Lelaki Melankolis


Baru saja Dion menyatakan cinta dan Lina menerimanya, perempuan itu malah hilang tanpa kabar. Coba kau pikirkan. Sehari yang lalu kau sangat bahagia karena orang yang kaucintai juga mencintaimu. Kau merasa menjadi orang paling beruntung dan bahagia di jagad raya. Lalu kepalamu mulai menyusun rencana-rencana indah: acara lamaran, resepsi pernikahan, nama-nama anak, dan… Belum genap dua puluh empat jam kemudian orang yang menjadi sebab kebahagiaanmu justru menghilang tiba-tiba. Dan ia berbalik menjadi sebab penderitaanmu. Penderitaan yang sangat. Penderitaan mana lagi yang lebih besar daripada ditinggal secara tiba-tiba.
*
Dion di kamar. Buku-buku teenlit berserakan. Armen heran kenapa di dalam kamar Dion Si Penggila Sastra bisa ada buku-buku teenlit. Keheranan Armen hanya bertahan sebentar saat ia tahu belakangan Dion sedang jatuh cinta dan orang yang dicintainya adalah seorang pencinta teenlit. Orang yang jatuh cinta memang harus banyak dimaklumi.

“Aku tak menyangka cinta bisa bikin kamu begini.”

“Begini bagaimana maksudmu?”

“Selera bacamu jadi menye-menye. Haha.”

“Apa peduliku pada selera baca.”

“Kau kan Dion Si Penggila Sastra. Aku baca novel Andrea Hirata dan Tere Liye saja kau tahdzir. Haha.”

Dion diam.

“Bagaimana kabar Lina, sudah kau dapat kabar tentang dia?”

“Belum atau mungkin tidak akan.”

“Aku heran kenapa bisa ada perempuan sekonyol dan -maaf- sebodoh itu.”

“Lina tidak bodoh. Lina pasti punya alasan kenapa dia pergi.”

“Tapi, perempuan yang tidak bodoh mana mungkin meninggalkan orang yang sangat mencintainya begitu saja. Tiba-tiba dan tanpa jejak.”

Dion kembali diam.

“Kupikir ada baiknya kau menghibur diri, Di. Pergi ke toko buku dan mencaci-maki novel menye-menye yang ada di rak best-seller misalnya, seperti yang biasa kau lakukan. Haha.”

“Ide yang tak terlalu buruk.”

“Jadi, sekarang kita ke toko buku?”

Dion tak menjawab. Tapi ia berdiri, merapikan beberapa buku yang tercecer, dan menengok ke arah Armen ketika telah berada di ambang pintu kamar.
*
Hari masih terlampau pagi. Beberapa bulir embun masih tidur santai di dedaunan pohon-pohon yang berjejer di pinggir jalan. Polusi belum terlampau mengganggu. Udara sejuk pagi hari turut berperan meminimalisir bahaya polusi. Lain hal dengan polusi, polisi pagi hari yang berdiri di dekat lampu merah sudah bikin ketar-ketir para pengendara yang tidak pakai helm, tidak punya SIM, lupa bawa STNK, atau sengaja menerabas rambu lalu lintas. Dari atas sepeda motor yang disetir Armen, Dion memerhatikan dengan iba sekaligus separuh senang seorang pengendara yang entah apa salahnya ditilang. Dari sorot wajahnya Dion bisa memahami si pengendara pasti sedang memendam kebencian yang besar kepada polisi dan mungkin terlintas di benaknya kalau suatu saat menjadi presiden akan menghapus institusi kepolisian. Konyol sekali.

Mereka sampai di mal. Sepeda motor sudah terpakir. Hal pertama yang diperdebatkan Dion dan Armen selepas dari parkiran bawah tanah itu adalah perihal siapa yang akan membayar parkir. Hal kedua yang diperdebatkan adalah apakah di toko buku Gramedia nanti yang ada di lantai dua mal mereka akan membeli buku atau hanya mencaci-maki buku-buku menye-menye. Dan hal ketiga yang mereka perdebatkan adalah mengapa mereka berdebat tentang dua hal tersebut.
*
Toko buku kapitalis itu baru saja buka. Sekelompok remaja berpakaian warna-warni menumpuk di rak bagian fiksi romance. Para pegawai menertibkan sejumlah buku yang tak terletak pada tempatnya. Di meja kasir seorang perempuan berseragam sedang bercermin memeriksa apakah wajah palsu tuntutan profesinya sudah sempurna atau belum.

