Senja dan Fajar


“Mengapa para penyair itu lebih memilih Senja daripada diriku?” ucap sang Fajar. “Padahal,” lanjutnya “aku membawa cahaya terang yang dibutuhkan seluruh manusia! Dan si Senja hanya menghilangkan cahaya itu demi mengalah kepada gelap malam!”

Senja menjawab, “Begitulah kehidupan para penyair. Mereka lebih memilih hal yang menurut mereka dapat membuat mereka tenang. Seperti senja contohnya.”

“Tidak. Itu tidak adil. Apakah mereka tidak menganggap diriku menenangkan?”

“Mungkin tidak.”

“Bahkan dalam judul cerita ini, senja disebut lebih awal dibanding diriku!”

“Penyair-penyair itu suka menyembunyikan karyanya saat gelap. Oleh karena itulah, mereka semua memuja senja.” []
—Thaariq Dhiyaurrahman K. 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s