Lelaki Melankolis

Baru saja Dion menyatakan cinta dan Lina menerimanya, perempuan itu malah hilang tanpa kabar. Coba kau pikirkan. Sehari yang lalu kau sangat bahagia karena orang yang kaucintai juga mencintaimu. Kau merasa menjadi orang paling beruntung dan bahagia di jagad raya. Lalu kepalamu mulai menyusun rencana-rencana indah: acara lamaran, resepsi pernikahan, nama-nama anak, dan… Belum genap dua puluh empat jam kemudian orang yang menjadi sebab kebahagiaanmu justru menghilang tiba-tiba. Dan ia berbalik menjadi sebab penderitaanmu. Penderitaan yang sangat. Penderitaan mana lagi yang lebih besar daripada ditinggal secara tiba-tiba.
*
Dion di kamar. Buku-buku teenlit berserakan. Armen heran kenapa di dalam kamar Dion Si Penggila Sastra bisa ada buku-buku teenlit. Keheranan Armen hanya bertahan sebentar saat ia tahu belakangan Dion sedang jatuh cinta dan orang yang dicintainya adalah seorang pencinta teenlit. Orang yang jatuh cinta memang harus banyak dimaklumi.

“Aku tak menyangka cinta bisa bikin kamu begini.”

“Begini bagaimana maksudmu?”

“Selera bacamu jadi menye-menye. Haha.”

“Apa peduliku pada selera baca.”

“Kau kan Dion Si Penggila Sastra. Aku baca novel Andrea Hirata dan Tere Liye saja kau tahdzir. Haha.”

Dion diam.

“Bagaimana kabar Lina, sudah kau dapat kabar tentang dia?”

“Belum atau mungkin tidak akan.”

“Aku heran kenapa bisa ada perempuan sekonyol dan -maaf- sebodoh itu.”

“Lina tidak bodoh. Lina pasti punya alasan kenapa dia pergi.”

“Tapi, perempuan yang tidak bodoh mana mungkin meninggalkan orang yang sangat mencintainya begitu saja. Tiba-tiba dan tanpa jejak.”

Dion kembali diam.

“Kupikir ada baiknya kau menghibur diri, Di. Pergi ke toko buku dan mencaci-maki novel menye-menye yang ada di rak best-seller misalnya, seperti yang biasa kau lakukan. Haha.”

“Ide yang tak terlalu buruk.”

“Jadi, sekarang kita ke toko buku?”

Dion tak menjawab. Tapi ia berdiri, merapikan beberapa buku yang tercecer, dan menengok ke arah Armen ketika telah berada di ambang pintu kamar.
*
Hari masih terlampau pagi. Beberapa bulir embun masih tidur santai di dedaunan pohon-pohon yang berjejer di pinggir jalan. Polusi belum terlampau mengganggu. Udara sejuk pagi hari turut berperan meminimalisir bahaya polusi. Lain hal dengan polusi, polisi pagi hari yang berdiri di dekat lampu merah sudah bikin ketar-ketir para pengendara yang tidak pakai helm, tidak punya SIM, lupa bawa STNK, atau sengaja menerabas rambu lalu lintas. Dari atas sepeda motor yang disetir Armen, Dion memerhatikan dengan iba sekaligus separuh senang seorang pengendara yang entah apa salahnya ditilang. Dari sorot wajahnya Dion bisa memahami si pengendara pasti sedang memendam kebencian yang besar kepada polisi dan mungkin terlintas di benaknya kalau suatu saat menjadi presiden akan menghapus institusi kepolisian. Konyol sekali.

Mereka sampai di mal. Sepeda motor sudah terpakir. Hal pertama yang diperdebatkan Dion dan Armen selepas dari parkiran bawah tanah itu adalah perihal siapa yang akan membayar parkir. Hal kedua yang diperdebatkan adalah apakah di toko buku Gramedia nanti yang ada di lantai dua mal mereka akan membeli buku atau hanya mencaci-maki buku-buku menye-menye. Dan hal ketiga yang mereka perdebatkan adalah mengapa mereka berdebat tentang dua hal tersebut.
*
Toko buku kapitalis itu baru saja buka. Sekelompok remaja berpakaian warna-warni menumpuk di rak bagian fiksi romance. Para pegawai menertibkan sejumlah buku yang tak terletak pada tempatnya. Di meja kasir seorang perempuan berseragam sedang bercermin memeriksa apakah wajah palsu tuntutan profesinya sudah sempurna atau belum.

