Bermain Ular Tangga

ular-tangga

Ini adalah hari yang begitu panas. Aku benci hari ini dan juga istriku.

Istriku mengajakku untuk bermain ular tangga. Inilah sebab buruknya hari ini. Hari minggu ini adalah hari dengan matahari yang begitu terik. Cuaca yang sangat buruk yang tak sepantasnya ada di hari minggu. Maka dari itu, aku setujui ajakan istriku untuk bermain ular tangga. Ya, hitung-hitung mengisi waktu sialan ini. Pikirku

Kami suit terlebih dahulu untuk memustuskan siapa yang memulai permainan duluan. 3 kali suit.Aku menang. Dan aku seharusnya yang memulai permainan ini. Aku yang memiliki gagasan untuk bermain ular tangga ini jadi sudah seharusnya aku yang mulai duluan. Karena kata-kata yang keluar dari mulut istriku itu aku terpaksa mengalah. Membiarkan istriku memulai permainan duluan. Dasar istri sialan!

Ia mengocok dadu. Mata dadu yang keluar berjumlah enam. Itu adalah jumlah mata dadu tertinggi. Dan itu juga artinya ia mendapatkan bonus satu kali lemparan. Ia memindahkan bidaknya menuju kotak berisikan angka enam. Ia mengocok dan melempar dadu. Mata dadu yang keluar kini tiga. Ia pun memindahkan bidaknya menuju kotak berisikan angka sembilan.

Giliranku. Aku mulai mengocok dadu lalu melemparkannya ketengah kotak permainan. Dadu menunjukan matanya yang berjumlah tiga. Huh, awal yang buruk bagiku. Dan aku melihat senyum sombong istriku tersungging setelah ia melihat mata daduku itu. Aku benci dia.

Istriku memulai kembali mengocok dadu. Dengan percaya diri ia melemparkan dadu. Yang keluar angka enam. Lagi-lagi. Ia mendapatkan angka enam. Sungguh ini hari yang paling aku benci dan aku benci juga dia.

Matahari mulai bertambah terik dan sinar panasnya menembus jendela ruang tamu. Membuatku sedikit haus. Bosannya permainan ditambah bidakku yang sudah tertinggal jauh oleh bidaknya membuatku kesal dan aku memutuskan untuk istirahat sejenak dari permainan. Dan meneguk sedikit air dingin yang aku ambil dari kulkas.

Kita kembali ke permainan. Kini kami bertukar tempat. Kini aku berada di sebelah kiri papan permainan, istriku sebaliknya. Kini giliranku, aku melemparkan dadu. Wah, tanpa kuduga kini mata dadu yang keluar menunjukan jumlah enam. Mungkin ini hanya kebetulan, aku lempar sekali lagi, lemparan bonus. Lagi-lagi yang keluar angka enam. Mungkin dengan sedikit kesegaran meminum air dingin membuat lemparanku membaik. Walaupun lemparan yang kedua menunjukan angka lima tapi itu cukup bagiku untuk mendekatkan jarak bidakku dengan bidaknya. Kini bidakku jaraknya hanya terpaut dua kotak.

Di depan istriku wajahnya menunjukan sikap tidak percaya melihat bidakku mulai menyedikitkan jarak dengan bidaknya. Dengan percaya diri ia melempar dadu. Yang keluar hanyalah satu mata. Tidak lebih. Sedikit perasaan lega dan senang aku mulai percaya diri. Aku melempar dadu. Lagi-lagi yang kudapat enam. Kini mungkin Tuhan lebih memihak padaku sehingga membuka jalan bagiku menuju kemenangan.

Permainan berjalan menjadi begitu bosan, aku memimpin permainan dengan jarak dua puluh kotak. Jarak yang sangat jauh. Sangat mustahil bagi istriku untuk mengejar ketertinggalannya. Didepanku tampak wajahnya begitu merasa jenuh, jengkel dan frustasi melihat ketertinggalannya yang begitu jauh. Ia mulai tidak konsentrasi.

“Kamu curang.” Katanya.

Mungkin ini adalah salah satu trik untuk ia enggan mengakui kekalahannya. Dasar pecundang sialan.

“Bagaimana bisa aku berbuat curang?” Jawabku.

