Sepotong Rindu

Temanku bertanya, kenapa harus dibedakan sorang manusia, seekor binatang, sebuah buku, sepotong apel, dan secarik kertas hanya menyebut suatu hal yang sama, satu?

“Disitulah letak keunggulan bahasa kita. Bahasa Indonesia. Dimana untuk menyebut satu dan lain hal yang beda jenisnya dibuatlah sebutan khusus masing-masing.” Jawabku.

Temanku, dingin, bertanya lagi, lalu kenapa ketika seseorang mengatakan seekor untuk manusia dikatakan menghina dan ketikan sepotong untuk kesedihan dibilang puitis?

“Untuk yang pertama itu ia tak meletakkan sesuatu pada tempatnya. Kata ‘seekor’ itu lazim dipakai buat menyebut binatang, maka ketika itu digunakan untuk menyebut manusia, menjadi tak pantas berarti rendahan,”

Aku tidak yakin dengan kata-kata barusan. Justru kukira saat ini pantas kalau kukatakan misalnya, seorang anjing atau seekor koruptor. Bukankah anjing itu setia walaupun hewan dan bukankah koruptor itu pengkhianat walupun manusia? Ucap temanku, semakin dingin, memotong perkataanku.

“Sebelum aku menjawab perkataanmu itu, izinkan aku menanggapi pertanyaanmu mengenai sepotong kesedihan.” Ucapku dan menenggak capuccino yang tersaji di meja. “Kau tahu, saat kau atau siapapun mengawinkan sebuah kesatuan semisal secarik, sepotong, selembar, segelas, dan sebagainya, dengan salah satu kondisi perasaan semisal sedih atau bahagia, memang akan terdengar puitis. Kenapa? Sebab perasaan perasaan itu tak dapat diukur kadarnya. Bahkan, sesungguhnya perasaan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata ataupun digambarkan dengan lukisan. Ia hanya dapat dirasakan. Makanya disebut perasaan.”

Orang itu, temanku, yang duduk dihadapanku bergeming. Tetap dingin sedingin capuccino yang berdetik lalu aku tenggak.

Aku hendak menanggapi pertanyaan ketiganya yang retoris ketika ia kembali berbicara.

Lalu, kutanya, bagaimana pendapatmu tentang seekor anjing yang dikhianati seorang yang kau sebut secarik kertas yang berisi sepotong kesedihan?

Ia menyelesaikan kalimatnya dengan murung, beku, dan waktu seperti lupa cara bergerak.

Aku tak mengerti apa maksud ucapannya. Tapi, aku tahu kemarin ia baru saja ditinggal kawin perempuan yang sangat dicintainya sejak lama. Namun, aku tak tahu apa-apa tantang sepotong kesedihan. Sungguh.

Advertisements

2 comments

  1. aryanpoetra · December 21

    Follback ya 😊

    Like

    • ateer. · December 21

      followed

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s