Dion dan Armen langsung menuju rak sastra. Untuk sebuah sensasi yang sukar dijelaskan, mereka merasa istimewa dan sedikit mistis dikelilingi buku-buku sastra yang padahal ditulis menggunakan huruf-huruf yang sama dengan buku-buku motivasi. Sepasang mata sipit Dion berbinar tatkala melihat novel-novel Murakami dan Pamuk yang setebal buku-buku Murakami dan Pamuk. Terlalu berlebihan bila menyebut buku-buku itu setebal bantal. Sebab bantal bisa kempis sedangkan buku-buku itu tidak. Sementara Armen membuka segel sebuah buku kumpulan cerpen karya Eko Triono tanpa rasa salah dan mulai membacanya. Kalau sudah begitu Armen susah dibuat berhenti. Buktinya, setengah jam kemudian ketika Dion sudah mengutuki –dalam hati, tentunya– sejumlah novel menye-menye yang berbaris rapi di rak buku laris, Armen masih asyik berdiri di tempat yang sama dengan roman muka seserius orang yang sedang ditagih hutang.

“Cerpen ini kubaca-baca berulang kali dan aku masih belum sepenuhnya mengerti.”

“Apa judulnya?”

“Filsafat Mencuci Piring.”

“Cerpen itu kurasa memang dibuat bukan untuk dimengerti. Tidak seperti perempuan, mereka diciptakan untuk dimengerti ”

“Lho kok tiba-tiba kau bicara tentang perempuan? Teringat Lina?”

“Perempuan diciptakan untuk dimengerti. Tapi, kenapa bisa ada perempuan yang suka baca buku yang gampang dimengerti namun dia hilang begitu saja tanpa alasan yang bisa dimengerti. Kenapa bisa?”

“Dion Si Penggila Sastra rupanya bisa segalau ini juga ya. Haha.”

“Aku bukan galau. Aku hanya tak habis pikir.”

“Sudahlah tak usah mengelak. Haha.”

Dion diam dan ia berpikir untuk menyobek-nyobek seluruh novel menye-menye yang ada di toko buku. Namun ingatan tentang Lina membatalkan rencana sobek-menyobek itu. Ia ingat pertama kali bertemu Lina ketika perempuan berkacamata itu sedang membaca sebuah novel dari wattpad. Dion sebetulnya tak percaya cinta pada pandangan pertama. Tapi, saat itu, sore itu ketika dari jendela toko langit hampir senja dan sebuah lagu mellow diputar, Dion menatap mata cantik Lina dan seketika jatuh cinta.
Seminggu setelah pertemuan pertama itu Dion mengajak Lina ke sebuah kafe sederhana. Lalu ia menyatakan cinta pada Lina. Lalu Lina menerimanya. Lalu Lina menghilang dan kembang yang telanjur mekar di dada Dion menjadi kuncup dan menyiksa.

Armen melanjutkan baca buku berjudul ajaib itu: Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon. Di rak fiksi romance, di antara kerumunan para remaja tanggung Dion memburu sebuah buku. Buku yang dibaca Lina ketika mereka pertama kali berjumpa. Dengan membaca buku itu barangkali dapat meredakan rasa duka yang sedang menyelimuti hatinya. Atau justru membuat luka itu jadi lebih basah. Upaya untuk menumpas kesedihan dan mempersubur kesedihan kadang tidak bisa dibedakan. Makanya banyak orang justru semakin terluka ketika ia berniat menyembuhkan hatinya. Sebab bagi hati, jurang antara obat dan racun itu setipis kulit ari atau lebih tipis dari itu.

Dion mencari buku itu tapi tak jua menemukannya. Ia terlampau malas sekaligus malu bertanya soal buku itu kepada para remaja itu ataupun kepada pegawai toko. Ia memutuskan kembali mencari-carinya meskipun ia ragu bisa menemukannya. Setelah bolak-balik dan tak mendapatkannya pula di tiap sisi rak, Dion berpindah ke rak bagian belakang tempat buku-buku resep. Barangkali sesuatu yang sedang kita cari malah berada di tempat yang tak pernah kita duga, mungkin demikian pikir Dion. Namun hasilnya tetap sama saja, nihil. Dion sudah hampir meninggalkan rak buku-buku resep ketika sebuah suara memanggilnya.

“Dion.”

Dion menoleh dan tiba-tiba wajahnya berganti menjadi setengah murung setengah bahagia.

“Lina?”

“Dion, maafkan aku ya hilang tanpa kabar. Kamu baik-baik saja kan?”

