Cerita Pendek Tentang Cerita Pendek yang Tidak Pendek-Pendek Amat


/1/
Bagaimana cara membuat cerita yang baik? Begitu orang-orang kerap bertanya padaku. Demi menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi menghampiri telingaku itu aku tulis cerita ini.

Aku menulis cerita ini saat aku sedang menulis cerita ini. Dan kau membaca cerita ini saat kau sedang membaca cerita ini. Apakah dua kalimat di atas mengandung semacam dosa? Kurasa urusanku menulis apa saja yang aku mau. Sedangkan urusanmu adalah membaca cerita ini jika kau mau.

Baiklah, bahkan aku belum bercerita apapun kepadamu.

Sebelum kumulai cerita ini aku ingin bercerita kepadamu bahwa aku punya sebuah cerita pendek yang tidak pendek-pendek amat. Cerita ini terjadi sekitar tiga belas abad yang lalu. Maksudku tiga belas abad dikurang tiga belas abad ditambah dua puluh empat jam. Atau dalam kata lain cerita ini baru terjadi satu hari yang lalu. Kita biasa menyebutnya sebagai kemarin.

Kemarin tepatnya kemarin sore ketika aku sedang memikirkan tentang mana yang lebih berat antara bulu domba seberat seribu kilogram atau rambut-rambut yang pernah dicukur di barbershop seberat satu ton seorang perempuan berwajah secantik Raisa dengan cara jalan mirip Isyana menyapaku.
“Maaf Mas, apa kamu melihat seorang gadis kecil berambut panjang dengan setelan baju Frozen dan rok bermotif bunga selutut?”

Paras cantik perempuan itu membuatku tak fokus dengan pertanyaannya. Tapi, aku masih dapat mengerti apa yang ia tanyakan.

“Aku melihatnya, Mbak. Tapi, aku melihatnya kalau aku sedang melihatnya. Sedangkan tadi aku sedang tidak melihatnya. Jadi, aku tidak melihatnya, Mbak. Tapi, aku melihat ibunya kok, Mbak.”

“Kamu salah, Mas. Aku bukan ibunya. Aku adalah gadis kecil itu yang telah beranjak dewasa.”

“Lalu, kenapa kamu mencari-carinya?”

“Aku mencari gadis kecil itu karena aku sedang merindukan masa kanak-kanakku, Mas. Menjadi dewasa itu sungguh tidak enak. Bahkan meskipun menjadi dewasa dengan wajah secantik Raisa dan cara berjalan mirip Isyana.”

Sampai di situ dulu ceritaku tentang peristiwa yang terjadi pada hari kemarin. Kalau kau mau tahu lebih rinci tentang cerita itu kau boleh berkunjung ke kepalaku. Cerita selengkapnya ada di sana. Atau, kalau kau berminat kau boleh juga mengunjungi hatiku. Hatiku terbuka lebar untuk dirimu kok.

Oke, abaikan dua kalimat terakhir.

/2/
Aku akan ceritakan cerita yang sesungguhnya. Serius. Tolong kau konsentrasi membaca cerita ini. Jangan sambil mendengarkan lagu-lagu Inggris yang kadang sama sekali tak kau pahami atau sambil mengunyah Maicih yang makin kurang greget pedasnya. Dan terutama jangan membaca cerita ini sambil diam-diam memendam keinginan untuk bertemu secara langsung dengan penulis cerita ini. Kuharap kau fokus membaca cerita ini. Sebab ini cerita yang penting meski tak penting-penting amat.
*
Cerita ini terjadi pada hari esok. Latar waktu yang aneh, bukan? Bagaimana bisa aku bercerita padamu tentang sesuatu yang baru akan terjadi pada hari esok. Sementara aku tidak punya mesin waktu dan tentu bukan seorang utusan yang memperoleh wahyu.

Tapi sungguh cerita ini memang terjadi pada hari esok. Jadi, pada hari esok yang belum ada itu aku bertemu dengan seorang perempuan yang mengaku pernah menjadi temanku jauh di masa lalu. Perempuan itu memaksaku untuk mengaku bahwa aku mengenalnya. Padahal, tidak, sekali-kali tidak sama sekali aku pernah mengenalnya. Bahkan aku baru pernah mendengar namanya yang lumayan aneh. Kau mau tahu siapa nama perempuan itu? Perempuan itu bernama Akurinduni Sekepadamu. Nama yang lumayan aneh dan puitis, bukan?

“Bagaimana aku memanggilmu?”

“Panggil saja aku Akurindu.”

Licik sekali, bukan? Ia mempunyai nama panggilan yang menggambarkan seolah-olah aku rindu kepadanya. Padahal, aku sama sekali tak mengenalnya. Apalagi merindukannya.

Perempuan bernama Akurindu itu kemudian memberiku selembar kertas. Di kertas itu tertulis namaku beserta lukisan monokrom yang persis sekali dengan wajahku. Aku makin tak mengerti sekaligus curiga kepadanya. Sebenarnya siapa sih dia.

“Kamu itu sebetulnya siapa?”

“Akurinduni Sekepadamu. Itu namaku. Masa kamu tidak kenal, sih?”

Setelah itu ia bicara banyak tentang diriku. Ia tahu detil mengenai buku-buku apa yang pernah kubaca, hobiku, warna favoritku, klub sepakbola kesukaanku, kota kelahiranku, kampung halamanku, hari apa biasanya aku memotong kuku, buku yang biasanya ada di ranselku, sampai-sampai aku curiga jangan-jangan ia juga tahu isi mimpiku malam jum’at yang lalu. Singkat kata ia bicara tentangku seakan-akan ia lebih mengenalku daripada diriku sendiri. Sampai di sini aku mencoba untuk mengingat-ingat kembali apa ia benar-benar teman lamaku atau bukan. Namun semakin aku berusaha mengingat-ingat tentangnya semakin aku tak dapat mengingat-ingat apapun tentangnya.

Tak lama sesudah itu ia pergi meninggalkanku. Ia meninggalkanku tanpa mengucap sepatah kata perpisahan pun. Ya, aku juga tak peduli, sih.

/3/
Tak terasa aku telah menceritakan dua cerita kepadamu. Cerita yang kualami pada hari kemarin dan pada hari esok.

/4/
Apa kau percaya pada dua ceritaku di atas?

/5/
Kurasa kau tak perlu percaya pada cerita-ceritaku. Sebab aku pun bercerita untuk kau baca bukan untuk kau percaya.

/6/
By the way, apakah cerita pendek ini adalah cerita pendek yang tidak pendek-pendek amat atau tidak ya? []
(SMA Future Gate, April 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s