Cinta Itu Buta dan Kopi Itu Pahit


“Cantik!” Leo, lelaki berambut mohawk itu menggoda Mia yang sedang berjalan di koridor kampus.

Mia cuek. Gadis berkerudung hijau terang itu mempercepat langkah menuju kelas.

Di kelas. Ada lima belas orang mahasiswa. Hanya tiga orang perempuan, sisanya laki-laki. Begitu Mia menempelkan pantatnya di kursi. Seorang lelaki berkemeja flanel di sebelah kanannya menatapnya dengan mata mengerdip. Mia melotot dan mengepal tangan. Lelaki itu tampak kecut dan memasang aba-aba seperti sedang mendorong dengan kedua telapak tangannya.
*
Pukul duabelas kegiatan kampus selesai. Seluruh mahasiswa merapikan buku dan catatan yang berserak di meja. Memasukkannya ke dalam tas. Kecuali Mia dan Ahsyaf, semua siswa telah keluar dari kelas.

Ahsyaf di kursi depan paling kanan dekat pintu. Tangannya seperti sedang menggapai-gapai sesuatu, namun tak kunjung ketemu.

“Kamu cari apa, Syaf?” tanya Mia. Kini ia berada di depan pintu kayu berwarna hitam. Persis di depan Ahsyaf.
“Pulpen.” tangan Ahsyaf meraba meja, kolong meja, lantai kelas. Ahsyaf adalah seorang lelaki tunanetra.

Mia melihat sebatang pulpen di bawah kursi sebelah kiri dari tempat Ahsyaf.

“Itu pulpenmu. Biar kuambil.” Mia mengambil pulpen itu dan mengangsurkannya kepada Ahsyaf.

Pemuda itu menerima pulpen tersebut dan merabanya.

“Maaf, Mia, ini bukan pulpenku.”

“Bagaimana kamu bisa tahu?” Mia mengernyitkan dahi. Penasaran.

“Pulpen punyaku tidak memiliki karet di ujungnya. Sedangkan ini ada. Ini bukan punyaku.” Mia merasa takjub dengan kejujuran lelaki itu.

Ahsyaf tetap mencari-cari alat tulisnya yang hilang. Ia memeriksa satu demi satu tempat di ruang kelas yang berpendingin rendah itu. Mia juga ikut membantunya.

Di atas meja dosen Mia melihat sebuah pulpen tergeletak.

“Syaf, apakah tadi kamu meminjamkan pulpen ke seseorang?”

Ahsyaf tampak mengingat-ingat.

“Oh, iya, tadi aku pinjami ke pak Guruh. Ya sudah. Mungkian dia lupa mengembalikannya padaku.”

Mia beranjak menuju meja dosen dan mengambil pulpen itu. Lantas memberikannya kepada Ahsyaf dan bertutur,

“Kalau yang ini pasti punyamu, Syaf. Tidak ada karetnya. ” Mia berseru percaya diri.

“Iya, betul. Ini punyaku. Terima kasih atas bantuanmu, Mia.” Ahsyaf memasukkan pulpen tersebut ke tas. Kemudian mereka pulang.
*
“Halo! Mia?”
“Ya, ini dengan siapa?”
“Ini aku Reyna, Mi. Aku mengundangmu datang ke acara pernikahanku minggu depan. Datang, ya?”
“Oke.”

Mia sebenarnya terkejut memperoleh kabar Reyna bakal menikah minggu depan. Dulu Reyna adalah adik kelasnya di SMA. Baru kemarin ia dikabari oleh Via, teman sekampus yang akan menggelar pernikahan empat hari lagi. Pekan lalu seorang kawan lamanya sewaktu di Bekasi, Erna juga memberi kabar serupa. Begitu cepatnya semua itu. Dalam hati kecilnya Mia juga memendam keinginan untuk segera menikah.
*
Mia bukan tidak ada yang suka. Sepanjang pekan ini saja, mahasiswi semester akhir itu sudah dilamar oleh dua lelaki. Pertama adalah Dion, lelaki yang kerap mengerdip-ngerdipkan mata kepadanya. Kedua adalah Leo, lelaki yang sudah ditolaknya berkali-kali tapi tidak kapok-kapok juga. Sayangnya kedua orang itu bukan tipe Mia. Mia tidak menyukai laki-laki yang genit dan hanya menilai dari fisik.
*
Telepon pintar Mia berbunyi. Ahsyaf.
“Assalaamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalaam.”
“Mia, besok aku dan orangtuaku akan ke rumahmu.”
“Untuk apa?”
“Melamarmu.”

Sontak saja Mia tercengang. Memutuskan sambungan telepon. Tak dapat berkata-kata. Begitu cepat semuanya terjadi.
*
Keesokan harinya. Ahsyaf beserta ayahnya menyambangi rumah Mia. Ibunya meninggal dunia ketika melahirkan Ahsyaf yang buta sejak lahir.

