Kata-kata yang Tak Sempat Tersampaikan


“Kau tahu bahwa aku adalah penggemar sepak bola. Aku pun tahu bahwa kau adalah salah satu penonton drama korea. Ya, kita berbeda. Bukan sebuah kebetulan jika seorang lelaki mencintai seorang wanita dengan hobi yang sama. Tapi, itu hal yang biasa. Sama sekali tidak istimewa. Mengapa? Sederhana saja. Karena mereka sama.

Kau dan aku ditakdirkan memiliki ketertarikan yang berbeda. Contoh lainnya, kau lebih senang kopi dengan pemanis: gula. Sedangkan aku hanya kopi hitam pahit saja. Tanpa tambahan apa-apa.

Kau lebih suka menonton film dengan suasana sedih pada ujungnya. Aku, lebih suka menonton film dengan suasana senang tentunya.

Walaupun kita tertarik dengan hal yang berbeda, aku harap kita baik-baik saja. Dan tentunya kita berharap untuk dapat hidup bersama.”
Itu adalah kata-kata yang ingin aku sampaikan kepadamu. Tapi mungkin aku terlalu malu. Jadi, kutuliskan saja dulu. Terbaca atau tidaknya olehmu, itu urusan lain. Yang penting kan aku sudah menuliskannya. Hatiku juga sudah lega.
Ya, aku memang rindu padamu. Aku tak tahu sudah berapa lama kita tak jumpa. Yang ku tahu, sudah lama sekali sejak terakhir kita saling melempar pandangan mata. Semoga saja pertemuan itu bukan pertemuan terakhir untuk kita. Kau berharap seperti itu juga, kan?

~●~

“Hai!” katamu waktu itu. Ku balas dengan kata yang serupa. Lalu kau bertanya “apa kabar?”

“Baik. kamu?”

“Baik juga. Udah lama nunggu di sini?”

“Lumayan. Silakan duduk”

Begitulah kira-kira percakapan pertama kita di sebuah kedai kopi. Gugup, kaku, tidak terarah. Tapi tak mengapa. Itu memang awal kita bercakap bukan? Wajar saja jika obrolan waktu itu tidak tersusun rapi. Aku rasa orang lain juga akan memahaminya. Tenang saja.

Waktu berjalan cepat. Ia bergerak seperti sedang dikejar sesuatu. Padahal menurutku, tidak ada istilahnya waktu terburu-buru. Yang ada juga manusia yang terburu-buru oleh waktu. Tapi kali ini, jujur saja, waktu seperti sedang tergesa-gesa. Berjalan cepat tanpa diduga. Tiada yang tahu mengapa waktu berbuat demikian. Yang ku rasakan hanyalah, waktu terasa begitu cepat. Sangat cepat. Tidak seperti dahulu sebelum aku mengenal wanita itu, lambat sekali.

Seiring berjalannya waktu, aku semakin dekat dengannya. Pertemuan menjadi rutin. Terjadwal, setidaknya seminggu sekali kita harus bertemu. Untuk mengusir rindu, katamu. Benar memang. Tiada hal yang lebih aku sukai saat itu kecuali menemui dirimu. Walau terhitung jarang, tapi pertemuan seminggu sekali itu menjadi sebuah hal yang berharga. Tidak akan aku melewatkannya.

Lalu, kita menjadi sebuah kesatuan yang padu. Bukan saja hanya seperti sepatu, yang kata orang selalu bersama tapi tak bisa bersatu. Tapi kita menjadi sebuah kacamata. Bersatu dalam sebuah frame. Tak bisa kita seperti sepatu yang bisa hilang satu. Tidak, tidak seperti itu. Kita bahkan menjadi cermin. Aku dapat melihat kekuranganku padamu. Begitu pula sebaliknya.

Aku senang ketika itu.

Tapi, kesenangan itu tak berlangsung lama. Kau mendadak menghilang. Bukan menghilang karena kau tak memberi kabar. Aku tak masalah dengan itu. Tapi kau benar benar menghilang. Hilang dari hadapanku, dari hadapan teman-temanmu, dari hadapan semua orang yang mencintaimu. Kau menghilang demi menghadap Sang Tuhan. Ya, takdir telah menuliskannya demikian. Aku, dan orang-orang yang mencintaimu, hanya berpasrah dengan kepergianmu. Tak bisa kami melayangkan protes atas kehendak Tuhan. Kami tidak se-brengsek itu. Tidak.

~●~

Kau terbaring sakit kala itu. Hanya sakit demam biasa, ujarmu. Tiada yang tahu apakah kau mengidap penyakit serius atau tidak. Bahkan kedua orang tuamu berkata hal yang sama. Berkata bahwa kau sakit demam biasa. Tapi tak ku sangka, jika itu adalah kali terakhir aku melihatmu. Kau tersenyum lepas. Tak ada tanda-tanda ajal akan memanggil. Bahkan kita sempat bercanda ketika aku berusaha membuatkanmu secangkir teh manis di sore hari itu. 

“Kamu pacar yang buruk” katamu sambil tersenyum

“Apa buruknya?”

“Aku gak pesan teh manis. Aku maunya teh tawar”

Kita tertawa bersama. Betapa bodohnya aku yang tidak mendengarkan permintaanmu dengan baik. Aku menyesal. Sangat menyesal. Karena setelah itu, aku menyadari bahwa itu adalah permintaan terakhir yang kau sampaikan padaku.

Benar-benar permintaan terakhir. Kau menghembuskan napas terakhir saat itu pula. Aku terdiam. Perlahan air mata terjatuh dalam kesunyian. Ya, kau pergi meninggalkan kami. Meninggalkan dunia ini.

~•~

Aku berharap yang terbaik untukmu, kasih. Ingin sekali diriku melihat kau membaca sajak yang sudah ku tuliskan itu. Semoga amal ibadahmu diterima seluruhnya oleh Sang Pencipta.

Maafkan aku jika aku selalu berbuat salah padamu. Aku hanya selalu ingin membuatmu nyaman, walau puisi yang ku berikan untukmu hanyalah puisi dari seorang amatiran.

Selamat tinggal, sayang!

(April 2017)

Thaariq D.

Advertisements

2 comments

  1. erwinsetia14 · April 25

    Mantap gan! Ada bumbu2 kisah nyata sepertinya hehe

    Like

    • oik1729 · April 25

      Yaa itu termasuk unsur ekstrinsik cerpen wkwkw

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s