“Ya, aku baik-baik saja.”

Tapi, hatiku tak pernah baik-baik saja.

“Dion, aku benar-benar tidak ada maksud meninggalkan kamu. Bulan lalu itu ibuku sakit parah dan aku harus segera menjenguknya ke Surabaya tanpa sempat mengabari kamu.”

“Ya, tidak apa-apa.”

Tapi hatiku tak pernah tidak apa-apa.

“Aku benar-benar minta maaf. Aku di Surabaya selama satu bulan itu karena aku harus menemani ibu. Ketika aku mau pulang ibu selalu mencegahku. Dan aku tidak tega tidak menuruti kemauan ibu yang sedang sakit parah. Kamu mau maafin aku, kan, Dion?”

Mata Lina yang masih secantik seperti sebulan lalu memancarkan sinar kejujuran dan kesungguhan.

“Ya, aku maafin kamu kok, Lina.”

Tapi hatiku sudah telanjur patah.

“Terima kasih, Dion. Tidak salah aku telah menerima cinta kamu. Aku mencintaimu, Dion.”

“Ya, aku juga mencintaimu, Lina.”
*
Dua sejoli itu hampir saja berpelukan sebelum Armen datang dan memecahkan suasana.

“Dion, ayo kita… Maaf.”

Dion dan Lina kembali menjaga jarak. Mata Lina sedikit berlinang. Mata Dion memancarkan dualisme: ketenangan sekaligus ketegangan.

Armen menggenggam sebuah buku hijau bergambar pohon. Dion ingin menggenggam tangan Lina namun ia tahu bukan itu yang sekarang pantas ia lakukan. Keheningan menguasai tiga manusia itu selama beberapa saat. Bulir-bulir bening gugur beberapa dari tangkai mata Lina.

“Aku bisa memaafkan kamu, Lina. Tapi, maaf, aku tak bisa melanjutkan hubunganku denganmu. Tidak sebagai sepasang kekasih.”

“Kenapa? Bukankah aku sudah meminta maaf? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya?”

“Kamu mungkin telah menjelaskan semuanya. Tapi hatiku, hatiku masih sakit.”

“Dasar lelaki melankolis! Baiklah kalau kamu tak mau lagi melanjutkan hubungan ini. Kita bubar!”

Lina berjalan cepat menuju pintu keluar sambil sedikit-sedikit mengusap matanya. Ada yang basah di sana. Dion hanya diam dan tak terlihat punya niat untuk mengejar perempuan itu. Armen keheranan. Dalam situasi semacam ini manusia bisa lupa bahwa mereka dianugerahi logika.

“Aku tahu kau masih mencintai Lina. Tapi kenapa kau melepasnya?”

“Aku memang masih mencintainya. Tapi hatiku, hatiku tidak bisa diajak kompromi, Men. Masih sakit hati ini.”

“Ah dasar lelaki melankolis! Aku tidak pernah kenal Dion yang seperti ini. Dion yang melankolis dan berhati lemah!”

“Diam kau!”

“Sudahlah mengaku saja kalau kau memang lelaki melankolis!”

“Aku bukan lelaki melankolis!”

“Tapi lelaki cengeng, begitu kan?”

Mulut Dion ingin membalas. Tapi hanya kebungkaman yang ada. Armen sudah pergi meninggalkan Dion sendirian. Lelaki itu, Dion Si Penggila Sastra diam-diam kembali memendam hasrat untuk memusnahkan seluruh buku menye-menye yang menyebabkannya jadi lelaki melankolis. []

(Tamsel, April 2017)

Pentingnya (Tidak) Mendengarkan Nasehat Orang Tua

Uang bukan sesuatu yang relevan lagi, tidak untuk ditukar dengan cinta maupun dengan segenggam beras, tutur Pak Tua dari Barat sambil membetulkan topi hitamnya. Hanafi dan Jakfar manggut-manggut, sementara Ishmael mengambil sebuah buku tulis dari dalam ransel dan menyalin kata-kata Pak Tua.

Jangan salin ucapan-ucapanku, tidak ada yang penting, tidak untuk hari ini maupun selamanya, ujar Pak Tua dari Barat dengan gestur tangan menolak. Maka berhentilah Ishmael, menutup bukunya, memasukkannya kembali ke ransel tanpa bertanya kenapa. Ibunya pernah bilang anak kecil tidak boleh bertanya “kenapa” kepada orang tua. “Kenapa”, Ishmael reflek bertanya seperti itu saat ibunya memperingati dan lantas ibunya memelototi Ishmael dan sejak saat itu Ishmael tak pernah bertanya “Kenapa” kepada orang tua, termasuk ketika Pak Tua dari Barat menyuruhnya untuk mencuri uang milik ibunya sore kemarin.

