Tentang Lelaki Harimau

“Cepatlah jawab sebenarnya apa yang kau lakukan petang itu kepada Ibumu, Ayahmu, dua adikmu dan seorang kakakkmu dan nenek dan kakekmu yang terbunuh dengan leher hampir terputus seperti bekas gigitan harimau? ” Tanya seorang polisi.

“Aku tidak tahu-menahu soal kejadian itu pak Polisi, aku berada di kamar sedang membaca buku. Kau melihat sendiri kan pak Polisi, saat kau meringsek masuk kedalam kamarku kau melihat aku sedang membaca.” Jawab pemuda itu. Cemas.

“Dasar kamu pembual. Bagaimana bisa kau tidak tahu kejadian itu sedangkan di rumah itu hanya ada kau dan hanya kau yang tersisa hidup dan kamu tidak tahu apa-apa soal itu?”

Polisi itu menjadikan hari-hari pemuda itu penuh dengan pertanyaan dan beruntung pemuda itu masih hidup atas pukulan-pukulan yang biasa diberikan polisi itu kepada para tersangka yang mencoba berbohong. Tapi sayangnya, kali ini pemuda itu tidak berbohong. Sangat jujur. Dan tidak pernah berbohong. Tapi ia harus kehilangan semua gigi depannya akibat pukulan dari pentungan itu.

**

Read More

Cinta Itu Buta dan Kopi Itu Pahit

“Cantik!” Leo, lelaki berambut mohawk itu menggoda Mia yang sedang berjalan di koridor kampus.

Mia cuek. Gadis berkerudung hijau terang itu mempercepat langkah menuju kelas.

Di kelas. Ada lima belas orang mahasiswa. Hanya tiga orang perempuan, sisanya laki-laki. Begitu Mia menempelkan pantatnya di kursi. Seorang lelaki berkemeja flanel di sebelah kanannya menatapnya dengan mata mengerdip. Mia melotot dan mengepal tangan. Lelaki itu tampak kecut dan memasang aba-aba seperti sedang mendorong dengan kedua telapak tangannya.
*
Pukul duabelas kegiatan kampus selesai. Seluruh mahasiswa merapikan buku dan catatan yang berserak di meja. Memasukkannya ke dalam tas. Kecuali Mia dan Ahsyaf, semua siswa telah keluar dari kelas.

Ahsyaf di kursi depan paling kanan dekat pintu. Tangannya seperti sedang menggapai-gapai sesuatu, namun tak kunjung ketemu.

“Kamu cari apa, Syaf?” tanya Mia. Kini ia berada di depan pintu kayu berwarna hitam. Persis di depan Ahsyaf.
“Pulpen.” tangan Ahsyaf meraba meja, kolong meja, lantai kelas. Ahsyaf adalah seorang lelaki tunanetra.

Mia melihat sebatang pulpen di bawah kursi sebelah kiri dari tempat Ahsyaf.

“Itu pulpenmu. Biar kuambil.” Mia mengambil pulpen itu dan mengangsurkannya kepada Ahsyaf.

Pemuda itu menerima pulpen tersebut dan merabanya.

“Maaf, Mia, ini bukan pulpenku.”

“Bagaimana kamu bisa tahu?” Mia mengernyitkan dahi. Penasaran.

“Pulpen punyaku tidak memiliki karet di ujungnya. Sedangkan ini ada. Ini bukan punyaku.” Mia merasa takjub dengan kejujuran lelaki itu.

Ahsyaf tetap mencari-cari alat tulisnya yang hilang. Ia memeriksa satu demi satu tempat di ruang kelas yang berpendingin rendah itu. Mia juga ikut membantunya.

Di atas meja dosen Mia melihat sebuah pulpen tergeletak.

“Syaf, apakah tadi kamu meminjamkan pulpen ke seseorang?”

Ahsyaf tampak mengingat-ingat.

“Oh, iya, tadi aku pinjami ke pak Guruh. Ya sudah. Mungkian dia lupa mengembalikannya padaku.”

Mia beranjak menuju meja dosen dan mengambil pulpen itu. Lantas memberikannya kepada Ahsyaf dan bertutur,

“Kalau yang ini pasti punyamu, Syaf. Tidak ada karetnya. ” Mia berseru percaya diri.

“Iya, betul. Ini punyaku. Terima kasih atas bantuanmu, Mia.” Ahsyaf memasukkan pulpen tersebut ke tas. Kemudian mereka pulang.
*
“Halo! Mia?”
“Ya, ini dengan siapa?”
“Ini aku Reyna, Mi. Aku mengundangmu datang ke acara pernikahanku minggu depan. Datang, ya?”
“Oke.”

Mia sebenarnya terkejut memperoleh kabar Reyna bakal menikah minggu depan. Dulu Reyna adalah adik kelasnya di SMA. Baru kemarin ia dikabari oleh Via, teman sekampus yang akan menggelar pernikahan empat hari lagi. Pekan lalu seorang kawan lamanya sewaktu di Bekasi, Erna juga memberi kabar serupa. Begitu cepatnya semua itu. Dalam hati kecilnya Mia juga memendam keinginan untuk segera menikah.
*
Mia bukan tidak ada yang suka. Sepanjang pekan ini saja, mahasiswi semester akhir itu sudah dilamar oleh dua lelaki. Pertama adalah Dion, lelaki yang kerap mengerdip-ngerdipkan mata kepadanya. Kedua adalah Leo, lelaki yang sudah ditolaknya berkali-kali tapi tidak kapok-kapok juga. Sayangnya kedua orang itu bukan tipe Mia. Mia tidak menyukai laki-laki yang genit dan hanya menilai dari fisik.
*
Telepon pintar Mia berbunyi. Ahsyaf.
“Assalaamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalaam.”
“Mia, besok aku dan orangtuaku akan ke rumahmu.”
“Untuk apa?”
“Melamarmu.”

Sontak saja Mia tercengang. Memutuskan sambungan telepon. Tak dapat berkata-kata. Begitu cepat semuanya terjadi.
*
Keesokan harinya. Ahsyaf beserta ayahnya menyambangi rumah Mia. Ibunya meninggal dunia ketika melahirkan Ahsyaf yang buta sejak lahir.

Setelah melalui proses yang cukup alot. Mia menerima lamaran Ahsyaf. Ayah dan Ibu juga menyetujuinya. Minggu depan akad nikah dan resepsi pernikahan mereka akan dilangsungkan.
*
Akhirnya Mia dan Ahsyaf resmi menjadi sepasang suami-istri. Banyak orang kaget dengan pernikahan mereka. Apa lagi Leo dan Dion yang pernah ditolak mentah-mentah Mia. Beragam pertanyaan dan keheranan muncul terutama ke arah Mia.

“Kok kamu Mau sih nikah sama Ahsyaf? Dia kan, maaf, buta?” tanya seorang teman Mia suatu waktu.

