Sayembara Menangis


Setelah tak terselenggara cukup lama Sayembara Menangis kembali diadakan di kota ini. Para panitia yang terdiri atas orang-orang yang tak mau dikenal telah menyebarluaskan undangan sayembara ini di internet. Tak sampai dua puluh empat jam ribuan orang telah mendaftarkan diri mengikuti Sayembara Menangis. Ribuan peserta dari berbagai penjuru kota ini diwajibkan menyebutkan alasan mengapa mereka mau mengikuti Sayembara Menangis di formulir pendaftaran. Ada berbagai alasan para peserta turut meramaikan sayembara langka ini. Kebanyakan adalah perihal luka, kehilangan, dan permasalahan terkait cinta.

~

Sayembara Menangis pernah terjadi ratusan tahun lalu. Pemenang utama pada edisi kali itu adalah seorang penemu berbagai teori dan alat teknologi, seorang yang sangat jenius. Namun ia –sebut saja A—yang setiap saat bergelut dengan ilmu pengetahuan dan rumus-rumus rumit mengaku bahwa hidupnya tak sebahagia yang orang lihat. Ia memang mengetahui banyak hal dan seakan pintu-pintu ilmu yang ada di dunia telah berhasil ia buka. Ia menangis sangat keras di puncak sayembara sehingga membuat para panitia dan peserta-peserta lain ngilu dan iba terhadapnya.

“Kenapa kau menangis begitu keras? Bukankah telah kau genggam banyak perbendaharaan ilmu?” tanya Ketua Panitia Sayembara Menangis kepada A.

“Aku memang mengetahui banyak hal. Aku tahu benda-benda di langit tinggi maupun benda-benda yang terpendam di dalam bumi. Namun bahkan aku tidak tahu tentang…”  perkataannya terputus dan ia malah kembali melolong penuh kesedihan seperti lolongan serigala yang kesepian.

“Tentang apa?” kata Ketua Panitia, menahan airmata.

“Bahkan aku tidak tahu tentang,” A kembali tersedu dan sungai tercipta di pipinya yang keras.

“aku tidak tahu tentang hakikat diriku sendiri dan untuk apa aku hidup dan aku tidak tahu siapa dzat yang menciptakan diriku ini.” Lanjut A diakhiri dengan tangisan panjang, lalu ia jatuh pingsan.

~

Seusai A sadar panitia memutuskan A sebagai pemenang tunggal Sayembara Menangis kali itu. Karena tak ada peserta yang menangis setersedu dan semengilukan A.

~

Ketua Panitia mengalungkan medali berwarna airmata ke leher A dan meminta A untuk mempersembahkan pidato kemenangan. A naik ke podium yang telah disediakan. Ribuan orang –panitia, peserta, dan penonton—mengelilinginya dan menantikan pidato sang pemenang Sayembara Menangis.

“Pertama, aku mengucapkan terima kasih kepada para panitia penyelenggara yang telah memilihku sebagai pemenang Sayembara Menangis. Sebetulnya aku tidak tahu mengapa diriku didaulat sebagai juara sayembara ini, tapi yang kutahu diriku memang sedang sangat sedih, sedih sekali,” ujar A berkaca-kaca.

“Dan aku tidak tahu bagaimana cara merayakan kesedihan kecuali dengan menangis sekeras-kerasnya. Dan itu telah kulakukan. Dan aku tak tahu berapa banyak tetesan airmata yang telah kukeluarkan. Sebab, meskipun aku pandai menghitung dan menghafal rumus-rumus rumit, aku tetap tidak akan pernah bisa menghitung jumlah airmataku. Kesedihan tak kan pernah dapat dihitung.” Bibir A bergetar dan gumpalan airmata menumpuk pada kelopak airmatanya.

Para hadirin tampak membisu dan hanya raut sendu wajah-wajah mereka yang berbicara.

~

“Teman-teman, mungkin kalian menganggapku tahu tentang segalanya dan sangat jenius. Tetapi, kalian tahu, mengetahui banyak hal tidak serta-merta membuat kalian bahagia. Kalian tidak akan pernah bahagia kalau bahkan kalian tidak mengenal diri sendiri dan dzat yang membuat diri kalian ada. Kalian tahu siapa diri kalian? Kalian tahu siapa Tuhan? Aku tidak tahu dan karena itulah aku bersedih…” tiba-tiba tubuh A roboh dan hadirin menjadi gempar. Sejumlah panitia menghampiri A. Ketua Panitia memeriksa detak jantung dan denyut nadi A.

“Dia telah mati,” kata Ketua Panitia, menahan airmata.