Pak Tua itu bungkuk badannya dan mengaku datang dari Barat, entah Papua Barat entah Eropa Barat, yang terang warna kulitnya tidak hitam tidak juga bule seperti orang-orang Eropa Barat.

Ia mengenakan topi hitam seperti pesulap dan kerap membetulkan topinya dan tanpa perlu bertanya kenapa Ishmael, Hanafi, dan Jakfar sudah paham kenapa Pak Tua sedikit-sedikit membetulkan topi. Ada banyak uang di balik topi itu.

Zaman sekarang uang sudah tidak lagi berharga, sangat tidak berharga, yang paling berharga adalah pengetahuan dan kehormatan, kata Pak Tua dari Barat saat kali pertama menjumpai tiga bocah bermain kelereng di sepetak tanah belakang kantor kelurahan. Hanafi dan Jakfar hanya manggut-manggut mendengar petuah itu dan Ishmael yang menang banyak di permainan kali itu menyembunyikan kantung berisi kelereng di belakang punggung.

Aku tidak akan meminta kelereng milikmu, Nak, kata Pak Tua dari Barat seolah tahu isi hati Ishmael, aku hanya ingin meminta kepadamu sesuatu yang paling tidak berharga di dunia ini, lanjutnya.

Mata Ishmael menyiratkan penasaran, di sampingnya Hanafi dan Jakfar bengong seperti sepasang pecundang.

Hal paling tak berharga di dunia ini adalah uang, Nak, aku ingin meminta itu darimu, maka segeralah kau pulang ke rumahmu dan ambil benda paling tak berharga itu dari sudut mana pun yang kau tahu, lalu berikan padaku, aku tidak ingin orang sepertimu diperbudak oleh benda tak berharga itu, kata Pak Tua dari Barat. Pada saat itu juga Ishmael pulang dan mengambil seluruh uang di dompet ibunya. Lalu ia serahkan kepada Pak Tua. Bagi Ishmael jauh lebih baik Pak Tua mengambil uang itu daripada kelereng miliknya.
*
Semenjak sore itulah Pak Tua menceramahi ketiga bocah pemain kelereng itu tentang ketidakpentingan-ketidakpentingan uang. Hanafi dan Jakfar, seperti dua orang yang mensyukuri betul nikmat dagu hanya manggut-manggut dan selalu begitu sampai magrib tiba, isya tiba, subuh tiba, zuhur tiba, ashar tiba, dan tepat dua puluh empat jam setelah kedatangannya Pak Tua pamit kepada tiga bocah itu.

Waktunya sudah tiba, aku harus kembali ke negeriku, jaga baik-baik diri kalian, Anak-Anak yang Baik, ujar Pak Tua dari Barat menuju ke Timur.

Ketiga bocah itu lalu pulang dan tak menemukan apapun kecuali puing-puing dan mayat-mayat bergelimpangan. []

(Tamsel-Bekasi, April 2017)

 

— Erwin Setia.

Faroge Membakar Dunia dan Seisinya

Korek api, selembar kertas, dan seletup amarah lebih dari cukup untuk membakar dunia dan seisinya. Faroge, kaki kirinya sedikit pincang dan bibirnya sumbing ke kanan, ketika ia melewati rumah Tuan Besar, Jone, bocah seusia kucing tua anak Tuan Besar mengejeknya, bocah itu menyumbing-nyumbingkan bibirnya dan pura-pura pincang, setelah itu tertawa kegirangan dan dari lantai dua rumah besar itu berteriak, “Dasar pincang! Dasar sumbing! Dasar lelaki tak berguna!”.

Benar belaka bahwa Faroge itu pincang dan sumbing, tapi kalimat “lelaki tak berguna” rasanya terlalu berlebihan dan perlu ditinjau ulang, demi mendengar kalimat terakhir itu Faroge mengeluarkan korek api dari kantung tipis celananya dan membakar selembar kertas yang tercecer di jalanan. Lalu ia membiarkan saja kertas itu terbakar. Di dekat kertas itu ada plastik dan dedaunan. Di dekat plastik dan dedaunan itu ada kabel-kabel kecil. Kabel-kabel kecil itu berasal dari rumah Tuan Besar.