Mia jengkel mendengar pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Kenapa sih orang-orang hanya mempermasalahkan soal fisik. Bukankah fisik itu seringkali berdusta? Keluh Mia dalam hati.

“Jika ada orang menikah dengan orang yang berpenglihatan sempurna. Kenapa kamu harus heran ketika aku menikah dengan Ahsyaf yang tak berpenglihatan sempurna? Bukankah orang yang tidak bisa melihat juga berhak memperoleh cinta dalam porsi yang sama?” jawaban Mia membuat diam penelepon. Tak lama panggilan telepon berakhir.

Setelah menikah Mia dan Ahsyaf berjualan pakaian di ruko salahsatu pasar di Jakarta. Selain itu Ahsyaf yang berbakat menulis kadang-kadang juga mengirim artikel dan karya sastra ke media cetak. Uang hasil berjualan pakaian dan upah menulis lebih dari cukup untuk keperluan sehari-hari keluarga baru itu.

Kisah rumah tangga Mia dan Ahsyaf terbilang mulus. Nyaris tidak ada percekcokan di antara mereka. Pernah suatu kali Mia tak sengaja menumpahkan kopi hingga membasahi celana Ahsyaf yang sedang duduk di kursi makan.

“Maaf, sayang.”
“Tidak apa-apa. Yang tumpah apa ya?”
“Kopi.”
Ahsyaf menjetikkan jari telunjuknya ke celananya yang tertumpahkan kopi. Lalu ia menjilati jari telunjuknya.

“Hey, sayang, terima kasih kamu telah membikin celanaku menjadi manis.” Ahsyaf berucap tanpa merasa marah atau kecewa sama sekali. Justru gembira.

Bukan hanya itu. Ketika Mia terbaring di rumah sakit tipus. Sang suami tak letih mengurusi Mia. Menyediakan makanan, air minum, obat, dan sebagainya meski harus bolak-balik tertatih-tatih menggunakan tongkat.

Mengingat kebaikan-kebaikan Ahsyaf semakin besar rasa cinta Mia kepadanya. Seperti mendaki gunung cinta Mia kepada AhSyaf semakin lama semakin tinggi.
*
Pada suatu malam di meja makan.

“Kata orang cinta itu buta. Tapi kenapa masih banyak orang yang heran ketika aku menikah denganmu, ya, Sayang!” tanya Mia sambil mengaduk-ngaduk kopi kesukaan suaminya.

“Itu karena mereka belum paham tentang mata dan kebutaan.” jawab Ahsyaf santai. Kepalanya lurus bertatapan dengan mata Mia yang jeli.

“Maksudmu?” mata Mia menyelidik. Ia menyerahkan gelas kopi kepada Ahsyaf. Tangan Ahsyaf menyentuh gelas kaca itu dan sontak mengambil kembali tangannya dari gelas karena masih panas. Mia tertawa kecil melihat kelakuan suaminya.

“Kebanyakan orang mengira mata hanyalah mata yang ada di kepala. Padahal mata yang hakiki ada di hati. Kebanyakan orang juga mengira buta hanyalah buta pada mata yang ada di kepala. Padahal buta mata hati lebih parah lagi.” Ahsyaf mengungkapkan kata-kata itu dengan mantap dan tegas.

Mia khusyuk menyimak kata-kata suaminya. Sejenak menjadi hening. Seekor nyamuk menggigit lengan Mia. Ia tetap tak bergeming. Kata-kata Ahsyaf barusan membuatnya bungkam dan mati rasa.

“Kau tahu kenapa aku menerima lamaranmu dulu, sayang?” Mia membukasuara.

“Kenapa?”

“Karena aku tahu kau pasti mencintaiku dengan tulus.”

“Apa yang membuatmu yakin betul aku tulus mencintaimu?”

“Karena kau buta, sayang.”

Ahsyaf tersentak. Kalau saja dapat melihat barangkali ia telah melempar air kopi di hadapannya ke muka Mia.
***
“Kau marah, sayang?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku malah makin mencintaimu, sayang.”

“Kenapa?”

“Karena aku buta, sayang.”

Keduanya tersenyum kecil. Mia menatap wajah Ahsyaf yang tampan penuh kasih. Begitu juga Ahsyaf mentap wajah Mia yang cantik penuh kasih.

Sayangnya Ahsyaf tak bisa melihat wajah Mia. []

 

 

By: Erwin Setia

(Tambun Selatan-Bekasi, Desember 2015)

Sepeda Ayah dan Masalah Kerinduan

Kamu berada jauh dari ayahmu. Kotamu dan kampung tempat tinggal ayahmu berselisih waktu empat jam. Jika di kotamu pukul satu, maka di daerah ayahmu tinggal pukul lima. Jika pada saat itu kau sedang tertidur pulas di tempat tidur busa yang sangat nyaman, maka ayahmu baru saja usai salat subuh dan bersiap-siap berangkat kerja. Menjadi kuli di mana saja ada rumah atau toko atau masjid akan dibangun.

Ayahmu sangat bersemangat pagi ini alih-alih menampakkan raut wajah kelelahan setelah kemarin lembur hingga pukul delapan malam. Tangan tuanya yang bertonjolan urat tetap cekatan membersihkan jari-jari roda sepedanya yang juga tua dan antik. Seperti seorang ibu merawat anaknya ayahmu merawat sepedanya –yang dulu berwarna ungu, setelah warnanya luntur ayahmu mengecatnya dengan warna merah terang- dengan penuh ketelatenan dan ketekunan. Kamu yang saat ini tengah menempuh pendidikan di sebuah universitas di Timur Tengah banyak belajar dari sikap dan entos yang ayahmu miliki. 

Dulu sewaktu kelas 2 SMP ibumu pergi menuju keabadian. Kamu berduka teramat dalam. Tetapi, seperti ayahmu, kamu tak terpuruk dalam duka, kamu tetap melanjutkan hidup dalam ketegaran dan tak padam semangat. Setiap waktu kamu tekun belajar dan tak mau ada nilai buruk tercantum dalam rapormu. Kamu berpikir orang miskin sepertimu jika tak semangat belajar dan bekerja keras hanya akan menjadi sampah tak berguna. Hingga setelah lulus SMA -dengan izinNya- berkat segudang prestasimu kamu memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Timur Tengah. Kamu senang bukan main ketika itu, pun ayahmu. Namun kamu tidak tahu, di balik kebahagiaan dan kebanggaan ayahmu itu lelaki tangguh yang Tuhan takdirkan menjadi ayahmu itu memendam perasaan tak rela mesti jauh darimu, anak satu-satunya yang paling ia sayang.

“Jangan lupa, Nak, bila kamu nanti ke ka’bah, do’akanlah ayahmu ini agar bisa pula ke sana.” pesan ayahmu menjelang kepergianmu ke Negeri padang pasir itu. Sesedih apapun ayahmu, ia tak pernah tega memperlihatkan kesedihannya kepadamu. Sebab ia sepertinya memegang teguh sebuah prinsip keayahan: ayah yang baik tak pernah menangis di depan anaknya.

