Boneka


Betulkah langit dan bumi tidak akan bisa berpelukan hingga selama-lamanya?
*
Ia gadis cilik jenius dan beruntung. Tetapi terperangkap dalam penjara yang bukan penjara atau bukan penjara yang penjara. Ia cantik dan memiliki hati lembut. Tetapi tiada yang tahu kecantikan dan kelembutan ia punya selain kedua orangtuanya yang senantiasa sibuk sepanjang masa dan boneka-boneka hewan yang berjejer rapi di tempat tidurnya. Ia ingin bermain dan tertawa-tawa seperti anak-anak sebayanya di luar. Ia ingin keluar dari kamarnya dari rumahnya dan menjadi seorang anak normal seutuhnya. Ia jenuh berkutat di dalam kamar di dalam rumah bersama buku-buku, alat tulis, video belajar, dan kesunyian yang bagai membunuh hidupnya. Sesekali ia mendapat hiburan dengan bermain dan mengobrol dengan belasan boneka yang mendekam di kamarnya. Tetapi ia tidak puas dengan itu. Ia menginginkan kawan main yang bisa berbicara dan bisa tertawa dan membuatnya tertawa, bukan boneka yang kematiannya begitu fana. Memang suatu kali ibunya pernah sepulang dari kantor membawakan kepadanya sebuah robot berbentuk manusia. Robot itu bisa bergerak, berbicara, menari-nari, dan bahkan tertawa. Namun robot itu tidak pernah dapat menjadi kawan bermain yang asyik bagi gadis cilik. Robot itu bahkan tidak tahu bagaimana caranya bahagia. Gadis cilik tidak suka dengan kehadiran robot. Ia benci dengan gerak patah-patahnya dan kata-katanya yang kaku. Ia mencengkeram leher robot dan membantingnya sampai lantai kamar meretak. Tak lama Bi Innah, perempuan paruhbaya pembantu keluarga gadis cilik, berteriak dari luar kamar. “Ada apa di dalam, Gadis?”. Gadis hanya hening meski beberapa jenak menjawab dengan wajah sedih. “Tidak apa-apa, Bi.”
*

Ia sebetulnya tampan dan lembut. Namun kerasnya hidup membuat wajah bocah itu kelam dan hitam. Ia berkelahi dengan waktu* sepanjang siang hingga matahari terpejam. Menenteng sebuah ukulele tua dan suara masa kecil yang polos dari mobil ke mobil dari jalan ke jalan. Ia tidak punya waktu untuk bermain petak umpet, kejar-kejaran, tebak-tebakan, dan kelereng selain pada hari Minggu ketika teman-temannya libur sekolah. Ia bersekolah dan gurunya adalah kehidupan. Ia pulang seperti para pekerja kantoran pulang. Dengan langkah tegas meski lunglai ia berjalan kiloan meter menuju tempat kerja ibunya. Di sebuah rumah megah di perumahan elite. Ia menekan bel, lalu ibunya muncul dari pintu berbahan kayu mahal dengan mimik dirundung rindu. Mereka berpelukan.

“Bu, apa Gadis baik-baik saja?”

“Ia baik-baik saja. Tadi ibu mengantar makan ke kamarnya. Ia masih terlihat baik dan cantik.”

“Aku kasihan Bu sama Gadis. Ia anak orang kaya tapi nggak punya teman.” Ibunya diam. “Ibu, apa aku boleh menjenguk Gadis di kamarnya?”

“Boleh. Tapi kamu harus cepat-cepat. Sebentar lagi mama dan papa Gadis pulang.”

“Baik, Bu.”

*

“Hei, Gadis, boleh aku masuk?” Gadis menoleh ke ambang pintu di mana seorang lelaki kecil dengan urat-urat lengan menonjol sedang berdiri dan tersenyum. Gadis tak berkata, ia cuma mengangguk dan tetap memeluk boneka pandanya yang halus dan berbulu tebal.

