Perjumpaan Terakhir di Malam Terakhir Bulan Desember


Kurang ajar. Satu kata yang pas untuk orang yang meniup terompet pagipagi begini. Jelas bukan Nayla atau Reyga yang melakukannya. Jauhjauh hari aku sudah larang mereka beli barang tak berguna macam itu. Uang kita terlalu berharga buat membeli benda-benda yang cuma bikin berisik seperti terompet, saxophone, atau mp3 box. Kataku kepada dua adikku yang berusia 7 dan 9 tahun . Mereka mengangguk-angguk. Polos.

Terompet sialan itu memaksaku mengeluarkan kepalaku dari dekapan bantal. Siapa juga yang sanggup tidur dengan nyaman bilamana ada suarasuara pengganggu. Kutatap cermin di dekat tempat tidur. Ada wajah lecek nan lusuh di situ. Tetapi tetap tampan. Rambut gondrong awut-awutan, kotoran kecil menggumpal di sudut mata, guratan di pipi, darah nyamuk kering di hidung. Tetapi tetap tampan.

Di depan pintu kamar mandi. Teriakan ibu menggelegar. Ia mengajakku mau ikut ke Puncak Bogor atau tidak. Tidak. Teriakku. Kemudian tiada suara, hanya jejak-jejak kecil bergetar dan raungan gegap-gempita dalam volume rendah.

“Ya sudah kalau kamu tidak mau ikut. Ibu dan adik-adikmu berangkat dulu. Kami nginap di rumah Tante Mayra. Besok pulang.” sayup-sayup suara ibu menembus tembok, kaca, dan gorden yang lama tak dicuci.

“Jangan khawatir. Di kulkas ada roti tawar, sarden, dan dua buah apel. Jaga rumah baik-baik.” ibu dan adik-adikku meninggalkanku seorang diri. O, tidak mengapa. Aku telah biasa bergaul dengan kesunyian, kesepian.

Aku tidak menyukai tempattempat yang penuh hirukpikuk. Aku juga bukan seorang penyuka kelana ke berbagai tempat atau destinasi wisata. Aku tidak pernah daki gunung (pernah sih, dulu ketika kecil, gunung pasir di depan rumah Farrri). Makanya tiap kali ibu, kawanku, atau seseorang di masa lalu mengajakku untuk berpergian kebanyakan kutanggapi dengan gelengan dan ucapan tidak.

Apa lagi pada masa-masa liburan seperti sekarang. Tambah malas saja bagiku untuk berbuat hal-hal semacam jalan-jalan ke mal, pantai yang airnya keruh, wahana wisata, kebun binatang. Kalau diberi pilihan aku lebih suka berpergian ke stasiun dimana kereta-kereta hilir mudik atau ke toko buku dimana aku bisa baca buku secara percuma + bernaungkan udara ac dan lagu mellow yang sengaja diputar supaya pengunjung berlama-lama. Hei, tidak salah kan bila aku membenci keramaian?
*
Senja telah terlukis di langit kotaku. Gegas sekali warna langit berubah. Dari putih ke biru, biru ke jingga, jingga ke hitam, hitam ke tiada. Sebuah buku tebal, 1Q84, selesai kubaca sebagiannya sepanjang hari ini. Kau tahu siapa pengarangnya? Murakami. Kau tahu siapa Murakami? Orang Jepang. Kau tahu Naomi? Ia keturunan Jepang. Seseorang di masa lalu dalam hidupku. Tiba-tiba aku mengingatnya. Entah. Rindu tak dapat ditolak. Kalau pun kau dapat menolak rindu, itu hanya akan mengundang rindurindu lain datang.

Pada senja ini, sehabis memakan sepotong roti, menyeruput kopi, kuambil Sarelgaz dari rak buku. Kubaca beberapa cerpen di buku itu. Ah, Sungging Raga terlalu banyak bercerita tentang stasiun dan kereta, membuat pikiranku membayangi suasana kesyahduan stasiun beserta hal-hal di dalamnya.

Di kotaku ini tiada stasiun kecuali satu. Stasiun Bekasi. Jadi aku tak bisa bermain-main ke Lempuyangan, Tugu, atau stasiun-stasiun lain tempat kenangan banyak bersemayam bagi banyak orang. Tetapi, Stasiun Bekasi bukanlah sebuah ruang tanpa sejarah. Ianya juga memendam kenangan.

