Pentingnya (Tidak) Mendengarkan Nasehat Orang Tua

Uang bukan sesuatu yang relevan lagi, tidak untuk ditukar dengan cinta maupun dengan segenggam beras, tutur Pak Tua dari Barat sambil membetulkan topi hitamnya. Hanafi dan Jakfar manggut-manggut, sementara Ishmael mengambil sebuah buku tulis dari dalam ransel dan menyalin kata-kata Pak Tua.

Jangan salin ucapan-ucapanku, tidak ada yang penting, tidak untuk hari ini maupun selamanya, ujar Pak Tua dari Barat dengan gestur tangan menolak. Maka berhentilah Ishmael, menutup bukunya, memasukkannya kembali ke ransel tanpa bertanya kenapa. Ibunya pernah bilang anak kecil tidak boleh bertanya “kenapa” kepada orang tua. “Kenapa”, Ishmael reflek bertanya seperti itu saat ibunya memperingati dan lantas ibunya memelototi Ishmael dan sejak saat itu Ishmael tak pernah bertanya “Kenapa” kepada orang tua, termasuk ketika Pak Tua dari Barat menyuruhnya untuk mencuri uang milik ibunya sore kemarin.

Pak Tua itu bungkuk badannya dan mengaku datang dari Barat, entah Papua Barat entah Eropa Barat, yang terang warna kulitnya tidak hitam tidak juga bule seperti orang-orang Eropa Barat.

Ia mengenakan topi hitam seperti pesulap dan kerap membetulkan topinya dan tanpa perlu bertanya kenapa Ishmael, Hanafi, dan Jakfar sudah paham kenapa Pak Tua sedikit-sedikit membetulkan topi. Ada banyak uang di balik topi itu.

Zaman sekarang uang sudah tidak lagi berharga, sangat tidak berharga, yang paling berharga adalah pengetahuan dan kehormatan, kata Pak Tua dari Barat saat kali pertama menjumpai tiga bocah bermain kelereng di sepetak tanah belakang kantor kelurahan. Hanafi dan Jakfar hanya manggut-manggut mendengar petuah itu dan Ishmael yang menang banyak di permainan kali itu menyembunyikan kantung berisi kelereng di belakang punggung.

Aku tidak akan meminta kelereng milikmu, Nak, kata Pak Tua dari Barat seolah tahu isi hati Ishmael, aku hanya ingin meminta kepadamu sesuatu yang paling tidak berharga di dunia ini, lanjutnya.

Mata Ishmael menyiratkan penasaran, di sampingnya Hanafi dan Jakfar bengong seperti sepasang pecundang.

Hal paling tak berharga di dunia ini adalah uang, Nak, aku ingin meminta itu darimu, maka segeralah kau pulang ke rumahmu dan ambil benda paling tak berharga itu dari sudut mana pun yang kau tahu, lalu berikan padaku, aku tidak ingin orang sepertimu diperbudak oleh benda tak berharga itu, kata Pak Tua dari Barat. Pada saat itu juga Ishmael pulang dan mengambil seluruh uang di dompet ibunya. Lalu ia serahkan kepada Pak Tua. Bagi Ishmael jauh lebih baik Pak Tua mengambil uang itu daripada kelereng miliknya.
*
Semenjak sore itulah Pak Tua menceramahi ketiga bocah pemain kelereng itu tentang ketidakpentingan-ketidakpentingan uang. Hanafi dan Jakfar, seperti dua orang yang mensyukuri betul nikmat dagu hanya manggut-manggut dan selalu begitu sampai magrib tiba, isya tiba, subuh tiba, zuhur tiba, ashar tiba, dan tepat dua puluh empat jam setelah kedatangannya Pak Tua pamit kepada tiga bocah itu.

Waktunya sudah tiba, aku harus kembali ke negeriku, jaga baik-baik diri kalian, Anak-Anak yang Baik, ujar Pak Tua dari Barat menuju ke Timur.

Ketiga bocah itu lalu pulang dan tak menemukan apapun kecuali puing-puing dan mayat-mayat bergelimpangan. []

(Tamsel-Bekasi, April 2017)

 

— Erwin Setia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s