Kamu pergi meninggalkan ayahmu ke negeri jauh bukan tanpa beban. Rasa sedih dan tak rela juga bergumpal di hatimu. Namun kamu tetap memilih untuk pergi dengan harapan akan kembali ke rumah ayahmu sebagai seorang anak yang tak hanya berbakti pada orangtua melainkan berguna juga buat banyak orang.

Tahukah kamu tatkala tubuhmu telah membelakangi ayahmu pada hari itu –hari ketika pertama kali kamu naik pesawat–, pada sore yang gerimis itu, mata ayahmu tak dapat menyembunyikan kemasygulannya. Sebagaimana langit sore itu, mata ayahmu juga menggerimis. Ya, sehebat apapun seorang ayah, ada pula kalanya ia harus menangis. Bukan karena ia cengeng, tetapi karena rasa cinta dan kehilangan yang teramat kuat.

Maka pada pagi ini ayahmu menunggangi sepedanya. Kaki kecilnya begitu lincah mengayuh pedal sepeda yang sudah tak utuh. Ia menyusuri jalan kampung yang mulus, sepi, dan dikelilingi rerimbunan pohon di kanan-kiri. Tak berapa lama, ia melewati rumah penduduk, Pak Kasmin tampak sedang duduk di kursi depan rumahnya. Ayahmu menyapanya dan melempar senyuman. Di halaman rumah-rumah lain beberapa orang juga terlihat sedang menikmati pagi yang sejuk nan damai. Pada sebuah rumah, di halaman rumah itu ada seorang lelaki berusia 30-an menggendong anak lelakinya yang masih bayi. Tertawa-tawa. Ayahmu melihatnya dan tiba-tiba saja ada yang jatuh dari matanya. []

By: Erwin Setia

(Tambun Selatan-Bekasi, Desember 2015)

Boneka

Betulkah langit dan bumi tidak akan bisa berpelukan hingga selama-lamanya?
*
Ia gadis cilik jenius dan beruntung. Tetapi terperangkap dalam penjara yang bukan penjara atau bukan penjara yang penjara. Ia cantik dan memiliki hati lembut. Tetapi tiada yang tahu kecantikan dan kelembutan ia punya selain kedua orangtuanya yang senantiasa sibuk sepanjang masa dan boneka-boneka hewan yang berjejer rapi di tempat tidurnya. Ia ingin bermain dan tertawa-tawa seperti anak-anak sebayanya di luar. Ia ingin keluar dari kamarnya dari rumahnya dan menjadi seorang anak normal seutuhnya. Ia jenuh berkutat di dalam kamar di dalam rumah bersama buku-buku, alat tulis, video belajar, dan kesunyian yang bagai membunuh hidupnya. Sesekali ia mendapat hiburan dengan bermain dan mengobrol dengan belasan boneka yang mendekam di kamarnya. Tetapi ia tidak puas dengan itu. Ia menginginkan kawan main yang bisa berbicara dan bisa tertawa dan membuatnya tertawa, bukan boneka yang kematiannya begitu fana. Memang suatu kali ibunya pernah sepulang dari kantor membawakan kepadanya sebuah robot berbentuk manusia. Robot itu bisa bergerak, berbicara, menari-nari, dan bahkan tertawa. Namun robot itu tidak pernah dapat menjadi kawan bermain yang asyik bagi gadis cilik. Robot itu bahkan tidak tahu bagaimana caranya bahagia. Gadis cilik tidak suka dengan kehadiran robot. Ia benci dengan gerak patah-patahnya dan kata-katanya yang kaku. Ia mencengkeram leher robot dan membantingnya sampai lantai kamar meretak. Tak lama Bi Innah, perempuan paruhbaya pembantu keluarga gadis cilik, berteriak dari luar kamar. “Ada apa di dalam, Gadis?”. Gadis hanya hening meski beberapa jenak menjawab dengan wajah sedih. “Tidak apa-apa, Bi.”
*

Ia sebetulnya tampan dan lembut. Namun kerasnya hidup membuat wajah bocah itu kelam dan hitam. Ia berkelahi dengan waktu* sepanjang siang hingga matahari terpejam. Menenteng sebuah ukulele tua dan suara masa kecil yang polos dari mobil ke mobil dari jalan ke jalan. Ia tidak punya waktu untuk bermain petak umpet, kejar-kejaran, tebak-tebakan, dan kelereng selain pada hari Minggu ketika teman-temannya libur sekolah. Ia bersekolah dan gurunya adalah kehidupan. Ia pulang seperti para pekerja kantoran pulang. Dengan langkah tegas meski lunglai ia berjalan kiloan meter menuju tempat kerja ibunya. Di sebuah rumah megah di perumahan elite. Ia menekan bel, lalu ibunya muncul dari pintu berbahan kayu mahal dengan mimik dirundung rindu. Mereka berpelukan.

“Bu, apa Gadis baik-baik saja?”

“Ia baik-baik saja. Tadi ibu mengantar makan ke kamarnya. Ia masih terlihat baik dan cantik.”

“Aku kasihan Bu sama Gadis. Ia anak orang kaya tapi nggak punya teman.” Ibunya diam. “Ibu, apa aku boleh menjenguk Gadis di kamarnya?”

“Boleh. Tapi kamu harus cepat-cepat. Sebentar lagi mama dan papa Gadis pulang.”

“Baik, Bu.”

*

“Hei, Gadis, boleh aku masuk?” Gadis menoleh ke ambang pintu di mana seorang lelaki kecil dengan urat-urat lengan menonjol sedang berdiri dan tersenyum. Gadis tak berkata, ia cuma mengangguk dan tetap memeluk boneka pandanya yang halus dan berbulu tebal.

“Gadis, bagaimana kabarmu? Kamu sehat, kan?” Gadis mengangguk.

“Syukurlah.” ujar bocah. “oh, iya, Gadis, aku punya hadiah nih untuk kamu.” bocah merogoh tas kecilnya. Sebuah boneka burung kecil ia keluarkan dan serahkan kepada Gadis.

“Terima ini ya.” Gadis mengulurkan tangan dan menerimanya. Ia melepaskan pelukannya dari boneka panda. Ia mengambil boneka burung dan memain-mainkannya di telapak tangan. Telapak tangan Gadis yang mungil sama lembutnya dengan bulu-bulu halus si burung kecil –begitu Gadis menamakan boneka barunya.

“Karena aku tahu kamu suka sama boneka, makanya aku memberimu hadiah boneka, walaupun tak sebesar dan semahal boneka-boneka milikmu. Kamu suka kan sama si burung kecil?” Gadis mengangguk. Kemudian sepasang lelaki-perempuan kecil beda nasib itu pun saling berbicara, bermain-main, lempar-melempar boneka, tertawa bersama… Sampai bunyi bel itu mengusaikan kebahagiaan si bocah dan si gadis.