Faroge berjalan menuju rumahnya. Amarahnya sedikit redam. Mungkin karena telah ia bagi sebagiannya kepada korek api, kertas, plastik, dedaunan, dan kabel-kabel.

Punggung Faroge terasa hangat dan samar ia mendengar raungan orang-orang. Tapi, apa pentingnya kehangatan dan raungan bagi orang seperti dia? []
*
(LIPIA-Pasarminggu, April 2017)

— Erwin Setia

Kata-kata yang Tak Sempat Tersampaikan

“Kau tahu bahwa aku adalah penggemar sepak bola. Aku pun tahu bahwa kau adalah salah satu penonton drama korea. Ya, kita berbeda. Bukan sebuah kebetulan jika seorang lelaki mencintai seorang wanita dengan hobi yang sama. Tapi, itu hal yang biasa. Sama sekali tidak istimewa. Mengapa? Sederhana saja. Karena mereka sama.

Kau dan aku ditakdirkan memiliki ketertarikan yang berbeda. Contoh lainnya, kau lebih senang kopi dengan pemanis: gula. Sedangkan aku hanya kopi hitam pahit saja. Tanpa tambahan apa-apa.

Kau lebih suka menonton film dengan suasana sedih pada ujungnya. Aku, lebih suka menonton film dengan suasana senang tentunya.

Walaupun kita tertarik dengan hal yang berbeda, aku harap kita baik-baik saja. Dan tentunya kita berharap untuk dapat hidup bersama.”
Itu adalah kata-kata yang ingin aku sampaikan kepadamu. Tapi mungkin aku terlalu malu. Jadi, kutuliskan saja dulu. Terbaca atau tidaknya olehmu, itu urusan lain. Yang penting kan aku sudah menuliskannya. Hatiku juga sudah lega.
Ya, aku memang rindu padamu. Aku tak tahu sudah berapa lama kita tak jumpa. Yang ku tahu, sudah lama sekali sejak terakhir kita saling melempar pandangan mata. Semoga saja pertemuan itu bukan pertemuan terakhir untuk kita. Kau berharap seperti itu juga, kan?

~●~

“Hai!” katamu waktu itu. Ku balas dengan kata yang serupa. Lalu kau bertanya “apa kabar?”

“Baik. kamu?”

“Baik juga. Udah lama nunggu di sini?”

“Lumayan. Silakan duduk”

Begitulah kira-kira percakapan pertama kita di sebuah kedai kopi. Gugup, kaku, tidak terarah. Tapi tak mengapa. Itu memang awal kita bercakap bukan? Wajar saja jika obrolan waktu itu tidak tersusun rapi. Aku rasa orang lain juga akan memahaminya. Tenang saja.

Waktu berjalan cepat. Ia bergerak seperti sedang dikejar sesuatu. Padahal menurutku, tidak ada istilahnya waktu terburu-buru. Yang ada juga manusia yang terburu-buru oleh waktu. Tapi kali ini, jujur saja, waktu seperti sedang tergesa-gesa. Berjalan cepat tanpa diduga. Tiada yang tahu mengapa waktu berbuat demikian. Yang ku rasakan hanyalah, waktu terasa begitu cepat. Sangat cepat. Tidak seperti dahulu sebelum aku mengenal wanita itu, lambat sekali.

Seiring berjalannya waktu, aku semakin dekat dengannya. Pertemuan menjadi rutin. Terjadwal, setidaknya seminggu sekali kita harus bertemu. Untuk mengusir rindu, katamu. Benar memang. Tiada hal yang lebih aku sukai saat itu kecuali menemui dirimu. Walau terhitung jarang, tapi pertemuan seminggu sekali itu menjadi sebuah hal yang berharga. Tidak akan aku melewatkannya.

Lalu, kita menjadi sebuah kesatuan yang padu. Bukan saja hanya seperti sepatu, yang kata orang selalu bersama tapi tak bisa bersatu. Tapi kita menjadi sebuah kacamata. Bersatu dalam sebuah frame. Tak bisa kita seperti sepatu yang bisa hilang satu. Tidak, tidak seperti itu. Kita bahkan menjadi cermin. Aku dapat melihat kekuranganku padamu. Begitu pula sebaliknya.

Aku senang ketika itu.

Tapi, kesenangan itu tak berlangsung lama. Kau mendadak menghilang. Bukan menghilang karena kau tak memberi kabar. Aku tak masalah dengan itu. Tapi kau benar benar menghilang. Hilang dari hadapanku, dari hadapan teman-temanmu, dari hadapan semua orang yang mencintaimu. Kau menghilang demi menghadap Sang Tuhan. Ya, takdir telah menuliskannya demikian. Aku, dan orang-orang yang mencintaimu, hanya berpasrah dengan kepergianmu. Tak bisa kami melayangkan protes atas kehendak Tuhan. Kami tidak se-brengsek itu. Tidak.