Dion dan Armen langsung menuju rak sastra. Untuk sebuah sensasi yang sukar dijelaskan, mereka merasa istimewa dan sedikit mistis dikelilingi buku-buku sastra yang padahal ditulis menggunakan huruf-huruf yang sama dengan buku-buku motivasi. Sepasang mata sipit Dion berbinar tatkala melihat novel-novel Murakami dan Pamuk yang setebal buku-buku Murakami dan Pamuk. Terlalu berlebihan bila menyebut buku-buku itu setebal bantal. Sebab bantal bisa kempis sedangkan buku-buku itu tidak. Sementara Armen membuka segel sebuah buku kumpulan cerpen karya Eko Triono tanpa rasa salah dan mulai membacanya. Kalau sudah begitu Armen susah dibuat berhenti. Buktinya, setengah jam kemudian ketika Dion sudah mengutuki –dalam hati, tentunya– sejumlah novel menye-menye yang berbaris rapi di rak buku laris, Armen masih asyik berdiri di tempat yang sama dengan roman muka seserius orang yang sedang ditagih hutang.

“Cerpen ini kubaca-baca berulang kali dan aku masih belum sepenuhnya mengerti.”

“Apa judulnya?”

“Filsafat Mencuci Piring.”

“Cerpen itu kurasa memang dibuat bukan untuk dimengerti. Tidak seperti perempuan, mereka diciptakan untuk dimengerti ”

“Lho kok tiba-tiba kau bicara tentang perempuan? Teringat Lina?”

“Perempuan diciptakan untuk dimengerti. Tapi, kenapa bisa ada perempuan yang suka baca buku yang gampang dimengerti namun dia hilang begitu saja tanpa alasan yang bisa dimengerti. Kenapa bisa?”

“Dion Si Penggila Sastra rupanya bisa segalau ini juga ya. Haha.”

“Aku bukan galau. Aku hanya tak habis pikir.”

“Sudahlah tak usah mengelak. Haha.”

Dion diam dan ia berpikir untuk menyobek-nyobek seluruh novel menye-menye yang ada di toko buku. Namun ingatan tentang Lina membatalkan rencana sobek-menyobek itu. Ia ingat pertama kali bertemu Lina ketika perempuan berkacamata itu sedang membaca sebuah novel dari wattpad. Dion sebetulnya tak percaya cinta pada pandangan pertama. Tapi, saat itu, sore itu ketika dari jendela toko langit hampir senja dan sebuah lagu mellow diputar, Dion menatap mata cantik Lina dan seketika jatuh cinta.
Seminggu setelah pertemuan pertama itu Dion mengajak Lina ke sebuah kafe sederhana. Lalu ia menyatakan cinta pada Lina. Lalu Lina menerimanya. Lalu Lina menghilang dan kembang yang telanjur mekar di dada Dion menjadi kuncup dan menyiksa.

Armen melanjutkan baca buku berjudul ajaib itu: Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon. Di rak fiksi romance, di antara kerumunan para remaja tanggung Dion memburu sebuah buku. Buku yang dibaca Lina ketika mereka pertama kali berjumpa. Dengan membaca buku itu barangkali dapat meredakan rasa duka yang sedang menyelimuti hatinya. Atau justru membuat luka itu jadi lebih basah. Upaya untuk menumpas kesedihan dan mempersubur kesedihan kadang tidak bisa dibedakan. Makanya banyak orang justru semakin terluka ketika ia berniat menyembuhkan hatinya. Sebab bagi hati, jurang antara obat dan racun itu setipis kulit ari atau lebih tipis dari itu.