“Pokoknya kamu curang!” Teriaknya dengan sangat keras, tetap membatu.

Aku muak dengannya. Aku siram ia dengan air dingin yang tadi aku bawa dari kulkas dan melemparkan gelasnya ke arah mukanya. Kini mukanya penuh dengan bekas pecahan gelas. Aku benci dia. Ia berteriak keras. Aku benci teriakan itu. Untuk membuatnya berhenti berteriak aku lemparkan pisau dapur yang biasa aku gunakan untuk memotong apel. Pisau itu menancap tepat di bola mata sebelah kanannya. Tapi itu tak juga membuatnya berhenti berteriak, bahkan kini lebih kencang. Berisik sekali. Lalu aku mengahampirinya, dan mencabut pisau dari mata sebelah kanannya lalu memindahkan tusukan itu ke mata sebelah kirinya. Kini ia berhenti berteriak, tapi ia menangis tanpa mengeluarkan air mata. Hanya tetesan darah yang ia keluarkan dari kedua matanya yang kini sepasang bola mata yang biasa berada disitu hilang entah kemana.

Aku meminta kepadanya untuk melanjutkan permainan. Tapi ia hanya menangis, air matanya berwarna merah. Menetes ke atas papan permainan. Untuk membuatnya behenti menangis, aku tutup mulutnya dengan lakban berwarna hitam. Kini suara tangisan itu tidak terdengar. Hening dan sepi. Aku ingin menyelesaikan permainan dengan akhir kemenangan bagiku. Aku ingin menang. Istriku tidak bisa melanjutkan permainan. Aku lupa, bola matanya telah hilang. Kalo begitu dengan niat baik agar istriku bisa melihat, aku ambil dua buah dadu cadangan yang berada didalam lemariku, dan memasangkan dadu itu di kedua matanya yang tidak lagi memiliki bola. Ya, hitung-hitung untuk mengganti bola matanya yang hilang. Dan aku memilihkan mata dadu berjumlah enam untuknya agar ia bisa melihat jelas bahwa aku tidak melakukan kecurangan saat bermain. Haha, kini kedua bola matanya begitu unik dan lucu. Bola matanya? mata dadu maksudku.

Tapi ia tetap tidak bisa melanjutkan permainan ia hanya mendesah. Seperti desah keputus asaan. Ia mendesah lagi dan lagi. Ya sudah, kalo maunya begitu. Dengan berakhirnya permainan ini, aku keluar sebagai pemenang, hore! Sementara aku berteriak girang, didepan istriku tetap mendesah, merintih, dan mendesah lalu merintih lagi. Entah apa sebabnya. Mungkin ia tidak rela melihat aku keluar sebagai sang jawara dalam permainan ini. Sungguh, ini adalah minggu yang menyenangkan, kawan.

 

Cibiru City, 24 Desember 2016

Ritual Melupakan Ely

1412137869653633231

Ketika seno memakan mie. Tiba-tiba listrik padam, hujan deras dan guntur menggelegar.

Dalam cahaya remang subuh seno melanjutkan ritual makan mie. Terburu-buru ia lahap seporsi mie tak sampai lima menit. Tak lama ia sakit perut. Mulas.

Dengan muka merah padam menahan sesuatu rasa yang semua orang alami, Seno terbirit-birit menuju kamar mandi menunaikan hajatnya kurang dari lima menit ritual buang hajat selesai. Seno meraih gayung menciduk air dalam bak. Bah, bak kering kerontang! Lelaki gondrong itu kebingungan. Tak ada cahaya lampu, ia hanya ditemani bau tak sedap yang semua orang pernah menciumnya. Tak ada daun tak ada tisu. Tak ada batu dan apapun sejenisnya buat ia beristijmar.

Seno panik. Masak iya ia mengeloyor langsung ke luar tanpa membersihkan kloset dan satu bagian tubuhnya. Itu menjijikan. Lelaki itu memutuskan menunggu. Menunggu listrik mennyala. Dalam jongkok yang berselubung keputusasaan, Seno berdoa agar urusannya dimudahkan. Alhamdulillah, sekitar lima menit kemudian keran mengucur deras. Ruangan-ruangan terang kembali. Segala kepanikanpun sirna sehubung dingan menyelanya listrik.