~●~

Kau terbaring sakit kala itu. Hanya sakit demam biasa, ujarmu. Tiada yang tahu apakah kau mengidap penyakit serius atau tidak. Bahkan kedua orang tuamu berkata hal yang sama. Berkata bahwa kau sakit demam biasa. Tapi tak ku sangka, jika itu adalah kali terakhir aku melihatmu. Kau tersenyum lepas. Tak ada tanda-tanda ajal akan memanggil. Bahkan kita sempat bercanda ketika aku berusaha membuatkanmu secangkir teh manis di sore hari itu. 

“Kamu pacar yang buruk” katamu sambil tersenyum

“Apa buruknya?”

“Aku gak pesan teh manis. Aku maunya teh tawar”

Kita tertawa bersama. Betapa bodohnya aku yang tidak mendengarkan permintaanmu dengan baik. Aku menyesal. Sangat menyesal. Karena setelah itu, aku menyadari bahwa itu adalah permintaan terakhir yang kau sampaikan padaku.

Benar-benar permintaan terakhir. Kau menghembuskan napas terakhir saat itu pula. Aku terdiam. Perlahan air mata terjatuh dalam kesunyian. Ya, kau pergi meninggalkan kami. Meninggalkan dunia ini.

~•~

Aku berharap yang terbaik untukmu, kasih. Ingin sekali diriku melihat kau membaca sajak yang sudah ku tuliskan itu. Semoga amal ibadahmu diterima seluruhnya oleh Sang Pencipta.

Maafkan aku jika aku selalu berbuat salah padamu. Aku hanya selalu ingin membuatmu nyaman, walau puisi yang ku berikan untukmu hanyalah puisi dari seorang amatiran.

Selamat tinggal, sayang!

(April 2017)

Thaariq D.

Larangan Berpikir

 

Aku dilarang untuk berpikir. Tak masalah, sebetulnya. Tapi, masalahnya aku berpikir maka aku ada maka aku menjadi terpisahkan dari golongan orang tidak waras dan binatang-binatang di hutan. Jadi, aku merasa tersinggung–amat tersinggung atas pelarangan berpikir ini. Memangnya kau siapa melarang aku berpikir. Memangnya kau Tuhan, heh? Tuhan saja menyuruh hamba-hambaNya berpikir, kau yang bukan tuhan bukan raja bukan saudagar bukan siapa-siapa berani melarang aku berpikir. Kurasa orang sepertimu pantas untuk dikirimkan lebih dini ke neraka atau lebih afdal sebelum ke neraka kau harus merasakan dulu kejut listrik di pabrik pembuatan ayam goreng. Orang semacam kau sungguh sangat layak mati secara perlahan-lahan –melewati sakit berkepanjangan, siksaan-siksaan, dan sekarat yang memedihkan.
*
Di papan pengumuman yang terpancang di alun-alun ibukota kau menuliskan MULAI SEKARANG SELURUH PENDUDUK DILARANG BERPIKIR disertai embel-embel hukuman penjara seumur hidup atau pancung bagi siapa saja yang melanggarnya. Begitu melihat pengumuman atau lebih tepatnya ancaman itu, aku yang sedang berjalan santai bersama istriku tadi pagi segera menyusun siasat. Aku akan menulis sebuah cerpen dan istriku akan melukis sebuah gambar satir yang akan ia pamerkan di pinggir jalan alun-alun.

Pagi itu juga seluruh penduduk berkumpul di alun-alun. Kau juga ada di situ mengenakan jas abu-abu dan kacamata hitam. Istriku mengibarkan kanvas seluas 3×3 meter karyanya di atas sebuah tiang layaknya bendera kebangsaan. Di kanvas itu ada wujudmu. Berjas abu-abu, berkacamata hitam, dan lintang kumis yang mengingatkan orang-orang Yahudi pada masa lalu. Orang-orang berteriak dan menyuarakan ejekan-ejekan pada sosok di lukisan buatan istriku itu. Lalu kau berjalan pelan sekali, sedikit lebih cepat dari kelinci sakit dan menyeruak masuk kerumunan. Para penduduk yang mengenalmu melarikan diri. Karena semua penduduk mengenalmu, maka semua yang ada di alun-alun melarikan diri kecuali istriku. Ia perempuan pemberani. Itulah mengapa aku menikahinya. Selain karena ia cantik, tentunya. Dan juga aku. Aku tidak melarikan diri karena aku sedang mengetik cerpen berdasarkan lukisan karya istriku.

