedang mencuci motor di halaman, Bu RW yang sedang menyirami tanaman-tanaman kesayangan, dan banyak lagi.

Aku tiba di rumah. Benda pertama yang kulihat adalah jam dinding tua warna emas. Pukul delapan tepat. Kutekuri angka-angka pada jam dinding cukup lama. Jarum tipis warna merah bergerak-gerak pelan tapi tak pernah berhenti. Diam-diam aku mulai membenci jam. Sebab ia bergerak begitu lamban.

Aku tak terlalu suka menunggu. Aku ingin hari itu cepat tiba.

Aku ingin esok ketika aku terbangun dari tidur almanak telah berubah menjadi 2020 dan kamu telah ada di sampingku. Dan aku pun menjadi tidak lagi kesepian. []
*
(Tambun Selatan-Bekasi, Mei 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s