*

“Bi, jejak kaki siapa ini mengotori lantai?” Mama Gadis menerkam mata Bi Innah. Sepucuk tas yang masih menggantung di pundaknya tak membuat perempuan berbibir merah pudar itu kehilangan tenaga untuk marah-marah. Kedua mata majikan dan pembantu itu bersitatap begitu lekat seperti tak akan lagi lepas. Namun kemudian Bi Innah merunduk minta maaf dan menceritakan segalanya.

*

“Lalu sekarang di mana anak jelek itu?”

“Di kamar Gadis, Nyonya.” jawab Bi Innah dengan getar bibir yang samar.

“Apa kamu bilang? Anakmu itu masuk ke kamar anakku? Siapa yang mengizinkan kaki kotornya menginjak lantai kamar Gadis?” Mama Gadis kian berapi-api. Bi Innah hanya dapat memasang telinga dan pasrah menerima semburan api bertubi-tubi dari mulut merah dan marah Mama Gadis.

*

Derap sepatu berhak itu terdengar keras dan gegas. Dua bocah yang sedang tertawa-tawa itu tidak sempat mendengar suara sepatu itu. Kegembiraan mengurangi kemampuan pendengaran mereka. Tatkala dua bocah itu masih asyik lempar-melempar boneka dan canda dan membikin seisi kamar berantakkan, perempuan bermata garang itu masuk dan memutus tali kegirangan kedua bocah menjadi kesenyapan begitu lindap.

“Mama,”

“Nyonya,”

“Hei, kamu, bocah jelek, siapa yang membolehkanmu masuk ke sini?” kalimat meluncur dari mulutnya pedas.

“Sekarang kamu keluar dari kamar ini bocah! Jangan sekali-kali lagi datang ke sini.” Bocah kecil tampak berairmata. Dengan langkah cepat dan dada berdebar ia menerobos keluar melalui pintu. Sedangkan Gadis tak dapat berkata apa-apa. Gadis selalu sukar berkata-kata bila sudah berhadapan dengan mamanya. Hanya saja, ia tidak mampu menyembunyikan rasa sedih itu. Airmata menggumpal di pelupuk matanya.

*

“Gadis, kamu tidak boleh bergaul dengan bocah itu. Ia hanya anak pembantu. Ia tidak pantas menjadi temanmu.”

“Tapi, Ma,” Gadis mulai berani memotong kata-kata ibunya.

“Tidak boleh tetap tidak boleh. Tidak ada tapi-tapian. Dengar, Gadis, kamu tidak boleh membantah ucapan Mama!” . Mama meninggalkan Gadis sendirian di kamar. Bulir-bulir kesedihan berjatuhan dari kedua mata cantik gadis cilik.

“Bi, rapikan kamar Gadis! Anakmu itu telah membuat kamar berantakkan.”

“Baik, Nyonya.” Gadis samar mendengar percakapan yang tidak cakap antara kedua perempuan beda nasib itu. Pipinya basah.

*

Pada tengah malam bunyi klakson mobil membuat Bi Innah terbangun. Papa Gadis telah pulang. Di kamarnya Gadis memeluk boneka singa. Ia tidak tidur.

*

Pada dini hari ketika seharusnya tiada suara selain dengkur orang tidur dan gonggongan anjing di kejauhan terdengar suara keributan di kamar tengah. Kamar Mama dan Papa Gadis. Bi Innah tidak bergeming di sofa ruang depan. Ia sudah terbiasa dengan keributan dan pertengkaran dini hari antara Mama dan Papa Gadis. Bi Innah tidak mengerti kenapa di dalam rumah mewah seperti ini mesti terjadi sebuah pertengkaran? Apa yang dipertengkarkan? Apa yang diributkan? Kebahagiaan? Di kamarnya Gadis berganti posisi dengan tetap memeluk boneka singa. Ia tidak tidur.

*

Pada subuh hari bocah kecil yang semalaman tidur di gubuk dekat stasiun mengunjungi ibunya. Ia menekan bel. Ibunya keluar.

“Alam, kamu ngapain lagi ke sini. Bukankah Mama Gadis sudah melarang kamu datang ke sini? Kalau kamu mau ke sini, kamu kan bisa datang siang atau sore ketika Mama dan Papa Gadis sedang pergi bekerja.”

“Bu, aku ke sini cuma mau menanyakan kabar Gadis. Apa dia baik-baik saja?”

“Dia sepertinya baik-baik saja. Tapi, ibu dari semalam belum melihat ia keluar kamar.”

“Bu, jaga Gadis ya Bu. Ia butuh teman.”

“Iya. Ibu janji akan selalu menjaga Gadis sebisa Ibu.”

“Baiklah, Bu. Aku pamit pulang dulu. Sampaikan salamku untuk Gadis ya, Bu!” Setelah mencium tangan ibunya Alam bergegas kembali ke rumahnya di dekat stasiun. Sebuah gubuk bukan rumah mewah.

*

Di kamarnya Gadis duduk di tepi tempat tidur. Matanya tampak sembab. Ia tidak tidur semalaman. Ia tahu betul lagi-lagi di kamar papa-mamanya ribut dan bertengkar. Ia tidak tahu apa sebab kedua orangtuanya selalu bertengkar. Tapi, Ia bisa memastikan mereka pasti bertengkar bukan karena dirinya. Bukan karena kebahagiaannya. Gadis benci suara pertengkaran dini hari itu. Ia menginginkan kedamaian. Keharmonisan. Kebahagiaan. Ia ingin bebas. Ingin terbang jauh tak terhalang apapun seperti burung-burung yang biasa ia saksikan di video dokumenter. 

*

Matahari terbit. Mobil Papa Gadis sudah keluar dari bagasi. Gadis masih meringkuk seorang diri di dalam kamar. Lama sudah Ia tidak melihat Papanya. Meski serumah. Ia tidak mengerti kenapa Papanya tidak pernah menemuinya dan Ia juga tidak mengerti kenapa Mamanya melarangnya menemui Papanya. Ia jenius, tetapi di samping itu Ia juga hidup dalam banyak hal yang tidak Ia mengerti. Mama Gadis mengetuk pintu. Masuk. Ibu muda itu sudah rapi dan bersiap pergi ke kantor. Ia memeluk dan mencium putri kecilnya Gadis. Matanya agak berkaca-kaca.

“Gadis, sebelum Ibu pulang kamu jangan keluar kamar. Kamu di sini saja belajar dan bermain sama boneka-bonekamu.”