“Apa kau benar-benar melarang kami berpikir, Tuan Tanpa Otak?” istriku sungguh bernyali. Ia seperti perempuan yang tak takut pada apapun kecuali dirinya sendiri, mungkin.

Tapi Tuan Tanpa Otak tak berbicara. Makhluk tanpa otak mana mungkin bisa bicara. Hahaha. Tuan Tanpa Otak hanya menatap mata istriku tajam-tajam dan itu membuat aku cemburu. Aku buru-buru merampungkan cerpenku, menghampiri Tuan Tanpa Otak dengan langkah seperti kelinci sehat, dan mengepruk kepala lonjongnya dengan batu besar yang membuat peraturan larangan berpikir itu hanya berlaku bagi dirinya seorang. []

(Tamsel-Bekasi, April 2017)

— Erwin Setia.

Sebuah Bahaya

Ketika itu hujan deras tiba-tiba turun. Seorang anak kecil dan seseorang yang menurutku adalah ayahnya terburu-buru mencari tempat untuk berteduh. Mungkin mereka sedang lapar juga ku kira, karena akhirnya si anak dan orang tua itu masuk kedalam sebuah restoran donat terkemuka yang di dalamnya terdapat aku. Aku sendiri berada di restoran donat itu sebelum hujan turun. Dan inginku hanyalah mampir sejenak untuk menghilangkan rasa lapar. Atau mungkin juga sedikit rasa galau.
Seketika aku melihat mereka berdua sudah mendapat donat di atas meja itu. Tidak terlihat mereka sedang bercakap satu sama lain. Si anak sibuk dengan ponsel kecil miliknya. Sedangkan ayahnya dengan lahap memakan donat yang telah dihidangkan.

Read More

Senja dan Fajar

“Mengapa para penyair itu lebih memilih Senja daripada diriku?” ucap sang Fajar. “Padahal,” lanjutnya “aku membawa cahaya terang yang dibutuhkan seluruh manusia! Dan si Senja hanya menghilangkan cahaya itu demi mengalah kepada gelap malam!”

Read More

Cerita Pendek Tentang Cerita Pendek yang Tidak Pendek-Pendek Amat

/1/
Bagaimana cara membuat cerita yang baik? Begitu orang-orang kerap bertanya padaku. Demi menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi menghampiri telingaku itu aku tulis cerita ini.

Aku menulis cerita ini saat aku sedang menulis cerita ini. Dan kau membaca cerita ini saat kau sedang membaca cerita ini. Apakah dua kalimat di atas mengandung semacam dosa? Kurasa urusanku menulis apa saja yang aku mau. Sedangkan urusanmu adalah membaca cerita ini jika kau mau.

Baiklah, bahkan aku belum bercerita apapun kepadamu.

Sebelum kumulai cerita ini aku ingin bercerita kepadamu bahwa aku punya sebuah cerita pendek yang tidak pendek-pendek amat. Cerita ini terjadi sekitar tiga belas abad yang lalu. Maksudku tiga belas abad dikurang tiga belas abad ditambah dua puluh empat jam. Atau dalam kata lain cerita ini baru terjadi satu hari yang lalu. Kita biasa menyebutnya sebagai kemarin.

Kemarin tepatnya kemarin sore ketika aku sedang memikirkan tentang mana yang lebih berat antara bulu domba seberat seribu kilogram atau rambut-rambut yang pernah dicukur di barbershop seberat satu ton seorang perempuan berwajah secantik Raisa dengan cara jalan mirip Isyana menyapaku.
“Maaf Mas, apa kamu melihat seorang gadis kecil berambut panjang dengan setelan baju Frozen dan rok bermotif bunga selutut?”

Paras cantik perempuan itu membuatku tak fokus dengan pertanyaannya. Tapi, aku masih dapat mengerti apa yang ia tanyakan.

“Aku melihatnya, Mbak. Tapi, aku melihatnya kalau aku sedang melihatnya. Sedangkan tadi aku sedang tidak melihatnya. Jadi, aku tidak melihatnya, Mbak. Tapi, aku melihat ibunya kok, Mbak.”

“Kamu salah, Mas. Aku bukan ibunya. Aku adalah gadis kecil itu yang telah beranjak dewasa.”

