Kita Bukan Lagi Kita Mulai Hari Ini


     “Kita bukan lagi kita mulai hari ini,” katamu dengan wajah sendu. Aku tahu dari pinggir matamu ada kisah yang basah. Kamu ingin menolak kenyataan ini. Aku juga. Tapi kita –yang bukan lagi kita– tidak cukup tangguh menangguhkan kenyataan ini. Esok kamu akan ke Pekanbaru. Dua jam dari bandara Soekarno-Hatta. Aku ingin mengantarmu. Namun itu mustahil. Kamu terbang ke sana untuk merajut kehidupan baru bukan denganku. Seseorang bermata hitam pekat yang hobi pakai jas melamarmu pekan kemarin. Orangtuamu setuju. Kamu setuju –tepatnya terpaksa setuju. Dan hubungan kita yang memang tak direstui orangtuamu terpaksa selesai begitu saja. Sungguh, aku berkali-kali sudah melamarmu meski tanpa jas meski tanpa mobil. Kamu pun tersenyum ketika kuungkapkan perasaanku itu. Tapi, perasaanku dan perasaanmu yang sejodoh tak lantas membuat kita berjodoh. Perasaan orangtuamu tak berjodoh dengan perasaan kita –yang bukan lagi kita mulai hari ini. Sejak itu aku tahu bahwa jodoh bukan semata masalah dua hati. Lebih rumit dari itu.

 Kadang kebencian orangtua membuat kita tidak lagi menjadi kita.

“Kamu tahu ini semua bukan mauku,” bulir kristal itu mulai jatuh. Kafe sederhana ini makin pucat saja. Samar cahaya lampu-lampu kecil tergantung di langit-langit. Kulihat sepasang kekasih saling menyuapi di meja pojok. Kulihat seorang ibu mencubiti pipi anaknya yang kenyal seperti bantal. Dan kulihat di hadapanku wajah seseorang yang kukenal mengelabu. Mata cantik itu berevolusi menjadi danau bagi kumpulan air asin. Aku ingin membasuh air itu. Oh, tidak, kita bukan lagi kita mulai hari ini.

“Aku tahu itu,” kataku sambil menyeruput teh dingin yang tak lagi dingin. Entah kenapa aku merasa teh itu pahit. Aneh. Padahal kupesan kepada mbak-mbak pelayan berbaju merah tadi: mbak, es teh manisnya satu. Lalu aku tanya kepadamu: kamu pesan apa? Kamu cuma menggeleng. Jelas-jelas kupesan teh manis bukan teh pahit. Ah, mungkin ini hanya perasaanku.

“Apakah lebih baik aku melarikan diri,” ujarmu antara pertanyaan dan pernyataan.

“Itu hanya akan menambah bebanmu.”

“Tapi, aku betul-betul tidak paham dengan semua ini. Hatiku sama sekali tak menyetujui perjodohan ini.”

“Kamu hanya belum terbiasa,” kataku separuh tak rela.

“Jadi, kamu setuju perjodohan ini?”

“Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin kamu semakin luka. Karena kita pada hari ini bukan lagi kita. Kuharap kamu bisa membiasakan diri dengan kita yang lain,” kataku terpatah. “dan kamu harus mencoba untuk mengarungi hidup di laut yang berbeda.”

    Airmatamu semakin deras. Musim hujan seperti ada di wajahmu. Aku kembali menyeruput teh manis rasa pahit. Kauusap airmatamu dengan secarik tisu. Kamu berhenti bicara.

“Tiara, ngapain kamu sama laki-laki ini lagi?” laki-laki itu tetiba datang ke meja aku dan kamu –karena sekarang aku dan kamu bukan lagi kita–. Kemeja necisnya dan jam tangan keluaran Swiss terpasang di tubuhnya yang sering dibawa ke gym. Wajahnya tidak damai. Aku seperti melihat kobaran api pada kedua bola matanya.

“Kamu ini calon istriku, Tiara. Kamu nggak boleh dekat-dekat sama lelaki lain, apalagi lelaki ini.” telunjuknya seperti menghinaku. “Ayo kita pulang. Seharusnya kamu mempersiapkan bekal untuk besok malam ini. Bukan justru ketemuan sama dia.” telunjuknya yang bersebelahan dengan jari bercincin menghinaku sekali lagi.

     Dia merenggut paksa kamu. Dibawanya kamu ke mobilnya yang berwarna putih. Di pintu keluar kepalamu menoleh kepadaku. Aku juga sempat melihat matamu. Matamu yang sendu. Mata terakhirmu yang kutatap. Kamu sudah duduk di bangku mobil yang empuk. Dia menyalakan mesin. Mobil berjalan dan kamu meninggalkanku terpaku sendiri di sini. Beberapa detik masih sempat kulihat cahaya lampu belakang mobil itu.

     Tiba-tiba aku haus.

“Mbak.”

“Iya, ada yang bisa saya bantu?”

“Tolong, es teh manisnya satu.”

“Baik. Ada yang lain?”

“Oh iya. Saya pesan satu ini saja. Es teh manisnya benar-benar manis ya, jangan ada pahit-pahitnya.”

    Pelayan itu pergi. Tapi aku masih sempat melihat pelayan itu  tersenyum sebelum pergi. Kamu pasti tidak melihatnya. []

By: Erwin Setia

(Tambun Selatan-Bekasi, Maret 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s