Gadis mengangguk. Ia tidak bisa dan tidak boleh membantah. Dalam hatinya Gadis hendak sekali membantah ucapan ibunya. Ia tidak mau terkurung terus di kamar. Ia mau keluar. Ia mau terbang jauh seperti burung-burung. Mama Gadis keluar dan mengunci pintu kamar dari luar. Gadis akan di dalam kamarnya sepanjang hari. Kecuali ketika jam makan Bi Innah akan membuka pintu kamar. Di kamarnya memang terlengkapi berbagai fasilitas: kamar mandi, wahana permainan sederhana, tempat tidur besar, boneka-boneka. Tapi Ia tidak menemukan arti kebahagiaan di dalam kamar kecuali hari kemarin ketika Alam datang bertandang. Dada dan kepala Gadis berkecamuk. Ia ingin pergi. Keluar. Bermain. Terbang. Tetapi, bagaimanakah?

*

Gadis mengambil si burung kecil.

“Aku ingin sepertimu, burung. Berkepak. Terbang. Bebas. Tak terkurung.”

“Kau sungguh-sungguh mau?” jawaban si burung kecil membuat Gadis terlonjak kaget. Boneka kecil itu bisa berbicara.

“Burung, kok kamu bisa bicara?” kata Gadis dengan heran.

“Sudahlah, itu tak penting. Kamu sungguh-sungguh mau berkepak, terbang, bebas, dan tak terkurung?”

“Iya. Iya.”

“Kalau begitu pegang leherku. Kita lihat apa yang akan terjadi.”

Gadis memegang leher si burung kecil. Boneka burung itu tetiba saja membesar seperti balon ditiup. Gadis kini berada di atas leher si burung kecil –yang beranjak besar- seperti seorang penunggang kuda. Bukan cuma burung yang menjadi hidup. Boneka singa, rusa, panda, sapi, kuda, beruang, macan, jerapah juga menjelma nyata dan berukuran besar. Para boneka itu mendobrak pintu. Boneka jerapah menghancurkan atap dengan kepalanya. Kamar ini menjadi tarang oleh sinar matahari. Dengan gegas sayap si burung kecil berkepak dan lekas saja membawa Gadis terbang jauh. Bi Innah sedang menyirami tanaman terbelalak melihat pemandangan burung berukuran besar terbang bersama Gadis. Tetapi kemudian ia berujar, “Sekarang kamu bebas, Gadis.” Burung itu terus berkelepak tak henti menyusuri udara pagi kota yang sejuk campur terik. Gadis dan si burung kecil tiba di langit stasiun. Alam yang sedang bersiap berangkat mengamen terperanjat melihat pemandangan itu. Sama seperti ibunya. Tapi kemudian ia berkata, “Burung… dan… Gadis!” Alam berseru-seru memanggil Gadis. Di atas sana Gadis menoleh seperti sewaktu Alam menyapanya di kamar Gadis. Gadis menitahkan agar si burung turun menghampiri Alam. “Bolehkah aku ikut bermain?” Gadis mengangguk seperti sewaktu Alam meminta izin masuk ke kamarnya.

*

Gadis dan Alam menyusuri langit. Terbang. Bermain. Tertawa. Bercanda. Bebas. Tak terkurung. Menjadi anak normal seutuhnya.

*

Betulkah langit dan bumi tidak akan bisa berpelukan hingga selama-lamanya? Tapi, kulihat mereka berpelukan.

*

“Jadi, begitu Nak ceritanya. Sekarang kamu mau tidur?” Gadis kecil itu mengangguk sambil membayangkan langit, burung, dan boneka-boneka. []

 

By: Erwin Setia

(Tambun-Selatan-Bekasi, April 2016)

Perjumpaan Terakhir di Malam Terakhir Bulan Desember

Kurang ajar. Satu kata yang pas untuk orang yang meniup terompet pagipagi begini. Jelas bukan Nayla atau Reyga yang melakukannya. Jauhjauh hari aku sudah larang mereka beli barang tak berguna macam itu. Uang kita terlalu berharga buat membeli benda-benda yang cuma bikin berisik seperti terompet, saxophone, atau mp3 box. Kataku kepada dua adikku yang berusia 7 dan 9 tahun . Mereka mengangguk-angguk. Polos.

Terompet sialan itu memaksaku mengeluarkan kepalaku dari dekapan bantal. Siapa juga yang sanggup tidur dengan nyaman bilamana ada suarasuara pengganggu. Kutatap cermin di dekat tempat tidur. Ada wajah lecek nan lusuh di situ. Tetapi tetap tampan. Rambut gondrong awut-awutan, kotoran kecil menggumpal di sudut mata, guratan di pipi, darah nyamuk kering di hidung. Tetapi tetap tampan.

Di depan pintu kamar mandi. Teriakan ibu menggelegar. Ia mengajakku mau ikut ke Puncak Bogor atau tidak. Tidak. Teriakku. Kemudian tiada suara, hanya jejak-jejak kecil bergetar dan raungan gegap-gempita dalam volume rendah.

“Ya sudah kalau kamu tidak mau ikut. Ibu dan adik-adikmu berangkat dulu. Kami nginap di rumah Tante Mayra. Besok pulang.” sayup-sayup suara ibu menembus tembok, kaca, dan gorden yang lama tak dicuci.

“Jangan khawatir. Di kulkas ada roti tawar, sarden, dan dua buah apel. Jaga rumah baik-baik.” ibu dan adik-adikku meninggalkanku seorang diri. O, tidak mengapa. Aku telah biasa bergaul dengan kesunyian, kesepian.

Aku tidak menyukai tempattempat yang penuh hirukpikuk. Aku juga bukan seorang penyuka kelana ke berbagai tempat atau destinasi wisata. Aku tidak pernah daki gunung (pernah sih, dulu ketika kecil, gunung pasir di depan rumah Farrri). Makanya tiap kali ibu, kawanku, atau seseorang di masa lalu mengajakku untuk berpergian kebanyakan kutanggapi dengan gelengan dan ucapan tidak.

Apa lagi pada masa-masa liburan seperti sekarang. Tambah malas saja bagiku untuk berbuat hal-hal semacam jalan-jalan ke mal, pantai yang airnya keruh, wahana wisata, kebun binatang. Kalau diberi pilihan aku lebih suka berpergian ke stasiun dimana kereta-kereta hilir mudik atau ke toko buku dimana aku bisa baca buku secara percuma + bernaungkan udara ac dan lagu mellow yang sengaja diputar supaya pengunjung berlama-lama. Hei, tidak salah kan bila aku membenci keramaian?
*
Senja telah terlukis di langit kotaku. Gegas sekali warna langit berubah. Dari putih ke biru, biru ke jingga, jingga ke hitam, hitam ke tiada. Sebuah buku tebal, 1Q84, selesai kubaca sebagiannya sepanjang hari ini. Kau tahu siapa pengarangnya? Murakami. Kau tahu siapa Murakami? Orang Jepang. Kau tahu Naomi? Ia keturunan Jepang. Seseorang di masa lalu dalam hidupku. Tiba-tiba aku mengingatnya. Entah. Rindu tak dapat ditolak. Kalau pun kau dapat menolak rindu, itu hanya akan mengundang rindurindu lain datang.

