Ritual Melupakan Ely


1412137869653633231

Ketika seno memakan mie. Tiba-tiba listrik padam, hujan deras dan guntur menggelegar.

Dalam cahaya remang subuh seno melanjutkan ritual makan mie. Terburu-buru ia lahap seporsi mie tak sampai lima menit. Tak lama ia sakit perut. Mulas.

Dengan muka merah padam menahan sesuatu rasa yang semua orang alami, Seno terbirit-birit menuju kamar mandi menunaikan hajatnya kurang dari lima menit ritual buang hajat selesai. Seno meraih gayung menciduk air dalam bak. Bah, bak kering kerontang! Lelaki gondrong itu kebingungan. Tak ada cahaya lampu, ia hanya ditemani bau tak sedap yang semua orang pernah menciumnya. Tak ada daun tak ada tisu. Tak ada batu dan apapun sejenisnya buat ia beristijmar.

Seno panik. Masak iya ia mengeloyor langsung ke luar tanpa membersihkan kloset dan satu bagian tubuhnya. Itu menjijikan. Lelaki itu memutuskan menunggu. Menunggu listrik mennyala. Dalam jongkok yang berselubung keputusasaan, Seno berdoa agar urusannya dimudahkan. Alhamdulillah, sekitar lima menit kemudian keran mengucur deras. Ruangan-ruangan terang kembali. Segala kepanikanpun sirna sehubung dingan menyelanya listrik.

Seno bukan sastrawan terkenal. Bukan politisi masyhur. Tapi, ia lebih dari semua itu. Ia adalah perenung yang baik hati dan warga negara yang cinta tanah airnya. Setiap menjelang sholat subuh ia bertafakkur lalu menyantap sepiring indomie (bukan KC atau McD karya Amerika itu. Maklum, tak ada bujet).

Semenjak ritual tafakkur dan menyantap sepiring Indomie itu tekuni. Enatah kenapa listrik selalu tiba-tiba mati dan hujan mengguyur bumi. Padahal tagihan listrik sudah lunas dan bukan musim penghujan. Perasaan aneh dan absurd pun kerap menyelinap kedalam diri Seno. Barangkali mie adalah sumber listrik dan hujan itu adalah tangisan para pengungsi yang tak kebagian jatah mie? Atau barangkali memadamkan listrik salah satu upaya pemerintah untuk meminimalisir usus buntu dan hujan tiap subuh adalah upaya Tuhan menyirami hamba-Nya dengan ketenangan dan kenangan? Ah, bukan kah itu cuma mitos, kan? Banyak kok para pecandu mie yang masih sehat walafiat. Kenangan? Itu juga mitos kan? Buktinya aku tak lagi mengenangmu dan kau tak lagi mengenangku. Lima tahun waktu kerbersamaan kita seakan sia-sia belaka. Seperti petani yang telaten merawat ladangnya sekian lama, tetapi hanya sekejap banjir besar menggerus ladang itu, itulah hubungan kita. Hubungan dua orang yang tak mengerti apa itu cinta.

Ly, andai aku punya nomor teleponmu atau alamat emailmu, aku akan mengabarimu bahwa aku telah sukses melupakanmu. Bagaimana denganmu? Ku kira engkau telah lebih dulu sukses melenyapkan diriku dari ingatanmu jauh dari kesuksesanku.

Ly caraku melupakanmu amat sederhana –sederhana caraku menintaimu. Kalau kau masih ingat, perjumpaan kita di sebuah toko buku. Saat itu dimeja kasir, kita membeli buku yang sama. Ayat-ayat cinta. Kita bertukar senyuman-. Aku melupakanmu dengan memikirkan perihal apa saja yang lebih bermanfaat daripada memikirkanmu. Selepas itu aku masak mie, dan melahapnya begitu nikmat dalam kondisi hangat.

Namun, Ly, aku heran kenapa tiap kali aku melaksanakan ritual melupakanmu, listrik di rumahku selalu padam dan diluar langit selalu menurunkan tetesan airnya.

Beberapa kali aku pernah sengaja tidak melakukan hal itu, ritual melupakanmu dengan merenung dan makan mie jelang subuh. Hasilnya mengejutkan. Subuh itu listrikku tak padam dan cuaca diluar rumah pada pagi itu musim kemarau bergulir sebagaimana mestinya. Namun kepalaku berguncang dahsyat. Seorang prajurit perang serasa baru saja menembakkan selongsong peluru ke kepalaku. Dan diantara guncangan dahsyat itu, sosokmu dan hal-hal perihal mengepung ingatanku seketika.

Hari berikutnya Seno kembali merenung dan memakan mie. Tapi, aneh, subuh itu kaca jendela rumah tidak basah, neon yan bergelantung diatas kepala Seno tak padam, tak seperti biasa.

Usai makan mie dan minum segelas air putih (bukan susu), Seno mengangkat ponsel yang berdering di atas meja kayu ruang tamu.

“Hai, seno, ini aku Ely. Besok hadir ya ke acara pernikahanku. Ku tunggu kehadiranmu.”

Kepala seno berguncang dahsyat, perutnya mulas, wajahnya merah padam, lalu hujan turun lebat dan listrik mati semua.

“Sial!” tangan kiri Seno diperut dan tangan kanannya di kepala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s