Hidup adalah Tragedi


Ia tidak sekolah, ia tidak bicara, ia tidak mencuri dan juga tidak memukul anak kecil, tetapi oran-orang telah sepakat melabelinya tidak waras.

Jika nobita adalah nyata, maka ia adalah Nobita versi tak berkacamata dan bertubuh lebih kurus dan tak memiliki teman serupa robot kucing berkantong ajaib. Temannya, kalaulah pantas disebut begitu, hanyalah seekor kucing kampung sehitam langit malam yang sering dipukuli dan ditendangi gara-gara ketahuan mencuri ikan goreng di dapur. Ia pun nyaris senasib temannya. Tubuhnya gosong dan sering kena pukul dan tendang hanya ia tidak punya ijazah dan tidak menyahut saat diajak bicara. Hanya saja, ia terlahir dalam wujud manusia dan bukan sebagai kucing. Meskipun ia tak berwujud kucing, tupai, musang dan semacam itu, tapi orang-orang senang sekali memanggilnya babi. Padahal ketika disebut begitu jasadnya masih tetap sebagai seorang manusia biasa bukan babi apalagi bangsat.

“Bangsat! Dasar tidak tahu adab!” kata seorang tetangga suatu kali. Bukan, ia bukan sedang mencuri atau merampas suatu barang ketiak tetangganya itu mencaci ia minta izin menumpang ke toilet tetangga. Tetapi, dengan satu gerakan cepat orang itu mengusirnya seakan ia adalah benda ternajis di bumi. Karena kebelet dan tak satu pun dari tiga rumah mengizinkannya masuk, terpaksa ia kencing di suatu semak yang ada di muka pagar rumah si tetangga. Sebentar lalu orang itu muncul dan kembali dengan satu gerakan cepat berteriak sekencang komando perang,

“Bangsat! dasar tidak tahu adab!”

Tak cukup membangsat-basati orang itu juga mengayunkan kaki kanan ke bokongnya sehingga ia terjengkang dan mencium semak yang basah oleh air kencingnya. Orang itu masih akan melayangkan satu tendangan sebelum datang seekor kucing yang mengeong-ngeong dan terbang ke muka orang itu dan mencakar-cakarnya. Dalam beberapa detik orang itu belum bisa menyingkirkan kucing itu dari mukanya. Setelah perjuangan yang payah orang itu akhirnya mengusir si kucing menjauh dari mukanya. Namun, setibanya dirumah dan bercermin, si tetangga mesti menerima kenyataan pasukan luka menyerbu wajahnya. Sementara di semak si kucing yang berkulit hitam mengelus-ngelus pundak tokoh kita. Ia, tokoh kita, lalu dengan bokong sakit menoleh dan berusaha tersenyum kepada si kucing yang disambut dengan senyuman (atau seringai) oleh si kucing.

Setelah hari itu masih tetap ada dan mewujud dengan wajah baru.

Ia tak bertempat tinggal, tapi belakangan bersama si kucing hitam, sahabatnya ia tinggal disebuah rumah kosong tak pintu dan jendela.

Ketika itu malam 14 Februari yang bagi sebagian orang malam istimewanya. Namun bagi ia dan si kucing hitam, malam itu sama sekali tak istimewa bahkan malam yang buruk.

Malam itu mereka -ia dan si kucing- pulang sehabis menjalani hari yang lelah yang dipenuhi sumpah serapah dan hajaran-hajaran. Dikarenakan rasa letih yang sangat ia buru-buru memasuki rumah kosong diikuti si kucing. Ia langsung masuk karena rumah itu tak berpintu. Dan ia langsung masuk ke bagian kamar yang berpintu tanpa kunci tempat biasa ia dan si kucing tidur menghabiskan malam. Namun betapa terkejutnya -meski tetap tanpa kata-kata- ketika pintu itu dibuka dalam temaram tampak sepasang kekasih muda-mudi sedang bergumul tanpa pakaian. Merasa tertangkap basah oleh orang tak waras bukannya malu dan langsung berpakaian si pemuda menghampirinya dan menonjoknya tepat di pipi kanan seraya mengancam agar ia tutup mulut. Seharusnya si pemuda tahu biarpun ia tak tutup mulut ia takkan berbicara dan biarpun ia berbicara ia takkan didengar. Sebagai seorang teman si kucing tak diam saja menyaksikan temannya disakiti. Dengan gerakan seekorkuding marah dihampirinya pemuda dan dicakar serta digigitnya bagian bawah perut si pemuda. Demi mendapati serangan itu Si pemuda mengerang kesakitan dan demi mendapati kekasihnya dibegitukan si pemudi menjerit-jerit.

Sebagaimana malam-malam yang telah berlalu, malam itu pun berlalu dan paginya mentari terbit di ufuk timur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s