Pada senja ini, sehabis memakan sepotong roti, menyeruput kopi, kuambil Sarelgaz dari rak buku. Kubaca beberapa cerpen di buku itu. Ah, Sungging Raga terlalu banyak bercerita tentang stasiun dan kereta, membuat pikiranku membayangi suasana kesyahduan stasiun beserta hal-hal di dalamnya.

Di kotaku ini tiada stasiun kecuali satu. Stasiun Bekasi. Jadi aku tak bisa bermain-main ke Lempuyangan, Tugu, atau stasiun-stasiun lain tempat kenangan banyak bersemayam bagi banyak orang. Tetapi, Stasiun Bekasi bukanlah sebuah ruang tanpa sejarah. Ianya juga memendam kenangan.

Maka selepas salat magrib kumatikan lampu kamar, kukunci pintu rumah dari luar, juga pagar, lalu kuberjalan pelan menikmati kesiur angin malam bulan Desember. Rumahku berjarak 300 meter dari stasiun Bekasi. Jarak yang dapat kutempuh dengan jalan kaki. Jarak yang membikinku tak asing dengan lengking kereta. Jarak yang cukup waktu lima belas menit dengan jalan santai untuk sampai di pintu masuk stasiun. Sedikit tergesa kusapa penjaga stasiun yang tampak lelah, menuju loket dan membeli tiket termurah. Selepas itu aku duduk di kursi tunggu di peron nomor satu. Menatap sekeliling — wajah-wajah resah, langkah-langkah tergesa, kebekuan-kebekuan–. Di kejauhan barat kelebatan cahaya makin dekat makin bersinar. Sebuah kereta kommuter line tiba dan berhenti. Gerombolan manusia keluar dari gerbong-gerbong ular besi itu. Seorang nenek tertatih-tatih melangkah ke luar. Seorang lelaki bertato menuntun sang nenek lembut  seraya mewanti-wanti sang nenek untuk pelan-pelan. Ibu dengan anak bayi di gendongan, pelajar berseragam putih abu-abu, bapak-bapak berdasi, seorang perempuan berkacamata, pemuda berkaus Juventus dengan tas hitam besar di punggung berbondong-bondong turun dari kereta. Dari arah sebaliknya gerombolan manusia lain masuk dengan terburu-buru ke dalam kereta. Seharusnya aku juga masuk ke kereta itu. Tetapi, kursi besi ini lebih nyaman daripada keriuhan malam di dalam kereta yang berpendar-pendar cahaya dan dipadati oleh manusia-manusia yang sibuk dengan gadgetnya.

Malam semakin malam. Orang-orang pemboros meluncurkan kembang api menusuk langit. Langit menjadi berwarna-warni dan bercahaya. Namun, sementara saja, selebihnya batangan kembang api itu menjadi sampah-sampah yang terserak di jalan-jalan. Aku dapat menebak si “penembak langit” itu pastilah berderai tawa kala mengacungkan tangan ke atas melepas kembang api. Aku tak habis pikir. Sempat sempatnya ia tertawa sambil menghunjamkan api ke perut langit.  Tidakkah ia khawatir barangkali seekor anak burung sedang berterbangan di udara di mana ia tembakkan itu kembang api. Tidakkah ia menyayangi alam?

Malam semakin malam. Dan aku masih menikmati kebekuan ini. Menyaksikan kereta-kereta lewat menaik-turunkan penumpang, menerbangkan sesampah, juga menyaksikan parade konyol kembang api yang kian malam kian ramai menyerang langit. Orang-orang di sekitarku mendongakkan kepalanya ke langit menonton parade kembang api. Seorang gadis kecil bermata sipit melintas di depanku sambil meniup terompet keras-keras. Ibunya di sampingya diam saja. Kurang ajar betul. Batinku.

Lalu-lalang orang makin ramai di depanku. Sepasang laki-perempuan berhenti persis di hadapan mataku sehingga menghalangi penampakan rel. Mereka membelakangiku. Si lelaki melarungkan tangannya ke bahu si perempuan. Keduanya memandangi langit. Si lelaki menunjuk-nunjuk pecahan cahaya kembang api yang cantik penuh warna. Si perempuan menyandarkan kepalanya ke bahu kanan si lelaki. 

“Maaf, Mas, Mbak, boleh geser sedikit?” ujarku tak tahan lagi.

Mereka menoleh bersamaan ke belakang. Ke wajahku. Wajah mereka kini bersitatap dengan wajahku. Si lelaki berhidung mancung dengan dahi agak lebar. Si perempuan bermata mungil, alis tipis, dan dagu sedikit lancip. Kami berpandangan cukup lama. Lebih dari sedetik.

“Oh, iya, Mas, maaf..” ucap Si Lelaki.

“Sepertinya aku mengenalmu.” kata Si Perempuan.

“Siapa, Mi?.” susul Si Lelaki. Dahi lebarnya mengerut ke atas. Alisnya terangkat.

“Naomi, kau kah itu?” kataku menatap tak heran wajah si Perempuan.

Si Lelaki keheranan. Melirik ke perempuan yang dipanggilnya “Mi”.

Sebelum pertanyaanku terjawab. Bebunyi letusan kembang api menyemarakkan langit malam ini. Bebunyi terompet menjadi-jadi. Orang-orang berseru. Mengucapkan bahwa tahun telah berganti. Bahwa masa lalu telah pergi berganti masa baru. Sayangnya aku tak peduli semua itu. Sekarang aku hanya peduli pada pertanyaanku, “Naomi, kau kah itu?”

“Maaf, sepertinya aku salah orang. Aku tak mengenalmu.” kata si perempuan “ayo, mas, kita pergi dari sini, kita ke alunalun, sudah 1 januari.” lanjutnya menarik lengan si lelaki

Mereka pergi. Begitu saja. Lima meter kemudian perempuan bermata sipit itu menoleh ke arahku. Ah, aku mengenal matanya.[]

 

By: Erwin Setia

(Tambun Selatan-Bekasi, Desember 2015)

Kita Bukan Lagi Kita Mulai Hari Ini

     “Kita bukan lagi kita mulai hari ini,” katamu dengan wajah sendu. Aku tahu dari pinggir matamu ada kisah yang basah. Kamu ingin menolak kenyataan ini. Aku juga. Tapi kita –yang bukan lagi kita– tidak cukup tangguh menangguhkan kenyataan ini. Esok kamu akan ke Pekanbaru. Dua jam dari bandara Soekarno-Hatta. Aku ingin mengantarmu. Namun itu mustahil. Kamu terbang ke sana untuk merajut kehidupan baru bukan denganku. Seseorang bermata hitam pekat yang hobi pakai jas melamarmu pekan kemarin. Orangtuamu setuju. Kamu setuju –tepatnya terpaksa setuju. Dan hubungan kita yang memang tak direstui orangtuamu terpaksa selesai begitu saja. Sungguh, aku berkali-kali sudah melamarmu meski tanpa jas meski tanpa mobil. Kamu pun tersenyum ketika kuungkapkan perasaanku itu. Tapi, perasaanku dan perasaanmu yang sejodoh tak lantas membuat kita berjodoh. Perasaan orangtuamu tak berjodoh dengan perasaan kita –yang bukan lagi kita mulai hari ini. Sejak itu aku tahu bahwa jodoh bukan semata masalah dua hati. Lebih rumit dari itu.