“Gadis, bagaimana kabarmu? Kamu sehat, kan?” Gadis mengangguk.

“Syukurlah.” ujar bocah. “oh, iya, Gadis, aku punya hadiah nih untuk kamu.” bocah merogoh tas kecilnya. Sebuah boneka burung kecil ia keluarkan dan serahkan kepada Gadis.

“Terima ini ya.” Gadis mengulurkan tangan dan menerimanya. Ia melepaskan pelukannya dari boneka panda. Ia mengambil boneka burung dan memain-mainkannya di telapak tangan. Telapak tangan Gadis yang mungil sama lembutnya dengan bulu-bulu halus si burung kecil –begitu Gadis menamakan boneka barunya.

“Karena aku tahu kamu suka sama boneka, makanya aku memberimu hadiah boneka, walaupun tak sebesar dan semahal boneka-boneka milikmu. Kamu suka kan sama si burung kecil?” Gadis mengangguk. Kemudian sepasang lelaki-perempuan kecil beda nasib itu pun saling berbicara, bermain-main, lempar-melempar boneka, tertawa bersama… Sampai bunyi bel itu mengusaikan kebahagiaan si bocah dan si gadis.

*

“Bi, jejak kaki siapa ini mengotori lantai?” Mama Gadis menerkam mata Bi Innah. Sepucuk tas yang masih menggantung di pundaknya tak membuat perempuan berbibir merah pudar itu kehilangan tenaga untuk marah-marah. Kedua mata majikan dan pembantu itu bersitatap begitu lekat seperti tak akan lagi lepas. Namun kemudian Bi Innah merunduk minta maaf dan menceritakan segalanya.

*

“Lalu sekarang di mana anak jelek itu?”

“Di kamar Gadis, Nyonya.” jawab Bi Innah dengan getar bibir yang samar.

“Apa kamu bilang? Anakmu itu masuk ke kamar anakku? Siapa yang mengizinkan kaki kotornya menginjak lantai kamar Gadis?” Mama Gadis kian berapi-api. Bi Innah hanya dapat memasang telinga dan pasrah menerima semburan api bertubi-tubi dari mulut merah dan marah Mama Gadis.

*

Derap sepatu berhak itu terdengar keras dan gegas. Dua bocah yang sedang tertawa-tawa itu tidak sempat mendengar suara sepatu itu. Kegembiraan mengurangi kemampuan pendengaran mereka. Tatkala dua bocah itu masih asyik lempar-melempar boneka dan canda dan membikin seisi kamar berantakkan, perempuan bermata garang itu masuk dan memutus tali kegirangan kedua bocah menjadi kesenyapan begitu lindap.

“Mama,”

“Nyonya,”

“Hei, kamu, bocah jelek, siapa yang membolehkanmu masuk ke sini?” kalimat meluncur dari mulutnya pedas.

“Sekarang kamu keluar dari kamar ini bocah! Jangan sekali-kali lagi datang ke sini.” Bocah kecil tampak berairmata. Dengan langkah cepat dan dada berdebar ia menerobos keluar melalui pintu. Sedangkan Gadis tak dapat berkata apa-apa. Gadis selalu sukar berkata-kata bila sudah berhadapan dengan mamanya. Hanya saja, ia tidak mampu menyembunyikan rasa sedih itu. Airmata menggumpal di pelupuk matanya.

*

“Gadis, kamu tidak boleh bergaul dengan bocah itu. Ia hanya anak pembantu. Ia tidak pantas menjadi temanmu.”

“Tapi, Ma,” Gadis mulai berani memotong kata-kata ibunya.

“Tidak boleh tetap tidak boleh. Tidak ada tapi-tapian. Dengar, Gadis, kamu tidak boleh membantah ucapan Mama!” . Mama meninggalkan Gadis sendirian di kamar. Bulir-bulir kesedihan berjatuhan dari kedua mata cantik gadis cilik.

