Sepeda Ayah dan Masalah Kerinduan


Kamu berada jauh dari ayahmu. Kotamu dan kampung tempat tinggal ayahmu berselisih waktu empat jam. Jika di kotamu pukul satu, maka di daerah ayahmu tinggal pukul lima. Jika pada saat itu kau sedang tertidur pulas di tempat tidur busa yang sangat nyaman, maka ayahmu baru saja usai salat subuh dan bersiap-siap berangkat kerja. Menjadi kuli di mana saja ada rumah atau toko atau masjid akan dibangun.

Ayahmu sangat bersemangat pagi ini alih-alih menampakkan raut wajah kelelahan setelah kemarin lembur hingga pukul delapan malam. Tangan tuanya yang bertonjolan urat tetap cekatan membersihkan jari-jari roda sepedanya yang juga tua dan antik. Seperti seorang ibu merawat anaknya ayahmu merawat sepedanya –yang dulu berwarna ungu, setelah warnanya luntur ayahmu mengecatnya dengan warna merah terang- dengan penuh ketelatenan dan ketekunan. Kamu yang saat ini tengah menempuh pendidikan di sebuah universitas di Timur Tengah banyak belajar dari sikap dan entos yang ayahmu miliki. 

Dulu sewaktu kelas 2 SMP ibumu pergi menuju keabadian. Kamu berduka teramat dalam. Tetapi, seperti ayahmu, kamu tak terpuruk dalam duka, kamu tetap melanjutkan hidup dalam ketegaran dan tak padam semangat. Setiap waktu kamu tekun belajar dan tak mau ada nilai buruk tercantum dalam rapormu. Kamu berpikir orang miskin sepertimu jika tak semangat belajar dan bekerja keras hanya akan menjadi sampah tak berguna. Hingga setelah lulus SMA -dengan izinNya- berkat segudang prestasimu kamu memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Timur Tengah. Kamu senang bukan main ketika itu, pun ayahmu. Namun kamu tidak tahu, di balik kebahagiaan dan kebanggaan ayahmu itu lelaki tangguh yang Tuhan takdirkan menjadi ayahmu itu memendam perasaan tak rela mesti jauh darimu, anak satu-satunya yang paling ia sayang.

“Jangan lupa, Nak, bila kamu nanti ke ka’bah, do’akanlah ayahmu ini agar bisa pula ke sana.” pesan ayahmu menjelang kepergianmu ke Negeri padang pasir itu. Sesedih apapun ayahmu, ia tak pernah tega memperlihatkan kesedihannya kepadamu. Sebab ia sepertinya memegang teguh sebuah prinsip keayahan: ayah yang baik tak pernah menangis di depan anaknya.

Kamu pergi meninggalkan ayahmu ke negeri jauh bukan tanpa beban. Rasa sedih dan tak rela juga bergumpal di hatimu. Namun kamu tetap memilih untuk pergi dengan harapan akan kembali ke rumah ayahmu sebagai seorang anak yang tak hanya berbakti pada orangtua melainkan berguna juga buat banyak orang.

Tahukah kamu tatkala tubuhmu telah membelakangi ayahmu pada hari itu –hari ketika pertama kali kamu naik pesawat–, pada sore yang gerimis itu, mata ayahmu tak dapat menyembunyikan kemasygulannya. Sebagaimana langit sore itu, mata ayahmu juga menggerimis. Ya, sehebat apapun seorang ayah, ada pula kalanya ia harus menangis. Bukan karena ia cengeng, tetapi karena rasa cinta dan kehilangan yang teramat kuat.

Maka pada pagi ini ayahmu menunggangi sepedanya. Kaki kecilnya begitu lincah mengayuh pedal sepeda yang sudah tak utuh. Ia menyusuri jalan kampung yang mulus, sepi, dan dikelilingi rerimbunan pohon di kanan-kiri. Tak berapa lama, ia melewati rumah penduduk, Pak Kasmin tampak sedang duduk di kursi depan rumahnya. Ayahmu menyapanya dan melempar senyuman. Di halaman rumah-rumah lain beberapa orang juga terlihat sedang menikmati pagi yang sejuk nan damai. Pada sebuah rumah, di halaman rumah itu ada seorang lelaki berusia 30-an menggendong anak lelakinya yang masih bayi. Tertawa-tawa. Ayahmu melihatnya dan tiba-tiba saja ada yang jatuh dari matanya. []

By: Erwin Setia

(Tambun Selatan-Bekasi, Desember 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s