Larangan Berpikir


 

Aku dilarang untuk berpikir. Tak masalah, sebetulnya. Tapi, masalahnya aku berpikir maka aku ada maka aku menjadi terpisahkan dari golongan orang tidak waras dan binatang-binatang di hutan. Jadi, aku merasa tersinggung–amat tersinggung atas pelarangan berpikir ini. Memangnya kau siapa melarang aku berpikir. Memangnya kau Tuhan, heh? Tuhan saja menyuruh hamba-hambaNya berpikir, kau yang bukan tuhan bukan raja bukan saudagar bukan siapa-siapa berani melarang aku berpikir. Kurasa orang sepertimu pantas untuk dikirimkan lebih dini ke neraka atau lebih afdal sebelum ke neraka kau harus merasakan dulu kejut listrik di pabrik pembuatan ayam goreng. Orang semacam kau sungguh sangat layak mati secara perlahan-lahan –melewati sakit berkepanjangan, siksaan-siksaan, dan sekarat yang memedihkan.
*
Di papan pengumuman yang terpancang di alun-alun ibukota kau menuliskan MULAI SEKARANG SELURUH PENDUDUK DILARANG BERPIKIR disertai embel-embel hukuman penjara seumur hidup atau pancung bagi siapa saja yang melanggarnya. Begitu melihat pengumuman atau lebih tepatnya ancaman itu, aku yang sedang berjalan santai bersama istriku tadi pagi segera menyusun siasat. Aku akan menulis sebuah cerpen dan istriku akan melukis sebuah gambar satir yang akan ia pamerkan di pinggir jalan alun-alun.

Pagi itu juga seluruh penduduk berkumpul di alun-alun. Kau juga ada di situ mengenakan jas abu-abu dan kacamata hitam. Istriku mengibarkan kanvas seluas 3×3 meter karyanya di atas sebuah tiang layaknya bendera kebangsaan. Di kanvas itu ada wujudmu. Berjas abu-abu, berkacamata hitam, dan lintang kumis yang mengingatkan orang-orang Yahudi pada masa lalu. Orang-orang berteriak dan menyuarakan ejekan-ejekan pada sosok di lukisan buatan istriku itu. Lalu kau berjalan pelan sekali, sedikit lebih cepat dari kelinci sakit dan menyeruak masuk kerumunan. Para penduduk yang mengenalmu melarikan diri. Karena semua penduduk mengenalmu, maka semua yang ada di alun-alun melarikan diri kecuali istriku. Ia perempuan pemberani. Itulah mengapa aku menikahinya. Selain karena ia cantik, tentunya. Dan juga aku. Aku tidak melarikan diri karena aku sedang mengetik cerpen berdasarkan lukisan karya istriku.

“Apa kau benar-benar melarang kami berpikir, Tuan Tanpa Otak?” istriku sungguh bernyali. Ia seperti perempuan yang tak takut pada apapun kecuali dirinya sendiri, mungkin.

Tapi Tuan Tanpa Otak tak berbicara. Makhluk tanpa otak mana mungkin bisa bicara. Hahaha. Tuan Tanpa Otak hanya menatap mata istriku tajam-tajam dan itu membuat aku cemburu. Aku buru-buru merampungkan cerpenku, menghampiri Tuan Tanpa Otak dengan langkah seperti kelinci sehat, dan mengepruk kepala lonjongnya dengan batu besar yang membuat peraturan larangan berpikir itu hanya berlaku bagi dirinya seorang. []

(Tamsel-Bekasi, April 2017)

— Erwin Setia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s