Dion mencari buku itu tapi tak jua menemukannya. Ia terlampau malas sekaligus malu bertanya soal buku itu kepada para remaja itu ataupun kepada pegawai toko. Ia memutuskan kembali mencari-carinya meskipun ia ragu bisa menemukannya. Setelah bolak-balik dan tak mendapatkannya pula di tiap sisi rak, Dion berpindah ke rak bagian belakang tempat buku-buku resep. Barangkali sesuatu yang sedang kita cari malah berada di tempat yang tak pernah kita duga, mungkin demikian pikir Dion. Namun hasilnya tetap sama saja, nihil. Dion sudah hampir meninggalkan rak buku-buku resep ketika sebuah suara memanggilnya.

“Dion.”

Dion menoleh dan tiba-tiba wajahnya berganti menjadi setengah murung setengah bahagia.

“Lina?”

“Dion, maafkan aku ya hilang tanpa kabar. Kamu baik-baik saja kan?”

“Ya, aku baik-baik saja.”

Tapi, hatiku tak pernah baik-baik saja.

“Dion, aku benar-benar tidak ada maksud meninggalkan kamu. Bulan lalu itu ibuku sakit parah dan aku harus segera menjenguknya ke Surabaya tanpa sempat mengabari kamu.”

“Ya, tidak apa-apa.”

Tapi hatiku tak pernah tidak apa-apa.

“Aku benar-benar minta maaf. Aku di Surabaya selama satu bulan itu karena aku harus menemani ibu. Ketika aku mau pulang ibu selalu mencegahku. Dan aku tidak tega tidak menuruti kemauan ibu yang sedang sakit parah. Kamu mau maafin aku, kan, Dion?”

Mata Lina yang masih secantik seperti sebulan lalu memancarkan sinar kejujuran dan kesungguhan.

“Ya, aku maafin kamu kok, Lina.”

Tapi hatiku sudah telanjur patah.

“Terima kasih, Dion. Tidak salah aku telah menerima cinta kamu. Aku mencintaimu, Dion.”

“Ya, aku juga mencintaimu, Lina.”
*
Dua sejoli itu hampir saja berpelukan sebelum Armen datang dan memecahkan suasana.

“Dion, ayo kita… Maaf.”

Dion dan Lina kembali menjaga jarak. Mata Lina sedikit berlinang. Mata Dion memancarkan dualisme: ketenangan sekaligus ketegangan.

Armen menggenggam sebuah buku hijau bergambar pohon. Dion ingin menggenggam tangan Lina namun ia tahu bukan itu yang sekarang pantas ia lakukan. Keheningan menguasai tiga manusia itu selama beberapa saat. Bulir-bulir bening gugur beberapa dari tangkai mata Lina.

“Aku bisa memaafkan kamu, Lina. Tapi, maaf, aku tak bisa melanjutkan hubunganku denganmu. Tidak sebagai sepasang kekasih.”

“Kenapa? Bukankah aku sudah meminta maaf? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya?”

“Kamu mungkin telah menjelaskan semuanya. Tapi hatiku, hatiku masih sakit.”

“Dasar lelaki melankolis! Baiklah kalau kamu tak mau lagi melanjutkan hubungan ini. Kita bubar!”

Lina berjalan cepat menuju pintu keluar sambil sedikit-sedikit mengusap matanya. Ada yang basah di sana. Dion hanya diam dan tak terlihat punya niat untuk mengejar perempuan itu. Armen keheranan. Dalam situasi semacam ini manusia bisa lupa bahwa mereka dianugerahi logika.

“Aku tahu kau masih mencintai Lina. Tapi kenapa kau melepasnya?”

“Aku memang masih mencintainya. Tapi hatiku, hatiku tidak bisa diajak kompromi, Men. Masih sakit hati ini.”

“Ah dasar lelaki melankolis! Aku tidak pernah kenal Dion yang seperti ini. Dion yang melankolis dan berhati lemah!”

“Diam kau!”

“Sudahlah mengaku saja kalau kau memang lelaki melankolis!”

“Aku bukan lelaki melankolis!”

“Tapi lelaki cengeng, begitu kan?”

Mulut Dion ingin membalas. Tapi hanya kebungkaman yang ada. Armen sudah pergi meninggalkan Dion sendirian. Lelaki itu, Dion Si Penggila Sastra diam-diam kembali memendam hasrat untuk memusnahkan seluruh buku menye-menye yang menyebabkannya jadi lelaki melankolis. []

(Tamsel, April 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s