Maka selepas salat magrib kumatikan lampu kamar, kukunci pintu rumah dari luar, juga pagar, lalu kuberjalan pelan menikmati kesiur angin malam bulan Desember. Rumahku berjarak 300 meter dari stasiun Bekasi. Jarak yang dapat kutempuh dengan jalan kaki. Jarak yang membikinku tak asing dengan lengking kereta. Jarak yang cukup waktu lima belas menit dengan jalan santai untuk sampai di pintu masuk stasiun. Sedikit tergesa kusapa penjaga stasiun yang tampak lelah, menuju loket dan membeli tiket termurah. Selepas itu aku duduk di kursi tunggu di peron nomor satu. Menatap sekeliling — wajah-wajah resah, langkah-langkah tergesa, kebekuan-kebekuan–. Di kejauhan barat kelebatan cahaya makin dekat makin bersinar. Sebuah kereta kommuter line tiba dan berhenti. Gerombolan manusia keluar dari gerbong-gerbong ular besi itu. Seorang nenek tertatih-tatih melangkah ke luar. Seorang lelaki bertato menuntun sang nenek lembut  seraya mewanti-wanti sang nenek untuk pelan-pelan. Ibu dengan anak bayi di gendongan, pelajar berseragam putih abu-abu, bapak-bapak berdasi, seorang perempuan berkacamata, pemuda berkaus Juventus dengan tas hitam besar di punggung berbondong-bondong turun dari kereta. Dari arah sebaliknya gerombolan manusia lain masuk dengan terburu-buru ke dalam kereta. Seharusnya aku juga masuk ke kereta itu. Tetapi, kursi besi ini lebih nyaman daripada keriuhan malam di dalam kereta yang berpendar-pendar cahaya dan dipadati oleh manusia-manusia yang sibuk dengan gadgetnya.

Malam semakin malam. Orang-orang pemboros meluncurkan kembang api menusuk langit. Langit menjadi berwarna-warni dan bercahaya. Namun, sementara saja, selebihnya batangan kembang api itu menjadi sampah-sampah yang terserak di jalan-jalan. Aku dapat menebak si “penembak langit” itu pastilah berderai tawa kala mengacungkan tangan ke atas melepas kembang api. Aku tak habis pikir. Sempat sempatnya ia tertawa sambil menghunjamkan api ke perut langit.  Tidakkah ia khawatir barangkali seekor anak burung sedang berterbangan di udara di mana ia tembakkan itu kembang api. Tidakkah ia menyayangi alam?

Malam semakin malam. Dan aku masih menikmati kebekuan ini. Menyaksikan kereta-kereta lewat menaik-turunkan penumpang, menerbangkan sesampah, juga menyaksikan parade konyol kembang api yang kian malam kian ramai menyerang langit. Orang-orang di sekitarku mendongakkan kepalanya ke langit menonton parade kembang api. Seorang gadis kecil bermata sipit melintas di depanku sambil meniup terompet keras-keras. Ibunya di sampingya diam saja. Kurang ajar betul. Batinku.

Lalu-lalang orang makin ramai di depanku. Sepasang laki-perempuan berhenti persis di hadapan mataku sehingga menghalangi penampakan rel. Mereka membelakangiku. Si lelaki melarungkan tangannya ke bahu si perempuan. Keduanya memandangi langit. Si lelaki menunjuk-nunjuk pecahan cahaya kembang api yang cantik penuh warna. Si perempuan menyandarkan kepalanya ke bahu kanan si lelaki. 

“Maaf, Mas, Mbak, boleh geser sedikit?” ujarku tak tahan lagi.

Mereka menoleh bersamaan ke belakang. Ke wajahku. Wajah mereka kini bersitatap dengan wajahku. Si lelaki berhidung mancung dengan dahi agak lebar. Si perempuan bermata mungil, alis tipis, dan dagu sedikit lancip. Kami berpandangan cukup lama. Lebih dari sedetik.

“Oh, iya, Mas, maaf..” ucap Si Lelaki.

“Sepertinya aku mengenalmu.” kata Si Perempuan.

“Siapa, Mi?.” susul Si Lelaki. Dahi lebarnya mengerut ke atas. Alisnya terangkat.

“Naomi, kau kah itu?” kataku menatap tak heran wajah si Perempuan.

Si Lelaki keheranan. Melirik ke perempuan yang dipanggilnya “Mi”.

Sebelum pertanyaanku terjawab. Bebunyi letusan kembang api menyemarakkan langit malam ini. Bebunyi terompet menjadi-jadi. Orang-orang berseru. Mengucapkan bahwa tahun telah berganti. Bahwa masa lalu telah pergi berganti masa baru. Sayangnya aku tak peduli semua itu. Sekarang aku hanya peduli pada pertanyaanku, “Naomi, kau kah itu?”

“Maaf, sepertinya aku salah orang. Aku tak mengenalmu.” kata si perempuan “ayo, mas, kita pergi dari sini, kita ke alunalun, sudah 1 januari.” lanjutnya menarik lengan si lelaki

Mereka pergi. Begitu saja. Lima meter kemudian perempuan bermata sipit itu menoleh ke arahku. Ah, aku mengenal matanya.[]

 

By: Erwin Setia

(Tambun Selatan-Bekasi, Desember 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s