“Lalu, kenapa kamu mencari-carinya?”

“Aku mencari gadis kecil itu karena aku sedang merindukan masa kanak-kanakku, Mas. Menjadi dewasa itu sungguh tidak enak. Bahkan meskipun menjadi dewasa dengan wajah secantik Raisa dan cara berjalan mirip Isyana.”

Sampai di situ dulu ceritaku tentang peristiwa yang terjadi pada hari kemarin. Kalau kau mau tahu lebih rinci tentang cerita itu kau boleh berkunjung ke kepalaku. Cerita selengkapnya ada di sana. Atau, kalau kau berminat kau boleh juga mengunjungi hatiku. Hatiku terbuka lebar untuk dirimu kok.

Oke, abaikan dua kalimat terakhir.

/2/
Aku akan ceritakan cerita yang sesungguhnya. Serius. Tolong kau konsentrasi membaca cerita ini. Jangan sambil mendengarkan lagu-lagu Inggris yang kadang sama sekali tak kau pahami atau sambil mengunyah Maicih yang makin kurang greget pedasnya. Dan terutama jangan membaca cerita ini sambil diam-diam memendam keinginan untuk bertemu secara langsung dengan penulis cerita ini. Kuharap kau fokus membaca cerita ini. Sebab ini cerita yang penting meski tak penting-penting amat.
*
Cerita ini terjadi pada hari esok. Latar waktu yang aneh, bukan? Bagaimana bisa aku bercerita padamu tentang sesuatu yang baru akan terjadi pada hari esok. Sementara aku tidak punya mesin waktu dan tentu bukan seorang utusan yang memperoleh wahyu.

Tapi sungguh cerita ini memang terjadi pada hari esok. Jadi, pada hari esok yang belum ada itu aku bertemu dengan seorang perempuan yang mengaku pernah menjadi temanku jauh di masa lalu. Perempuan itu memaksaku untuk mengaku bahwa aku mengenalnya. Padahal, tidak, sekali-kali tidak sama sekali aku pernah mengenalnya. Bahkan aku baru pernah mendengar namanya yang lumayan aneh. Kau mau tahu siapa nama perempuan itu? Perempuan itu bernama Akurinduni Sekepadamu. Nama yang lumayan aneh dan puitis, bukan?

“Bagaimana aku memanggilmu?”

“Panggil saja aku Akurindu.”

Licik sekali, bukan? Ia mempunyai nama panggilan yang menggambarkan seolah-olah aku rindu kepadanya. Padahal, aku sama sekali tak mengenalnya. Apalagi merindukannya.

Perempuan bernama Akurindu itu kemudian memberiku selembar kertas. Di kertas itu tertulis namaku beserta lukisan monokrom yang persis sekali dengan wajahku. Aku makin tak mengerti sekaligus curiga kepadanya. Sebenarnya siapa sih dia.

“Kamu itu sebetulnya siapa?”

“Akurinduni Sekepadamu. Itu namaku. Masa kamu tidak kenal, sih?”

Setelah itu ia bicara banyak tentang diriku. Ia tahu detil mengenai buku-buku apa yang pernah kubaca, hobiku, warna favoritku, klub sepakbola kesukaanku, kota kelahiranku, kampung halamanku, hari apa biasanya aku memotong kuku, buku yang biasanya ada di ranselku, sampai-sampai aku curiga jangan-jangan ia juga tahu isi mimpiku malam jum’at yang lalu. Singkat kata ia bicara tentangku seakan-akan ia lebih mengenalku daripada diriku sendiri. Sampai di sini aku mencoba untuk mengingat-ingat kembali apa ia benar-benar teman lamaku atau bukan. Namun semakin aku berusaha mengingat-ingat tentangnya semakin aku tak dapat mengingat-ingat apapun tentangnya.

Tak lama sesudah itu ia pergi meninggalkanku. Ia meninggalkanku tanpa mengucap sepatah kata perpisahan pun. Ya, aku juga tak peduli, sih.

/3/
Tak terasa aku telah menceritakan dua cerita kepadamu. Cerita yang kualami pada hari kemarin dan pada hari esok.

/4/
Apa kau percaya pada dua ceritaku di atas?

/5/
Kurasa kau tak perlu percaya pada cerita-ceritaku. Sebab aku pun bercerita untuk kau baca bukan untuk kau percaya.

/6/
By the way, apakah cerita pendek ini adalah cerita pendek yang tidak pendek-pendek amat atau tidak ya? []
(SMA Future Gate, April 2017)