Itulah akhir Sayembara Menangis pertama.

~

Waktu penyelenggaraan Sayembara Menangis telah tiba. Di tempat semacam auditorium dengan lampu agak temaram para peserta sudah berkumpul. Rata-rata peserta hanya datang seorang diri dan tak bersama siapapun –mungkin hanya bersama kesedihannya masing-masing. Di tempat duduk bagian depan tampak seorang perempuan bergaun merah dengan bibir merah dan mata yang juga merah –barangkali dia sehabis menangis sebelum datang ke tempat ini.Sementara di kursi-kursi lain ada pemuda berkemeja, lelaki tua berjas, nyonya berkalung alangkah besar, seorang berwajah hampa dan macam-macam lainnya. Kebanyakan para peserta adalah anak-anak muda dan orang-orang dari kalangan menengah atas. Tidak ada peserta dengan muka orang susah atau semacam itu. Semua peserta terlihat seperti orang kaya dan tak kurang satu apa pun. Tapi, kenapa mereka mengikuti Sayembara Menangis?

~

Ketua Panitia resmi membuka acara Sayembara Menangis yang telah lama tak hadir. Panitia memberikan waktu satu menit bagi tiap-tiap peserta untuk menangis. Di atas panggung ada sepuluh kursi tempat para peserta menunjukkan tangisannya. Dalam Sayembara Menangis ini terdapat beberapa aspek penilaian. DI antaranya: keotentikan tangisan, ekspresi, suara, dan latar belakang mengikuti Sayembara Menangis. Semakin jujur dan menyayat hati suara tangisan semakin lebar peluang untuk menang.

~

Beberapa peserta telah mempertontonkan tangisannya. Peserta dengan alasan dikhianati kekasihnya menangis sampai bedak di wajahnya luntur. Ada pula peserta-peserta yang mengaku patah hati, ditinggal mati orang tersayang, ditolak cintanya, dam semacam itu. Mayoritas peserta menangis dengan sesenggukkan dan membikin suasana sayembara mengharu-biru.Tiada suara di tempat ini selain tangisan. Tiada rasa di tempat ini kecuali kesedihan.

~

Namun ada sebuah suara tangisan yang paling jerit dan paling membungkam seisi auditorium. Tangisan dari seorang lelaki berwajah hampa yang seolah tidak pernah punya kenangan maupun harapan. Lelaki itu adalah peserta terakhir yang diberi kesempatan menangis pada sayembara kali ini. Lelaki itu menangis seakan tangisan para peserta sebelumnya bukanlah tangisan. Lelaki itu menangis dan membuat orang-orang yang menyaksikannya turut menangis –termasuk Ketua Panitia yang dikenal kuat menahan tangis. Lelaki itu menangis memang tidak sampai jatuh pingsan, namun hampir membuat orang-orang yang mendengar isakannya jatuh pingsan.

Tangisan itu melebihi durasi yang disediakan. Tapi tak ada orang –tak juga panitia—yang kuasa menghentikan tangisannya. Tangisannya terlalu deras untuk bisa diredam. Matanya bagai bendungan yang jebol dan membanjiri wilayah wajahnya. Airmatanya adalah banjir paling mengerikan yang pernah terjadi di kota ini.

~

Tangisan Lelaki Berwajah Hampa itu pum akhirnya usai dan panitia telah mengantongi satu nama calon pemenang Sayembara Menangis. Dan tentu kita tahu siapa pemenang tersebut: Lelaki Berwajah Hampa

~

Ketua Panitia mengumumkan nama pemenang dan mempersilakannya menyampaikan pidato kemenangan.

“Saya ucapkan terima kasih kepada Dewan Panitia yang telah menunjuk saya sebagai pemenang Sayembara Menangis kali ini,” buka Lelaki Berwajah Hampa tetap dengan wajah hampa.

“Di sini saya hanya akan menyampaikan satu hal. Yakni, bahwa yang paling menyedihkan bukanlah cinta yang dikhianati ataupun cinta yang ditolak. Tetapi yang paling menyedihkan adalah hidup tanpa cinta. Dan itulah yang saya alami. Dan itulah mengapa sangat keras saya menangis…”

~

Sayembara Menangis telah selesai. Para panitia berdiskusi tentang acara Sayembara Menangis ke depannya.

“Sepertinya ini Sayembara Menangis terakhir yang dapat kita selenggarakan,” kata Ketua Panitia.

“Mengapa?”

“Karena kurasa tangisan bukan untuk diperlombakan,” ujar Ketua Panita, menahan airmata. []

 

By: Erwin Setia

(Tambun Selatan-Bekasi, Januari 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s