Faroge Membakar Dunia dan Seisinya


Korek api, selembar kertas, dan seletup amarah lebih dari cukup untuk membakar dunia dan seisinya. Faroge, kaki kirinya sedikit pincang dan bibirnya sumbing ke kanan, ketika ia melewati rumah Tuan Besar, Jone, bocah seusia kucing tua anak Tuan Besar mengejeknya, bocah itu menyumbing-nyumbingkan bibirnya dan pura-pura pincang, setelah itu tertawa kegirangan dan dari lantai dua rumah besar itu berteriak, “Dasar pincang! Dasar sumbing! Dasar lelaki tak berguna!”.

Benar belaka bahwa Faroge itu pincang dan sumbing, tapi kalimat “lelaki tak berguna” rasanya terlalu berlebihan dan perlu ditinjau ulang, demi mendengar kalimat terakhir itu Faroge mengeluarkan korek api dari kantung tipis celananya dan membakar selembar kertas yang tercecer di jalanan. Lalu ia membiarkan saja kertas itu terbakar. Di dekat kertas itu ada plastik dan dedaunan. Di dekat plastik dan dedaunan itu ada kabel-kabel kecil. Kabel-kabel kecil itu berasal dari rumah Tuan Besar.

Faroge berjalan menuju rumahnya. Amarahnya sedikit redam. Mungkin karena telah ia bagi sebagiannya kepada korek api, kertas, plastik, dedaunan, dan kabel-kabel.

Punggung Faroge terasa hangat dan samar ia mendengar raungan orang-orang. Tapi, apa pentingnya kehangatan dan raungan bagi orang seperti dia? []
*
(LIPIA-Pasarminggu, April 2017)

— Erwin Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s