“Bi, rapikan kamar Gadis! Anakmu itu telah membuat kamar berantakkan.”

“Baik, Nyonya.” Gadis samar mendengar percakapan yang tidak cakap antara kedua perempuan beda nasib itu. Pipinya basah.

*

Pada tengah malam bunyi klakson mobil membuat Bi Innah terbangun. Papa Gadis telah pulang. Di kamarnya Gadis memeluk boneka singa. Ia tidak tidur.

*

Pada dini hari ketika seharusnya tiada suara selain dengkur orang tidur dan gonggongan anjing di kejauhan terdengar suara keributan di kamar tengah. Kamar Mama dan Papa Gadis. Bi Innah tidak bergeming di sofa ruang depan. Ia sudah terbiasa dengan keributan dan pertengkaran dini hari antara Mama dan Papa Gadis. Bi Innah tidak mengerti kenapa di dalam rumah mewah seperti ini mesti terjadi sebuah pertengkaran? Apa yang dipertengkarkan? Apa yang diributkan? Kebahagiaan? Di kamarnya Gadis berganti posisi dengan tetap memeluk boneka singa. Ia tidak tidur.

*

Pada subuh hari bocah kecil yang semalaman tidur di gubuk dekat stasiun mengunjungi ibunya. Ia menekan bel. Ibunya keluar.

“Alam, kamu ngapain lagi ke sini. Bukankah Mama Gadis sudah melarang kamu datang ke sini? Kalau kamu mau ke sini, kamu kan bisa datang siang atau sore ketika Mama dan Papa Gadis sedang pergi bekerja.”

“Bu, aku ke sini cuma mau menanyakan kabar Gadis. Apa dia baik-baik saja?”

“Dia sepertinya baik-baik saja. Tapi, ibu dari semalam belum melihat ia keluar kamar.”

“Bu, jaga Gadis ya Bu. Ia butuh teman.”

“Iya. Ibu janji akan selalu menjaga Gadis sebisa Ibu.”

“Baiklah, Bu. Aku pamit pulang dulu. Sampaikan salamku untuk Gadis ya, Bu!” Setelah mencium tangan ibunya Alam bergegas kembali ke rumahnya di dekat stasiun. Sebuah gubuk bukan rumah mewah.

*

Di kamarnya Gadis duduk di tepi tempat tidur. Matanya tampak sembab. Ia tidak tidur semalaman. Ia tahu betul lagi-lagi di kamar papa-mamanya ribut dan bertengkar. Ia tidak tahu apa sebab kedua orangtuanya selalu bertengkar. Tapi, Ia bisa memastikan mereka pasti bertengkar bukan karena dirinya. Bukan karena kebahagiaannya. Gadis benci suara pertengkaran dini hari itu. Ia menginginkan kedamaian. Keharmonisan. Kebahagiaan. Ia ingin bebas. Ingin terbang jauh tak terhalang apapun seperti burung-burung yang biasa ia saksikan di video dokumenter. 

*

Matahari terbit. Mobil Papa Gadis sudah keluar dari bagasi. Gadis masih meringkuk seorang diri di dalam kamar. Lama sudah Ia tidak melihat Papanya. Meski serumah. Ia tidak mengerti kenapa Papanya tidak pernah menemuinya dan Ia juga tidak mengerti kenapa Mamanya melarangnya menemui Papanya. Ia jenius, tetapi di samping itu Ia juga hidup dalam banyak hal yang tidak Ia mengerti. Mama Gadis mengetuk pintu. Masuk. Ibu muda itu sudah rapi dan bersiap pergi ke kantor. Ia memeluk dan mencium putri kecilnya Gadis. Matanya agak berkaca-kaca.

“Gadis, sebelum Ibu pulang kamu jangan keluar kamar. Kamu di sini saja belajar dan bermain sama boneka-bonekamu.”