 Kadang kebencian orangtua membuat kita tidak lagi menjadi kita.

“Kamu tahu ini semua bukan mauku,” bulir kristal itu mulai jatuh. Kafe sederhana ini makin pucat saja. Samar cahaya lampu-lampu kecil tergantung di langit-langit. Kulihat sepasang kekasih saling menyuapi di meja pojok. Kulihat seorang ibu mencubiti pipi anaknya yang kenyal seperti bantal. Dan kulihat di hadapanku wajah seseorang yang kukenal mengelabu. Mata cantik itu berevolusi menjadi danau bagi kumpulan air asin. Aku ingin membasuh air itu. Oh, tidak, kita bukan lagi kita mulai hari ini.

“Aku tahu itu,” kataku sambil menyeruput teh dingin yang tak lagi dingin. Entah kenapa aku merasa teh itu pahit. Aneh. Padahal kupesan kepada mbak-mbak pelayan berbaju merah tadi: mbak, es teh manisnya satu. Lalu aku tanya kepadamu: kamu pesan apa? Kamu cuma menggeleng. Jelas-jelas kupesan teh manis bukan teh pahit. Ah, mungkin ini hanya perasaanku.

“Apakah lebih baik aku melarikan diri,” ujarmu antara pertanyaan dan pernyataan.

“Itu hanya akan menambah bebanmu.”

“Tapi, aku betul-betul tidak paham dengan semua ini. Hatiku sama sekali tak menyetujui perjodohan ini.”

“Kamu hanya belum terbiasa,” kataku separuh tak rela.

“Jadi, kamu setuju perjodohan ini?”

“Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin kamu semakin luka. Karena kita pada hari ini bukan lagi kita. Kuharap kamu bisa membiasakan diri dengan kita yang lain,” kataku terpatah. “dan kamu harus mencoba untuk mengarungi hidup di laut yang berbeda.”

    Airmatamu semakin deras. Musim hujan seperti ada di wajahmu. Aku kembali menyeruput teh manis rasa pahit. Kauusap airmatamu dengan secarik tisu. Kamu berhenti bicara.

“Tiara, ngapain kamu sama laki-laki ini lagi?” laki-laki itu tetiba datang ke meja aku dan kamu –karena sekarang aku dan kamu bukan lagi kita–. Kemeja necisnya dan jam tangan keluaran Swiss terpasang di tubuhnya yang sering dibawa ke gym. Wajahnya tidak damai. Aku seperti melihat kobaran api pada kedua bola matanya.

“Kamu ini calon istriku, Tiara. Kamu nggak boleh dekat-dekat sama lelaki lain, apalagi lelaki ini.” telunjuknya seperti menghinaku. “Ayo kita pulang. Seharusnya kamu mempersiapkan bekal untuk besok malam ini. Bukan justru ketemuan sama dia.” telunjuknya yang bersebelahan dengan jari bercincin menghinaku sekali lagi.

     Dia merenggut paksa kamu. Dibawanya kamu ke mobilnya yang berwarna putih. Di pintu keluar kepalamu menoleh kepadaku. Aku juga sempat melihat matamu. Matamu yang sendu. Mata terakhirmu yang kutatap. Kamu sudah duduk di bangku mobil yang empuk. Dia menyalakan mesin. Mobil berjalan dan kamu meninggalkanku terpaku sendiri di sini. Beberapa detik masih sempat kulihat cahaya lampu belakang mobil itu.

     Tiba-tiba aku haus.

“Mbak.”

“Iya, ada yang bisa saya bantu?”

“Tolong, es teh manisnya satu.”

“Baik. Ada yang lain?”

“Oh iya. Saya pesan satu ini saja. Es teh manisnya benar-benar manis ya, jangan ada pahit-pahitnya.”

    Pelayan itu pergi. Tapi aku masih sempat melihat pelayan itu  tersenyum sebelum pergi. Kamu pasti tidak melihatnya. []

By: Erwin Setia

(Tambun Selatan-Bekasi, Maret 2016)

Sayembara Menangis

Setelah tak terselenggara cukup lama Sayembara Menangis kembali diadakan di kota ini. Para panitia yang terdiri atas orang-orang yang tak mau dikenal telah menyebarluaskan undangan sayembara ini di internet. Tak sampai dua puluh empat jam ribuan orang telah mendaftarkan diri mengikuti Sayembara Menangis. Ribuan peserta dari berbagai penjuru kota ini diwajibkan menyebutkan alasan mengapa mereka mau mengikuti Sayembara Menangis di formulir pendaftaran. Ada berbagai alasan para peserta turut meramaikan sayembara langka ini. Kebanyakan adalah perihal luka, kehilangan, dan permasalahan terkait cinta.

~

Sayembara Menangis pernah terjadi ratusan tahun lalu. Pemenang utama pada edisi kali itu adalah seorang penemu berbagai teori dan alat teknologi, seorang yang sangat jenius. Namun ia –sebut saja A—yang setiap saat bergelut dengan ilmu pengetahuan dan rumus-rumus rumit mengaku bahwa hidupnya tak sebahagia yang orang lihat. Ia memang mengetahui banyak hal dan seakan pintu-pintu ilmu yang ada di dunia telah berhasil ia buka. Ia menangis sangat keras di puncak sayembara sehingga membuat para panitia dan peserta-peserta lain ngilu dan iba terhadapnya.

“Kenapa kau menangis begitu keras? Bukankah telah kau genggam banyak perbendaharaan ilmu?” tanya Ketua Panitia Sayembara Menangis kepada A.

“Aku memang mengetahui banyak hal. Aku tahu benda-benda di langit tinggi maupun benda-benda yang terpendam di dalam bumi. Namun bahkan aku tidak tahu tentang…”  perkataannya terputus dan ia malah kembali melolong penuh kesedihan seperti lolongan serigala yang kesepian.

“Tentang apa?” kata Ketua Panitia, menahan airmata.

“Bahkan aku tidak tahu tentang,” A kembali tersedu dan sungai tercipta di pipinya yang keras.

“aku tidak tahu tentang hakikat diriku sendiri dan untuk apa aku hidup dan aku tidak tahu siapa dzat yang menciptakan diriku ini.” Lanjut A diakhiri dengan tangisan panjang, lalu ia jatuh pingsan.