Setelah melalui proses yang cukup alot. Mia menerima lamaran Ahsyaf. Ayah dan Ibu juga menyetujuinya. Minggu depan akad nikah dan resepsi pernikahan mereka akan dilangsungkan.
*
Akhirnya Mia dan Ahsyaf resmi menjadi sepasang suami-istri. Banyak orang kaget dengan pernikahan mereka. Apa lagi Leo dan Dion yang pernah ditolak mentah-mentah Mia. Beragam pertanyaan dan keheranan muncul terutama ke arah Mia.

“Kok kamu Mau sih nikah sama Ahsyaf? Dia kan, maaf, buta?” tanya seorang teman Mia suatu waktu.

Mia jengkel mendengar pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Kenapa sih orang-orang hanya mempermasalahkan soal fisik. Bukankah fisik itu seringkali berdusta? Keluh Mia dalam hati.

“Jika ada orang menikah dengan orang yang berpenglihatan sempurna. Kenapa kamu harus heran ketika aku menikah dengan Ahsyaf yang tak berpenglihatan sempurna? Bukankah orang yang tidak bisa melihat juga berhak memperoleh cinta dalam porsi yang sama?” jawaban Mia membuat diam penelepon. Tak lama panggilan telepon berakhir.

Setelah menikah Mia dan Ahsyaf berjualan pakaian di ruko salahsatu pasar di Jakarta. Selain itu Ahsyaf yang berbakat menulis kadang-kadang juga mengirim artikel dan karya sastra ke media cetak. Uang hasil berjualan pakaian dan upah menulis lebih dari cukup untuk keperluan sehari-hari keluarga baru itu.

Kisah rumah tangga Mia dan Ahsyaf terbilang mulus. Nyaris tidak ada percekcokan di antara mereka. Pernah suatu kali Mia tak sengaja menumpahkan kopi hingga membasahi celana Ahsyaf yang sedang duduk di kursi makan.

“Maaf, sayang.”
“Tidak apa-apa. Yang tumpah apa ya?”
“Kopi.”
Ahsyaf menjetikkan jari telunjuknya ke celananya yang tertumpahkan kopi. Lalu ia menjilati jari telunjuknya.

“Hey, sayang, terima kasih kamu telah membikin celanaku menjadi manis.” Ahsyaf berucap tanpa merasa marah atau kecewa sama sekali. Justru gembira.

Bukan hanya itu. Ketika Mia terbaring di rumah sakit tipus. Sang suami tak letih mengurusi Mia. Menyediakan makanan, air minum, obat, dan sebagainya meski harus bolak-balik tertatih-tatih menggunakan tongkat.

Mengingat kebaikan-kebaikan Ahsyaf semakin besar rasa cinta Mia kepadanya. Seperti mendaki gunung cinta Mia kepada AhSyaf semakin lama semakin tinggi.
*
Pada suatu malam di meja makan.

“Kata orang cinta itu buta. Tapi kenapa masih banyak orang yang heran ketika aku menikah denganmu, ya, Sayang!” tanya Mia sambil mengaduk-ngaduk kopi kesukaan suaminya.

“Itu karena mereka belum paham tentang mata dan kebutaan.” jawab Ahsyaf santai. Kepalanya lurus bertatapan dengan mata Mia yang jeli.

“Maksudmu?” mata Mia menyelidik. Ia menyerahkan gelas kopi kepada Ahsyaf. Tangan Ahsyaf menyentuh gelas kaca itu dan sontak mengambil kembali tangannya dari gelas karena masih panas. Mia tertawa kecil melihat kelakuan suaminya.

“Kebanyakan orang mengira mata hanyalah mata yang ada di kepala. Padahal mata yang hakiki ada di hati. Kebanyakan orang juga mengira buta hanyalah buta pada mata yang ada di kepala. Padahal buta mata hati lebih parah lagi.” Ahsyaf mengungkapkan kata-kata itu dengan mantap dan tegas.

Mia khusyuk menyimak kata-kata suaminya. Sejenak menjadi hening. Seekor nyamuk menggigit lengan Mia. Ia tetap tak bergeming. Kata-kata Ahsyaf barusan membuatnya bungkam dan mati rasa.

“Kau tahu kenapa aku menerima lamaranmu dulu, sayang?” Mia membukasuara.

“Kenapa?”

“Karena aku tahu kau pasti mencintaiku dengan tulus.”

“Apa yang membuatmu yakin betul aku tulus mencintaimu?”

“Karena kau buta, sayang.”

Ahsyaf tersentak. Kalau saja dapat melihat barangkali ia telah melempar air kopi di hadapannya ke muka Mia.
***
“Kau marah, sayang?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku malah makin mencintaimu, sayang.”

“Kenapa?”

“Karena aku buta, sayang.”

Keduanya tersenyum kecil. Mia menatap wajah Ahsyaf yang tampan penuh kasih. Begitu juga Ahsyaf mentap wajah Mia yang cantik penuh kasih.

Sayangnya Ahsyaf tak bisa melihat wajah Mia. []

 

 

By: Erwin Setia

(Tambun Selatan-Bekasi, Desember 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s