Gadis mengangguk. Ia tidak bisa dan tidak boleh membantah. Dalam hatinya Gadis hendak sekali membantah ucapan ibunya. Ia tidak mau terkurung terus di kamar. Ia mau keluar. Ia mau terbang jauh seperti burung-burung. Mama Gadis keluar dan mengunci pintu kamar dari luar. Gadis akan di dalam kamarnya sepanjang hari. Kecuali ketika jam makan Bi Innah akan membuka pintu kamar. Di kamarnya memang terlengkapi berbagai fasilitas: kamar mandi, wahana permainan sederhana, tempat tidur besar, boneka-boneka. Tapi Ia tidak menemukan arti kebahagiaan di dalam kamar kecuali hari kemarin ketika Alam datang bertandang. Dada dan kepala Gadis berkecamuk. Ia ingin pergi. Keluar. Bermain. Terbang. Tetapi, bagaimanakah?

*

Gadis mengambil si burung kecil.

“Aku ingin sepertimu, burung. Berkepak. Terbang. Bebas. Tak terkurung.”

“Kau sungguh-sungguh mau?” jawaban si burung kecil membuat Gadis terlonjak kaget. Boneka kecil itu bisa berbicara.

“Burung, kok kamu bisa bicara?” kata Gadis dengan heran.

“Sudahlah, itu tak penting. Kamu sungguh-sungguh mau berkepak, terbang, bebas, dan tak terkurung?”

“Iya. Iya.”

“Kalau begitu pegang leherku. Kita lihat apa yang akan terjadi.”

Gadis memegang leher si burung kecil. Boneka burung itu tetiba saja membesar seperti balon ditiup. Gadis kini berada di atas leher si burung kecil –yang beranjak besar- seperti seorang penunggang kuda. Bukan cuma burung yang menjadi hidup. Boneka singa, rusa, panda, sapi, kuda, beruang, macan, jerapah juga menjelma nyata dan berukuran besar. Para boneka itu mendobrak pintu. Boneka jerapah menghancurkan atap dengan kepalanya. Kamar ini menjadi tarang oleh sinar matahari. Dengan gegas sayap si burung kecil berkepak dan lekas saja membawa Gadis terbang jauh. Bi Innah sedang menyirami tanaman terbelalak melihat pemandangan burung berukuran besar terbang bersama Gadis. Tetapi kemudian ia berujar, “Sekarang kamu bebas, Gadis.” Burung itu terus berkelepak tak henti menyusuri udara pagi kota yang sejuk campur terik. Gadis dan si burung kecil tiba di langit stasiun. Alam yang sedang bersiap berangkat mengamen terperanjat melihat pemandangan itu. Sama seperti ibunya. Tapi kemudian ia berkata, “Burung… dan… Gadis!” Alam berseru-seru memanggil Gadis. Di atas sana Gadis menoleh seperti sewaktu Alam menyapanya di kamar Gadis. Gadis menitahkan agar si burung turun menghampiri Alam. “Bolehkah aku ikut bermain?” Gadis mengangguk seperti sewaktu Alam meminta izin masuk ke kamarnya.

*

Gadis dan Alam menyusuri langit. Terbang. Bermain. Tertawa. Bercanda. Bebas. Tak terkurung. Menjadi anak normal seutuhnya.

*

Betulkah langit dan bumi tidak akan bisa berpelukan hingga selama-lamanya? Tapi, kulihat mereka berpelukan.

*

“Jadi, begitu Nak ceritanya. Sekarang kamu mau tidur?” Gadis kecil itu mengangguk sambil membayangkan langit, burung, dan boneka-boneka. []

 

By: Erwin Setia

(Tambun-Selatan-Bekasi, April 2016)

Advertisements

2 comments

  1. jimu · February 16

    woooooooooooooooooooooooh

    Like

    • Ammar · March 3

      Hai Jimu! Selamat membaca!

      Tolong bantu share dan promot situs ini juga ke temen-temen kamu ya!! Terima Kasih

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s