Kasus dari Sebuah Surat Berhuruf Kecil

oleh : Jeck Delany diterjemahkan secara bebas dari cerpennya yang berjudul The Case of The Lower Case Letter

**

Seorang wanita berdiri didalam kantorku di pagi bulan September yang begitu dingin. Aku menikmati segelas kopi terbaik Starbuck’s sembari berselancar di dunia maya, melihat beberapa berita. Seorang ahli semantik leksikal terkenal Professor Edgar Nettleston ditemukan mati dengan peluru bersarang di kepalanya. Polisi mengidentifikasi ia mati bunuh diri.

Read More

Advertisements

Ketika Aku – Doa Doa yang Mengetuk Pintu Rumahmu – Pertemuan Pertama

‚ÄčKetika Aku
Ketika aku berjalan

di tempatmu pernah berdiri

aku membayangkan kakimu menegak di situ
Ketika aku berdiri

di tempatmu pernah duduk

aku membayangkan tubuhmu terpatri di situ
Ketika aku duduk

di tempat kita pernah bertemu

aku membayangkan di sebelahku adalah kamu
lalu kita menunaikan segala rindu yang bertalu.

(2017)

*

Doa-Doa Yang Mengetuk Pintu Rumahmu
Aku membuka pintu dan melepaskan segala doa-doa
kuharap mereka akan sampai di pintu rumahmu dan mengetuknya lalu mereka mengatakan: kami doa-doa yang dikirimkan oleh seseorang yang mencintaimu. maukah kau mengaminkan kami? 

(2017)

*

Pertemuan Pertama
Mengapa penantian begitu lama, dan pertemuan begitu sebentar?
Mata kita bercumbuan

Ada serigala di matamu

–maksudku euforia yang meraung-raung sekaligus terkurung
Aku tidak bisa melihatmu lama-lama

Sebab semakin aku melihatmu

akan semakin numpuk durasi rinduku padamu

–sedangkan kita tak pernah tahu kapan lagi akan bertemu
Aku menyimak jam

Mengapa detiknya cepat sekali

–aku masih ingin berdiri di hadapanmu, tapi kita terlalu daif di hadapan waktu
Mengapa pertemuan begitu sebentar, dan penantian begitu lama?

(2017)

*

Ditulis oleh Erwin Setia

Penemu Airmata

by: Erwin Setia (@erwinsetia1998)

~~~

Musim hujan tiba dan tiba-tiba saja aku jatuh. Tapi aku bukan hujan, bukan pula malaikat yang turun dari langit. Aku, ah, sebut saja aku Penemu Airmata. Karena semenjak aku jatuh ke bumi aku menemukan airmata di mana-mana. Seakan-akan bumi ini lautan bagi ikan-ikan bernama airmata.
Pertama kali aku jatuh di ruang tamu sebuah rumah mewah. Kupikir rumah itu sangat mewah. Ada lukisan-lukisan Picasso di dindingnya dan juga ada foto keluarga besar dengan pakaian yang kurasa mahal. Di rumah itu juga penuh barang berkilau. Aku takut menyentuhnya. Karena kalau aku menyentuhnya kemudian benda-benda itu rusak aku tak bisa menggantinya. Sebab aku cuma seorang Penemu Airmata yang jatuh di musim hujan.
Ketika itu malam. Lelaki dan perempuan sedang duduk di sofa beludru. Kurasa mereka sepasang suami-istri pemilik rumah. Tapi wajah mereka kusut sekali. Tak seperti pakaian mereka yang rapi jali. Dan tiba-tiba ada pertengkaran di antara mereka. Adu cakap. Dan tiba-tiba pula ada airmata yang jatuh ke atas sofa. Airmata si perempuan. Dan itulah airmata pertama yang kutemui di bumi.
Lalu semenjak itu kutemukan banyak airmata. Di belakang gedung sebuah sekolah menengah aku menemukan airmata. Kudengar-dengar airmata itu jatuh karena beberapa kata: pacaran-selingkuh-putus. Lalu di toilet bandara, di restoran dengan latar belakang lagu mellow, di sebuah hotel bintang empat, di rumah pelacuran, di pelukan ibu, di hadapan sebuah bangunan yang terbakar, dan di rumah ibadah aku juga menemukan airmata. Masih banyak lagi sebetulnya. Hampir di setiap tempat ada airmata yang jatuh. Karena kurasa memang kesedihan ada di mana-mana.
Aku sedih sekali sebetulnya ketika menyaksikan penduduk bumi mengeluarkan airmata. Karena air di bumi sudah begitu banyak. Ada air laut, air danau, air sungai, air keran, air susu dan air-air lainnya. Kenapa masih juga ada airmata. Cukuplah air yang asin itu hanya ada di laut. Jangan ada di mata penduduk bumi.
Suatu kali hujan datang. Aku merasa ingin pulang dan kembali ke langit. Tapi, di suatu pinggir jalan aku mendapati keramaian. Karena penasaran aku melesat ke sana. Tak ada yang tahu kalau aku ada di sana. Sebab aku Penemu Airmata. Ya, ukuran tubuhku juga seperti airmata. Kecil tapi berharga.
Di keramaian itu ada kursi-kursi dan orang-orang. Orang-orang itu pakaiannya bagus-bagus. Ada juga aneka makanan dan sajian kuliner. Kucuri-curi obrolan orang-orang di sana. Kata mereka itu adalah acara kondangan. Mereka juga menyebut kata-kata lainnya: pengantin, cocok, bahagia banget.
Di tengah tempat itu aku melihat sepasang perempuan-lelaki. Ah, sepertinya itu yang orang-orang maksud dengan pengantin-cocok-bahagia banget. Kulihat sepasang makhluk bumi itu tersenyum sumringah, lebar, dan cantik sekali seakan mereka tak pernah mengenal airmata.
Tapi, tunggu dulu. Aku lihat si perempuan menundukkan dan melesakkan kepalanya ke dada si lelaki. Lalu ia menangis. Iya, ia mengeluarkan airmata. Dan kulihat orang-orang yang melihat mereka juga ikut menangis. Bahkan di tempat seperti ini pun —yang kukira tak ada ruang untuk airmata— masih bisa juga aku menemukan airmata.
Tapi, sebentar, mereka tersenyum lagi. Bersorak-sorai. Terdengar berdoa juga. Aku sayup-sayup mendengar ucapan “Semoga kalian menjadi pasangan yang sakinah-mawaddah-warahmah dan bahagia sampai selamanya ya”. Semuanya kembali tersenyum. Ah, kalau airmata yang seperti ini sih aku tidak sedih, justru bahagia. Karena setelah airmata, ada senyum kemudian.
Dari langit hujan berjatuhan. Baiklah sepertinya ini waktuku kembali pulang ke langit. Aku berdiri perlahan. Terbang. Melayang. Kini aku telah di awan bersama hujan. Dan kau tahu, hujan-hujan di sini tersenyum melihat pemandangan pengantin-cocok-bahagia banget itu. Ah, rupanya hujan juga bisa senyum.
Sesampainya di langit aku berdoa: semoga airmata yang semacam itu (kudengar airmata haru / bahagia namanya) makin banyak di bumi. Mudah-mudahan penduduk bumi tak mudah sedih. []
(Tamsel-Bekasi, Sebuah Ahad di Awal Maret 2017)