Seno bukan sastrawan terkenal. Bukan politisi masyhur. Tapi, ia lebih dari semua itu. Ia adalah perenung yang baik hati dan warga negara yang cinta tanah airnya. Setiap menjelang sholat subuh ia bertafakkur lalu menyantap sepiring indomie (bukan KC atau McD karya Amerika itu. Maklum, tak ada bujet).

Semenjak ritual tafakkur dan menyantap sepiring Indomie itu tekuni. Enatah kenapa listrik selalu tiba-tiba mati dan hujan mengguyur bumi. Padahal tagihan listrik sudah lunas dan bukan musim penghujan. Perasaan aneh dan absurd pun kerap menyelinap kedalam diri Seno. Barangkali mie adalah sumber listrik dan hujan itu adalah tangisan para pengungsi yang tak kebagian jatah mie? Atau barangkali memadamkan listrik salah satu upaya pemerintah untuk meminimalisir usus buntu dan hujan tiap subuh adalah upaya Tuhan menyirami hamba-Nya dengan ketenangan dan kenangan? Ah, bukan kah itu cuma mitos, kan? Banyak kok para pecandu mie yang masih sehat walafiat. Kenangan? Itu juga mitos kan? Buktinya aku tak lagi mengenangmu dan kau tak lagi mengenangku. Lima tahun waktu kerbersamaan kita seakan sia-sia belaka. Seperti petani yang telaten merawat ladangnya sekian lama, tetapi hanya sekejap banjir besar menggerus ladang itu, itulah hubungan kita. Hubungan dua orang yang tak mengerti apa itu cinta.

Ly, andai aku punya nomor teleponmu atau alamat emailmu, aku akan mengabarimu bahwa aku telah sukses melupakanmu. Bagaimana denganmu? Ku kira engkau telah lebih dulu sukses melenyapkan diriku dari ingatanmu jauh dari kesuksesanku.

Ly caraku melupakanmu amat sederhana –sederhana caraku menintaimu. Kalau kau masih ingat, perjumpaan kita di sebuah toko buku. Saat itu dimeja kasir, kita membeli buku yang sama. Ayat-ayat cinta. Kita bertukar senyuman-. Aku melupakanmu dengan memikirkan perihal apa saja yang lebih bermanfaat daripada memikirkanmu. Selepas itu aku masak mie, dan melahapnya begitu nikmat dalam kondisi hangat.

Namun, Ly, aku heran kenapa tiap kali aku melaksanakan ritual melupakanmu, listrik di rumahku selalu padam dan diluar langit selalu menurunkan tetesan airnya.

Beberapa kali aku pernah sengaja tidak melakukan hal itu, ritual melupakanmu dengan merenung dan makan mie jelang subuh. Hasilnya mengejutkan. Subuh itu listrikku tak padam dan cuaca diluar rumah pada pagi itu musim kemarau bergulir sebagaimana mestinya. Namun kepalaku berguncang dahsyat. Seorang prajurit perang serasa baru saja menembakkan selongsong peluru ke kepalaku. Dan diantara guncangan dahsyat itu, sosokmu dan hal-hal perihal mengepung ingatanku seketika.

Hari berikutnya Seno kembali merenung dan memakan mie. Tapi, aneh, subuh itu kaca jendela rumah tidak basah, neon yan bergelantung diatas kepala Seno tak padam, tak seperti biasa.

Usai makan mie dan minum segelas air putih (bukan susu), Seno mengangkat ponsel yang berdering di atas meja kayu ruang tamu.

“Hai, seno, ini aku Ely. Besok hadir ya ke acara pernikahanku. Ku tunggu kehadiranmu.”

Kepala seno berguncang dahsyat, perutnya mulas, wajahnya merah padam, lalu hujan turun lebat dan listrik mati semua.

“Sial!” tangan kiri Seno diperut dan tangan kanannya di kepala.

Sepotong Rindu

Temanku bertanya, kenapa harus dibedakan sorang manusia, seekor binatang, sebuah buku, sepotong apel, dan secarik kertas hanya menyebut suatu hal yang sama, satu?

“Disitulah letak keunggulan bahasa kita. Bahasa Indonesia. Dimana untuk menyebut satu dan lain hal yang beda jenisnya dibuatlah sebutan khusus masing-masing.” Jawabku.

Read More