~

Seusai A sadar panitia memutuskan A sebagai pemenang tunggal Sayembara Menangis kali itu. Karena tak ada peserta yang menangis setersedu dan semengilukan A.

~

Ketua Panitia mengalungkan medali berwarna airmata ke leher A dan meminta A untuk mempersembahkan pidato kemenangan. A naik ke podium yang telah disediakan. Ribuan orang –panitia, peserta, dan penonton—mengelilinginya dan menantikan pidato sang pemenang Sayembara Menangis.

“Pertama, aku mengucapkan terima kasih kepada para panitia penyelenggara yang telah memilihku sebagai pemenang Sayembara Menangis. Sebetulnya aku tidak tahu mengapa diriku didaulat sebagai juara sayembara ini, tapi yang kutahu diriku memang sedang sangat sedih, sedih sekali,” ujar A berkaca-kaca.

“Dan aku tidak tahu bagaimana cara merayakan kesedihan kecuali dengan menangis sekeras-kerasnya. Dan itu telah kulakukan. Dan aku tak tahu berapa banyak tetesan airmata yang telah kukeluarkan. Sebab, meskipun aku pandai menghitung dan menghafal rumus-rumus rumit, aku tetap tidak akan pernah bisa menghitung jumlah airmataku. Kesedihan tak kan pernah dapat dihitung.” Bibir A bergetar dan gumpalan airmata menumpuk pada kelopak airmatanya.

Para hadirin tampak membisu dan hanya raut sendu wajah-wajah mereka yang berbicara.

~

“Teman-teman, mungkin kalian menganggapku tahu tentang segalanya dan sangat jenius. Tetapi, kalian tahu, mengetahui banyak hal tidak serta-merta membuat kalian bahagia. Kalian tidak akan pernah bahagia kalau bahkan kalian tidak mengenal diri sendiri dan dzat yang membuat diri kalian ada. Kalian tahu siapa diri kalian? Kalian tahu siapa Tuhan? Aku tidak tahu dan karena itulah aku bersedih…” tiba-tiba tubuh A roboh dan hadirin menjadi gempar. Sejumlah panitia menghampiri A. Ketua Panitia memeriksa detak jantung dan denyut nadi A.

“Dia telah mati,” kata Ketua Panitia, menahan airmata.

Itulah akhir Sayembara Menangis pertama.

~

Waktu penyelenggaraan Sayembara Menangis telah tiba. Di tempat semacam auditorium dengan lampu agak temaram para peserta sudah berkumpul. Rata-rata peserta hanya datang seorang diri dan tak bersama siapapun –mungkin hanya bersama kesedihannya masing-masing. Di tempat duduk bagian depan tampak seorang perempuan bergaun merah dengan bibir merah dan mata yang juga merah –barangkali dia sehabis menangis sebelum datang ke tempat ini.Sementara di kursi-kursi lain ada pemuda berkemeja, lelaki tua berjas, nyonya berkalung alangkah besar, seorang berwajah hampa dan macam-macam lainnya. Kebanyakan para peserta adalah anak-anak muda dan orang-orang dari kalangan menengah atas. Tidak ada peserta dengan muka orang susah atau semacam itu. Semua peserta terlihat seperti orang kaya dan tak kurang satu apa pun. Tapi, kenapa mereka mengikuti Sayembara Menangis?

~

Ketua Panitia resmi membuka acara Sayembara Menangis yang telah lama tak hadir. Panitia memberikan waktu satu menit bagi tiap-tiap peserta untuk menangis. Di atas panggung ada sepuluh kursi tempat para peserta menunjukkan tangisannya. Dalam Sayembara Menangis ini terdapat beberapa aspek penilaian. DI antaranya: keotentikan tangisan, ekspresi, suara, dan latar belakang mengikuti Sayembara Menangis. Semakin jujur dan menyayat hati suara tangisan semakin lebar peluang untuk menang.

~

Beberapa peserta telah mempertontonkan tangisannya. Peserta dengan alasan dikhianati kekasihnya menangis sampai bedak di wajahnya luntur. Ada pula peserta-peserta yang mengaku patah hati, ditinggal mati orang tersayang, ditolak cintanya, dam semacam itu. Mayoritas peserta menangis dengan sesenggukkan dan membikin suasana sayembara mengharu-biru.Tiada suara di tempat ini selain tangisan. Tiada rasa di tempat ini kecuali kesedihan.

~

Namun ada sebuah suara tangisan yang paling jerit dan paling membungkam seisi auditorium. Tangisan dari seorang lelaki berwajah hampa yang seolah tidak pernah punya kenangan maupun harapan. Lelaki itu adalah peserta terakhir yang diberi kesempatan menangis pada sayembara kali ini. Lelaki itu menangis seakan tangisan para peserta sebelumnya bukanlah tangisan. Lelaki itu menangis dan membuat orang-orang yang menyaksikannya turut menangis –termasuk Ketua Panitia yang dikenal kuat menahan tangis. Lelaki itu menangis memang tidak sampai jatuh pingsan, namun hampir membuat orang-orang yang mendengar isakannya jatuh pingsan.

Tangisan itu melebihi durasi yang disediakan. Tapi tak ada orang –tak juga panitia—yang kuasa menghentikan tangisannya. Tangisannya terlalu deras untuk bisa diredam. Matanya bagai bendungan yang jebol dan membanjiri wilayah wajahnya. Airmatanya adalah banjir paling mengerikan yang pernah terjadi di kota ini.

~

Tangisan Lelaki Berwajah Hampa itu pum akhirnya usai dan panitia telah mengantongi satu nama calon pemenang Sayembara Menangis. Dan tentu kita tahu siapa pemenang tersebut: Lelaki Berwajah Hampa

~

Ketua Panitia mengumumkan nama pemenang dan mempersilakannya menyampaikan pidato kemenangan.

“Saya ucapkan terima kasih kepada Dewan Panitia yang telah menunjuk saya sebagai pemenang Sayembara Menangis kali ini,” buka Lelaki Berwajah Hampa tetap dengan wajah hampa.

“Di sini saya hanya akan menyampaikan satu hal. Yakni, bahwa yang paling menyedihkan bukanlah cinta yang dikhianati ataupun cinta yang ditolak. Tetapi yang paling menyedihkan adalah hidup tanpa cinta. Dan itulah yang saya alami. Dan itulah mengapa sangat keras saya menangis…”

~

Sayembara Menangis telah selesai. Para panitia berdiskusi tentang acara Sayembara Menangis ke depannya.

“Sepertinya ini Sayembara Menangis terakhir yang dapat kita selenggarakan,” kata Ketua Panitia.

“Mengapa?”

“Karena kurasa tangisan bukan untuk diperlombakan,” ujar Ketua Panita, menahan airmata. []

 

By: Erwin Setia

(Tambun Selatan-Bekasi, Januari 2017)